
Sebelum itu, setelah Seojun dan Sumiatun melihat mobil pak Jeong berjalan meninggalkan tempat itu, mereka juga tak sengaja melihat seseorang diam-diam mengambil gambar mereka, cahaya kamera itu membuat keberadaan orang itu terungkap, saat menyadari dirinya ketahuan, orang itu langsung pergi meninggalkan tempat itu sebelum disamperin sama Seojun.
Membuat Sumiatun yakin tentang kecurigaannya kepada pak Jeong, dan Seojun semakin galau saja. Dia ingin menenangkan diri sebentar masuk kedalam lagi, saat dia memegang salah satu dinding untuk bersandar, tiba-tiba dia seperti merasa ada sesuatu didalam dinding itu.
"Apa ini?" tanyanya heran.
Seojun menjadi penasaran dan langsung mengelupas kertas dinding yang menutupi benda itu.
"Ya Allah, itu mah alat pelacak yang ada kameranya juga! Kalau suasana tempat ini terang seperti dinyalakan lampu, maka gak keliatan. Tapi kalau dalam keadaan gelap, dia pasti keliatan, coba deh" ujar Sumiatun terkejut juga.
Klik!
Lampu dibawah dimatikan oleh Seojun yang saklar nya terletak tak jauh dari sana. Dan benar saja terlihat cahaya merah yang sangat kecil sekali dibalik dinding yang masih terpasang di sana.
"Sejak kapan ini berada disini? Kenapa aku gak tau sama sekali?!" tanya Seojun pada diri sendiri, kebingungan.
Disaat dia kebingungan itu Seonho menelponnya, setelah itu mereka naik ke lantai tiga menemui mereka berdua. Ningsih yang ingin berbicara dengan Sumiatun jadi urung saat melihat dua orang ini terlihat begitu khawatir sekali.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Seonho ikut khawatir juga.
"Sebaiknya kalian duduk dulu.." ujar Ningsih pula.
Saat mereka semua telah duduk bersama, Seojun langsung meletakkan benda temuannya itu, Seonho dan Ningsih tidak mengerti apa yang terjadi, benda apa itu?
"Ini adalah kamera dan alat pelacak yang aku temukan dibawah tadi, aku gak tau ini sudah berapa lama terpasang" ujar Seojun menjelaskan semuanya.
"Kemarikan benda itu, akan aku hancurkan alat pelacaknya!" ucap Seonho.
Kemudian dia mengambil kamera kecil seperti batre jam tangan itu, membongkar isi dalamnya, dia menemukan dua benda satu seperti flashdisk mungil, dan satunya lagi seperti batu pasir, benar-benar kecil tak terlihat.
"Pelacaknya akan aku hancurkan, setelah itu mari kita apa saja yang terekam didalam kamera ini. Melihat bentuk dan teknologinya, ini sepertinya tidak terhubung langsung dengan benda lain, maksudnya apapun yang terekam di kamera tak dapat dilihat langsung macam Cctv.." ujar Seonho.
"Kita akan lihat, jika rekamannya hanya merekam kegiatan kita hari ini, ada dua kemungkinan.. Yaitu, ini baru dipasang hari ini, atau ini baru diganti lagi. Hanya itu kemungkinan yang terjadi, dan maaf ini sepertinya ada sesuatu yang menyelidiki kita.." ujar Seonho lagi, menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Bukan bermaksud menyalahkan seseorang, tapi dugaanku tentang orang itu sepertinya benar. Tidak lama mereka berkunjung, dan seseorang yang terpergok oleh kita sedang mengambil gambar secara diam-diam, kemungkinan besar itu adalah orang suruhannya," ujar Sumiatun memberikan penjelasannya tentang itu.
"Maksudmu, apa ayah yang menyuruh pak Jeong melakukan ini semua?" tanya Seojun khawatir.
"Aku gak bisa menyimpulkan, karena belum ada bukti identik untuk membuktikan semuanya.." jawab Sumiatun tidak ingin gegabah dalam menilai.
"Itu baru praduga saja, besar kemungkinan tebakan aku juga salah.." sambungnya lagi.
"Sepertinya aku harus menyelidikinya sendiri.." ujar Seojun.
'Jangan! Ini bisa berbahaya, ini bukan hal sepele yang bisa kamu tangani langsung. Kalau mereka sudah berani menaruh alat seperti ini, ini pasti sesuatu hal yang berbahaya.." cegah Seonho.
"Justru itu, justru itu aku ingin tahu kenapa benda ini ada didalam kantorku! Yang sama sekali tak ada hubungannya dengan permasalahan ini, bukankah ayah ingin aku bisa mandiri? Dan ini adalah salah satu bentuk kemandirianku, kenapa dia cegah?!
Apa karena aku menentang keinginannya? Ini bukan pertama kalinya aku melakukannya, aku seringkali cekcok dengannya, tapi kenapa sekarang dia bersikap begini?!" ujar Seojun sedikit emosi, kesal sendiri.
"Apa karena aku?" tiba-tiba saja Sumiatun berbicara seperti itu.
