
"Ingat, perlakuan anda ini sudah melewati batas kesabaran saya! Masih mending saya siram pake jus tomat, coba kalau air comberan.. Nyaho-nyaho dah lu! Bau ******!" ujar Ningsih kesel banget.
"What's the mean? Ai chomberhan? Nya-nya, what? Jambhan?" itu bule Khorea kebingungan sama bahasanya si Ningsih.
"Dengar, saya tidak ingin menjalin hubungan bisnis ini kepada kalian! Sudah bagus saya bantu, ini malah bersikap tak tahu diri, jika bukan ketua Park yang meminta.. Mana sudi saya berbisnis dengan perusahaan kecil ini!" teriak mantan klien mereka itu.
"Silakan, pergi saja! Kami memang sudah tau kedatangan anda kesini pasti ada sesuatunya, katakan kepada ketua Park, kami tak membutuhkan dirinya!" jawab angkuh Seojun, padahal dalam hati gemetaran juga kalau dibalik ini semua ulah sang ayah.
"Cih, angkuh sekali anda! Memangnya sudah ada investor lain yang mau kerja sama dengan anda?! Saya pastikan tidak akan ada yang mau bekerja sama lagi setelah mengetahui perilaku kalian semua!" teriak mantan klien itu.
"Silakan saja, saya tak takut!" sahut lagi Seojun menantang, padahal dalam hatinya berdoa semoga itu hanya gertakan saja.
Orang itu semakin gusar saja dengan perilaku Seojun yang bisa menjawab semua perkataannya, saat dia ingin membalasnya ,tiba-tiba saja ketua Park datang bersama istrinya dan diiringi beberapa orang.
"Ke-ketua Park?!" orang itu seketika gugup mengetahui kedatangan ketua Park bersama jajarannya.
"Pak Hong, terima kasih atas kerjasamanya. Saya pikir transaksi anda dengan putra saya ini sudah gagal, jadi saya juga tak bisa membantu perusahaan anda yang sedang krisis itu!" ucap ketua Park langsung saja.
"Ti-tidak, Ketua! Ini hanya salah faham saja!" ujar pak Hong itu.
"Apa?! Berani-beraninya anda memberikan bantuan omong kosong itu kepada saya?! Bagaimana bisa anda akan membantu kami, jika keuangan perusahaan anda juga sudah krisis? Dengan uang ketua Park?!" tanya Seojun marah sekali.
"Bu-bukan seperti itu, haduhh! Saya tidak mau ikut campur lagi urusan kalian, ketua Park! Anda tetap harus membayar saya setengah dari perjanjian awal, jika transaksi saya gagal bersama putra anda ini!" ujar pak Hong itu kesal.
"Tidak bisa, sejak awal transaksi kalian berhasil tapi gagal karena tingkah lakumu yang sombong dan kasar. Pertemuan awal kau membatalkannya, dan kedua ini anda dengan sengaja meremehkan mereka dan memancing keributan ini!
Jadi, anda tak mendapatkan apapun dari perjanjian itu. Jangan sekali-kali mengelabui saya dengan trik murahanmu itu, kau lupa dengan siapa kau berhadapan!" ujar ketua Park sehingga orang itu tak berkutik lagi.
Dia diusir dari sana dengan secara paksa oleh beberapa pengawal ketua Park, dan Seojun dan lainnya baru saja tahu jika restoran tempat mereka bertemu dengan pak Hong itu, baru saja diakuisisi oleh perusahaan ayahnya Seojun.
__ADS_1
"Sum, mampus gue! Pasti kelakuan gue tadi udah dilihat mereka semua, muka gue mau ditaruh dimana, Sum!" bisik Ningsih mendadak tremor.
"Udeh, slow bae! Kalau lu yang kayak gitu, dimaklumi sama mereka.. Coba kalau gue, hmm.. Udah abis gue, dipenyet abis-abisan!" sahut Sumiatun berbisik-bisik pula.
"Appa, apa yang kamu lakukan disini? Aku tak pernah meminta bantuanmu untuk urusan bisnis pribadiku, apa kamu tak percaya dengan kemampuanku?! Dan, pliss... Jangan ikut campur urusan bisnis maupun pribadiku," ujar Seojun setelah semuanya kembali seperti biasa lagi.
"Appa hanya ingin melihat kemampuanmu, itu saja! Kamu bilang akan mengatasi ini sendirian, oke? Aku juga mau melihat kesuksesanmu itu, jika kamu beberapa kali gagal melakukan transaksi kepada beberapa investor atau klien lainnya..
Maka kamu harus mengikuti perintah dan keinginan Appa, jika tidak kamu boleh pergi meninggalkan tempat ini. Jangan membawa semua barang-barang milik Appa, termasuk perusahaanmu itu.
Karena dana yang kamu buat untuk mendirikan perusahaan ini, dari uang Appa. Mau gak mau kamu harus menurutinya termasuk meninggalkan wanita itu, dan mau menikah dengan wanita pilihan Appa.." ucap ketua Park, memandang sinis ke Sumiatun dan ekspresi mukanya berubah setelah melihat Ningsih.
Ningsih yang sudah sadar apa yang terjadi, langsung buru-buru pindah berdiri di samping Seonho, dia sudah belajar dari beberapa kali kesalahan sebelumnya.
