Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 42 Krisis


__ADS_3

Ningsih baru ngeh setelah semua orang pergi meninggalkan dirinya, dia mau nyusul tapi ketiga orang tadi sudah menghilang, mau gak mau akhirnya dia pulang naik taksi, untung dia bawa tas tadi.


Saat kembali ke kantor, suasananya sangat sibuk. Semua orang nampak mondar-mandir menerima sejumlah telpon dari pihak investor, ada yang membatalkan kerja samanya begitu saja, ada yang meminta dikembalikan modal mereka, ada juga yang sedikit mengancam dan meneror mereka.


Berkas berterbangan dan berserakan, suasana kantor benar-benar chaos. Ningsih menemui Seonho di ruangannya, dia tak kalah sibuknya menerima beberapa email dari beberapa kliennya, dia juga berusaha beberapa kali melobi mereka.


"Tuan, tidak seperti itu ceritanya. Tolong dengarkan saya.."


"Tuan, beri kami kesempatan lagi.."


"Tolong percaya saja kepada kami.."


Seonho benar-benar lelah dengan semuanya, dia melihat kearah Ningsih yang sedari tadi diam memperhatikannya, dia merasa kecewa, marah dan sedih, tapi Seonho harus menahan semuanya.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Kembalilah ke mejamu, kita semua sedang sibuk mengurus ini semua.." ucap Seonho masih berusaha berbicara lembut kepadanya.


"Iya, tapi... Aku minta maaf dengan semua ini, aku tak menyangka akan seperti ini kejadiannya.." ucap Ningsih merasa bersalah.


"Sudahlah, nanti saja kita membahasnya.. Kembalilah ke mejamu," sahut Seonho dengan datar.


Ningsih terdiam, dia kembali kemejanya. Dia mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya, dia bolak-balik ke ruangan Seonho karena banyak yang tak dimengerti olehnya. Dia juga beberapa kali terlibat cekcok dengan beberapa rekannya karena kesalahpahaman.


"Ada apa ini?! Kita ini lagi menghadapi krisis besar-besaran, tolong tetap fokus! Dan jangan membuat kekacauan lagi," bentak Seonho, benar-benar emosi dengan situasi yang kacau ini.


"Pak, Nona Ning Ning beberapa kali melakukan kesalahan. Kami berniat memberitahunya, tapi dia tetap ngotot tidak mau disalahkan.." ujar salah satu karyawan itu.


"Tidak seperti itu, aku melakukan semuanya atas saranmu juga, Seonho!" bantah Ningsih.


"Nona, tolong bersikaplah yang sopan dengan Sajangnim.." ujar karyawan tadi, tak suka dengan Ningsih menyebutkan nama atasan begitu saja meskipun mereka memiliki hubungan pribadi.


"Apa yang salah?!" tanya Ningsih tak mengerti.


"Ning, tolonglah.. Berhenti, dan kau kemarilah" ujar Seonho datar.


Kemudian karyawan itu mengikuti Seonho kedalam ruangannya, Ningsih tidak tahu apa yang mereka bahas didalam sana, karena pintu ruangannya ditutup.


Setelah itu, karyawan tadi keluar dari ruangan dan kembali bekerja seperti yang lainnya. Ningsih merasa diabaikan, kemudian dia juga masuk kedalam ruangannya Seonho dan berniat bertanya apa yang terjadi dengannya.


"Jika tidak ada yang ingin kamu katakan, keluar saja! Aku sibuk dan kembalilah ke mejamu," ucap Seonho saat melihat Ningsih hanya berdiam diri saja didepannya.


Dalam sekejap Ningsih melihat Seonho seperti orang asing, dia sangat berbeda sekali dengan apa yang dia lihat selama ini, mendadak Seonho kembali seperti mereka bertemu pertama kali.

__ADS_1


Ningsih meninggalkan Seonho yang sibuk dengan laptopnya, tanpa sedikitpun meliriknya. Ningsih pergi kelantai tiga, dan ternyata di sana situasinya tak jauh berbeda dengan dibawah. Sumiatun dan beberapa karyawan juga begitu sibuk.


"Sum.." sapa Ningsih pelan.


"Nanti aja ya Ning, gue lagi sibuk banget sama yang lain! Lu balik aja dulu kebawah, bantuin si Seonho sana!" ujar Sumiatun juga.


Ningsih merasa sedih sekali, dia merasa menjadi beban mereka semua. Dia memang tidak pintar seperti Seonho ataupun Sumiatun, tapi setidaknya dia jago dalam hal strategi.


Tapi semua orang tak bisa melihatnya itu darinya, karena sudah melihat kemampuan akademiknya, dan mengira dia adalah gadis biasa yang hanya mengandalkan kekayaan dan kekuasaan ayahnya saja, sebenarnya memang seperti itu sih..


"Ning, sst.. Kemarilah," tiba-tiba saja Seojun nongol dibalik pintu ruangannya.


"Astagaa, ngagetin bae pak bos!" ujar Ningsih terkaget-kaget saat lihat ada kepala nongol dibalik pintu.


"Ada apa, Pak?" tanya Ningsih hati-hati, dia takut kena semprot sama Seojun gara-gara tadi.


"Kamu kenapa tegang sekali? Rileks, aku takkan memarahimu, kok! Malah aku salut sama kamu, ucapanmu bisa menggoyahkan perekonomian semua perusahaan di industri ini, haha.." jawab Seojun terlihat santai, berbeda sekali dengan semua orang yang diluar, begitu sibuk sekali.


"Aku pikir anda akan memarahi saya, karena perkataan saya sudah melukai harga diri ketua Park, dan membuat perusahaan ini terancam bangkrut.." ujar Ningsih, mendadak berbicara formal.


"Jangan terlalu serius seperti itu, aku tahu kok lambat laun usaha ini akana hancur juga. Entah aku yang tidak bisa bekerja dengan baik, atau akan dihancurkan oleh ayahku sendiri.. Ini bukan salahmu, ini memang sudah direncanakan oleh ayahku," ucap Seojun tetap tenang.


Ningsih tersenyum lega, dia pun keluar dari ruangannya Seojun dan akan turun kebawah, dan berharap Seonho kembali seperti semula, dan bisa mengerti dan memahaminya. Sumiatun melihat Ningsih keluar dari ruangan Seojun, tak ada kecurigaan apapun padanya, dia sangat percaya dengan sahabatnya itu.


Sesampainya dibawah, ternyata kenyataan diluar ekspektasi. Seonho menatapnya tajam, dia membawa setumpuk berkas yang harus diselesaikan oleh Ningsih hari itu juga.


"Darimana saja kamu?! Kamu tau sendiri kan perusahaan kita sekarang akan mengalami kerugian besar, tapi kamu masih bersikap santai dan biasa-biasa saja! Oke, kamu memiliki segalanya, tapi pikirkan karyawan yang lain!


Kami sangat bergantung dengan perusahaan kecil yang baru merintis ini, kami baru saja bahagia karena merasa tak sia-sia bekerja siang malam, akhirnya usaha ini akan berhasil dan sukses juga, tiba-tiba hancur seketika oleh perilakumu itu!" bentak Seonho dihadapan semua karyawan.


Dhegh!


Jantung Ningsih rasanya berhenti berdetak, dia tak menyangka prilakunya tadi begitu menyakiti Seonho, dia tak tahu dengan apa yang dia perbuat tadi bisa merusak masa depan semua orang, dia hanya diam tertunduk dan langsung mengerjakan pekerjaannya tanpa banyak bertanya lagi.


Setelah berbicara seperti itu, Seonho kembali ke ruangannya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku harap setelah ini dia mau belajar lagi dan bisa mengambil hikmahnya, tidak semua apa yang dia pikirkan bisa terjadi. Aku, aku akan memperhatikannya lagi setelah ini semua berakhir.." gumam Seonho, dia juga sadar mungkin saja ucapannya tadi bisa menyakiti Ningsih.


Sementara itu, waktu terus berjalan. Hari semakin sore dan malam pun tiba, semua orang lembur tanpa terkecuali. Tak ada yang terlihat santai, semuanya begitu sibuk. Bahkan makan malam pun seadanya.


Saat pukul sepuluh malam satu persatu semua karyawannya sudah pulang membubarkan diri, Seonho mendadak ada pekerjaan diluar, dia berniat ingin keluar sebentar lalu kembali lagi ke kantornya.

__ADS_1


Tinggallah Ningsih sendirian di ruangan itu, dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Sudah satu jam berlalu dan pukul sebelas malam sudah terlewati, tapi Seonho belum juga pulang.


"Ning, pulang yuk!" ajak Sumiatun, dia menghampiri Ningsih bersama Seojun.


"Pulang aja duluan, aku masih banyak pekerjaan.." tolak Ningsih, sibuk dengan berkas-berkas ditangannya.


"Tapi ini udah sepi loh, semua orang sudah pulang.." ujar Sumiatun khawatir juga dia dengan sahabatnya itu.


"Gak apa, Seonho akan balik lagi. Katanya dia mau ke kantor lagi kok, nanti aku pulang sama dia.." ucap Ningsih masih berusaha tenang dan tersenyum.


"Ya udah kalau gitu, tapi kalau udah lewat jam dua belas dia belum juga pulang, kamu pulang aja! Naik taksi, oke?" ujar Sumiatun lagi.


"Iya.." angguknya sambil tersenyum tenang.


Semua orang sudah pulang malam itu, tinggallah dia sendirian. Malam itu terlihat begitu sepi dan sunyi, semua lampu dan penghangat ruangan dimatikan, untuk menghemat pengeluaran mereka, Ningsih hanya menggunakan lampu kerja yang menyala di mejanya, memakai sweater rajut yang selalu dia bawa, lumayan menghangatkan tubuhnya.


Sementara itu, Seonho melangkah gontai dan lesu. Dia tak menyangka pertemuannya dengan salah satu kliennya yang diharapkan bisa menyelamatkan perusahaannya, tapi malah dia dan Seojun dikenakan ganti rugi akibat merosotnya hasil produksi gara-gara kekurangan dana.


"Aku harus bagaimana dengan Seojun? Apa kami harus menyerah dengan keadaan? Meninggalkan semua prinsip hidup dan kembali menjadi budak korporat lagi di perusahaan itu? Ck, nasibku ini benar-benar mengenaskan!" ujarnya.


kemudian dia pulang melajukan mobilnya ke apartemennya yang dia beli bersama sang ayah, sesampainya di sana dia terkejut melihat Seojun tidur di kamarnya.


"Dia bilang tak bisa pulang, apartemennya diawasi oleh ayahnya. Katanya didepan unitnya ada beberapa orang yang berjaga di sana.." ujar pak Kim menjelaskannya.


"Tapi kenapa dia ingin tidur didalam kamarku?! Kan ada kamar tamu yang kosong, bersih dan rapi juga malah!" sungut Seonho tak terima.


"Sudah tak apa, kamu saja yang tidur didalam kamar tamu!" ujar ayahnya menenangkannya.


"Dan Ayah kenapa belum tidur? O ya, bukankah ayah seharusnya malam ini jaga malam yah?" tanya Seonho bingung.


"Ayah dipulangkan, tidak tahu ada masalah apa.. Besok pagi akan ayah tanyakan," ujar pak Kim lagi.


Seonho jadi kepikiran, kalau seandainya dia punya kemungkinan yang terburuk, dipecat, menganggur.. Apa yang akan terjadi dengan ayahnya? Pasti akan menjadi beban yang sangat besar sekali bagi ayahnya.


"Gak usah dipikirin, jika ayah tak bekerja lagi kita bisa bikin usaha makanan kecil-kecilan. Bukankah kau juga jago memasak? Haha.. Lagian kita tidak akan kembali seperti dulu, kita punya tempat tinggal sekarang.. Sebangkrut apapun kita, jangan menjual rumah ini, karena ini adalah harta kita satu-satunya.." ucap sang ayah dengan tenang.


Seonho tersenyum dan kembali tenang dengan ucapan sang ayah, dia tanpa sadar melupakan keberadaan Ningsih saat ini. Karena gadis itu saat ini sedang bersembunyi ketakutan dibalik lemari ruangannya Seonho.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2