
Dengan kacamata hitam dan kerah cardigannya dia naikkan keatas, Sumiatun sudah bak detektif kucing kampung yang sedang menyelinap, dan mengamati targetnya. Dia menaiki anak tangga secara pelan-pelan agar tak diketahui oleh tiga orang mencurigakan tadi.
"Itu si domba ama kucing garing, eh! Garong, ngapain dimari?! Kayaknya mereka mau memanipulasi dan menyabotase keadaan lagi dah, gue kudu liat dan ambil bukti kapan perlu kalau-kalau dia mau nyalahin si Ningsih lagi.." gumam Sumiatun dalam hati.
Dia berhenti dilantai dua dan melihat keadaan sekitar, aman.. Lanjut lagi berjalan hati-hati menuju ruang kerja Ningsih dan lainnya, tidak ada siapapun. Kepalang tanggung dia masuk dan memeriksa keadaan kali aja ada hal yang aneh dan mencurigakan.
"Hem, dasar kanebo kering! Bener kan dugaan gue, dia mulai nyari-nyari masalah ama kite, kagak tau ape dia lagi ngadepin anaknya mantan jawara sekampung Betawi!" Sumiatun ngedumel terus sambil berusaha mengambil bukti palsu yang diletakan oleh orang-orang itu.
"Eits! Tunggu dulu, ntar kalo mereka balik lagi buat ngecek tempat ini gimana? Gue kudu ati-ati, siapa tau mereka masih disini, emm.. Diatas kali ya mereka," gumamnya lagi sambil urung mengacak-acak bukti palsu berupa balok kayu, sarung tangan dan juga linggis.
"Emang bener-bener dah anaknya babeh Dadang, gak hanya cantik dan imut tapi juga pintar dan cerdas, untung gue punya kamera di tas! Taruh disini aje, kalo dia balik lagi kan bisa buat jadi alat bukti ye kan! Good job, Sumiatun Astuti binti Dadang Surandang, eh kok gue udah kayak wak Asep bae, hihi..
Btw, apa kabarnya yak? Masih kepo bae sama babeh apa kagak lagi die? Hihi, lucu juga punya tetangga macam ntuh. Btw, ini gue kudu taroh kamera dimane yee, hemm.." dia nampak kebingungan mencari tempat buat naroh kameranya.
Kemudian Sumiatun melihat keatas lemari yang terletak tak jauh dari meja Ningsih, dia berniat ingin menaruh kameranya di sana, dengan berhati-hati Sumiatun menarik salah satu meja, dan menaikinya untuk menaruh kamarnya.
Dsrrtt! Dddrttt!
"Hwuaaa!"
Bruk!
"Alamak, phantat gue!" teriaknya kesakitan.
Saat Sumiatun berdiri diatas meja kayu untuk menaruh kameranya, tiba-tiba saja ponselnya berdering mengagetkan dirinya, sehingga dia yang dalam posisi berdiri dengan kaki dijinjit terkaget-kaget hingga jatuh dari sana. Alamat phantat demplonnya mendarat sempurna diatas lantai.
"Khampret emang si Seojun, nelpon kok gak ngomong-ngomong! Ya elah, rata lagi kan phantatnyeee.." omel Sumiatun sambil mengusap-usap phantatnya meringis kesakitan.
"Halo! Ada apa?!" teriaknya kesal.
__ADS_1
"Astagaaa! Aku gak tuli Somi, bahkan aku memiliki predikat sensitivitas tertinggi terhadap suara, sakit tau aku diginiin.." ujar Seojun sedih saat dibentak sama Sumiatun.
"Alah, lebay! Ada apa? Jangan lama-lama, aku sekarang lagi ada misi penting!" ucap Sumiatun sambil celingukan.
"Kamu dimana? Aku cariin dari tadi kok gak ada, jangan bilang kamu sekarang lagi mengikuti mereka bertiga tadi?!" tanya Seojun begitu khawatirnya.
"Kamu tenang saja, aku adalah Sumiatun anaknya babeh Dadang! Jawaranya dikampung gue, babeh sih bukan gue nya.. Pokoknya, kamu terima beres, diam-diam saja di sana jangan keluar sebelum terlihat mereka turun ke bawah!" perintah Sumiatun, anak buah memerintah bosnya. Cakep bener!
"Iyaaa.." Seojun manggut-manggut setuju, sesaat Sumiatun menutup telponnya dia baru ngeh pembicaraan mereka tadi.
"Dasar, percuma ganteng tapi gak peka! Kok aku iya aja sih tadi, seharusnya gak boleh!" gerutunya menyesali ucapannya barusan.
Sementara itu, saat Sumiatun ingin menaiki meja itu lagi dia mendengar suara langkah kaki berjalan kearah ruang kerja itu.
"Mampus gue! Kenapa pada balik lagi disaat gue belum siap sih," ujarnya panik.
Buru-buru dia mendorong meja kayu yang cukup berat itu, sedetik kemudian ketiga orang itu masuk keruangan dan disaat itu juga Sumiatun langsung bersembunyi dibawah mejanya.
"Tidak ada, itu cuma perasaanmu saja! Pekerjaan kita sudah selesai, sekarang kita tinggal minta bayarannya saja!" terdengar suara mantan klien mereka itu.
"Tapi pak tua itu sekarang ada didalam penjara, apa dia bisa membayar kita? Ingat, aku sudah bela-belain melakukan semua ini, kamu juga harus ingat janjimu untuk memasukkan aku ke perusahaan itu, aku tak mau terus bekerja disini! Perusahaan kecil, untung pun kecil," ujar karyawan wanita itu.
"Sabar saja, kamu pasti akan diterima di sana. Lagian orang tua itu cukup berpengaruh di sana, meskipun dia dipenjara masih banyak anak buahnya yang membantunya diluar, hehe.." sahut mantan klien itu.
Sumiatun mendengarkan itu cukup kaget dibuatnya, satu tangannya menutup mulut dan satunya sibuk memeganginya kamera untuk merekam mereka semua. Dia yakin orang tua yang disebutkan tadi adalah pak Jeong.
Setelah cukup memastikan barang bukti palsu itu, mereka akhirnya keluar dari tempat itu dan pergi turun ke bawah, dengan tersenyum bangga dan puas mereka memutuskan untuk pulang.
"Tunggu sebentar, kita mampir dulu ke minimarket itu.. Ada seseorang yang ingin aku temui," ujar wanita berambut panjang itu dengan tersenyum sinis menuju pintu minimarket milik ahjuma.
__ADS_1
"Ahjuma.." panggilnya sambil mendekati ahjuma itu yang sedang berdiri didepan kasirnya.
"Hari ini aku terakhir di kantor kecil itu, aku datang untuk berpamitan kepadamu, ingat kataku pagi tadi, jangan macam-macam jika tak ingin usaha kecilmu ini ikut hancur juga," bisiknya ke ahjuma.
"Kau tidak ingin berpamitan denganku juga?!" tiba-tiba saja Seojun keluar dari bawah rak kasir ahjuma.
Mantan karyawannya itu terkejut bukan main, bukan hanya karena melihat Seojun juga tapi karena dia kayak hantu tiba-tiba nongol begitu saja didepannya, masih untung kagak pingsan itu orang, ahjuma hanya mengelus dadanya agar gak kena stroke mendadak.
"Pppaakk..." wanita itu tergagap saat ingin menyebutkan nama mantan bosnya itu.
"Apa yang kau lakukan diatas dengan mereka, hem?! Bukankah mereka itu adalah mantan klien kita yang bersikap kurang ajar itu?! Apa kau mengenalnya?" desak Seojun sambil menatapnya tajam.
"Ti-ti-tidak!" jawab mantan karyawan itu sambil berjalan mundur.
Dia tersudut di dinding kaca, sudah tak bisa bergerak lagi karena dalam posisi terpojokkan. Sementara dua orang lagi nampak curiga karena wanita itu tidak keluar-keluar lagi dari dalam minimarket, mereka hendak menyusulnya, dan melihat wanita itu sedang berdiri sambil ketakutan terpojokkan oleh seseorang yang gak bisa mereka lihat wajahnya.
"Hei, kau kenapa begitu lama sekali?! Ayo cepatlah, kita mau makan siang bersama!" ujar mantan klien itu.
Seojun menoleh kebelakang sambil menatap tajam kearah mantan kliennya itu dengan tersenyum sinis, membuat orang itu berdiri ketakutan tak menyangka akan bertemu kembali lagi dengannya.
"Apa yang kau lakukan di kantorku bersama mantan karyawanku ini?!" desaknya tanpa canggung-canggung lagi.
"I-i-ini, aku.. Hemm, anuuu.." mantan kliennya itu kesulitan mencari alasan.
"Aku, ini, anu... Apa itu?!" tanya Seojun tak sabaran lagi.
Tidak lama kemudian, Sumiatun turun kebawah dan menemui Seojun didalam minimarket itu. Diapun sama kagetnya melihat mereka bertemu dalam keadaan seperti itu.
Sementara ahjuma dan putranya nampak bersiap-siap kalau saja mereka berantem didalam tokonya, mereka akan sigap mencatat apa saja yang rusak, agar memudahkan mereka meminta ganti rugi nantinya.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung