
Malam harinya, setelah kelelahan mengatur barang-barangnya masuk kedalam ruangan dibantu tim keeper kebersihan, akhirnya selesai juga. Mereka semua beristirahat di ruangan itu, sementara tim keeper udah pada pulang karena tugas mereka sudah selesai.
"Haduh, perut aing lapeeeerrr..." ucap Ningsih duduk selonjoran kelelahan.
"Aduh, kasihan anak orang... Kagak pernah kerja, disuruh bersih-bersih pula. Sabar yeee, ini demi akang tampanmu, Ning.. Hehe," goda Sumiatun.
"Sum, ini gue masih gak habis pikir.. Kita kenapa bisa nyasar dimari yak? Bukannya kuliah, jalan-jalan atau ngepoin idol grup kesukaan gue, ini malah menjadi beban idup orang.." ujar Ningsih sambil menerawang, rohnya lagi di awan kali yeee..
"Kagak tau gue, sorry sekali lagi gue minta maaf gara-gara keegoisan gue lu malah terlibat disini sama kita-kita.." ucap Sumiatun ngerasa gak enak hati.
"Eh, gak usah dipikirin! Gue ngomong kayak gitu bukan berarti gue nyesel dengan apa yang terjadi, justru dengan itu ada hikmahnya dibalik ini semua, lu liat di sana.. Akang ganteng sampe segitunya bikinin aing minuman, hehe.." ujar Ningsih sambil menunjuk Seonho lagi bikin minuman buatannya di mini bar khusus karyawan nantinya.
"Somi, ini buatmu.." ujar Seonho memberikan minuman yang dia buat untuk Sumiatun.
Sumiatun dan Ningsih melongo kagak percaya, ini Seonho lagi bikinin minuman buat Sumiatun, bukannya buat Ningsih yak? Otomatis Ningsih cemberut Ampe tuh muka belipet-lipet kayak kertas kusut!
"Ning, ini juga buat kamu.. Special for you," ujar Seonho sambil tersenyum manis.
Seonho bikin jus buah yang enak banget buat mereka berdua, jika Sumiatun dibikinin jus buah biasa dengan toping wep cream sama buah ceri diatasnya, nah kalau punya si Ningsih wep cream nya buanyak banget! Mana buah ceri nya udah full diatasnya, ditambah taburan springkle-springkle candy juga, benar-benar beda banget sama yang punya Sumiatun, dan ekspresi wajah Ningsih mendadak cerah full senyum, sekarang si Sumiatun yang manyun.
"Pilih kasih amat lu, giliran punya bokinnye waowww! Giliran punya gue, ya elah ngenes amat!" protes Sumiatun.
"Tenang, gak usah manyun lu.. Nih gue bagi atu ceri nya buat lu, hehe.." ujar Ningsih sumringah.
"Serah lu dah," jawab Sumiatun nyomot langsung ceri nya, auto ngamuk Ningsih, ceri nya dirampok ama Sumiatun.
"Kenapa pada rebutan sih, ini ada banyak!" ujar Seojun sambil mengambil semangkok buah ceri didalam kulkas.
"Hei, itu buat besok dan nanti-nanti! Kalau mau bikin Jus gak ada topingnya kan gak enak!" ujar Seonho kesel.
"Alah, buah ginian doang.. Tinggal beli aja kenapa sih!" sahut Seojun santai sambil mungutin buah ceri atu-atu kedalam mulutnya.
"Kamu kira harganya berapa?! Ini mahal, dan aku sengaja beli buah yang kualitasnya lebih bagus daripada yang biasanya! Keluarin, keluarin gak! Buruan, keluarin!" ujar Seonho ngotot minta si Seojun ngeluarin buah ceri yang udah masuk kedalam mulutnya.
"Uhukk, gak bhisa, udhah hancfrurr lhebuurrr (gak bisa, udah hancur lebur)!" sahut Seojun dengan mulut penuh buah ceri, mana lagi badannya digoyang-goyangin lagi sama Seonho, otomatis tuh buah langsung ke blender ama perutnya Seojun.
"Astogeee, pacar lu tuh Sum!" ujar Ningsih kaget liat tingkah mereka berdua.
__ADS_1
"Pacar lu itu," sahut juga Sumiatun.
"Emang iya!" ucap Ningsih mengiyakan ucapannya si Sumiatun.
"Dasar geblek! Sana suruh si Seonho berhenti, kasian si Seojun ntar mabok ceri!" ujar Sumiatun gemes tingkah mereka berdua.
Tidak lama kemudian, makanan pesanan mereka sedari tadi ditunggu datang juga. Dan makanannya kali ini ayam goreng pedas Korea, bibimbap, Jajangmyeon dan kimchi sebagai makan malamnya.
"Jadi, kita fiks nih kerja disini?" tanya Ningsih dengan mulut penuh bibimbap.
"Mau gak mau, kalau gak kita mau makan apa?!" jawab juga Sumiatun.
"Kalau soal itu, uang dari papa masih ada. Kan tiap bulannya kita dapat kiriman, malah kata mama kalau uangnya tinggal dikit gak usah nunggu satu bulan, langsung minta aja ke dia, ntar dikirimin!" sahut Ningsih masih dengan mulut penuhnya, makan sambil ngomong muncrat-muncrat nyembur kemana-mana, sampe yang lainnya sibuk mencari pertahanan agar tak kena serangannya.
"Eh, bushet! Itu makan dulu baru ngomong! Maimunah! Muncrat semuanya, Ning!" seru Sumiatun sambil menutupi mukanya pakai tisu tipis, setipis kesabarannya Ningsih.
"Eh, iya yah! Hehe, Sorry.." cengirnya.
Setelah makan dan berdiskusi kedepannya mereka mau ngapain, akhirnya mereka memutuskan untuk mau menerima permintaannya Seojun untuk bekerja di sana, dan kuliah disalah satu kampus yang cukup bergengsi lainnya, yang mau menerima mahasiswa seperti mereka.
"Iya, kamu benar. Lagian, aku yakin dia juga masih mengawasi kita meskipun kita sudah menjauh darinya.." ujar Seonho juga.
"Kita mah gak ada urusannya dengan semua itu, yang penting kami bisa kuliah kembali. Itu saja," ujar Ningsih disambut dengan usapan lembut di kepalanya oleh Seonho
Ningsih udah kayak anak an.jing pudel abis dielus-elus ama majikannya, seneng betul. Kalau bisa melet, melet-melet dah tu lidah!
"Hei, apa mereka sudah jadian? Kok aku liat temanmu itu begitu perhatian padanya?" bisik Sumiatun ke Seojun.
"Entahlah, tapi dia sudah gak bisa menyembunyikan perasaannya lagi kalau dia memang menyukai temanmu itu! Kayaknya mereka diam-diam jadian deh," balas bisik juga Seojun ke telinganya Sumiatun, rasanya geli-geli gimana gitu.
"Gimana.. Kalau kita pacaran juga?" tanya Seojun pelan.
"Boleh saja, asal ada take and give sih aku mau.." jawab Sumiatun asal.
"Setuju, aku mau melakukan apapun asal kamu mau jadi pacarku!" sahut Seojun senang.
Dan kali ini Sumiatun yang ketar-ketir, dia gak nyangka jawaban ngaconya malah ditanggapi serius oleh Seojun, secara dia tau Seojun anak horang kaya! Apapun bisa dia lakukan meskipun akses keuangannya lagi dibatasi.
__ADS_1
"Mampus gue!" ujarnya sambil tepok jidat.
"Makan tuh take and give! Hahaa!" tawa Ningsih senang.
"Awas lu," ujar Sumiatun kesel diketawain.
"Yeobo (sayang)..." ujar Seojun sambil tersenyum nakal dengan memainkan kedua alisnya, Sumiatun langsung nightmare.
Sementara itu Seonho dan Ningsih malah ketawa melihat reaksinya si Sumiatun.
Setelah cukup malam akhirnya mereka pulang juga, dan diantar pasangan masing-masing, entah sejak kapan itu terjadi, tapi mereka begitu nampak bahagia saat bersama.
Saat mereka sampai di apartemen, pak Kim memandangi mereka dari jarak jauh. Pandangan matanya begitu sendu, ada kesedihan di sana. Dia bahagia anaknya menemukan kebahagiaannya, tapi ada harga yang harus dibayar untuk itu.
.
Keesokan harinya, Sumiatun dan Ningsih bersemangat bekerja dihari pertamanya. Setidaknya mereka gak terlalu repot memikirkan soal pengeluaran selama bekerja, ada dua orang bos yang sekaligus 'teman' yang bisa diandalkan.
"Loh, Seonho jemput juga? Aku pikir hanya Seojun!" tanya Sumiatun kaget liat Seonho juga ada di sana.
"Iya, soalnya di kantor masih sepi, sebaiknya aku ikut dia jemput kalian juga.." jawabnya malu-malu.
"Em, dasar buaya! Gue tau ini pasti elu kan minta dijemput sama Seonho," tebak Sumiatun langsung ke Ningsih.
"Gue cuma cerita jadi obat nyamuk orang pacaran itu kagak enak, cuyyy.. Maka dengan inisiatifnya dia datang sendiri mau jemput gueee, eh pahala tau bantuan orang lagi susah, ehek!" sahut Ningsih membela diri.
"Dasar," ujar Sumiatun geleng-geleng kepala liat Ningsih udah gelendotan bae ditangan Seonho.
"Yuk ah, kita berangkat! Kasihan Seonho ntar tangannya kram digelendotin terus ama bocah!" ujar Sumiatun langsung menarik tangan Seojun.
Lalu mereka berjalan menuju mobil 'sopir pribadinya' masing-masing. Sementara itu dibalik pepohonan didepan apartemen mereka, terlihat ada orang yang sama saat mengawasi mereka di bangunan tua prasejarah itu, sama yang di restoran juga.
Dia terlihat beberapa kali mengambil gambar mereka berempat, dan siap diberikan kepada 'orang itu' sebelum ke ketua Park, sebenarnya apa yang terjadi? Benarkah ketua Park yang merencanakan semuanya untuk menghancurkan Seojun dan Seonho? Atau ada orang lain dibalik semua ini?
...----------------...
Bersambung
__ADS_1