
Sementara itu di apartemen, Ningsih masih harap-harap cemas menunggu di sana. Sebelumnya dia sudah beberapa kali menghubungi sang ayah tapi tak diangat, dia begitu cemas sekali, saat pertama kali sampai di apartemen, dia langsung dikasih pertanyaan oleh gadis dari unit sebelah.
"Jadi, dia ayahmu?! Aku gak tau kalau kamu pagi tadi pergi ke airport untuk menjemputnya, malah aku kasih tau tempat kamu bekerja, mianhe.." ucap gadis itu merasa tak enak hati.
"Ya sudah, tak apa.." ucap Ningsih sambil tersenyum, sesaat sebelum dia masuk kedalam unit apartemennya.
"Aaargghh! Mampus gue, mampus gue!" teriaknya sendiri.
"Malah itu lebih berbahaya! Papa pasti bakalan tahu apa yang terjadi jika dia benaran datang ke sana, aaahh! Sebel-sebel!" teriaknya lagi.
Makanya saat dia menelpon kembali, kali ini diangkat tapi yang angkat malah asistennya pak Smith, dan bilang saat ini mereka sedang berada di kantor kedutaan, membuat Ningsih semakin blingsatan.
"Gawat ini kalau udah nyampe kedutaan, bisa-bisa masuk ke koran beritanya! Kan gak cakep kalau muka aing sama si Sumi nongol di halaman pertama, gila aja!" gerutunya lagi
Setelah beberapa jam, sudah lewat dari tengah hari Ningsih masih menunggu papanya belum juga datang, masih juga belum ada kabar dari Seonho mengenai Sumiatun.
"Setidaknya kalau papa datang nanti, si Sumi udah balik!" gumamnya sendiri.
Ting, Tong!
Suara bel berbunyi, detak jantungnya semakin kencang. Dia harap-harap cemas dibuatnya, dia melihat kearah layar monitor yang mengarah ke depan pintu apartemennya, cuma wajah asisten papanya saja yang terlihat.
"Bismillah.." gumamnya sambil menarik handle pintu dengan gugup sambil menghirup udara dengan cepat.
"Assalamualaikum.." salam pak Smith dan Sumiatun secara bersamaan.
"Wa'wa-wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh.." jawab Ningsih sambil menarik nafasnya dalam-dalam saking terkejutnya dia.
Kali ini dia benar-benar mengkaget, karena melihat kedatangan sang papa bersama sahabatnya Sumiatun, bagaimana bisa mereka datang bersamaan? Apa kebetulan datangnya bareng? Atau, papanya telah melakukan sesuatu?
"Papa? Sumi?" tanyanya masih syok.
"Mau sampai kapan kita berdiri disini?!" tanya pak Smith sengit.
"Eh, maaf-maaf.. Disilakan masuk, sendalnya tolong dilepas.." jawabnya spontan.
__ADS_1
Mereka semuanya masuk, Sumiatun dan Ningsih duduk berhadapan dengan pak Smith, keduanya menundukkan kepalanya tak berani menatap tatapan tajam pak Smith.
"Jadi, siapa yang akan menceritakan semua permasalahan ini?" tanya pak Smith lembut tapi tatapannya sangar.
"Kami akan bercerita bergantian, Pa.." jawab Ningsih pelan.
"Baik, ceritakan semuanya tanpa terkecuali! Papa ingin mendengar semuanya," ucap pak Smith.
Pertama yang bercerita adalah Sumiatun, dia menceritakan semua kisahnya awal pertama datang hingga pada saat sekarang ini, dari awal kuliah, kerja, hubungannya dengan seorang pemuda Korea, hubungan tak direstui, masalah di perkantoran termasuk jebakan yang dia alami saat itu.
Kemudian, Ningsih pun ikut bercerita versi dirinya. Ceritanya juga tak jauh berbeda dengan Sumiatun, paling sedikit berbeda saat jadwal keduanya tak sama, seperti Ningsih kuliah pagi, Sumiatun bekerja di kantor ayahnya Seojun jadi OG saat itu.
Setelah itu hampir sama, karena keduanya selalu bersama sampai saat mereka memutuskan pindah kampus dan bekerja di kantornya Seojun dan Seonho.
"Jadi inti permasalahannya adalah di dua pemuda itu, jika kalian berdua tak kenal maka kalian tidak mungkin terlibat dengan semua kasus ini! Apa kalian tidak sadar jika kalian sedang ditipu oleh mereka?!
Ya Tuhan, begitu sering aku membaca ataupun menonton berita tentang penipuan para mahasiswa asing di negeri ini, akhirnya terjadi juga kepada kalian berdua, ya ampun!
Untung saja Papa langsung berinisiatif untuk datang kesini kemarin, entah firasat atau bukan perasaan Papa dan mama tak tenang semenjak ada stalker yang terus datang ke rumah juga kantor Papa.." ujar pak Smith mengutarakan perasaannya.
"Huufth, sudahlah.. Papa akan berada disini untuk sementara waktu sampai urusan kalian disini selesai, setelah itu kita pulang ke Indonesia! Lebih baik kuliah di sana, setidaknya Papa dan Mama bisa mengawasi kalian.
Dan kau Sumi, babeh Dadang sangat khawatir sekali denganmu. Kamu sudah lama tak menghubunginya, babeh dan mak merindukanmu, kamu tuh anak satu-satunya yang mereka miliki!
Pokoknya, keputusan Papa sudah bulat! Kita urus dulu urusan kalian yang belum selesai, setelah itu kita pulang. Kuliah di Indonesia, di Jakarta aja! Ini gak bisa diganggu lagi.." ujar pak Smith lagi.
Setelah panjang lebar memarahi juga menasehati mereka berdua, Pak Smith pamit mau pulang ke hotel bersama beberapa orang-orangnya, nanti malam mereka berjanji akan mengadakan makan malam bersama, di apartemennya, tentu saja.
"Kirain mau makan malam di restoran, ternyata disini juga! Papa pelit, baru datang seharusnya traktir kita makan enak.." sungut Ningsih kesal.
"Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, Ning.. Dan itu penting mungkin," ujar Sumiatun mengingatkannya.
"Iya, kali yak.. Ah! Paling buat marahin kita, ceramah lagi!" sahut Ningsih sambil cemberut.
"Beruntung masih ada yang mau ceramahin, itu tandanya masih ada yang perhatian ama kita! Lagian kita emang salah juga sih.." sambung Sumiatun sambil sedikit menerawang jauh.
__ADS_1
"Lu baru semalaman nginep di sono langsung dewasa bae otaknya, haha! Ceritanya dong pahit, manis asam garam kehidupanmu," goda Ningsih sambil cengengesan.
"Lu kira gue ngapain di sono?! Kagak ada! Gue cuma bengong bae, kagak boleh pegang handphone, mau nanya juga kagak boleh! Bosen," sahut Sumiatun kesel.
"Iya juga sih, gue pernah rebahan seharian di kamar juga lama-lama bosan! Kadang gue juga heran ama generasi rebahan, betah bae ye selonjoran mulu!" kata Ningsih sambil pura-pura mikir.
"Udahlah mikirin hal begituan kagak penting, gue mau mandi, makan terus tidur! Capek," ujar Sumiatun.
"Lah, bisa capek juga bengong seharian di sono!" kata Ningsih heran ama kelakuan Sumiatun.
.
Malamnya, pak Smith datang bersama asistennya sambil membawa beberapa makanan untuk mereka makan malam bersama, sedangkan beberapa orang-orangnya dia biarkan untuk beristirahat sebentar malam ini, sebelum kembali sibuk besok pagi.
"Papa sengaja ngajak kalian makan disini bukannya di restoran, soalnya mama bawain rendang, jengkol balado ala mak Rodiyah, sama abon sapi, serundeng ayam, tempe orek, juga perkedel!" ujar pak Smith sambil ngarahin asistennya buat naruh semuanya diatas meja.
"Wiihh, aman Pa? Lolos dari pemeriksaan di bandara?" tanya Ningsih, sedangkan Sumiatun langsung inisatif buat manasin rendang, dan memastikan agar rendangnya kagak gosong lagi.
"Amanlah, kan Papa juga bawanya gak banyak.. Biasanya makanan gak masuk kategori barang-barang yang dilarang untuk dibawa kok.." ucap pak Smith sambil tersenyum seiring aroma rendang tercium menggoda selera.
"Ooh, kirain Papa sengaja mau makan disini biar hemat, gak ngeluarin duit banyak!" ujar Ningsih asal ngomong.
"Salah satunya itu juga sih.." jawab pak Smith langsung terkekeh, asistennya juga ikut tersenyum.
"Dasar Papa!" balas Ningsih sambil memukul pelan sang papa, gregetan!
Setelah menunggu Sumiatun memanaskan beberapa makanan, akhirnya mereka bisa juga makan malam dengan nikmatnya, makanan khas dari negara sendiri begitu nikmatnya.
Sementara itu, di kepala pak Smith saat ini sedang berpikir, bagaimana caranya menemui dua pemuda yang sudah membawa dua gadis ini dalam masalah besar?
"Mereka harus aku temukan sebelum aku pergi membawa mereka pulang ke Indonesia, mereka harus diberi pelajaran dulu!" gumam pak Smith dalam hati.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1