Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 46 Pengakuan Ketua Park


__ADS_3

Ningsih keluar dari toilet, dia terkejut saat melihat Seonho masih setia menunggunya di luar sana. Tapi dia pura-pura tak melihat saja, terus berjalan dan tak peduli dengan lelaki itu yang berlari menyusulnya, setibanya didalam ruangan ayahnya, Seonho tak berani mendekati Ningsih.


"Lu bedua kayak di film India deh, kejar-kejaran! Entar giliran dijauhi ama dia, mewek-mewek dah lu, Sutiyem!" ledek Sumiatun.


"Gak usah mulai deh, gue lagi gak mood!" ujar Ningsih sambil tersenyum dipaksakan, gak mungkin kan cemberut didepan bapaknya Seonho!


"Kalian pasti sangat lelah, pulanglah.. Bapak sudah sehat dan tidak apa-apa juga," kata pak Kim kepada Sumiatun dan Ningsih.


"Gak apa kok, Pak.. Sebenarnya kami kesini juga penasaran apa yang terjadi dengan Bapak, sebenarnya Ningsih, eh! Ning Ning juga memiliki firasat yang tak enak tentang Bapak, iya kan Ning?" senggol Sumiatun ke Ningsih, bikin Ningsih gelagapan gak tau mau ngomong apa.


"I-iya, Pak.. Anu, semalam saya juga sempat mendengar para penjahat itu berkata akan menggeledah rumahnya Seonho Sajangnim, tapi saya tidak tahu apa yang mereka cari..


Kalau bakalan tahu mereka akan datang saat anda ada di rumah, setidaknya kami akan mencegah masalah dan musibah ini terjadi, dan maafkan saya terlambat memberitahukan kepada Bapak tentang masalah itu, maaf..." ujar Ningsih, mejelaskan semuanya.


"A-apa? Aku tidak tahu yang terjadi atas dirimu semalam? Penjahat? Apa kamu gak apa-apa?!" tanya pak Kim penasaran juga khawatir sekali dia.


Mereka semua saling pandang, setelah itu kompak sama-sama tepok jidat masing-masing. Mereka lupa jika pak Kim gak tau apa yang terjadi tadi malam di kantor mereka, termasuk kejadian yang menimpa Ningsih ketakutan di sana sendirian.


"Apa petugas kepolisian gak bilang apa-apa sama anda?" tanya Sumiatun.


"Tidak, dia hanya menanyakan beberapa pertanyaan kepada saya, perihal yang terjadi sama saya tadi pagi.." jawab pak Kim sama bingungnya.


"Jadi, kejadian yang sebenarnya bagaimana, Pak?" Sumiatun masih penasaran.


"Tunggu dulu, kamu gak kenapa-kenapa kan? Seonho, apa kamu gak mengantarnya pulang semalam?! Aigoo, kamu ini benar-benar tak bertanggung jawab sebagai pemimpin dan juga sebagai seorang lelaki! Ayah dulu tidak seperti itu, kenapa kau sangat berbeda sekali! Ish.." omel pak Kim, Ningsih merasa terwakilkan oleh pak Kim atas pernyataannya itu.


"Ma-maaf, aku gak tau kalau dia masih ada di kantor.. Aku pikir dia sudah pulang bersama Seojun..." ucap Seonho semakin terpojokkan.


"Hei, dia wanitamu! Tanggung jawabmu lah!" Seojun tidak mau disalahkan, Sumiatun kesel dengar jawabannya, dia tendang kakinya Seojun dengan keras.


"Ah, sakit sayang!" ujar Seojun lagi, masih sempat-sempatnya dia ngegombal.


"Dasar corong merah!" ucap Sumiatun masih kesel.


"What the chorong mewwrraahh?" tanya Seojun tak mengerti.


"Sudahlah, aku tak apa.. Paman sendiri bagaimana bisa kena serang?" tanya Ningsih mengalihkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ah, pagi tadi aku berangkat lebih dulu dibandingkan mereka berdua, karena ada pergantian shift pagi ini. Tapi aku melupakan tanda pengenalku, makanya aku balik lagi. Aku melihat pintu luar sedikit terbuka, aku pikir mereka berdua belum berangkat.


Saat aku masuk, dikejutkan oleh tiga orang lelaki lain memakai pakaian serba hitam termasuk topi juga maskernya! Aigooo, aku benar-benar terkejut sekali, aku pikir akan mati hari ini juga, untuk saja para tetangga mendengar suara teriakanku..


Tapi aku menemukan sesuatu disaku jaket salah satu pelaku, ini sedikit membuatku khawatir.. Dan maaf, aku tidak melaporkannya kepada polisi, apa Ayah melakukan hal yang benar atau salah, kalian bisa menilainya sendiri. Tapi setidaknya kalian berdua berhak tau.." ujar pak Kim sambil memberikan sesuatu ditangannya kepada Seojun dan Seonho.


"Ini kan kartu nama pak Jeong?" seru Seojun dan Seonho bersamaan.


Keduanya saling pandang tak mengerti, jadi apa yang terjadi dengan mereka adalah perbuatannya? Seojun semakin terpukul saja mengetahui kenyataan lain itu, dia tak menyangka pak Jeong bisa melakukan hal itu, membuat perasaannya semakin saja.


"Kalian tidak perlu khawatir lagi, urusan dengannya sudah selesai.." tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang mereka.


"A-Appa( Papa)!" Seojun terkejut melihat kedatangan ayahnya di sana.


Sumiatun menundukkan kepalanya tanda memberikan rasa hormat, tapi ketua Park mengabaikannya, Seojun bersiap melindungi sang kekasih, tau dah kapan pacarannya.


"Jangan berlebihan, Ayah datang bukan untuk mengajak perang! Aku kesini ingin melihat teman lama.." ujar ketua Park sambil menghampiri pak Kim dan memeluknya.


"Apa kabar? Apa kau tidak apa-apa?" tanya ketua Park serius kepada pak Kim.


"Aku baik-baik saja, anakmu merawatku dengan baik bersama dengan mereka semua.." jawab pak Kim dengan bijaknya, Seonho misuh-misuh karena Seojun doang yang dipuji secara nyata.


"Kenapa Appa ingin bertemu dengan kami? Jika ada yang ingin dibicarakan jangan disini, mari bicara diluar.." ujar Seojun udah gugup duluan kalau-kalau sang ayah mulai berbicara yang aneh-aneh lagi.


"Tidak, aku rasa Pak Kim juga perlu tahu semuanya.." ucap ketua Park tak memperdulikannya.


"Appa.." Seojun benar-benar bingung dengan apa yang terjadi, dia sudah khawatir duluan.


"Sebenarnya ini apa yang terjadi?" tanya pak Kim tak mengerti.


"Begini akan saya jelaskan, pertama saya ucapkan terima kasih sudah menolong aku dan istriku di masa lalu, tanpa anda mungkin kami semua tidak akan selamat.." ucap ketua Park.


"Tidak apa, aku juga ingin berterima kasih kepada anda.. Berkat anda sekeluarga, hidup saya dan anak saya terjamin sampai sekarang," sahut pak Kim juga.


"Seojun dulu begitu manja dan keras kepala, dia sangat bergantung dengan kami terutama sama pengasuhnya, dan sekarang pengasuhnya malah berkhianat. Semua kejahatan pak Jeong sudah terbongkar, kini dia sudah di penjara bersama anak buahnya yang lain.


Dan dari kecil juga Seojun dan Seonho bergaul semenjak hubungan kita terjalin dengan baik, aku harap Seonho tetap baik dan setia kepadanya maupun kepada keluarga kami, jangan sampai dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pak Jeong.." sambung ketua Park lagi.

__ADS_1


"Akan aku pastikan, dia akan selalu setia kepada anda, Pak.. Mereka akan selalu bersama sampai kapanpun," jawab pak Kim tanpa tahu arah pembicaraan ini akan kemana.


"Jadi, jika aku meminta sesuatu darinya apa dia akan memberikannya?" tanya ketua Park.


"Apa maksud anda sebenarnya, Pak?" tanya pak Kim akhirnya.


"Aku meminta Seonho untuk mengalah untuk sekali ini saja, aku sudah menyelidiki Nona Ningsih, ah.. Ning Ning maksudnya, maaf.. Sebelumnya, dan dia memang anak orang kaya di negaranya. Aku pikir dia akan sangat cocok dengan Seojun.


Maka, aku meminta dengan kerendahan hati pak Kim untuk membujuknya untuk membiarkan Nona Ningsih bersama Seojun, dan maaf aku pikir hubungan mereka tidak akan berlanjut lebih serius karena ayahnya Ning Ning pasti akan berpikir sama dengan saya.." jawab ketua Park dengan yakinnya.


"Hah?! Hah-hahaha.." Ningsih tertawa geli mendengar ucapan ketua Park itu.


"Ning!" senggol Sumiatun, dia benar-benar geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatnya itu.


"Maaf, nih.. Maaf sekali jika teman saya ini tidak sopan!" ujar Sumiatun buru-buru meminta maaf atas kelakuan Ningsih.


"Pak, maaf saya tak bisa mengontrol diri saya! Haha.. Tapi, anda siapa bisa mengatakan hal itu kepada Pak Kim? Apa anda segitu berjasanya kepada mereka, sehingga anda seenaknya saja mengatakan hal itu?


Mendengar perkataan anda tadi, bukankah andalah yang seharusnya berterima kasih dengannya karena tanpa jasa Pak Kim, mungkin anda dan istri sudah ngek! Is death!" ujar Ningsih sambil memperagakan tangan memotong lehernya sendiri, membuat Seojun dan Seonho menahan tawanya, Sumiatun yang malu.


"Ah, anu! Gini, saya gak masalah anak bapak mau kawin sama siapa! Saya juga gak minat sama dia, dia nya aja ngejar-ngejar saya. Tapi Bapak juga gak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain, karena itu bukan hak anda.


Sahabat saya ini, Ningsih alias Ning Ning dan Seonho saling mencintai, anda tak bisa memisahkan mereka begitu saja demi kepentingan anda sendiri, apalagi putra anda juga tak menyukai gadis blangsak macam ini, dan aku juga heran kenapa cewek Oneng macam lu masih ada yang suka, ya Ning?" ujar Sumiatun mengutarakan pendapatnya, sekaligus heran sama semua orang.


"Kagak tau! Itu dia demen sama duit bapak gue, bukan sama gue nya! Markonah!" balas Ningsih, yang lain hanya hah-hoh saja tak mengerti.


Mendengar ucapan Sumiatun membuat ketua Park begitu meradang, sekali lagi dia benar-benar merasa dipermalukan oleh mereka semua.


"Aku benar-benar marah sekali dengan kalian, akan aku pastikan kalian akan menyesal! Aku juga sudah mendengar perihal kantor kalian, aku tau kalian akan mengalami kehancuran karena semua klien membatalkan perjanjiannya, maka aku juga meminta kau Seojun, kembalikan juga uangku yang kau pakai untuk membangun perusahaanmu itu!" ujar ketua Park murka.


"Sudah kuduga Appa pasti terlibat dengan semua ini, baik akan aku berikan semuanya, dengan nyawaku kapan perlu!" ujar Seojun tak kalah marahnya, merasa dikhianati.


Kemudian ketua Park pergi begitu saja bersama beberapa orang yang bersamanya menunggu diluar, beberapa saat kemudian mereka baru tahu jika pak Jeong bekerja sama dengan seseorang melakukan kekacauan di kantor Seojun.


Termasuk juga tentang penyusupan ke apartemennya Seonho, penyerangan kepada pak Kim diluar prediksinya karena para anak buahnya tak menyangka akan ketahuan begitu saja.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2