Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 36 Takut Kehilanganmu


__ADS_3

Seojun terdiam sejenak dengan apa yang barusan dia lihat, dia tak menyangka akan menyaksikan sesuatu yang seharusnya tak dia ketahui. Hatinya teriris sakit rasanya, dia seperti berkali-kali dikhianati oleh orang-orang disekitarnya.


"Kenapa aku selalu merasakan hal ini, kenapa harus aku?" gumamnya sambil menahan Isak tangisnya.


Seandainya dia tak datang malam ini, maka dia takkan pernah melihat kejadian itu. Mendadak perasaan sayang itu berubah menjadi benci, karena dia tahu betul kedekatan ibunya dengan pak Jeong hanya sebatas majikan dan pelayan, setahunya mereka tak memiliki kedekatan lebih dari itu.


"Apa selama ini mereka diam-diam menjalin hubungan tanpa setahu ayah? Apa ibu nekat melakukan hal itu karena kecewa dengan perselingkuhan ayah?" gumamnya lagi.


Setelah terdiam beberapa saat, pikirannya langsung teringat dengan Sumiatun, gadis itu selalu memiliki firasat yang kuat, mungkinkah mereka memang ditakdirkan bersama?


Setelah itu, Seojun langsung keluar dari persembunyiannya dan keluar dari ruangan kerja ayahnya, melalui pintu tempat dia masuk tadi, sedetik kemudian ayahnya masuk kedalam ruangan itu, benar-benar waktu yang pas.


"Ini hanya perasaanku saja atau memang ada yang lewat barusan?" gumam ketua Park kebingungan sendiri.


Setelah itu dia mengabaikan perasaannya itu setelah memastikan semua baik-baik saja didalam ruangannya itu, dia hanya menemukan amplop coklat besar didalam meja kerjanya.


"Apa lagi ini? Apa ini terkait dengan Seojun lagi?" gumam ketua Park sambil menghela nafas berat.


Sementara itu, Seojun langsung terdiam ketika dia masuk kedalam ruangan sebelah, tak sengaja dia malah terpergok oleh Gaeun, gadis kecil itu pura-pura tak melihat kakaknya, mungkin dia juga gugup saat mereka saling bertatap mata atau mungkin saja dia tak ingin ikut campur urusannya.


"Astaga! Aku lupa mau mengambil amplop di meja ayah," ujar Seojun sambil menepok jidatnya.


Pas dia mau berbaik, eh pintunya malah terbuka! Tentu saja itu mengejutkannya, dia buru-buru bersembunyi dibalik pintu, dan berharap sang ayah tak menengok dibelakang pintu ada siapa.


"Gaeun, apa kamu melihat seseorang masuk atau keluar dari ruangan ayah?" tanya pak Park kepada putrinya itu.


"Ti-tidak Ayah!" jawab Gaeun berbohong.

__ADS_1


"Oh, ya sudah! Lanjutkan kegiatanmu, jangan tidur terlalu malam.." ucap ketua Park sebelum menutup pintunya.


"Baik, Ayah.." sahut Gaeun lagi sambil tersenyum.


Seojun sedikit terkejut mendengar Gaeun berbohong kepada ayahnya mengenai dirinya, dia berusaha menampik pertolongan adiknya itu dengan alasan, mungkin saja dia ingin terlihat baik dimatanya.


Dia meninggalkan Gaeun begitu saja, gadis kecil itu menahan rasa sedihnya ketika diabaikan sang kakak.


Seojun keluar dari rumah itu dengan lancar tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali Gaeun dan para pelayan. Dia melajukan mobilnya dengan kencang, pikirannya saat ini sedang kalut, ponselnya berbunyi sejak tadi dia hiraukan.


Membuat Seonho begitu mengkhawatirkannya, dia penasaran apa yang dilakukan oleh Seojun saat ini, dia juga ingin tahu apa teman sekaligus bosnya itu menemukan sesuatu dari rumahnya.


"Untung saja aku memasang aplikasi itu, jika tidak mana mungkin aku bisa menemukannya saat ini," gumamnya memperhatikan ponselnya.


Seonho secara diam-diam memasang aplikasi pasangan itu, dengan aplikasi itu kita bisa mengetahui dimana pasangan kita berada dengan memasang nomor ponselnya saja. Sebenarnya Seonho geli rasanya harus melakukan hal itu, tapi dia terpaksa melakukannya karena Seojun suka tak mengangkat telponnya.


Kadang itu juga berguna disaat dia membutuhkannya, dulu ketua Park sering meminta tolong padanya untuk melaporkan semua kegiatan Seojun, meskipun dia tak berada dekat dengannya saat itu, dengan aplikasi ini dia tahu saat ini bosnya lagi dimana.


Melihat itu, Seonho sedikit banyak mulai mengerti dan memahami Seojun, untuk mendekatinya Seonho pun ikut meminum Soju miliknya yang tinggal satu botol saja, terlihat raut wajah tak suka di mukanya Seojun, tapi Seonho tak peduli.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Setiap kali ada masalah kamu selalu minum, kamu tau kan minuman ini tak terlalu baik untuk tubuh! Jika kamu mabuk, dan tak ingat apa-apa.. Kamu bisa jadi korban perampokan, pembunuhan, atau dalam keadaan tak sadar kamu malah berjalan ketengah sungai dan mati tenggelam, mau begitu?!" ujar Seonho, membuat Seojun langsung merinding.


"Kamu kesini mau ngapain?! Kalau mau ceramah nanti saja, aku lagi tidak mood!" ujar Seojun kesal.


"Aku kesini sedang menjalani sebuah misi, dari Somi. Katanya tolong perhatikan Seojun jika dia mulai lupa diri, ingatkan ada dia di sana menunggumu.." ujar Seonho bohong.


Tentu saja Seojun tahu Seonho berbohong, tapi dia senang mendengarnya. Dia lupa, dia tak sendirian di dunia ini, dibalik kekecewaannya kepada keluarga dan orang yang begitu dekat dengannya, ada sahabat dan wanita yang begitu dia sayangi ada disampingnya.

__ADS_1


"Kaauuu... Tidak akan pergi meninggalkan aku kan? Kau tidak akan berkhianat kepadaku kan? Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan, tidak ada sesuatu yang kau rahasiakan dariku kan?!" cecar Seojun sambil menatap tajam kearah Seonho.


Dia mulai parno sendiri, dia takut sahabatnya itu juga akan mengkhianatinya, dia takut akan ditinggal sendirian lagi. Ketakutan itu datang dengan sendirinya.


"Kau kenapa sih?! Mabuk yah?! Jangan membuat aku merinding dengan tingkahmu ini, untung saja disini sepi jika ada yang melihat kita, disangkanya kita ini pasangan lagi!" gerutu Seonho sedikit menggeser duduknya menjauhi Seojun.


"Kenapa memangnya? Kamu itu memang pasanganku! Kita kemana-mana selalu bersama, kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?! Kenaapaaa?!" tanya Seojun lebay.


"Wah, mulai ghilak nih anak! Sebaiknya aku bawa dia pulang sebelum membuat kekacauan," ujar Seonho.


Dia membawa Seojun ke apartemennya, sebelumnya dia sudah menelepon sopir pengganti untuk membawa mobilnya Seojun juga. Sesampainya di apartemen Seojun, dia melihat ada seseorang yang sedang mengawasi pintu depan unit milik Seojun.


"Siapa dia? Apa yang dia lakukan didepan pintu unit milik Seojun?!" gumam Seonho.


"Seonhooo, kau tidak akan meninggalkan aku juga kaaan.. Ngik!" tiba-tiba saja Seojun bersuara sambil cegukan.


Orang didepan unitnya Seonho langsung pergi setelah mendengar suara seseorang dari gang lain di lantai itu, mungkin dia takut ketahuan. Melihat itu Seonho menggunakan kesempatan itu untuk membawa masuk Seojun kedalam unitnya, dan untungnya gak ketahuan.


"Apa dia tahu jika Seojun tidak ada di rumah? Kalau dia adalah pencuri mengincar rumah random sih wajar saja, dia tak menentukan siapa targetnya, jika orang itu tahu siapa Seojun, berarti dia tahu anak ini tak ada di rumah, terbukti tidak ada mobilnya Seojun saat dia datang tadi.." ujar Seonho sambil bertanya-tanya sendiri.


Dia meletakkan Seojun kedalam kamarnya, melepaskan sepatunya, bahkan menggantikan bajunya. Dia mau melakukannya asalkan tidak ada bekas muntahan, karena Seonho orangnya sangat pembersih dan paling tak suka tempat kotor.


"Anak ini tidak pernah berubah, tinggal sendiri pun tak ada niatan mau merapikan rumahnya! Mending ada asisten rumah tangga, lihatlah.. Bantal kursi dibiarkan berantakan, piring kotor dibiarkan begitu saja tanpa dicuci, entah sejak kapan ini berada disini! Benar-benar jorok sekali," ujar Seonho bergidik geli dia melihatnya.


Bukannya langsung pulang dia malah membersihkan rumah itu, dia tak tahan melihatnya begitu berantakan. Saat dia begitu sibuk bersih-bersih, dia mendengar ada suara di luar sana, seperti seseorang yang berusaha membobol pintu rumah itu.


Seonho mengintip dari layar monitor yang terhubung dengan kamera didepan pintu depan. Dia tak bisa melihat jelas wajah orang itu, karena orang itu memakai masker dan topi hitam hampir menutupi sebagian wajahnya.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2