
Seonho bersiap dengan gagang sapu ditangannya, jika orang itu berhasil masuk dia sudah siap dengan senjata alakadarnya dia miliki sekarang. Semenit, dua menit hingga beberapa menit kemudian dia tak mendengar lagi suara berisik dari luar.
Dia berniat ingin mengintip dari lubang kecil yang ada dipintu, tapi apa yang terjadi, pintu dibuka seketika dari luar dan orang itu masuk kedalam tanpa aba-aba, pas sekali wajah Seonho dan orang itu saling berhadapan, bertatapan mata dalam jarak hanya beberapa centi saja.
"Hwaaaa!!" teriak keduanya sama-sama kaget.
Penyusup itu langsung lari tunggang langgang, sedangkan Seonho terduduk dilantai dengan tangan yang masih tremor memegangi gagang sapu, yang sekarang sudah tak berguna lagi.
"Shialan!" umpatnya langsung keluar mengejar penyusup itu.
Jarak mereka cukup jauh, tapi dengan langkah lebarnya Seonho hampir mengimbangi langkah cepat penyusup itu, dia mengejarnya sampai ke anak tangga turun kebawah apartemen itu.
Penyusup itu mulai kelelahan, Seonho langsung melempar sapu yang ada ditangannya kearah penyusup itu, dia tak sadar dia masih membawa sapu itu ketika keluar rumah.
Tapi syialnya, pas gagang sapu melayang turun kearah penyusup, pintu tangga dari lantai bawah terbuka lebar dan terlihat ada seorang security yang keluar dari sana, mungkin dia ingin berpatroli, dan tentu saja sapu itu tepat mengenai sang security.
"Hei, shialan! Siapa yang melempar sapu kearahku?!" ujarnya kesal.
Seonho turun kebawah sambil terengah-engah, sambil menunjuk kearah pintu yang terbuka, tapi pak security salah faham dia kira Seonho sedang meledeknya, perkara wajah ganteng itu meringis dikiranya tersenyum meledeknya, langsung meraih kerah bajunya.
"Hei, kau meledekku! Apa kau yang melemparkan sapu itu kearahku?!" tanya security itu terlihat begitu marah.
"Iya, eh bukan! Aduh maksudnya bukan seperti itu,," Seonho terlalu kelelahan mengejar penyusup tadi, sampai kesulitan mengatur nafasnya ditambah lagi lemparannya salah sasaran pula.
"Apa maksudmu itu? Iya, bukan.. Yang mana yang benarnya?! Jangan tersenyum!" bentak security itu.
"Siapa yang tersenyum, Ahjussi.. Ini aku lagi kelelahan," sahut Seonho kesulitan mengatur nafasnya, dia terlihat beberapa kali mencoba menelan ludahnya karena tenggorokannya terasa kering.
"Huh, kelelahan saja gak usah sok gaya! Wajahmu itu tak perlu kau ganteng-gantengkan!" ujar security itu tambah kesal, insecure sama diri sendiri.
"Ini gak diganteng-gantengkan, Ahjussi.. Memang sudah ganteng dari sananya, tolong lepaskan aku, ada seseorang yang sekarat dibalik pintu itu," ujar Seonho menginginkan security-nya itu.
"Siapa?!" tanya security itu bingung.
Dia melepaskan Seonho dan membuka pintu tangga yang lumayan berat terbuat dari besi baja ringan, dia terkejut saat melihat seseorang terkapar pingsan di sana.
"Kenapa ada orang pingsan disini?!" tanyanya tambah bingung.
__ADS_1
"Berkat anda, terima kasih.." sahut Seonho sambil meraih sapunya, masih inget aja sama sapu bocah!
"Maksudnya apa ini?" tanya security itu sambil meliriknya sinis, merasa tersindir oleh perbuatannya.
"Bapak membuka pintu dengan kencangnya, sehingga dapat menghentikan dirinya dari kejaranku! Hufft, orang ini baru saja menyusup masuk kedalam rumah temanku dilantai sepuluh, hufft.." ujar Seonho menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, sambil mengatur nafasnya.
"Astaga, dari lantai sepuluh sampai lantai dua anda mengejarnya?! Wajar saja anda terlihat begitu kelelahan, aku pikir gerakan penyusup ini juga melambat karena kelelahan juga.." kata security itu terkejut saat mengetahui kebenarannya.
Seonho juga sama terkejutnya, dia sendiri tak sadar sudah sejauh itu mengejarnya, tau begitu kenapa gak turun saja melalui lift?
"Kita bawa dia ke kantor security!" ujar security itu sambil membopong penyusup itu bersama Seonho.
Setelah beberapa saat, penyusup itu sadar juga dari pingsannya. Dia terkejut bagaimana bisa sudah berada disebuah ruangan bersama beberapa orang, saat melihat Seonho dia sedikit terkejut dan berusaha memalingkan wajahnya, sepertinya dia mengenal Seonho.
"Hei, katakan siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mendatangi rumah Seojun?! Aku yakin kau datang bukan untuk mencuri, hei! Lihat aku!" ujar Seonho sambil menarik masker yang menutupi mulut orang itu.
