Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 34 Sesuatu Yang Tak Diharapkan


__ADS_3

Sumiatun berdiri lebih condong kearah pak Jeong, sedangkan yang lain sudah merasa khawatir akan terjadi sesuatu nantinya. Sumiatun berjalan pelan menghampiri pak Jeong dengan tersenyum manis, membuat pak Jeong sedikit aneh melihatnya.


"Apa yang bapak katakan itu benar sekali, mereka sangat cocok dan serasi! Sama-sama kaya, sama-sama berkelas dari level keluarga yang sama, tapi..." Sumiatun sedikit menjeda ucapannya.


"Apa anda yakin dengan tebakan anda soal hubungan mereka? Apa tidak sebaliknya?" tanya Sumiatun tetap tenang mengatur emosinya.


Mereka semua yang ada di sana nampak gugup melihat Sumiatun dan pak Jeong, Seonho khawatir jika Sumiatun terus seperti ini akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi, karena dia tahu pak Jeong seperti apa orangnya.


"Maksud kamu apa? Apa mereka bukan pasangan? Terus siapa, tidak mungkin kalian bukan? Gadis ini cantik dan pintar, dia lebih cocok dengan Seojun! Apa kau cemburu?! Kau siapa? Dari penampilanmu ini kau hanya wanita biasa!" jawab pak Jeong sinis.


"Pak Jeong!" seru Seojun tak terima dengan pernyataannya itu.


"Memang aku orang biasa, tidak kaya seperti mereka. Kau dengar sendiri bukan Seojun-ssi, kau tak pantas dengan wanita seperti aku ini, kata pelayan rumahmu itu..." ujar Sumiatun, membuat Seojun semakin tertohok hatinya.


"Hei, jaga ucapanmu itu! Dasar wanita tak tahu diri!" teriak pak Jeong tak terima dihina.


"Kenapa anda marah, bukankah anda ini memang pelayan di rumah itu? Aaa,, aku yang salah.. Bukan pelayan, tapi kepala pelayan! Tapi salahnya dimana? Bukannya dulu juga melayani mereka sebelum menjadi kepala pelayan?


Sepertinya anda yang tak tahu diri, tuan Jeong yang terhormat! Anda menunjukkan sisi anda yang lain, seolah semua orang akan menuruti semua keinginan anda, bahkan anda bisa menentukan bos anda harus berkencan dengan siapa.." ujar Sumiatun dingin.


"Ka-kau! Dasar wanita kasar, begini caramu berbicara kepada orang tua!" teriak pak Jeong, dia tak menyangka akan di skakmat sama Sumiatun secepat itu.


"Kau lihat karyawanmu ini, sungguh kurang ajar! Sebaiknya kau pecat saja dia, huh!" ujar lelaki tua itu kepada Seojun.


Kemudian dia langsung keluar pergi meninggalkan mereka semua, sedangkan diluar kantor itu sudah ada sopir dan pengawalnya menunggunya di sana.


"Sum, apa-apaan lu?! Kok bisa ngomong kayak gitu ke orang tua, kagak sopan tau!" ujar Ningsih marah, alih-alih meminta maaf atas kesalahpahaman itu, dia malah protes sikap Ningsih kepada orang tua itu.


"Oh, gitu.. Maaf deh, sana samperin dia. Kan situ calon nyonya barunya, cieee yang baru dapat restu!" sindir Sumiatun termakan emosi juga dia.


"Sum, lu kok gitu! Kan lu tau gak kayak gitu ceritanya, dasar gak pengertian!" teriak Ningsih, dia malah berlari turun kelantai dua disusul langsung oleh Seonho.


Meninggalkan Seojun dan Sumiatun saja di sana, Seojun menatap lurus kearah Sumiatun, rasa bersalah, tidak enak hati, dan malu terlihat jelas dimatanya.


"Tidak usah menatapku seperti itu, aku tidak apa-apa. Disini Ningsih yang paling tersakiti, aku.. Aku pulang dulu, tolong titip Ningsih, antar dia pulang.." ujar Sumiatun berusaha kuat dihadapannya.

__ADS_1


"Kok sakit yah, perasaan gue gak punya perasaan yang berlebihan sama dia. Kenapa gue mendadak sedih, dan sakit di dada gue.." gumam Sumiatun sambil berkemas.


Disaat dia berkemas untuk pulang, ternyata Seojun juga melakukan hal yang sama, dia malah turun duluan menunggu Sumiatun didepan mobilnya.


"Dasar anak itu! Sekarang apa lagi dia lakukan?!" gumam Sumiatun tak menemukan Seojun di manapun di ruangan kerja mereka itu.


"Semoga Seonho bisa membujuk Ningsih," gumamnya lagi.


Sesampainya dibawah, Sumiatun kaget melihat Seojun sudah dibawah menunggunya. lelaki itu tersenyum menatapnya, senyum yang dia paksakan karena dia tahu saat ini situasi hati Sumiatun sedang tak baik-baik saja.


"Apa yang kamu lakukan disini?!" tanya Sumiatun terkejut.


"Menunggumu, apalagi? Hehe, ayo aku antar kamu pulang!" jawab Seojun berusaha mengontrol perasaannya.


"Sudahlah, aku bisa pulang sendiri.. Kamu akan mendapatkan masalah besar jika ketahuan masih berhubungan denganku, ayahmu pasti akan marah sekali.." bergetar suara Sumiatun mengucapkan kata-kata itu.


Seojun tambah teriris hatinya mendengar suara Sumiatun yang seperti menahan rasa sedih dan tangisnya, Sumiatun tak kalah kagetnya, kok bisa-bisanya suaranya mendadak seperti itu, sungguh situasi yang membagiongkan syekali!


"Bagooosss! Dasar suara kagak bisa diajak kerja sama ini!" ujar Sumiatun kesel sama dirinya sendiri.


"Somi, aku gak akan melepaskan kamu! Aku akan berbicara dengan ayah sekali lagi, aku tak peduli dia mau merestui atau tidak, aku akan tetap bersama denganmu! Tak peduli jika aku harus pindah negara pun aku tak masalah!" ujar Seojun lantang, dia seperti mendapatkan suntikan semangat yang besar dari Sumiatun.


"Jangan begitu, apa kamu gak sadar dari tadi tuh kita diperhatikan olehnya? Apa kamu gak takut kalau kejadian saat ini diketahui ayahmu langsung?!" ujar Sumaitun geram juga dia.


"Siapa? Siapa yang mengintip kita? Siapa, paparazi?" tanya Seojun celingukan sambil matanya memperhatikan sekitarnya.


'Dasar gak peka, noh didalam mobil diujung jalan! Kakek itu tadi masih di sana, ngawasin kamu!" ujar Sumiatun sambil menunjuk mobil sedan hitam terparkir diseberang mereka.


"Kakek? Maksudmu pak Jeong? Tapi kenapa?" tanya Seojun tak mengerti.


Sumiatun hanya mengangkat bahunya tak mengerti, setelah itu Seojun langsung menghampiri mobil itu tapi sebelum Seojun mendekatinya, mobil itu langsung bergerak berjalan meninggalkan tempat itu, sontak membuat Seojun kaget.


"Sekarang bagaimana, apa kamu masih mempercayai orang itu? Aku yakin semua informasi yang ayahmu dapatkan pasti dari orang itu," ujar Sumiatun sambil berjalan menghampirinya.


"Tapi, tapi selama ini aku selalu bersamanya. Bahkan aku lebih menyayanginya dibandingkan ayahku sendiri, kenapa dia bisa melakukan hal itu kepadaku? Apa ada sesuatu yang tak kuketahui?" ujar Seojun semakin tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


Sementara itu, dilantai dua ruko yang sekarang jadi kantor kecilnya Seojun dan Seonho, Ningsih nampak sedang bersedih hati, dia kecewa dengan Sumiatun yang gak percaya sama dia, Ningsih pikir Sumiatun mengira dia dan Seojun beneran memiliki sebuah hubungan, padahal tidak sama sekali.


"Apa masih ingin sendiri? Apa aku boleh masuk?" tanya Seonho dibalik pintu ruangannya itu.


Ningsih tadi pas turun ke lantai dua langsung masuk ke ruang kerjanya Seonho, berasa ruangannya sendiri padahal itu ruangannya sang bos, untung bosnya baik kalau gak mungkin sudah disemprot dianya.


"Sudah, masuklah.." jawab Ningsih pelan, lesu banget romannya.


"Apa kamu juga percaya dengan omongan orang tua itu? Dan marah juga sama seperti Somi?" tanya Ningsih sambil menatap lekat kearah Seonho.


"Kalau aku percaya mana mungkin aku mau menemani kamu disini," jawab Seonho sambil mengusap bekas air mata dibawah matanya Ningsih.


"Sudah, jangan menangis.. Aku yakin Somi tak bermaksud begitu, anak itu cerdas.. Dia yakin ada sesuatu dari orang itu, makanya dia nekat berbicara seperti itu.." ucap Seojun dengan nada pelan, agar Ningsih tak tersinggung.


"Sepertinya kamu benar, aku saja yang sudah terlalu emosi langsung marah saja sama dia, padahal niatnya baik mau membantuku, huhuuu.. Aku harus bagaimana? Hiks, dia pasti sangat kecewa sekali sekarang ini, huhuuu.." si Ningsih semakin kencang aja menangisnya.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita temui saja mereka keatas. Dan meminta maaf saja duluan, tak apa.. Dan dengarkan penjelasannya dulu, apa maksud dari perkataannya itu," ujar Seonho mencoba menenangkannya.


Ningsih mengangguk setuju, setelah menghapus air matanya dan mengemasi tasnya, mereka kembali lagi keatas. Tetapi sesampainya di sana mereka tak menemukan siapapun.


"Halo, Seojun.. Apa kamu sudah pulang?" tanya Seonho lewat saluran ponselnya.


"Belum, masih diparkiran. Kenapa?" tanya Seojun balik.


"Kami ada dilantai tiga, tapi tak menemukan kalian disini.." jawab Seonho.


"Kalian tunggu saja di sana, kami akan kembali lagi ke sana, ada yang ingin kami sampaikan," ucap Seojun.


"Baiklah.." sahut Seonho.


"Tunggu saja dulu, mereka akan kembali. Tenangkan dirimu, jangan bersedih seperti itu.." ujar Seonho lagi.


Saat ini Seojun dan Sumiatun begitu khawatir, wajah mereka begitu tegang dan terlihat serius sekali.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa dukungannya 😍😍🙏


__ADS_2