"Gak mungkin, kamu bukanlah sesuatu yang berbahaya yang bisa mengancam keberlangsungan hidupnya. Kenapa pula dia harus melakukan semua ini hanya karena aku menjalin hubungan denganmu.." ujar Seojun tak terima.
"Jangan!" teriak Seojun maupun Seonho kompak.
"Kenapa kalian harus pergi, ini semua gak ada hubungannya dengan kalian! Jadi jangan pergi, jika kalian harus pergi... Maka, maka... Kami juga akan pergi, iya kan Seonho?" ujar Seojun meminta pendapat Seonho.
"Hah? Apa?" Seonho kebingungan ketika ditanya seperti itu oleh Seojun.
"Ish, kau tidak sayang sama Ning Ning! Jika dia pergi kau tidak akan pernah bertemu dengannya," ucap Seojun meliriknya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kata siapa, sayang kok! Jaman sekarang teknologi sudah canggih, kita bisa teleponan setiap hari, bisa Videocall juga. Apa masalahnya?" ucap Seonho sambil mengusap kepala Ningsih, yang diusap merona pipinya malu-malu.
"Dasar, ada aja jawabannya!" ujar Seojun kesal.
"Ini jadi gimana?!" sahut Sumiatun gemes mereka mulai tak fokus.
__ADS_1
"Aku tetap akan pulang malam ini ke rumah ayah, aku mau buktikan sendiri apa yang terjadi.." ucap Seojun tetap dengan keinginannya itu.
"Huft, apa kau ingin aku temani?" tanya Seonho.
"Gak perlu, kau antar saja Somi dan Ning Ning pulang ke apartemen mereka sampai selamat ditujuan, itu saja" jawab Seojun.
"Baiklah, tapi ingat kalau ada apa-apa hubungi saja aku" ujar Seonho lagi.
Seojun mengangguk sambil mengacungkan jempolnya, kemudian mereka memulai rencananya. Seonho mengantar Sumiatun dan Ningsih pulang ke apartemen mereka, sedangkan Seojun pulang ke rumahnya diam-diam, tanpa memberitahukan kedatangannya sebelumnya.
Saat dia berada tak jauh dari rumahnya, dia melihat ada beberapa mobil yang terparkir didepan rumahnya dengan beberapa pengawal yang berjaga.
"Kenapa begitu banyak pengawal didepan rumah? Apa mereka orang-orang suruhan ayah? Atau... Sebaiknya aku selidiki dulu" gumamnya.
Kemudian dia melipir memarkirkan mobilnya disamping rumahnya, yang tak terlihat oleh orang-orang itu. Seojun memasuki rumahnya lewat pintu samping, beberapa pelayan nampak terkejut melihat tuan muda mereka datang dari sana.
"Tenanglah, jangan beritahu siapapun kalau aku ada di rumah. Aku tidak akan melakukan keributan, lakukan saja pekerjaan kalian, anggap saja kalian tak melihatku.." ujar Seojun kepada mereka semua.
Kemudian dia berjalan mengendap-endap menuju ruang tengah di rumah itu, dia melihat ibu tirinya sedang berbincang dengan tamunya, sepertinya tamu penting. Dan disudut ruangan Gaeun sedang mengobrol asik dengan temannya, kemungkinan temannya itu anak dari tamu ibunya.
Kemudian dia masuk kedalam salah satu ruangan yang terhubung langsung dengan ruangan ayahnya, dia mengintip dari arah pintu melihat ada asisten ayahnya sedang membereskan beberapa berkas dan kemudian dia keluar dari ruangan itu.
Seojun masuk kedalam dan memeriksa sesuatu, dia tidak tahu apa yang dia cari tapi dia yakin akan menemukan sesuatu yang bisa jadi petunjuk untuknya, dan benar saja. Dia menemukan sebuah amplop coklat besar yang berisi identitas Sumiatun dan Ningsih, beserta beberapa fotonya bersama Ningsih dan juga fotonya bersama Sumiatun.
"Astaga, ternyata ini semua adalah ulah ayah.. Kenapa, kenapa dia tega melakukan ini semua?" gumamnya dengan berkaca-kaca.
Disaat perasaannya begitu sedih mengetahui faktanya, dia mendengar suara pintu terbuka, Seojun langsung bersembunyi dibalik lemari menutupi dirinya dibalik gorden dekat jendela.
"Letakkan disini, biarkan dia melihatnya langsung. Aku ingin tahu reaksinya ketika melihat putra kesayangannya itu memiliki dua wanita yang berbeda levelnya, apa dia akan merestuinya atau menolaknya lagi?" terdengar suara lelaki yang Seojun hapal siapa orang itu.
Tapi dia ingin melihatnya langsung untuk memastikannya, apa dia adalah orang yang dia kenal? Saat dia mengintip dari balik gorden, Seojun terkejut melihat pak Jeong mencium foto mendiang ibunya yang terpajang di pigura kecil diletakan disalah satu lemari kecil di ruangan itu.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung