
Setelah cukup lama merenung dan berpikir akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dulu, karena si Seojun lagi mau ngemas barangnya dan pindah ke apartemen milik pribadinya sendiri, hasil dari pekerjaan yang dia miliki tanpa diketahui oleh ayah dan orang-orang disekitarnya, kecuali si Seonho aja yang tau.
"Kita ngapain sekarang, Sum?" tanya Ningsih cengo sendiri di apartemen mereka.
"Mari kita sholat istikharah, minta pertolongan Allah agar dipermudahkan lagi urusan kita, dan satu lagi, dijauhi segala masalah dan musibah.." jawab Sumiatun, tak kalah puyengnya dia.
"Amiin..." sahut Ningsih.
Sumiatun menoleh kearah sahabatnya itu, dia menempelkan tangannya ke jidat Ningsih terus tangannya abis pegang jidatnya Ningsih, dia tempelin juga ke phantat bhahenolnya, dan mencoba menerawang apa yang terjadi dengan sahabatnya itu?
"Anjrit! Jidat aing kenapa disamaratakan dengan phantat lu yang tepos gitu, woy!" teriak Ningsih kagak terima.
"Soalnya baru kali ini gue liat lu nurut n manut bae ama gue, biasanya juga lu ada aja idenya, Ning!" sahut Sumiatun tanpa merasa bersalah.
"Soalnya otak gue juga udah buntu, Sum! Kagak tau harus ngomong ape, mau kemane atau kudu ngapain! Soalnya kita sekarang bukan berada di negara sendiri, Sum... Jadi gue juga perlu ati-ati juga, kagak bisa sembrono macam di rumah sendiri," ucap Ningsih menjelaskan.
"O iya! Gue lupa soal itu!" seru Sumiatun mengangetkan Ningsih, mana tuh anak pakai acara main pukul aja dipahe mulusnya si Ningsih.
"A-apaan?!" tanya Ningsih sambil meringis menahan rasa sakit dan perihnya geplakannya si Sumiatun.
"Si Seojun tadi pas dikantor pernah ngomong kalau dia juga punya usaha kecil-kecilan gitu, yaaa kurang lebih samalah ama kerjaan babeh nye, tapi ini hasil kerjaannya sendiri, gimana kalau kita melamar kerja di sana, terus cari kampus yang mau menerima kelas malam bagi mahasiswa yang kerja di siang hari!" ucap Sumiatun nampak bersemangat dengan idenya itu.
"Bagus sih, tapi apa kagak gengsi lu kerja sama si Seojun, secara lu juga bikin dia dapat masalah ama bapaknya! Terus kita kerja apaan? Jadi OG? Cleaning service? Kurir? Atau kang parkir?" tanya Ningsih aneh.
"Soal itu silakan anda pilih sendiri profesi yang anda minati dari keempat profesi yang anda sebutkan tadi, Bu! Hahahha!" tawa Sumiatun, Ningsih terlihat kesel banget dikerjain sama si Sumiatun.
"Tapi..." Ningsih masih terlihat ragu.
__ADS_1
"Dengar, gue tau lu kagak biasa kerja. Gue juga tau lu gak pernah beberes rumah karena ada mbak asisten di rumah lu yang ngerjainnya, tapi lu kudu belajar banyak disini, Ning.. Apa saja, yang penting itu bisa membuat lu bisa ngerti dan faham kalau nyari duit tuh gak semudah kita 'buang duit', faham kan maksud guee.." ujar Sumiatun.
"Iye, gue faham kok. Masalahnya gimana kalau mama dan papa tau.." ucap Ningsih gelisah.
"Kita emang gak bisa jujur sekarang, tapi kalau kondisi kita udah stabil, baru deh kita ngomong sama mereka apa yang terjadi.." ujar Sumiatun mencoba menenangkannya.
"Hadeh, gue kesini cuma mau menemani dia kuliah, sampe-sampe orang tuanya rela ngeluarin duit banyak buat gue asal bisa menemani anaknya. Ini gue malah ngajak anaknya idup susah di negeri orang, nasib-nasib... Apes banget kita, mudah-mudahan dari apes ini bisa jadi berkah nantinya, aminn.." gumamnya dalam hati sambil memeluk sahabat baiknya itu.
.
Keesokan harinya, betul dugaannya si Sumiatun, Seojun datang ke apartemen mereka untuk mengajaknya bersama Ningsih buat nengokin usaha miliknya itu.
"Seonho udah duluan ke sana, yaa usahaku belum besar seperti milik ayahku tapi dari perusahaan kecil yang aku miliki ini, aku yakin aku akan sukses melebihinya, haha.." ujar Seojun optimis.
