Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 28 Di DO Pihak Kampus


__ADS_3

Mereka bertiga keluar dari ruangan ketua Park, di kepalanya Seojun sudah begitu banyak rencana-rencana yang akan dia lakukan setelah keluar dari perusahaan ayahnya tersebut.


"Dia sama sekali tak takut keluar dari sini, apa dia sudah menyiapkan semuanya, atau memang anak ini tak tahu apa-apa tentang dunia luar, sehingga dia terlihat tenang-tenang saja.." gumam Seonho sambil memperlihatkan Seojun.


"Kita pulang saja hari ini, em.. Bagaimana jika ke kampus saja, mengurus perubahan jadwal kuliah kita, maksudku kita atur kembali kuliahnya lagi ke kelas, balik lagi ke kampus kayak dulu?" tanya Seojun mengutarakan pendapatnya.


"Bolehlah, kebetulan hari ini aku mendadak kangen sama si Ningsih, yuk ah!" jawab Sumiatun langsung turun dari lift dan menuju ke ruangannya Seonho, mengambil beberapa barang-barang miliknya.


"Hadeh, nasib orang siapa yang tau ye kan.. Udah prepare bawa segala tempat makan sendiri, botol minum sendiri, ampe alat mandipun gue bawa, sekarang malah diangkutin lagi, hadeehh..." gumam Sumiatun sembari merapikan barang-barangnya lagi.


"Sudah semuanya? Ayo kita berangkat!" ajak Seojun bersemangat.


Sumiatun berjalan sedikit gontai, dia tak menyangka akan terjebak dengan semua urusan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya sendiri, dia masih berpikir jika dia dikeluarkan karena gara-gara nonjok pegawai itu, padahal yang terjadi adalah akibat kesalahpahaman yang dibuat oleh Seojun sendiri.


"Tunggu dulu, aku mau menanyakan sesuatu kepada kamu?! Kenapa aku harus dipecat dari perusahaan ini?! Kan aku gak salah, anak itu juga mukanya gak hancur! Kenapaa?!" tanya Sumiatun gak percaya dengan apa yang menimpa dirinya.


"Kamu memang gak salah, tapi kamu harus menerima semua takdir ini dengan lapang dada.." jawab Seojun sok bijak.


"Sudah, yang penting kita keluar saja dulu dari sini!" sahut juga Seonho, dia risih setiap mata memandang aneh terhadap mereka bertiga, bahkan Seojun tidak dikawal lagi oleh beberapa pengawal di kantornya itu, ketua Park melarang mereka menjaga putranya itu.


Sumiatun mengikuti mereka dengan cemberut, dia merasa terjebak diantara mereka. Gimana bisa, dia hanya cuma pengen kerja aja, dan harus ikut-ikutan kena konflik antara penerus perusahaan itu bersama ayahnya.


"Mimpi apa gue semalam, huft! Kalau tau bakalan begini jadinya, gue gak bakalan peduli dah sama dia atau yang lainnya! Bodo' amat gue mah, tapi... Sulit rasanya liat dia diremehkan sama orang lain, gue kenapa yah? Apa bener kata Ningsih gue udah ada rasa sama dia, tapi kok gak berasa yah? Aneh.." gumamnya lagi.


Sekarang ini mereka sedang menuju kampusnya, dimana saat ini Ningsih lagi kebingungan sendiri. Dia tiba-tiba dipanggil oleh rektornya, dan bilang akan dikeluarkan gara-gara masalah sepele, dan itu juga bukan masalahnya pula, kan aneh!


"Tapi kan Sajangnim, aku tak melakukan kesalahan apapun, kenapa pula aku ikut dikeluarkan?" tanya Ningsih tak mengerti.


"Karena kamu dianggap bekerja sama dengannya, menutupi semua itu dari kami!" ucap rektornya sangat serius.


"Tapi kan yang kuliah sambil kerja seperti Sumiatun itu banyak, Sajangnim.. Kenapa dipermasalahkan?" tanya Ningsih heran.


"Masalahnya, dia bekerja full time dan tidak pergi kuliah juga! Itu bukan part time lagi namanya, kalau memang ingin kerja silakan kami tak melarang, tapi setidaknya konfirmasi dulu ke kami dan kami tidak menolerir mahasiswa tidak masuk kuliah tanpa keterangan, kami anggap itu Pembolosan. Apalagi dia juga mahasiswa baru juga," ujar dosennya menjelaskan.


Ningsih hanya bisa memijit kepalanya saja, kenapa ini bisa terjadi? Ini sahabatnya kena tipu atau sedang ikut sekte sesat? Bisa jadi sih, kan banyak tuh mahasiswa asing yang kena sasaran 'mereka' untuk mengikuti aliran aneh semacam itu.

__ADS_1


Dia keluar dengan perasaan gamang, dia masih bingung dengan semua yang terjadi. Ini sebenarnya kenapa bisa seperti ini sih? Di saat dia kebingungan seperti itu, dia melihat Sumiatun berlari kearahnya bersama dua pemuda tampan, idola para gadis di kampusnya.


"Ningsih!" teriak Sumiatun dari kejauhan memanggilnya.


Ningsih hanya melambaikan tangannya, dia jadi parnoan sediri sekarang. Ini yang sekarang Sumiatun sahabatnya dulu atau Sumiatun yang udah masuk aliran sesat? Dan secara tiba-tiba dia melihat Seonho dan Seojun seperti dua penyihir yang lagi nyamar jadi pemuda tampan, untuk memikat para korbannya.


"Ning, gue kangen.." ujar Sumiatun saat sudah berhadapan dengan Ningsih, dia pengen meluk sahabatnya itu setelah hampir seharian ini dia lelaahh, menghadapi kenyataan hiiduup!


"Eits, mau ngapain lu?!" tanya Ningsih waspada, saat Sumiatun mau memeluknya.


"Lu napa sih?! Gue lagi butuh kehangatan darimu, gue lagi butuh energi positif lu buat nyemangatin gue yang lagi down sekarang ini!" jawab Sumiatun kesel.


"Eeeh, maksudnya apa nih butuh kehangatan gueeh? Guehh masih normal, coy!" ujar Ningsih salah faham.


"Lu sharap ye, siapa juga yang kayak gitu! Otak lu kebanyakan geser ke kiri makanya gak nyambung kalau diajak ngomong, Oneeengg!" sahut Sumiatun tambah kesel.


"Lah, terus apa tadi? Pengen peluk-peluk segala, mau ambil energi positif gue juga! Kalau lu ambil, entar gue jadi negatif dong! Ehek!" ujar Ningsih lagi.


"Hadeh, bukannya dari dulu kita juga kayak gitu, Ningsih Cornelia! Peyuk-peyukan jika salah satu dari kita ada yang pusing, ini nih.. Ini nih parah ini!" ucap Sumiatun mengingatkannya lagi.


"Ningsih!" teriak Sumiatun gemess.


Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk ditaman samping kampus mereka, dan saling bercerita apa yang terjadi saat ini kepada mereka.


"Jadi, gue selama seminggu kerja dan selama seminggu kuliah malam dianggap bolos gitu?! Tanpa keterangan?! Kan gue ikut kuliah sama mereka, Ning!" ucap Sumiatun tak percaya.


"Iya, gue tau. Gue jadi saksinya! Tapi kagak ada yang percaya sama gue, malah dikiranya gue ngadi-ngadi lagi! Mana gue juga ikutan di DO ama kampus, dikiranya gue ikut-ikutan kayak lu, Ning.." cerita Ningsih syedih.


"Maafin gue yak, gara-gara gue lu kena imbasnya.." ucap Sumiatun sedih.


"Lu gak salah, Sum.. Cuma kita berdua kena apesnya aja, masalahnya kita mau ngomong apa sama papa dan mamaku? Apa kita pindah aja kuliahnya?" tanya Ningsih pusing.


"Ya, mau gak mau pindahlah.. Namanya di DO, udah pasti keluar namanya.." jawab Sumiatun lagi.


Sementara itu, Seonho dan Seojun yang memperhatikan mereka dari kejauhan, agak miris juga melihat nasib mereka berdua. Kena DO tanpa tahu apa-apa, dan ternyata selama ini ketua Park sudah lama mengawasi mereka, bahkan dia juga sudah tau tempat tinggalnya Sumiatun dan Ningsih.

__ADS_1


Diam-diam ketua Park menyuruh orang lain mencari tahu identitas keduanya, dan mencoret nama keduanya dari daftar mahasiswa di kampus yang dia jadi donaturnya. Dia memanfaatkan situasi dimana Sumiatun ikut kelas malam bersama Seojun dan Seonho, meminta pihak kampus menganggapnya bolos selama itu juga.


Dan Ningsih juga ikut kena getahnya, karena dianggap ikut bekerja sama dengan yang lainnya, apalagi dia tahu ayahnya Seonho jadi security di apartemen tempat mereka tinggal.


"Ayah benar-benar keterlaluan, kenapa mereka harus dilibatkan dalam permasalahanku?! Ini gak adil buatku dan buat mereka!" geram Seojun.


"Buatku juga..." sahut Seonho pelan, perkara namanya gak disebutkan juga.


"Bagaimana ini, apa kita harus mengajak mereka pergi juga?" tanya Seojun kepada Seonho, membuat Seonho kelabakan.


"Bawa gimana?! Kamu pikir mereka anak an.jing bisa dipungut begitu saja, aneh kamu!" sungut Seonho.


"Terus gimana dong, kasihan... Mereka sudah dikeluarkan dari kampus gara-gara kita!" ucap Seojun.


"Gara-gara kamu.." sahut Seonho.


"Ditambah lagi Somi juga kehilangan pekerjaan, itu juga gara-gara aku.." ujar Seojun lagi sedih.


"Itu betul.." sahut Seonho lagi.


"Dan sekarang, tempat tinggal mereka juga terancam! Ayahku kalau sudah gila dia bisa berbuat nekat," ucap Seojun lagi, kemudian dia terdiam sambil memperhatikan temannya itu.


"Sekali lagi kamu nyahut terus menyalahkan aku, akan aku sumpal mulutmu itu pakai kaos kakiku! Mau?!" ujar Seojun geram.


Seonho langsung menutup mulutnya dengan cepat, dia menggeleng cepat tanda tak mau. Sementara Sumiatun dan Ningsih juga sedang memperhatikan kekonyolan mereka berdua.


"Gue sempat berpikir jika mereka berdua itu penipu, Sum.. Tapi hati nurani gue menolaknya, masa iya kang ganteng penipu sih?!" ujar Ningsih sambil berdecak kesal.


"Bisa jadi sih, gue juga aneh kok mau-mau an diajak masuk ke kelas bersama dimalam hari, ditempat aneh pula. Berasa kayak pertemuan rahasia tau, jangan-jangan selama kelas dimulai, gue sebenernya kagak belajar tapi dihipnotis seolah-olah lagi belajar gitu yah.." sahut juga Sumiatun makin ngadi-ngadi jalan pikirannya.


Dua sahabat aneh itu sibuk dengan pikiran liarnya yang semakin diluar nalar, sedangkan dua orang disangka komplotan sekte sesat itu malah sibuk mikirin mereka berdua agar tetap aman.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2