Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 47 Cerita Yang Sebenarnya


__ADS_3

Setelah beberapa saat kemudian, mereka semua kembali terdiam dan merenungi apa yang terjadi sebenarnya. Pak Kim sama sekali tak menyangka, jika anaknya mengalami sebuah masalah cukup pelik.


"Kalian kenapa tidak cerita soal ini kepadaku? Bukankah aku berhak tau juga apa yang menimpa dengan anakku?" tanya pak Kim dengan nada kecewa.


"Maaf, Abeojji.. Aku tak ingin membuatmu khawatir, aku yakin bisa menyelesaikan masalah ini.. Lagian aku sudah besar, aku bisa mengurus diriku sendiri" jawab Seonho merasa bersalah dan tak enak hati, dia berusaha sekuat mungkin didepan sang ayah.


"Aku tau kau sudah besar, tapi bagiku kau tetaplah anak kecilku! Sehebat apapun kau, dan sekuat apa kau di hadapanku.. Bagiku, kau masih anak cengeng dan manja seperti dulu!" ujar pak Kim sambil mendengus, dia kesal jika anaknya mulai tak membutuhkan perhatiannya lagi.


"Abeojji..." rengek Seonho malu didepan semuanya.


"Dasar, bocah! Anak manjaaaahh!" ledek Seojun.


"Kau pun sama! Kapan kalian berdua bisa mandiri dan tak bergantung dengan orang lain?! Kau juga harus ingat kata-kata ayahmu tadi, Seojun.. Kalian harus mengembalikan uangnya secepat mungkin," ucap pak Kim kesel sama keduanya.


Seonho dan Seojun terdiam, apa yang dikatakan oleh pak Kim ada benarnya juga. Mereka harus mencari cara bagaimana mengatasi masalah keuangan ini, perusahaan kecil mereka yang baru merintis itu terancam bangkrut.


"Kita dalam masalah besar, semua klien kita membatalkan rencana kerja sama, perjanjian batal dengan beberapa perusahaan besar. Dan bodohnya lagi kita gak tau bahwa selama ini masih berkutat di masalah yang sama.


Aku gak percaya ayahku sendiri tak ingin aku mandiri dengan usahaku sendiri, diam-diam dia menjebakku dengan uang yang katanya sebagai supportnya dia kepadaku, aku tak menyangka ada sesuatu dibalik semua kebaikannya itu.." ujar Seojun dengan nada kecewa juga marah.


"Itu karena kalian memang bodoh dari sananya, makanya gampang dibohongi!" cetus Sumiatun yang sedari tadi diam sambil memperhatikan mereka.


"Hei, kami tidak bodoh! Hanya saja kurang hati-hati.." balas Seojun membela diri.


"Dasar, phaboya! Kau sudah tau karakter ayahmu sendiri, kenapa tidak menyadarinya sejak awal?! Ck, seandainya sejak awal kau bisa membuktikan diri, mungkin dia bisa mempercayaimu sepenuhnya!


Dia seorang ayah, orang tua mana yang mau melihat anaknya bangkrut dan gagal dalam berusaha, dia hanya memberimu sedikit motivasi dan semangat, agar kau bisa bergerak dan tidak menggantungkan dirimu dengannya terus!


Kau berkata seolah-olah tak membutuhkannya, padahal kalau bukan karena dia kau juga takkan bisa seperti ini, ayolah jangan munafik jadi orang. Katakan sejujurnya, sebenarnya kau juga membutuhkannya juga kan?!" ujar Sumiatun dengan nada menantang.


"Tentu saja, aku ini anaknya dan dia ayahku! Aku membutuhkannya seperti dia membutuhkanku, tapi kamu gak tau apa-apa, jangan menghakimiku begitu saja! Apa kamu tau apa yang aku rasakan selama ini?!


Bertahun-tahun aku menderita sendirian, aku mengemis perhatiannya tapi dia tak perduli! Dia hanya memperhatikan dan memperdulikan keluarga barunya saja," ujar Seojun dengan nada sedikit emosi, coba kalau lawan bicara Seonho atau Ningsih udah keluar semua itu urat leher.

__ADS_1


"Ck, alasan! Itu hanya alibimu saja kan?! Kau ini tumbuh besar atas didikan pak Jeong, apa kau yakin semua yang dia ajarkan dan dia kasih tau kepadamu selama ini benar, hei tuan muda tak tahu diri?!" balas Sumiatun dengan nada mengejek.


Mendengar perkataan Sumiatun membuat Seojun terdiam, bukan hanya dia saja, bahkan Seonho, pak Kim bahkan Ningsih ikutan mikir juga.


"Iya yah.. Kenapa aku tak berpikir kearah sana juga yah? Hei Seojun, apa saja yang diajarkan oleh pak Jeong selama ini kepadamu? Katakan saja sejujurnya! Aku saja setiap kali bertemu dengannya waktu kecil, begitu ketakutan, dulu dimataku dia begitu menyeramkan!" sahut juga Seonho.


"Apa? Kenapa kau tak pernah cerita ke ayah soal itu?!" tanya pak Kim terkejut.


"Buat apa, setiap kali aku bercerita ayah tak pernah menanggapi. Pasti saat itu ayah berpikir kalau aku hanya ketakutan tanpa alasan, iya kan?" jawab Seonho membuat pak Kim terdiam.


"Aku pikir kalian hanya anak-anak yang takut dengan orang dewasa saja, aku sama sekali tak berpikir sampai ke sana.." ujar pak Kim pelan.


"Tunggu dulu, jika itu semua sudah dimulai dari kalian masih kecil.. Maaf nih ya, bukannya memprovokasi ini hanya sekedar asumsiku saja, jangan terlalu dipikirkan.." sahut Ningsih pengen ikut mengutarakan pendapatnya.


"Ngomong aja langsung!" sambung Sumiatun.


"Sabar napa sih, ambil nafas dulu nih! Soalnya pernyataanku ini sedikit menegangkan dan mungkin berbahaya," ujar Ningsih sok dramatis.


"Lebay lu! Apaan yang membuat menegangkan dan mungkin berbahaya itu?!" tanya Sumiatun gregetan.


"Ck, malah nanya!" gerutu Sumiatun, kesel udah kepalang tanggung penasarannya.


"Waktu itu, aku sedang beristirahat sesaat setelah mengumpulkan beberapa kardus dan botol plastik kosong, dipinggir jalan deket ruko-ruko kosong yang belum dibuka oleh pemiliknya.


Aku tak sengaja melihat ada sepasang suami istri yang sedang bertengkar, awalnya aku tak terlalu memperhatikan karena mereka berada didalam mobil yang terparkir tak jauh dari tempatku duduk. Kemudian mereka keluar dari dalam mobilnya, dan melanjutkan pertengkarannya.


Sesaat keduanya sedang bertengkar, aku tak sengaja melihat seseorang diatas ruko didepan mereka berdiri, orang itu sedang menghancurkan papan reklame diatasnya, aku pikir dia teknisi yang datang untuk melepaskan papan itu atas keinginan pemilik ruko.


Ternyata dugaanku salah, orang itu sengaja melepaskannya untuk melukai tuan dan nyonya Park, aku langsung berinisiatif mendorong gerobakku kearah mereka, membuat orang tua Seojun terkejut dan langsung menghindar.


Dalam hitungan detik dari kejadian itu, papan reklame langsung jatuh menimpa gerobakku hingga hancur dan patah jadi dua. Kalian tau seberapa berat papan itu sehingga bisa membuat gerobak ku hancur?!


Hampir seratus kilo! Orang itu juga harus menggunakan alat berat untuk mendorongnya! Dan anehnya setelah kejadian itu, orang yang aku lihat langsung menghilang begitu saja. Dia meninggalkan alat-alatnya diatas gedung ruko begitu saja.

__ADS_1


Pihak kepolisian tak bisa melacak keberadaan orang itu, dia tak meninggalkan jejak sedikitpun, kecuali ayah sebagai saksinya. Sedangkan alat-alat yang dia gunakan itu adalah alat pemilik gedung ruko itu, yang sengaja diletakkan di sana untuk membongkar papan reklame yang sudah lapuk itu.


Tapi menurut kami alasan pemilik ruko terlalu mengada-ada, terkesan menutupi sesuatu. Tapi polisi juga tak bisa membuktikan pemilik ruko terlibat dengan kasus ini, sehingga kasus ini dianggap sebagai kecelakaan saja, sehingga pemilik ruko hanya didenda saja atas kelalaiannya.


Tapi ayahnya Seojun cerdas, setelah kejadian itu dia tak pernah membiarkan istri dan anak-anaknya berkeliaran sendirian, selalu ada pengawal yang mereka kemanapun mereka pergi. Jadi ada alasan kenapa ayahnya begitu protektif kepadanya, mungkin itu juga ada hubungannya dengan yang lain.


Soal dengan pak Jeong aku tidak tahu, mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan selama ini, itu jadi masalahmu, Seojun.. Kamu harus mencari tahu alasannya melakukan semua ini, coba ingat-ingat kembali apa saja yang dia lakukan selama ini, atau apa saja yang dia katakan kepadamu selama ini.." ujar pak Kim memberikan jawabannya atas segala rasa penasaran mereka semua.


Kemudian mereka kembali terdiam, Seojun seperti flashback kembali ke masa lalu, dia mengingat-ingat kembali apa saja yang dia lalui selama ini, dan..


Drrt.. Drrt.. Drrrt..


"Bocah, bikin kaget aja tuh ponsel lu!" ujar Sumiatun refleks memukul paha Ningsih, saking kagetnya denger suara ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.


"Sorry, gue lupa silent bunyi ponselnya, hehe.. Ini aku nyalain alarm biar gak telat masuk pagi tadi," ujar Ningsih sambil nyengir.


"Telaaat! Udah bunyi dari subuh, lu aja tidurnya ngebo," sungut Sumiatun.


"Sst, ini mama.." bisik Ningsih, setelah itu dia izin mau keluar, gak enak juga kan nerima telpon didepan orang lain.


"Halo, Mama.." ujarnya didepan ruang inap pak Kim, sudah berada di koridor ruang tunggu.


"Ningsih Cornelia! Eta anak gadis Mama gak kenapa-kenapa?! Kamu teh gak apa-apa sama si Sumi?! Kalian gak diculik kan? Masih bisa makan sama tidur kan?!" tanya mamanya Ningsih terdengar sangat khawatir.


"Mama kenapa sih?! Nelpon-nelpon kok nanya begitu? Aku sama Sumi baik-baik saja, masih makan enak sama tidur nyenyak!" jawab Ningsih aneh dan heran juga dengan mamanya.


"Syukur Alhamdulillah kalau emang begitu teh.. Ini dari beberapa hari yang lalu, rumah kita, kantornya papa ada yang ngawasin mulu! Terus ada surat kaleng gitu, katanya anak mama teh lagi dalam bahaya!" ujar mamanya menceritakan kekhawatirannya.


"Hah?! Masa sih?!" Ningsih kaget gak percaya, kok tiba-tiba keluarganya yang di Indonesia malah kena teror juga.


Wah, ini gak bisa didiamkan begitu saja! Ningsih mulai mengatur strateginya, dia harus mencari cara agar mereka semua aman dari serangan dan teror misterius itu.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2