Seonho terkejut saat melihatnya, ternyata dia adalah asistennya pak Jeong! Dia semakin yakin dengan dugaan Sumiatun atas kecurigaannya tadi, dan ternyata selama ini dia salah selalu mematuhi orang itu.
"Hwang-ssi, apa yang kau lakukan di rumahnya Seojun?! Apa kau disuruh pak Jeong?!" desak Seonho marah.
Tapi lelaki itu hanya diam saja, beberapa kali Seonho mendesaknya tapi dia tetap dengan pendiriannya. Mau gak mau Seonho meminta security di apartemen itu menghubungi pihak kepolisian.
Dia menitipkan sapu rumah Seojun kepada para security itu, dia dan security yang tadi mengikuti para petugas ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan sebagai saksi penyusupan orang itu.
Setelah pulang dari kantor kepolisian, Seonho langsung menghubungi asistennya ketua Park. Tapi asistennya ketua Park tak berani mengganggu waktu istirahatnya ketua Park.
"Baiklah, besok pagi aku akan datang menemuinya. Tolong sampaikan kepadanya nanti.." ujar Seonho kepada asistennya ketua Park.
Kemudian dia pun langsung kembali ke apartemennya Seojun, teringat dengan sapu yang dititipkan ke para security itu. Saat dia menuju unitnya seojun, dia melihat pintu luar terbuka lebar, dia kembali siaga dengan sapu ditangannya.
"Apa aku lupa menutupnya? Tidak, aku yakin aku menutupnya dengan benar!" ujarnya sambil mengingat-ingat kejadian tadi.
Dia menutup pintu dengan hati-hati, dia mulai memperhatikan di sekitarnya. Tidak ada siapapun, rumah juga rapi dan bersih setelah dia bersihkan tadi.
Brak!
Brak!
__ADS_1
"Seonho! Bukain pintunya, huhu.. Bukain!" teriak Seojun dari luar rumah.
Seonho terkejut bukan main, bagaimana bisa orang yang sedang tak sadarkan diri karena mabuk bisa keluar rumah, dan gak bisa buka rumahnya sendiri?
"Astaga! Ini rumahmu, kenapa gak bisa buka pintu rumah sendiri?! Aigooo, kode rumah orang lain kau tau, giliran rumah sendiri kau lupa!" ujar Seonho sambil menepuk jidatnya sendiri, pusing dengan kelakuannya Seojun kalau lagi mabuk.
"Benarkah? Tapi aku melihatmu baru saja masuk dari sini, aku pikir ini rumahmu, hehe.." sahut Seojun, masih teler saja.
"Kamu keluar dari sini, aku melihat pintu rumahmu terbuka tanpa ada orang didalam, makanya aku memeriksanya, dasar rubah ekor sembilan!" ujar Seonho kesal juga dia.
"Aku mengejarmu! Aku pikir kau akan meninggalkan aku, soalnya kau tak ada di sana, huhu.." ujar Seojun lagi.
"Wah, sharap nih bocah! Sepertinya dia harus ikut konseling biar tak mau minum-minum lagi, bisa setress aku tiap kali dia mabuk harus mengurusnya seperti ini!" ujar Seonho lagi.
Setelah itu dia langsung menarik tangan Seojun masuk kedalam rumah sebelum ditegur tetangga, dia akhirnya mau gak mau membiarkan Seojun tidur sambil memeluknya, dia seperti mempunyai seorang anak tiap kali Seojun mabuk.
Dengan sendirinya dia juga tertidur, kelelahan menjaga Seojun dan juga mengurus penyusup tadi.
.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Seonho bangun dari tidurnya. Dia berniat ingin menemui ketua Park sebelum dia pergi ke kantornya. Sebelum itu, sempat-sempatnya dia membuat sup rumput laut yang dipercaya bisa menjadi obat pengar nya Seojun.
Setibanya di rumah ketua Park, dia langsung disambut oleh pak Jeong. Entah orang tua itu tidak tahu apa-apa atau pura-pura tidak tahu, dia menyambut Seonho seperti biasanya.
"Ada apa kau datang pagi-pagi sekali? Apa ada hal yang penting sehingga sepagi ini kau sudah ada disini?" tanya pak Jeong.
"Iya, ada.." jawab Seonho datar.
Pak Jeong ingin menanyakan atau mungkin ingin mengatakan sesuatu, tapi niatnya urung saat ketua Park datang bersama asistennya juga istri dan putrinya.
"Seonho, kau sudah datang rupanya.. Ada apa? Apa terjadi sesuatu kepada Seojun?" tanya ketua Park langsung.
"Kenapa Tuan mengatakan hal itu, apa kejadian semalam ada hubungannya dengan Tuan, bukankah itu sangat berbahaya sekali?" tanya Seonho sambil menyelidikinya, dan sesekali dia juga melirik pak Jeong.
"Maksud kamu apa Seonho? Apa yang terjadi dengan Seojun?!" ketua Park mendadak tegang.
Nyonya Park dan Gaeun pun ikut panik mendengar pernyataannya Seonho tadi, mereka semua nampak tegang dan panik, lalu Seonho menceritakan semua yang terjadi dengan Seojun, mulai dari dia mabuk-mabukan di pinggir sungai Han, hingga terjadi penyusupan di apartemennya juga.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung