
Seojun menyelinap masuk kedalam rumahnya diam-diam, kebetulan di rumah sepi tidak ada orang. Ayahnya sudah pasti ada di kantor, Sedangkan ibu tirinya sedang sibuk dengan dunia bisnis dan sosialitanya, sedangkan Gaeun masih berada di sekolahnya.
"Masuklah, Tuan muda.. Hanya ada pelayan dan pengawal saja di rumah," ujar bibi Sora, wanita paruh baya masih terlihat muda dan cantik, salah satu asisten ibu tirinya yang memang stay di rumahnya.
"Terima kasih, Bibi.." ucap Seojun datar, entah mengapa dia tak menyukai wanita itu.
Bukan karena bibi Sora bekerja dengan ibu tirinya kenapa Seojun tak menyukainya tapi cara dan prilakunya yang Seojun tak sukai, wanita yang hampir menginjak usia lima puluh tahun itu kerap terlihat oleh Seojun suka menggoda beberapa pengawal yang masih muda.
"Menjijikkan!" gumamnya setiap kali melihat wanita itu sedang bercumbu dengan beberapa pria yang masih muda dibawahnya.
Setelah memastikan bibi Sora pergi, Seojun buru-buru masuk kedalam kamarnya pak Jeong, saat dia hendak masuk kedalam dia mendengar suara langkah kaki dan suara orang yang berbicara didalam sana.
"Bagaimana ini, Ahjuma?! Aku takut, bagaimana kalau ketahuan.." terdengar suara seorang lelaki didalam sana.
"Tidak usah takut, anak itu sudah masuk kedalam kamarnya. Mungkin dia mengambil barang-barangnya saja, atau mau merampok orang tuanya, haha! Aku tak peduli," terdengar juga suara wanita yang menyahuti suara lelaki itu.
"Dasar, nenek-nenek! Sudah tua juga masih aja kelakuannya begitu, mana didalam kamar orang lagi! Aku kan jadi gak bisa masuk, apa aku tungguin mereka sampai selesai yah? Ah, gak mau!
Aku masih suci belum ternodai, aku tak ingin mata dan telingaku melihat dan mendengar suara-suara menyeramkan itu, iihh.. Jijik aku," gumamnya sambil bergidik.
Tapi lama kelamaan arah pembicaraan mereka berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Seojun, ternyata mereka bukan untuk melakukan sesuatu yang aneh tapi mereka sedang membahas sesuatu yang tak terpikirkan oleh Seojun.
"Dengar, waktu kita tak banyak.. Sebelum ketua Park dan anak itu menyadari sesuatu, kita harus mengamankan beberapa barang bukti keterlibatan pak Jeong atas semua yang terjadi didalam keluarga ini.
Kalau tidak, kita semua akan tertangkap dan masuk penjara! Atau.. Kita akan mati ditangan pak Jeong, sebelum itu terjadi sebaiknya lakukan saja. Tenang saja, anak bodoh itu tak tahu apa-apa, dia pikir lelaki tua itu orang baik padahal dia hanyalah seorang pengkhianat, lelaki bekas simpanan ibunya!" terdengar suara bibi Sora lagi.
Dhuaarr!
Bagai dikejutkan oleh suara guntur menggelegar di langit, Seojun terkejut bukan main. Dia sampai terduduk dilantai saat mendengar hal itu langsung dari bibi Sora.
"Tidak, mana mungkin! Ah, itu mungkin ibunya Gaeun, iya! Itu pasti istri kedua ayah, ibuku tidak mungkin seperti itu!" gumamnya menjerit dalam hati.
Tidak lama kemudian, dia mendengar suara langkah kaki menuju pintu keluar, Seojun buru-buru bersembunyi dibalik lemari. Sesaat kedua orang itu menghilang dari pandangannya, Seojun masuk kedalam kamar pak Jeong langsung.
"Aku harus mencari apa saja keterlibatan pak Jeong dengan semua ini, termasuk apa yang dikatakan oleh wanita tua itu!" gumamnya dengan perasaan campur aduk.
Beberapa kali dia memeriksa lemari, meja, rak ataupun bawah kasur dan lantai, dia tak menemukan apapun yang di sana. Dia berharap ada pintu rahasia dibawah lantai kamar pak Jeong ataupun dibalik lemari baju, tapi nihil! Tak ada apapun di sana.
"Shiitt! Sempat-sempatnya aku kebelet," ujarnya buru-buru masuk kedalam kamar mandi pak Jeong.
Sambil menuntaskan hajatnya, matanya berkeliling memindai isi dalam kamar mandi itu, tak ada yang aneh dan mencurigakan. Hanya saja ada satu sisi dinding keramik yang pecah dibatas sela natnya.
__ADS_1
"Ck, cuma satu keramik pecah saja gak dibenerin! Pelit amat!" gumamnya sambil mencuci tangan.
Tring!
Tiba-tiba lampu ide diatas kepalanya menyala, otaknya mendadak jadi brilian. Dia menoleh kebelakang kearah keramik itu, dia diam mengamatinya dan berjalan menuju dinding keramik yang pecah mencurigakan.
Tok! Tok! Tok!
Dia mengetuk dinding keramik itu, terdengar suara rongga angin didalam menandakan ada sesuatu didalamnya. Seojun langsung mencari cara bagaimana bisa membuka pintu itu, dia menarik satu sisi keramik yang pecah itu untuk mendorongnya agar dia bisa masuk, tapi tak bisa!
"syial! Kok gak bisa dibuka? Apa cuma perasaanku aja yah?! Hem, berat banget didorong kayak dorong dinding beton! Eh, emang dinding beton sih.. Coba kalau tinggal ditarik begini aja, kayak narik pintu plastik kan enak.. Eh?!" Seojun ngedumel sambil iseng narik kedepan dinding keramik pecah yang dia anggap pintu rahasia itu.
Tapi malah dia jatuh kepental sampai terduduk dilantai kamar mandi, soalnya pas dia tarik itu keramik pecah tiba-tiba pintu keramik itu terbuka dengan begitu mudahnya, seperti kata Seojun tadi, saking mudahnya dia kayak abis buka tutup toples plastik yang udah terbuka.
"Anjir! Tau gampang begini, kenapa aku harus bersusah payah mendorong kedalam, seharusnya ditarik keluar! Ck, untung gak ada si Somi disini! Eh, jadi inget dia... Aku harus cepat, biar dia bisa bebas sebelum didakwa yang bukan-bukan!" ujarnya lagi.
Hal pertama yang dilihat Seojun adalah ruang gelap yang gak keliatan apa-apa, dia meraba kesisi dinding mungkin saja menemukan saklar lampu, tapi tidak ada. Akhirnya dia menggunakan senter di Hpnya untuk menerangi ruangan gelap itu.
"Astaga! Untung gak buru-buru, kalau tidak aku sudah mati dibawah sana! Benar-benar aneh itu orang," ujarnya terkejut.
Pasalnya adalah saat ini didepan Seojun hanya ada tangga kayu yang tidak terlalu besar menurun kebawah tanpa batas, dia tak tahu seberapa dalam dibawah sana.
Seojun turun dengan hati-hati menyusuri anak tangga yang gak ada pegangannya sama sekali, ternyata itu tidak terlalu dalam hanya saja lantai tanah begitu gelap dan kotor yang dilihat Seojun seolah lorong tanpa ada ujung.
"Aku sudah parnoan sendiri, dasar ghilak! Sepertinya aku harus berhenti menonton film thriller mengerikan, aku gak mau kayak Seonho hidupnya penuh dengan thriller!" ujarnya kesel, padahal kehidupannya juga tak jauh beda dengan film itu.
Dibawah sana, Seojun melihat ada beberapa meja kayu lapuk yang diletakan bertumbuk kearah dinding, udara pengap, dingin dan bau apek tercium. Dia juga mendengar suara-suara tetesan air dari arah dinding dan atap di kepalanya, rasanya wajar saja mengingat dia saat ini berada di bawah kamar mandi.
"dimana saklarnya?" gumamnya, dia tak menemukan saklar lampu didalam ruangan itu, sedangkan batre ponselnya tinggal beberapa persen lagi. Saat dia mengarahkan cahaya senter ponselnya kearah lampu, dia melihat bohlam lampu pijar seperti lampu jaman dulu yang masih menggunakan saklar gantung.
Klik!
Seketika ruangan itu menjadi terang oleh lampu pijar itu, sesaat setelah Seojun menarik saklar tersebut. Semuanya terlihat serba hitam, terlihat kotor dan berdebu ditambah lagi bau pengap dan apek, membuat suasana ruangan itu sangat menjijikkan bagi Seojun.
Dia yang pembersih dan suka rapi, jika lagi damai hatinya... Mendadak tak nyaman di sana, tapi dia harus bertahan sedikit lagi demi Sumiatun, dia melihat ada lemari kayu, rak juga beberapa brankas kayu yang semuanya berwarna hitam, senada dengan plafon dinding juga lantai ruangan itu.
"Ini orang hidupnya pasti sangat suram, warna ruangan ini sangat gelap dan menakutkan! Ih, kok aku jadi ingat kata ibu.. Katanya, jika ada seseorang yang menyukai suatu warna suram dan memiliki ruangan seperti ini, kayaknya hidupnya juga suram!" ujarnya bermonolog sendiri, entah quote ibu siapa yang dia maksud.