"Amiin.." jawab Sumiatun dan Ningsih bersamaan.
Tapi realita tak seindah ekspektasi, yang ada cuma ruko tiga lantai. Dimana kantornya cuma satu lantai itu dilantai dua dan dilantai bawah disewain buat minimarket dan restoran kecil. Sedangkan lantai tiga dan roof top kosong, cuma buat dijadikan gudang doang!
"Astogeee... Ini bukannya meringankan beban hidup, tapi nambah beban hidup!" ujar Ningsih kaget sampe melongo begitu.
"Aku berencana mau menambah karyawan lagi, dan lantai tiga mau aku bersihkan dulu dan nanti di sana bakalan jadi tempat kerja juga.. Em, kalian mau gak jadi karyawanku? Tenang saja.. Soal akomodasi yang lainnya perusahaan yang akan tanggung, seperti mobil antar jemput pulang pergi bekerja, sarapan dan makan siang, termasuk cemilannya juga dan fasilitas di kantor juga bisa kalian gunakan sepuasnya.." ucap Seojun begitu positif thinking.
"Hahaha, ya.. Yaa.." ujar Ningsih dan Sumiatun sambil tersenyum nyengir, gak tau mau komentar apa.
"Ini kalau gak salah nebak pasti karyawannya cuma kita berdua, eh bertiga ding sama si Seonho! Dan akomodasi transportasi itu pasti mobilnya sendiri, dan dia juga yang bakal antar jemput kita!" bisik si Ningsih.
"Ho'oh, uang makan juga gitu.. Pasti dia yang traktir kita makan ramyeon, kimbap sama teeokboki tiap hari, fasilitas boleh dipakai gratis? Apaan, gak ada apapun disini!" cibir Sumiatun.
__ADS_1
Gejolak julid dan nyinyir keduanya keluar begitu saja, mereka sudah tak ingin berekspektasi berlebihan lagi sama Seojun, percuma pasti kena prank lagi.
Sementara si Seonho hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kegigihannya Seojun, anak itu begitu optimis dan percaya diri, Seonho berharap segala keinginan Seojun tercapai, dia juga lelah harus ditekan terus sama ketua Park.
Jadi, seharian ini mereka melakukan pekerjaan sukarela untuk membantu Seojun dan Seonho untuk membersihkan lantai tiga dan roof top juga, Sumiatun dan Ningsih berpikir nanti pasti gempor-gemor dah badan, pada sakit semua nanti, pasti.
Dan ternyata mereka lagi-lagi salah mengira, setelah membuat denah ruangan yang diinginkan Seojun tadi, juga mulai berpikir akan mendekor ruang kerja para pegawai agar lebih betah bekerja, ada sekitar tiga mobil van berhenti didepan ruko miliknya Seojun, dan itu dari perusahaan kebersihan yang siap melayani sepenuh hati para konsumennya.
Seharian ini mereka melihat dan mengawasi para cleaner itu bekerja, mereka tidak hanya membersihkan saja, bahkan memperbaiki beberapa barang yang rusak, dan mengganti beberapa furniture yang rusak atau tak layak pakai, dan juga ikut mendekor ruangannya juga.
"Wah, mereka hebat yah!" ujar Sumiatun takjub.
"Ada banyak perusahaan seperti ini, jadi mereka berlomba memberikan layanan terbaik mereka, agar nanti bisa dipakai lagi jasanya, harga sesuai dengan hasil kerja mereka sih, cukup bersaing.." ucap Seojun ikut mempromosikan mereka.
"Yah, kita juga harus seperti itu jika ingin perusahaan ini maju dan berhasil! Ayo, kawan-kawan semangat demi menata masa depan!" teriak Seojun bersemangat dengan mengacungkan tinjunya keatas, bak pahlawan pemberani.
Ngik.. Ngik.. Ngik..
Hanya suara jangkrik yang menemani dirinya sendiri, sedangkan Sumiatun, Ningsih dan Seojun hanya melihatnya dengan pandangan aneh dan julid.
"Ah, ayolaaah... Kita harus kompak! Apa kita harus membuat sebuah grup juga?" tanya Seojun tapi tak ada yang menanggapinya, malu sendiri coy ama kelakuannya!
Seojun emang cocok sama Sumiatun, sama-sama aneh dan koplak, tapi pada kagak sadar diri, Ningsih yang koplak seolah-olah dia ketularan pintarnya sama Seonho, padahal yang bener, Seonho yang cool ikut-ikutan jadi aneh sama mereka.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1
Mohon dukungannya yah, like, vote dan hadiahnya! Terima kasih 😘🙏