"Maaf, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Perkenalkan nama saya Ningsih alias Ning Ning, saya sekretaris dan asistennya Kim Seonho, Sajangnim.. Dan saya juga calon istrinya Seonho,," ujar Ningsih memperkenalkan diri malu-malu meong, sebelum deja vu terulang kembali.
"Benarkah begitu?!" tanya ketua Park kepada Seonho dengan tatapan tajam.
"Benarkah begitu? Tapi aku melihat kebalikannya, kau lebih cocok dengan gadis ini daripada wanita itu! Dan bukankah Seonho juga lebih cocok dengannya, latar belakang mereka sama!" ujar ketua Park sarkasme.
"Appa!" teriak Seojun tak terima.
"Maaf, Pak.. Apa maksud anda bicara seperti itu? Jika ini menyangkut Seojun adalah anak anda, mungkin hak anda mengaturnya meskipun menurut saya itu salah! Jika soal Seonho, mungkin anda merasa hebat karena begitu banyak bantuan yang anda berikan kepadanya.
Tapi soal saya dan Somi bukan urusan anda, jika anda ngotot begini terus saya bisa melaporkan anda atas sebuah pemaksaan kehendak anda sendiri! Saya punya keinginan sendiri, bahkan orang tua saya tak bisa memaksakan kehendaknya kepada saya, siapa anda yang mengatur kehidupan saya?!" ujar Ningsih, temperamental nya keluar lagi.
"Anda salah faham kepada saya, maksud saya tak seperti itu.. Bukankah hal yang baik jika keluarga kita bersatu, kerajaan bisnis keluarga akan berkembang pesat, kerja sama antar negara juga akan berjalan baik.." jawab ketua Park masih bisa tenang dan bersabar.
"Tanpa ada hubungan antara kita juga, hubungan kedua negara ini sudah baik. Tanpa menjalin sebuah ikatan diantara kita, bukankah perusahaan anda sudah maju dan berkembang pesat? Begitu juga dengan perusahaan ayah saya, dan saya pikir kedua kerja sama juga takkan berjalan baik karena memiliki bisnis dan latar belakang yang berbeda!" jawab Ningsih lugas, Sumiatun udah ketar-ketir saja sama kelakuannya.
__ADS_1
"Udah, Ning! Udah, ini jantung gue mau copot rasanya.." sahut Sumiatun gemetaran, lemes ama kelakuan si Ningsih.
"Ayahmu pasti sangat kecewa dengan perilakumu ini," jawab ketua Park, mulai tak suka dengan sikap Ningsih.
"Maaf, ayah saya jauh lebih tau siapa diri saya dibandingkan anda! Jangan sok paling tau semuanya," ujar Ningsih ketus.
"Ning, sudah! Cukup," sahut Sumiatun gemas.
Seojun hanya berdiri kaku dihadapan mereka semua, tak ada yang berani berkata seperti itu kepada ayahnya, meskipun dirinya sekalipun. Dia tidak akan berkata sekasar itu juga sih, meskipun kecewa dengan sikap ayahnya. Setidaknya perasaannya terwakili oleh Ningsih.
Sumiatun dan Seonho hanya terduduk lemas dengan kelakuan Ningsih, tuh anak gak ada takut-takut nya. Ketua Park wajahnya sudah memerah menahan emosi, dia merasa dipermalukan dihadapan semua orang.
Kemudian, dia meminta semua orang pergi meninggalkan tempat itu. Nyonya Park terlihat kecewa sekali saat menatap Seojun, dia seperti merasa dikhianati oleh anaknya sendiri, yang tak bisa akur dengan suaminya, ayahnya Seojun.
"Whahaha! Keren kan gue, hehe.. Gimana, Sum... Apa gue udah cocok ikut kasting Kdrama?" tanya Ningsih masih belum mengerti keadaan sekarang ini.
"Ning, lu tau apa yang terjadi sekarang ini? Perusahaan ini terancam bangkrut! Lu tau kan kalau bapaknya Seojun itu berkuasa banget di bidang ini, dia bisa membungkam semua perusahaan dan orang, dia bisa dalam sekejap membuat perusahaan ini hancur seketika!" ujar Sumiatun geram.
"Hah?! Kenapa-kenapa? Kagak ngerti gue, kata si Seojun dia bisa mengatasi semuanya, bahkan katanya udah ada rencana lain kalau ama yang tadi gagal!" sahut Ningsih masih gagal faham juga.
"Ya ampun Ningsih Kadarsih!" teriak Sumiatun gemas.
"Lu seenak jidat bae ganti nama orang! Yang bener itu Ningsih Kadarshian," sahutnya kepedean.
"Ning, aku baru saja mendapat kabar dari kantor... Kalau semua investor yang bersiap menanamkan modalnya ke perusahaan kita, semuanya membatalkan perjanjiannya..." ujar Seojun lemas.
"Sebaiknya kita kembali ke kantor, semua karyawan kelabakan dalam menangani ini semua!" ujar Seonho langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Suamitun dan Seojun juga bergerak cepat menuju kantor mereka, Ningsih masih terdiam. Dia masih tak mengerti, jadi semuanya hancur karena kelakuannya?
__ADS_1
...----------------...
Bersambung