Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 44 Siapa Yang Melakukannya?


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, mereka bukannya langsung istirahat tapi malah ngebahas masalah yang terjadi di kantor tadi malam, Ningsih begitu bersemangat bercerita, seolah sedang masuk ke cerita aksi termasuk kejadian aneh didalam toilet.


"Ah, lu terlalu mendramatisir! Kagak ada yang macam begituan, lu lagi menghalu kale! Bosan kan sendirian di kantor? Makanya balik, Maemunah!" ledek Sumiatun gak percaya.


"Ya Allah, kagak percayaan banget sih! Dih, coba kalau kantor kita punya Cctv, pasti lu juga kaget liatnya. Ini mereka juga tau sekarang lagi gak stabil kenapa kagak ada security sih tu gedung?! Minimal pasang Cctv kek!" omel si Ningsih kesel.


"Namanya juga kantor baru, Ning... Pasti belum seratus persen siaplah, tapi kalau memang cerita lu itu benar.. Mereka siapa yah? Dokumen apa yang mereka cari?" tanya Sumiatun juga bertanya-tanya.


Ningsih hanya mengangkat bahunya tanda tak mengerti, dua gadis itu masih tak mengerti apa yang terjadi akhir-akhir ini kepada mereka, sampai-sampai bisa berada ditengah-tengah masalah pelik ini.


"Ning, perut gue udah kenyang.. Lu abisin aja yak ayamnya," ujar Sumiatun sambil menuju kamar mandi.


"Eh, karet celana! Ini perut, bukan gentong serba guna! Mana kuat aing ngabisin nih ayam, makanya kalau beli makanan jangan kayak orang mau hajatan! Beleguk," teriak Ningsih kesel.


Sebelum itu, setelah sampai di gedung apartemen mereka, keduanya mengembalikan motor pemilik restoran ayam goreng bulgogi, karena merasa tak enak minjem motor doang akhirnya si Sumiatun membeli ayamnya juga, pemilik restoran dan Ningsih kaget mendengar pesanan si Sumiatun.


Masa pesan ayamnya aja ampe sepuluh porsi, awalnya pemilik restoran ragu tapi kata Sumiatun dia mau pesta ayam malam ini, mau gak mau dia bikin juga, toh dia juga untung malah! Si Ningsih yang uring-uringan, karena ujung-ujungnya dia juga yang disuruh ngabisin.


"Dasar pesen ayam gak ngotak!" Ningsih terus aja ngedumel.


Sedangkan Sumiatun sedang bersemedi didalam toilet, sambil memikirkan apa yang terjadi dengan Ningsih di kantor tadi.


.


Paginya, si Ningsih ketiduran di ruang tengah sambil mengunyah ayam goreng. Entah tuh anak makan ampe ketiduran, atau tidur sambil makan! Sedangkan si Sumiatun lagi sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor.


"Duh, anak orang kasian banget.. Ya udah, lu istirahat aja deh, Ning! Kasian gue, entar gue izinin ke Seonho," ujar Sumiatun sambil memperhatikan temannya itu.


Beberapa saat kemudian, dia sampai juga ke kantor tapi sebelumnya dia sudah dihubungi oleh Seojun kalau dia tak bisa menjemputnya, karena ada sesuatu di kantor, jadi dia buru-buru ke sana bersama Seonho.


"A-apaa inii?" Sumiatun ampe melongo melihat keadaan ruangan tempat dia bekerja.


Rekan-rekan kerjanya sama bingungnya dengan dirinya, beberapa berkas dan fail berantakan di meja, meja dan bangku sudah berantakan tak rapi seperti biasanya. Terlihat sangat berantakan dan terkesan seperti habis kerampokan, meskipun tak ada barang yang hilang.


"Jadi apa yang diceritakan oleh Ningsih tadi malam beneran... Ah, Seojun!" Sumiatun seperti teringat sesuatu dan langsung menuju ruangannya Seojun.


"Astagaaa, ternyata disini lebih parah!" ujarnya tambah terkejut saat melihat kondisi ruang kerja Seojun.


"Ini sudah kelewat batas, Somi.. Aku sudah tak bisa menolerir lagi, aku tak peduli itu ayah ataupun pak Jeong, mereka harus tau jika aku tak main-main lagi!" ujar Seojun, dia terlihat sangat marah.

__ADS_1


Wajah Seojun begitu serius, ekspresi wajahnya begitu datar dan dingin, bahkan lebih menakutkan dibandingkan dengan Seonho. Tapi entah mengapa di pandangannya Sumiatun itu terlihat keren banget, cool man!


"Kamu mau ngapain?" tanya Sumiatun menyusul Seojun turun kebawah.


"Aku mau menemui Seonho, kita harus mengambil langkah apa kedepannya. Aku gak mau begini terus-terusan, dari kemarin kita begitu sibuk, aku gak mau dipusingkan lagi dengan hal ini!" ujar Seojun sangat tegas, membuat jantung Sumiatun ikut berdegup kencang.


"Seonho, kita harus--" Seojun baru saja ingin mengatakan keinginannya, tapi dia sudah dikejutkan oleh suasana didalam ruangan kerja timnya Seonho lebih parah dibandingkan di lantainya.


"Seonho.." Seojun mendekati Seonho yang sedang terduduk lemas di kursi tempat Ningsih duduk bekerja.


"Semalam dia sendirian disini, aku gak tau kalau dia lembur sambil menungguku.." gumam Seonho dan didengar semua orang.


"Aku mencoba menghubunginya, tapi ponselnya gak aktif.. Apa yang terjadi semalam? Apa dia gak kenapa-kenapa? Apa, a-pa dia..." Seonho masih memikirkan keadaan Ningsih, rasa penyesalan yang begitu besar karena kemarin sempat memarahinya.


"Semalam dia lembur, katanya mau nungguin kamu kembali baru dia pulang.. Aku pikir setelah pulang, kamu sudah mengantarnya pulang, makanya gak nanyain tadi pagi.." ujar Seojun prihatin juga dia.


"Rasain, sekali-kali dikerjain biar tau rasa lu berdua!" gumam Sumiatun dalam hati.


"Aku pikir kamu mengantarnya pulang bersama Somi," sungut Seonho tambah merasa bersalah.


"Enggak, dia gak pulang bersama kami.." ucap Seojun.


"Hufft, semalam aku menjemputnya di kantor jam dua, dan--" mau gak mau Sumiatun harus menceritakan apa yang terjadi, tapi udah dipotong sama Seojun duluan.


"Apa?! Kamu jemput dia jam dua pagi?! Pakai apa? Apa kalian berdua gak kenapa-kenapa? Apa ada yang mengikuti kalian? Ada yang luka?" tanya Seojun lebay, sambil memeriksa tubuh Sumiatun diputar-putar kayak muter komedi puter.


"Sudah, hentikan! Aigooo, kami baik-baik saja! Dia sekarang lagi tidur, ponselnya mati masih di charger.. Btw, aku kesini juga mau ngasih tau juga, kemungkinan dia gak masuk karena semalam--" baru aja mau minta izin buat Ningsih, eh tu anak malah nongol.


"Aslemekum!" teriaknya dari luar.


"Ning! Ya Tuhan, aku begitu mengkhawatirkanmu--" Seonho berniat ingin menyambutnya dengan perasaan sukacita tapi diabaikan olehnya.


"Dasar bocah, ucap salam tuh yang benar!" ujar Sumiatun sambil menjitak kepalanya.


"Auh! Sakit, Mak! Iyee, ye.. Maaf, assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.." ucap Ningsih mengulangi salamnya dengan benar.


Tanpa memperdulikan Seonho, Ningsih langsung bercerita kepada Seojun dan kepada yang lainnya apa yang terjadi semalam, kali ini gak didramatisir kayak dia cerita sama Sumiatun, tapi tetep cerita di toilet gak dia lupakan.


"Ih, serem banget sih, Ning! Kamu kuat juga di situasi kayak gitu.." ujar salah satu rekan setimnya.

__ADS_1


"Bukan masalah kuat atau gak kuat, tapi masalah keadaan aja. Aku gak punya pilihan, mereka banyak dan aku sendirian, gak mungkin juga aku menghadapi mereka semua. Yang bisa aku lakukan hanya bersembunyi aja.." ucap Ningsih mengatakan yang sebenarnya.


"Benarkah? Apa ini bukan ulahmu sendiri? Kan gak ada saksinya juga, bisa jadi kamu marah dan kesal dengan Seonho Sajangnim dan menghancurkan ini semua, untuk melampiaskan kekesalanmu itu!" tuduh salah satu rekannya.


"Apa?! Gak seperti itu! Mana mungkin aku melakukannya, lagian alasan yang kamu ucapkan tadi tak mendasar!" bela Ningsih tak terima.


"Bisa jadi, apalagi kemarin juga katanya ada insiden di acara pertemuan kalian di restoran, tempat pertemuan dengan salah satu calon klien kita. Kau begitu berani menyiram jus tomat kepada calon klien itu, mempermalukannya! Apa lagi soal ini, bukan hal sulit bukan?" tanya rekan wanitanya itu, memandang sinis kearahnya.


"A-apa?!" Ningsih terkejut bagaimana bisa dua tahu dengan kejadian kemarin, yang dia pikir hanya mereka berempat saja yang tahu, apa rekannya itu melihatnya atau ada seseorang yang memberitahunya selain ketiga temannya itu?


Semua mata memandang kearahnya dengan tatapan menghakimi, Sumiatun menggelengkan kepalanya agar Ningsih tidak usah meladeninya, Seojun begitu sibuk dengan ponselnya, sedangkan Seonho hanya diam sambil menatap dirinya.


"Iya, aku memang melakukannya.. Tapi itu untuk membela diri, tapi bagaimana kau tahu itu semua? Bukankah kau tak ada di sana kemarin?" kali ini Ningsih balik memojokkan wanita itu.


"Apa?! A-aku melihatnya!" jawab rekannya itu terlihat gugup.


"Bagaimana kau tau tempat itu? Setahuku restorannya sudah kami ganti tiga puluh menit sebelum pertemuan, dan itu tidak secara tertulis. Seojun, em.. Maksudku, Seojun Sajangnim menelponnya sebelum kami berangkat, dan itu di ruangannya. Apa kau naik ke atas menuju ruangannya untuk menguping?!" tany Ningsih langsung.


"A-apa?! Hei, berhati-hati kalau bicara! Tuduhanmu itu tak mendasar!" teriak rekannya marah, keringat dingin membasahi dahinya.


"Kalau begitu, kenapa aku tak bisa membantah pernyataan yang kau buat tanpa alasan yang mendasar juga?! Jangan naif jadi orang, aku mungkin tidak pintar dalam hal akademik atau soal pekerjaan, tapi aku tak bodoh soal begini!" bentak Ningsih juga.


"Sudah, sudah! Aku sudah menelpon polisi, biarkan polisi yang bekerja.. Somi, ikut aku keatas.." ujar Seojun.


Kemudian mereka pergi menuju lantainya, meninggalkan suasana kacau dilantai itu. Mereka semua hanya bisa terduduk diam dan saling mencurigai satu sama lain, Ningsih masih duduk dengan tenang, sedangkan rekannya itu terlihat gugup dan gelisah sekali.


"Sepertinya dia sedang menutupi sesuatu.." gumam Ningsih.


Sementara Seonho duduk di ruangannya, dia memikirkan ucapan Ningsih itu tadi. Dia juga curiga dengan karyawan wanita itu, beberapa hari ini dia sering terlambat memberikan laporan pekerjaannya, ditambah dia juga sering mengeluh tentang kedekatannya dengan Ningsih.


Ddrrt.. Ddrtt..


"Halo, abbeoji? Hah, di ru-rumah sakit?!" teriak Seonho terlonjak kaget, membuat orang-orang diluar ruangan ikut terkejut juga mendengar suaranya itu.


Sementara itu, beberapa rombongan polisi datang menuju kantor mereka, padahal Seojun baru menelpon mereka beberapa menit yang lalu, entah tanggapan mereka begitu cepat atau ada seseorang yang sudah menghubungi mereka terlebih dahulu, tapi siapa?


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2