Setelah cukup mengamati ruangan itu, dia mulai membongkar setiap lemari, rak hingga brankas yang terbuat dari kayu itu, awalnya hanya ada beberapa dokumen tak penting saja. Tapi dia tertarik dengan sebuah mini album terletak dibawah kotak kayu.
Seojun mengira itu adalah album pak Jeong semasa kecilnya bersama keluarga atau mungkin bersama teman-temannya, tapi sesuatu yang mengejutkan saat lembar pertama yang dia lihat, foto ibunya yang masih muda, terlihat cantik dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Ruruh sudah perasaannya, tiba-tiba hancur oleh realita yang ada. Dia jadi teringat dengan ucapan bibi Sora tadi, jika pak Jeong juga seorang pengkhianat, berselingkuh dengan ibunya. Dan itu benar, bukan ibu tirinya melainkan itu ibu kandungnya.
"Tidak! Pasti ada sesuatu yang lain, ibuku tak mungkin berkhianat dari ayahku.." ujarnya sambil menahan isak tangis, tapi air matanya sudah meleleh dari tadi.
Dengan hati-hati dan mencoba menahan diri, dia membuka tiap lembar foto didalam mini album itu, semuanya berisi tentang foto ibu di masa muda bersama pak Jeong. Dia juga menemukan beberapa surat-surat lama tentang kisah cinta mereka dulu, juga didalam kotak kayu ada beberapa souvernir dan benda-benda unik lainnya, yang menurut Seojun itu pasti benda-benda kenangan pak Jeong bersama sang ibu.
Sementara diatas sana, bibi Sora jadi teringat sesuatu jika dia lupa mengunci kamar pak Jeong. Dia masuk kedalam kamar itu untuk memastikan semuanya baik-baik saja, tapi ada beberapa barang yang letaknya kurang simetris dari sebelumnya.
"Apa ada seseorang yang masuk kedalam sini?" gumamnya menatap curiga.
Dia mulai memeriksa setiap sudut, dan tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Saat dia ingin berbalik dia seperti mendengar sesuatu dari arah kamar mandi, dan mulai mengeceknya.
"Tidak ada siapa-siapa, mungkin aku salah dengar! Ck, sudah berapa kali aku mengingatkannya dulu untuk mengganti keramik pecah ini, dasar pelit!" ujar bibi Sora menggerutu.
Sepertinya dia tak menyadari ataupun tak tahu apa-apa mengenai ruang rahasia pak Jeong ini, tidak lama kemudian semuanya kembali hening. Seojun kembali bernafas lega, dan mulai merapikan kembali barang-barang tadi didalam lemari, brankas dan juga rak kayu di ruangan itu seperti semula.
Dia juga nampak sedang merapikan beberapa dokumen didalam map plastik dan dimasukan kedalam bajunya, dirapatkan juga dengan jasnya agar tak jatuh.
Ceklek!
Saat bersamaan dia mematikan lampu ruangan itu, sesaat itu juga ruangan itu dibuka dari luar. Seojun terkejut bukan main, dia buru-buru mengambil ponselnya dan bersembunyi dibalik bawah tangga itu.
Dhug, dug.. Dhug, dug..
Langkah kaki pelan menyusuri anak tangga turun kebawah, seseorang diatas sana menyinari bawah ruangan itu dengan sinar senter dari ponselnya, sama persis yang dilakukan oleh Seojun tadi.
Sesaat turun kebawah, orang itu masih sibuk mencari sesuatu dari disetiap sudut ruangan dengan cahaya senternya. Seojun menggunakan kesempatan itu untuk menaiki anak tangga dengan cara bergantungan di sana, cara lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan memutar dulu untuk bisa naik keatas.
Klik!
Seorang wanita paruh baya menyalakan lampu ruangan itu hingga suasana kembali terang, dipada saat itu juga Seojun sudah berada diatas dan mau membuka pintu ruangan itu, dia langsung membeku takut ketahuan. Tapi tak ada pergerakan ataupun suara yang menegurnya, dia gunakan itu untuk membuka pintu dan keluar secara hati-hati.
"Mungkin perasaanku saja, tak ada siapa-siapa. Lagian tak ada yang tahu ruangan ini kecuali dia dan aku, hehe.." terdengar suara bibi Sora.
"Dasar, ternyata mereka selama ini bersekongkol!" umpat Seojun dari kamar mandi, sesaat dia menutup pintu masih mendengar suara bibi Sora itu.
Setelah itu dia langsung keluar dari sana tanpa ada hambatan apapun lagi, dia langsung menelpon pengacara keluarganya untuk meminta tolong membantu Sumiatun yang masih terkurung di kantor polisi.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1