Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 40 Mandi Jus Tomat


__ADS_3

Sumiatun garuk-garuk kepalanya tak mengerti dengan konsep yang dibuat oleh Seojun, ini kakinya kenapa kayak udang goreng tepung, dibungkus terus yang keluar cuma ekornya doang!


"Maaf ini yak, kakiku cuma lecet sedikit saja dan ini juga cuma sebelah sini aja! Kenapa dua-duanya pakai diperban semua?! Dan ini apa-apaan Pak Booosss.. Ini kaki saya, bukan udang goreng!" protes Sumiatun, udah nahan-nahan diri biar gak emosian.


"Soalnya aku liat kedua tumit kakimu terlihat sobek semua, itu pasti sangat perih sekali! Sebaiknya diobati sebelum tambah parah," ujar Seojun tak mau disalahkan apa yang dia buat.


"Astaganagaaaa! Ini orang kagak pernah ngerasain tumit pecah-pecah, atau kagak pernah tau soal beginian gak siiiiiih! Sempurna amat idup luuu!" ujar Sumiatun gregetan.


"What's do you say?!" tanya Seojun tak mengerti saat Sumiatun ngedumel pakai bahasanya sendiri.


"Kagak ada! Ayo kita kerja lagi, Sajangnim!" jawab Sumiatun menyerah sajalah dengannya.


Jadilah saat ini dia kerja pakai sandal templek, sandal tipis dan datar sedatar ekspresi wajah Seonho sekarang ini. Bagaimana tidak dia baru saja dihubungi oleh klien mereka yang sempat membatalkan janjinya dengan Seojun dan Ningsih pada saat itu, dan sekali lagi dia juga gak bisa datang menemani Seojun karena kerjaannya memang benar-benar banyak dan menumpuk harus segera diselesaikan.


Sebagai perusahaan baru merintis, perusahaan mereka cukup mumpuni dan diakui oleh beberapa perusahaan lainnya. Terbukti banyak para klien mereka datang dari beberapa perusahaan besar, mau bekerja sama dengan mereka.


Saat ini dia hendak datang menemui Sumiatun agar menemani Seojun kali ini, karena dia tidak akan membiarkan Ningsih ikut lagi. Tapi harapannya musnah, menguap begitu saja.


"Kenapa harus sekarang kakimu ini sakit?! Kenapa tidak sebelum-sebelumnya? Atau tidak besok saja atau ditunda saja paling tidak sebulan kedepan?!" protesnya kepada Sumiatun.


"Sajangnim, anda ada masalah apa dengan kaki saya?! Kenapa anda terlihat begitu marah sekali?!" sahut juga Sumiatun, tidak mengerti.


"Apa kau tidak bisa memakai sepatu high heels?" tanya Seonho.


"Tidak bisa! Lihat kedua tumit saya yang mon.tok ini, terbungkus rapi sama pak bos! Jadi kagak bisa, maafkeun kaki saya kalau tidak menarik dimata anda!" jawab Sumiatun kesel juga dia, perkara kaki doang masalah kagak kelar-kelar!


"Hufft, apa kamu tidak keberatan jika Ningsih kembali menemani Seojun dalam pertemuan dengan kliennya?" tanya Seonho lagi.


"Hemmm, gue paham ini arah pembicaraannya apa!" gumam Sumiatun sambil tersenyum smirk.


"Kenapa, apa kamu cemburu jika Ningsih akan pergi menemani Seojun?" goda Sumiatun sambil tersenyum menaik turunkan alisnya.


"Apa? Tidak! A-aku hanya mengkhawatirkan dirimu jika nanti keduanya dilihat ayahnya Seojun dan akan menjodohkan mereka, bagaimana?!" ujar Seonho berusaha ngeles.


"Jika itu memang terjadi, biarlah! Toh yang akan menjalani mereka berdua, jika akhirnya mereka akan bersatu dan menikah, berati mereka sama-sama suka!


Suatu hubungan tidak terjadi dengan sebuah paksaan, jika keduanya tidak mau, baik itu ayahnya Seojun atau siapapun tidak akan pernah bisa memaksa mereka berdua. Dan percayalah sama mereka, aku yakin mereka akan bekerja secara profesional.." jawab Sumiatun bijak.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu. Aku percaya soal itu, aku tidak akan pernah meragukan mereka, hanya saja aku takut mereka bisa saja dijebak atau apalah.." ujar Seonho lagi.


"Insyaallah tidak akan pernah terjadi apa-apa," sahut Sumiatun optimis.


Setelah beberapa saat, akhirnya mau gak mau Ningsih kembali menemani Seojun keluar, untuk menemui klien yang sama dan berharap kali ini pertemuan mereka berhasil dan sukses.


Kali ini pertemuan mereka tidak jauh dari kantor mereka, sehingga keduanya tak terburu-buru seperti kemarin. Setibanya di sana, sudah ada klien yang menunggu bersama asistennya dan dua orang lagi.


"Ah, maaf membuat kalian menunggu!" ucap Seojun, benar-benar merasa tak enak hati dengan kliennya.


"Tidak apa, Pak.. Kami sengaja datang lebih awal, karena kami tak ingin mengecewakan kalian lagi.." ujar kliennya itu dengan ramah.


Setelah itu tanpa menunggu lama, setelah memesan beberapa cangkir kopi mereka langsung membahas pertemuan mereka. Pertemuan mereka bisa dibilang sukses, keduanya sudah sepakat menjalin kerja sama dalam bisnis ini, tapi saat ingin menandatangani surat perjanjian bisnis, berkasnya malah ketinggalan.


"Maafkan saya, saya akan segera mengambilnya," ujar Ningsih serba salah, dia benar-benar ceroboh sekali.


"Tidak apa, kita bisa menandatangani nya lain kali saja. Ini cukup dengan kesepakatan kita saja dulu," ujar klien mereka, begitu baik sekali.


"Tidak, Pak! Ini tidak akan lama, kantor kami berada disekitaran sini, sebentar yah.." ujar Ningsih merasa sungkan.


"Tunggu, biar aku menelpon Somi. Dia akan mengantarkan berkasnya," cegah Seojun.


Tetapi perlakuan Seojun kepada Ningsih disalahartikan oleh kliennya itu, dia mengira mereka adalah pasangan kekasih yang baru merintis usaha bersama.


"Apa kalian berdua pasangan? Aku perhatikan anda begitu perhatian kepadanya, aku serius.. Kalian sangat cocok sekali," ujar klien itu secara tiba-tiba.


"Apa?! Tidak, bukan seperti itu!" entah mengapa Ningsih merasa deja vu sama kejadian kemarin.


"Tidak usah malu, Nona. Kami semua bisa mengerti kok.." ucap kliennya itu sambil tersenyum menggoda mereka.


"Sebentar lagi berkasnya akan sampai, kita tunggu saja!" ucap Seojun datar, dia mulai tak suka dengan kliennya itu ketika membahas soal pribadi, udah itu salah juga tebakannya.


"Pak, aku bisa mengerti posisiku sekarang ini. Aku sebenarnya sudah mendengar kisah anda dari beberapa orang, anda diusir oleh ayah anda karena menjalin hubungan dengan orang asing, dan jika tebakan aku tak salah, bukankah sekretaris anda ini adalah orangnya?" tanya lagi kliennya itu mulai ngadi-ngadi.


"Pak, kita sepakat untuk tidak terlibat dengan urusan pribadi. Mari jalani hubungan bisnis kita tanpa ada indikasi latar belakang apapun, aku akan bekerja dengan sebaik mungkin, tanpa campur tangan ayahku! Jadi sebaiknya tidak usah membahas kearah ranah pribadi," ujar Seojun tegas.


Tetapi kliennya itu mulai ngeyel, dia pun malah semakin menjadi-jadi menghina orang asing yang dianggap parasit bagi bisnis yang dirintis di negaranya, gegara dia berulang kali kalah tender proyek melawan saingannya dari perusahaan asing.

__ADS_1


"Lah? Apa hubungannya sama gue dan Sumi?! Kita kan kagak begitu?! Dasar mulut nyenyes!" ujar Ningsih dalam hati, kesal.


Reaksi Seojun tetap tenang dan santai, dia masih menahan diri ketika hinaan terus keluar dari mulut sang klien, diam-diam dia memiliki rencana lain.


Tidak lama kemudian, Sumiatun datang bersama Seonho dengan berkas ditangannya. Kali ini Seonho tidak ingin melewati kesempatannya untuk melihat pertemuan mereka dengan kliennya, awalnya dia tidak tahu jika Ningsih meninggalkan berkasnya diatas meja kerjanya sendiri.


Karena Sumiatun datang dan memintanya, akhirnya dia menggunakan kesempatan itu ditengah kesibukannya, untuk ikut mengantar Sumiatun, dengan alasan biar lebih cepat.


"Kamu pakai sepatu punya siapa?" bisik Seojun saat melirik kaki Sumiatun memakai sepatu kets yang terlihat kebesaran dikakinya.


"Punya pak Hyun Joong, aku meminjamnya.." jawab Sumiatun dengan berbisik pula.


"Pulang dari sini, kita beli sepatu yang nyaman untukmu, dan ganti sepatu yang baru buat Hyun Joong," ujar Seojun.


Sumiatun sampe melongo mendengar pernyataan bosnya itu, perkara pinjam sepatu saja begitu reaksinya.


"Ini orang cemburu sama sepatunya atau sama orangnya?! Ini sepatu abis gue pakai dibuang gitu?" gumamnya tak mengerti.


"Seonho, apa yang kau lakukan disini? Katanya kau sibuk!" sungut Seojun sedikit kesal.


"Iya aku sibuk, tapi aku ingin memastikan kalau berkasnya sampai dengan aman!" ujar Seonho mencari alasan.


"Ah, Pak.. Perkenalkan, ini Direktur pelaksana dan penanggung jawab program bisnis ini, namanya Kim Seonho. Dan ini sekretaris dan asisten pribadi saya, Jeon Somi adalah nama Korea nya, btw.. Ini calon istri saya," ujar Seojun dengan percaya diri memperkenalkan Sumiatun dengan kliennya itu.


"Apa?! Aku pikir dia adalah calon istrimu? Wah, anda benar-benar diluar prediksi, Pak.. Haha, aku pikir menikah dengan orang asing saja sudah salah, apalagi dengan wanita seperti dia! Bahkan dari penampilannya saja wanita ini jauh lebih baik darinya," ujar kliennya itu makin kurang ajar.


Semuanya begitu syok mendengar pernyataan klien mereka itu, Seojun dan lainnya begitu geram dengan tingkah sombong klien itu, Ningsih sudah terlanjur emosi sejak tadi dia tahan-tahan saja, akhirnya meledak juga.


Byurr!


"Apa-apaan ini?!" ujar kliennya itu tidak terima atas perlakuan Ningsih kepadanya, segelas jus tomat dua guyur ke wajah kliennya, sehingga kemeja putihnya penuh noda jus tomat.


"Saya sudah tak tahan dengan kelakuan anda yang semakin kurang ajar ini! Kami tidak akan bekerja sama dengan anda, hubungan kita selesai!" teriak Ningsih, emosi udah di ubun-ubun.


Sumiatun dan lainnya jauh lebih syok melihat perlakuan si Ningsih, apalagi dia main batal aja sama perjanjian yang susah payah mereka bangun.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2