
Sumiatun ingin tahu apa yang terjadi saat pertemuan mereka tadi, sukseskah atau gagal? Pengen nanya takut kena semprot, gak nanya tapi penasaran.
"Apa gue kudu nelpon si Ningsih yah?" gumamnya.
Dia sedang berusaha mengintip dari celah jendela kaca ruangannya si Seojun, dia tak sadar dari dalam ruangan bayangannya sangat terlihat dengan jelas oleh Seojun. Lelaki itu menghampiri jendelanya dan berniat usil sama Sumiatun, dia membuka tirai gorden jendela itu sambil menatap tajam kearah Sumiatun.
"Astaghfirullah! Ya Allah anak orang, bikin kaget aja!" ujarnya terkejut.
Sumiatun langsung masuk kedalam ruangannya Seojun, dia cemberut karena di kagetin mau marah tapi salahnya sendiri pakai acara ngintip segala.
"Ada apa?" tanya Seojun cepat.
"Kamu ada masalah?" tanya balik Sumiatun.
"Tidak ada, aku baik-baik saja.. Keluar hanya mau makan siang bersama dengan Ningsih, restoran yang bagus dan makanan yang berkelas, sangat cocok untuk pasangan berkencan!" jawab Seojun, niatan mau nyindir Sumiatun ceritanya.
"Oh, bagus kalau begitu... Itu rekomendasi yang bagus, pasti Ningsih suka kalau Seonho akan mengajaknya kesana lagi.." ujar Sumiatun sama sekali gak peka.
"Ya sudah, kalau sudah selesai makan siang kembali ke mejamu! Jangan kebanyakan ngobrol, kerja.. Perusahaan ini masih sangat baru, kita harus lebih giat lagi agar lebih cepat berkembang!" sahut Seojun sama sekali gak nyambung.
"A-apa?" tanya Sumiatun, gagal faham.
"Iyaa, ini sudah lewat makan siang! Kerja lagi, aigooo.. Palli!" ujar Seojun sedikit keras, biar berkesan bos galak.
"Iya, ya.." jawab Sumiatun seraya keluar dari ruangannya.
"Dasar gak peka, seharusnya dia tau kalau aku sebenernya lagi sedih gak bisa melakukan hal itu kepadanya, seharusnya tadi kita berdua bisa makan siang romantis.. Ini malah salah orang, mana dia gak kepikiran kalau aku inginkan itu juga saat bersamanya," sungut Seojun.
Beberapa jam kemudian, sudah sore hari beberapa karyawan sudah ada yang pulang dan ada juga yang masih lembur. Termasuk mereka berempat, mereka harus mengejar target, dan tak boleh lengah sedikitpun. Karena persaingan sangat ketat di negara itu.
Malamnya saat mereka semua sedang menikmati makan malam bersama dengan beberapa karyawan lainnya, tiba-tiba mereka kedatangan tamu tak diundang.
__ADS_1
" Sa-Sajangnim?" Seonho sedikit terbata saat melihat pak Jeong datang menemui mereka.
"Pak Jeong? Kenapa anda ada disini? Bagaimana anda bisa tau tempat ini?" tanya Seojun, kaget melihat kepala pelayan termasuk orang kepercayaan keluarganya itu datang ke kantor kecilnya itu.
"Bukan hal yang sulit bagi ayahmu dan aku untuk menemukan keberadaanmu, Seojun.. Kami tau semua tentang kantor kecil ini, termasuk apartemenmu itu. Dan berhati-hatilah ayahmu sedang mengawasi kalian.." ujar pak Jeong seolah peduli dengan mereka.
Seojun terlihat bahagia saat bertemu kembali dengan pak Jeong, dan sebaliknya dengan Seonho yang terlihat biasa saja, tapi sebenarnya dia sangat gugup menghadapi lelaki tua itu.
"Gue rasa ini orang tua kagak tulus deh sama Seojun.." ujar Sumiatun sambil melirik dan menyelidiki pak Jeong.
"Kagak usah jadi detektif-detektifan, kagak usah!" Ningsih sudah tau jalan pikirannya Sumiatun.
"Tapi feeling gue biasanya bener, Ning! Lu masih ingat kan sama tetangga kita waktu itu? Itu semua berkat feeling gue yang tajem.." bisik Sumiatun lagi, sambil menggosok hidungnya, berasa hebat.
"Dan gue yakin juga feeling lu sekarang salah, lu liat sendiri keakraban dan kedekatan mereka berdua, kayak bapak sama anak! Jangan gitu luuu, entar si Seojun kecewa dan marah loh.." balas Ningsih.
"Oke, kalau gitu! Kita tunggu saja nanti, apa lu gak liatin si Seonho? Dia terlihat gak nyaman banget saat bertemu dengan orang tua itu! Pasti ada sesuatu," ujar Sumiatun ngotot.
"Ih, dibilangin juga! Ya udah, mari kita liat apa maksud dan kedatangannya kemari!" sahut Sumiatun geram.
Setelah cukup lama mengobrol dan berbasa-basi, akhirnya pak Jeong mulai menunjukkan sisi keingintahuannya tentang hubungan mereka dengan para gadis itu.
"Apa mereka semua karyawanmu?" tanya pak Jeong sambil menunjuk mereka semua, tanpa terkecuali termasuk Seonho pun kena tunjuk.
"Iya, ini sebenarnya perusahaan yang aku bangun bersama Seonho. Hanya saja aku memegang jabatan sebagai pimpinan di perusahaan ini, karena sahamku cukup besar disini. Tapi tetap saja perusahaan ini tidak akan berjalan dengan benar tanpa bantuan Seonho juga.." jawab Seojun merasa tak enak hati, saat pak Jeong menunjuk Seonho, mengiranya sebagai karyawan juga.
"Oh, begitu. Kalau dua wanita ini apa sekretaris dan asisten kalian berdua? Dilihat-lihat sepertinya ada hubungan spesial diantara kalian, hehe.." tebak pak Jeong.
Mereka semua hanya tersenyum malu, Seojun dan Ningsih terlihat tersipu malu sedangkan Sumiatun dan Seonho terlihat tersenyum kaku. Kalau Sumiatun senyum kaku karena tak menyukai lelaki tua itu, karena menurutnya dia terlihat sangat over atau berlebihan sekali, kalau Seonho dia lebih ke khawatir saja.
"Aku melihat kamu dan gadis ini begitu serasi, apakah dia gadis itu yang sering kamu ceritakan? Kalau begitu aku sangat setuju sekali, sangat cantik dengan penampilan yang sesuai. Sepertinya dia berasal dari keluarga terpandang, dilihat dari penampilannya, sangat pas dan cocok denganmu, aku yakin ayahmu pasti setuju! Haha!" ujar pak Jeong mulai memercik api diantara mereka.
__ADS_1
Mendengar itu Seojun dan Ningsih sangat kaget, mereka tak menyangka pak Jeong akan bereaksi seperti itu. Mereka berdua merasa tak nyaman apalagi itu dihadapan Sumiatun, Seonho dan karyawan yang lainnya.
"Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kalian pulang saja. Besok jangan sampai terlambat gara-gara lembur!" ujar Seojun kepada semua karyawan yang masih lembur di sana.
"Baik.." jawab mereka, dan mulai berkemas untuk pulang.
"Ahjussi, kamu salah mengira! Aku tak ada hubungannya dengan dia, malah aku--" Seojun ingin menjelaskan hubungannya yang sebenarnya.
"Sudahlah tak usah malu, aku yakin kali ini ayahmu setuju berbeda dengan yang dulu, terutama pada OG yang pernah kau temui di perusahaan ayahmu kemarin, betulkan Seonho?" ujar pak Jeong langsung, mulai memprovokasi.
Sumiatun hanya diam sambil memperhatikan gerak-gerik pak Jeong, kecurigaannya benar kalau lelaki tua ini memiliki maksud tertentu. Dia sama sekali tak marah ataupun cemburu, entah mengapa dia sangat yakin jika pak Jeong sudah tahu sesuatu tentang mereka.
"Ti-tidak, anda salah mengira.." sahut Ningsih gugup dan panik.
"Tidak apa cantik, tadi aku sebenarnya ada di restoran yang sama dengan kalian, ingin sekali rasanya menyapa tapi saat melihat kegembiraan kalian, tertawa dan tersenyum bersama, membuatku urung melakukannya..
Aku tak ingin merusak momen kencan kalian berdua, dan maaf.. Aku diam-diam memfoto kalian berdua, soalnya Kalian sangat manis dan serasi sekali, ah! Ini dia.." ujar pak Jeong lagi sambil memperlihatkan foto Seojun dan Ningsih saat makan siang tadi, terlihat mesra didalam foto itu, begitu canggihnya juru foto mengambil angle yang pas untuk mereka.
"Loh, kok bisa?!" Ningsih protes tak terima.
Seojun tak bisa berkata apa-apa, kali ini pak Jeong sudah melewati batasnya. Sumiatun tersenyum melihat kelakuan lelaki tua ini, Seonho hanya bisa terdiam dengan ekspresi datarnya.
"Maaf, apa saya boleh bicara?" tiba-tiba saja Sumiatun menginterupsi mereka.
"Sum.." Ningsih takut Sumiatun melakukan sesuatu yang diluar nalar.
"Apa dia marah? Bagaimana ini?! Bisa-bisa dia akan meminta pergi dari sini dan menjauh dariku selamanya!" gumam Seojun dalam hati, begitu takut dan khawatir sekali.
"Gadis ini begitu berani, sesuai perkiraanku dia akan menunjukkan sisi kasarnya padaku," gumam pak Jeong dalam hati, sambil tersenyum sinis kearah Sumiatun.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung