
Seonho pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan gamang, dia belum faham sepenuhnya pernyataan ketua Park tapi sudah dihadapi sebuah kenyataan, jika cinta pertama yang baru saja dia mulai akan kandas begitu saja.
Dia datang ke kantornya dengan perasaan tak menentu, dia tak bersemangat kerja ataupun tak berselera sarapan. Entah mengapa dia merasa apa yang dia lakukan selama ini menjadi sia-sia. Tiba-tiba..
Braaak!
"Astaga, apa itu?!" seru karyawan yang lainnya.
Mereka keluar dari ruangan mereka dan menemukan Seojun sedang terjatuh dan menimpa tong sampah di salah sudut pojokan koridor lantai itu.
Mereka berusaha membantunya untuk berdiri, tapi Seojun berusaha untuk bangun sendiri dengan berpura-pura baik-baik saja, padahal lututnya rasanya begitu ngilu, belum lagi rasa malunya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Seonho! Seonho, ada kabar terbaru dan terupdate! Dengarkan aku, aku mau cerita!" ujar Seojun begitu bersemangat setelah mengetuk pintu ruangan Seonho, dan langsung masuk begitu saja.
"Ada apa?" tanya Seonho terlihat begitu lesu.
"Btw, terima kasih sudah membuatkan aku sup rumput laut, dan membersihkan apartemenku, hehe..
Oke, fokus! Kata security apartemenku semalam ada penyusup yang mencoba masuk kedalam unit seseorang, tapi tidak dikatakan siapa pemilik unit tersebut, katanya demi keamanan dan kenyamanan penghuni lainnya.
Ck, seharusnya mereka katakan saja unit mana yang hampir kebobolan ituu.. Agar kita semua bisa berhati-hati jangan sampai ikut kebobolan juga, ya kan?
__ADS_1
Dan kata security itu, ada teman penghuni unit itu yang memergokinya dan mengejarnya sampai dapat dari lantai sepuluh sampai lantai dua, daebak bukan! Btw, lantai sepuluh kan lantaiku, siapa yah kira-kira? Woaaah, aku merasa ikut terharu juga mendengar cerita para security itu!" ujar Seojun menceritakan hasil dari ngeghibah bareng satpam komplek, eh! Security apartemen maksudnya!
Mendengar hal itu, Seonho sedikit bersemangat saat dia dielu-elukan bak pahlawan tapi onengnya itu Seojun gak sadar sama sekali jika unitnya lah yang hampir kebobolan itu.
"Kau mau mendengar kisah nyata yang lebih seru dan tragis lagi?" kali ini Seonho yang ingin bercerita.
"Apa? Oke, cerita apa itu?" tanya Seojun antusias.
"Seorang pria tampan dan mapan sedang menjemput temannya yang sedang galau merana, mabuk-mabukan dipinggir sungai Han, hingga tak sadarkan diri. Sehingga mau gak mau dia harus mengantarkan dirinya pulang ke apartemen pemuda itu, menurutmu apa yang dia lakukan itu sudah benar atau salah?" tanya Seonho.
"Wah, dia keren sekali! Mau datang menjemput temannya yang sedang mabuk, jika tak ada dia bisa-bisa temannya itu menjadi korban kriminal!" jawab Seojun antusias.
"Baiklah, pemuda itu mengantarkannya sampai ke apartemennya sampai-sampai dia juga membersihkan tempat tinggal temannya itu yang jorok, dia juga membayar orang untuk mengantarkan mobilnya juga sampai ke apartemennya itu, apakah pemuda itu baik?" tanya Seonho lagi sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tentu saja! Kalau aku tidak akan sampai kesana, paling cukup memanggil supir pengganti untuk mengantarkan dirinya juga mobilnya sekaligus, wah pemuda yang sungguh baik.." jawab Seojun lagi, tapi perasaannya mulai tak tenang, sepertinya ini ending ceritanya gak bakalan baik.
"Dan terakhir, saat pemuda itu lagi bersih-bersih dia mendengar sesuatu dari luar unit tempat tinggal temannya itu, seseorang menerobos masuk dan mencoba menyerangnya, tapi dengan kekuatan penuh yang luar biasa, pemuda itu berhasil melumpuhkannya, sampai penyusup itu kabur melarikan diri!" ujar Seonho begitu berapi-api menjelaskan kejadian semalam dengan versi cerita yang luar biasa diluar nalar, alias terlalu melebih-lebihkan.
"Jadi, sudah tahu perkembangan dari si penyusup?! Apa dia memang berniat ingin mencuri atau ada motif lain?" tanya Seojun, dia sudah tak sanggup mendengar Seonho bercerita yang sedari tadi begitu narsis membanggakan dirinya sendiri.
"Tidak tahu! Ayahmu akan melanjutkan penyelidikannya, kita tunggu saja hasilnya!" ucap Seonho datar.
"Kau kenapa? Apa ada masalah? Sedari tadi aku perhatikan cemberut terus, itu muka gak ada manis-manisnya! Serius amat hidupmu!" sahut Seojun merasa aneh dengan tingkahnya Seonho.
"Apa kau ada masalah dengan Ning Ning? Ah, maaf! Aku lupa memberitahumu, aku kesiangan hari ini makanya tak bisa menjemput Somi dan Ning Ning. Seharusnya aku menelponmu untuk menjemput mereka, ck! Mereka pasti kesal sekali sudah menunggu lama, lihat sampai sekarang mereka belum sampai.." ujar Seojun sambil celingukan keluar ruangan mencari mereka, kalau-kalau saja mereka sudah sampai.
Mendengar nama Ning Ning disebutkan, apalagi yang menyebutkan namanya adalah Seojun, mendadak rasa cemburunya keluar.
__ADS_1
"Astaga! Kenapa lagi denganmu?! Apa kau marah karena semalaman aku merepotkanmu?! Baiklah, aku akan membayar dua ah salah! Sepuluh kali lipat bonusmu, bagaimana? Puas?!" tanya Seojun terkejut saat melihat sorot mata tajamnya Seonho.
Niat hati ingin marah dan ngambek seharian, tapi saat mendengar akan mendapatkan bonus yang begitu besar, dia jadi urung dengan niatannya. Tiba-tiba saja dia berkeinginan dan memiliki motivasi baru, harus kerja bagai kuda, menghasilkan uang banyak, agar tak dipandang sebelah mata sama orang lain, dan bisa dianggap pantas bersanding dengan Ningsih.
"Good morning, Mister!" teriak Ningsih dari luar ruangan, mengagetkan mereka berdua.
"Ck, suaranya begitu bersemangat sekali! Oke, selamat bekerja Partnerku! Aku juga mau keatas, Somi sudah menungguku! Yuhuuu," seru Seojun sambil meninggalkan dirinya.
Seonho hanya berdecak kesal, jika suatu saat nanti Seojun tahu bahwa dia akan dijodohkan dengan Ningsih, kira-kira bagaimana reaksinya? Apa dia akan menyerah pada nasibnya? Atau akan terus mempertahankan prinsipnya, yang selama ini dia jaga?
Sementara itu, dilantai tiga Sumiatun sedang duduk di kursi tempat dia bekerja. Dia nampak sedang memijit-mijit kakinya, terlihat ada beberapa luka lecet di tumitnya.
"Hadehh, udahlah kesiangan bangunnya... Kagak dijemput pula, pake kejar-kejaran bis! Eh, ini kaki pakai lecet segala, masih ada untungnya gue kagak telat masuk, meskipun udah masuk kategori terlambat sih! Untung si bos kagak ada, mungkin dia belum datang kali yak!" ujarnya sambil memijit kakinya yang pegel-pegel itu.
"Astogeeee, anak emak kaget ya Allah!" seru Sumiatun terkejut melihat Seojun tau-tau datang sambil duduk jongkok menghampirinya.
"Mau ngapain kamu jongkok kayak gitu?! Bangunlah, jangan sampai karyawan lain melihatmu seperti ini! Lagian, aku belum siap.." ucap Sumiatun sok manis sambil menyelipkan rambut di telinganya.
"Kamu ngomong apa sih?! Aku hanya ingin membantumu saja, sini kakimu itu! Lihat lecet semua, hari ini jangan pakai high heels dulu.. Lagian kalau dilihat semua orang juga tak apa, mereka juga sudah tahu hubungan kita kok!" ucap Seojun, dia begitu fokus dengan kaki Sumiatun tak peduli dengan reaksi gadis itu sekarang.
Jantung Sumiatun merasa mau copot saja, seumur-umur baru kali ini dia dilayani segitunya sama orang, apalagi ini cowok ganteng spek idol atau aktor tampan yang lagi hits sekarang ini.
"Haduh, kalau tau bakalan begini kejadiannya gue bakalan luluran terus tiap kali mandi, paling gak ikutan kayak si Ningsih pedi medi di salon! Kan malu ngasih tau kaki gue yang kasar belum lagi bulu kaki udah pada gondrong, jari-jari kaki bengkak semua kayak jempol! Malunya gueee!" gerutunya dalam hati, sambil menahan perasaan yang sedari tadi ser-seran terus tiap kali si Seojun yang pegang.
Tidak berbeda dengan Sumiatun, Seojun juga deg-degan karena pertama kalinya dia menyentuh seorang wanita. Apalagi seseorang yang dia sukai, dia tak peduli dengan bulu-bulu halus di kakinya Sumiatun menegang karena disentuh olehnya, dia hanya fokus membalut luka lecet di tumitnya Sumiatun.
Dan lucunya dia salah mengira, tumit kekarnya Sumiatun yang kagak pernah diajak pakai high heels, dikiranya luka semuanya, padahal cuma pecah-pecah akibat keseringan pakai high heels, jadi tuh tumit masih belum terbiasa kayak orangnya! Dan ikut diperban juga sama Seojun, jadilah kedua tumit kakinya Sumiatun di bungkus semua.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung