Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 26 Sebuah Keputusan Yang Berat


__ADS_3

Sebelum dia menanyakan kenapa ayahnya melakukan hal itu, ketua Park terlebih dahulu mengatakan alasannya dia memecat Sumiatun di perusahaannya ini.


"Dia bukan level yang harus berada di naungan perusahaanku, apalagi untuk level rendah seperti dirinya. Bahkan berada ditempat paling rendah pun disini dia tak pantas, gadis egois dan keras kepala, apa dia bisa mengikuti semua aturan yang diterapkan di perusahaan ini? Aku rasa tidak, apalagi setelah kejadian malam tadi.." ucap ketua Park.


Seojun tak menyangka ayahnya sudah tahu perihal kejadian semalam, tapi bukan hal aneh juga baginya, karena mata-mata ayahnya begitu banyak di perusahaan ataupun ditempat dia berada, makanya dia merasa tak bisa hidup bebas selama ayahnya selalu ikut campur urusan pribadinya.


"Baiklah, itu adalah pandangan ayah tentangnya. Apa ayah tak ingin mendengar pandanganku tentangnya? Dan kenapa aku lebih menyukai dirinya yang biasa saja dibandingkan semua wanita yang ayah jodohkan padaku?


Setidaknya dia memiliki komitmen yang kuat, dia memiliki pendirian yang bagus, dan tak silau dengan harta dunia seperti para wanita yang ayah kenalkan padaku, termasuk istrimu itu!" ujar Seojun menyahuti ayahnya.


"Seojun!" bentak ayahnya tak terima istrinya dilibatkan dalam pembicaraan mereka ini.


"Fakta bukan?! Apa ayah tau kenapa gadis itu memukul pegawai kurang ajar itu? Itu dia lakukan demi aku, demi seorang anak magang biasa bukan anak pemilik perusahaan! Dan kenapa dia sampai bisa memukulnya? Karena hampir semua pegawai disini tak sedikitpun menghormatiku, menghormatimu!


Itu fakta, mereka hanya butuh pekerjaan, butuh uang! Tak peduli dengan siapa mereka bekerja, bahkan mereka tak segan menggosip dan menyebarkan rumor tak benar disekitarnya kantor ini! Coba ayah pikirkan, sudah berapa banyak orang yang ayah pecat akibat terlalu percaya dengan omongan orang lain, tanpa menyelidikinya terlebih dahulu dahulu!" ucap Seojun lagi marah.


"Jika ayah ingin memecatnya, maka aku akan keluar juga dari perusahaan ini.." katanya lagi.


"Ck, ternyata pengaruh wanita itu cukup besar juga padamu, sehingga kau berani berbicara seperti itu kepadaku!" kata ketua Park meremehkannya.


"Dan pengaruh ahjuma itu juga begitu besar kepadamu, sehingga ayah juga tak bisa berpikir mana yang baik untuk putranya sendiri!" sahut Seojun hampir saja meledak emosinya.


"Diam, kau jangan kurang ajar padaku! Dia adalah ibumu, dan aku adalah ayahmu. Disini dan di rumah aku memiliki kuasa atas dirimu," ujar ketua Park benar-benar marah.


"Kalau begitu, aku akan keluar dari perusahaan ini maupun di rumah, maka anda tak memiliki kuasa atas diriku lagi.." ucap Seojun pelan sambil menahan getaran suaranya.


"Kenapa kau berubah seperti ini? Semenjak kau pulang dari negara itu, kau mulai bertingkah aneh! Apa gadis itu datang bersamamu? Apa ini juga hasil dari hubunganmu dengan Seonho selama ini?!" tanya ayahnya lagi marah.


"Abeoji! Ini semua tak ada hubungannya dengan Seonho, jangan libatkan dia.." jawab Seojun sambil bergetar menahan amarahnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak, selama ini dia begitu patuh padaku dan selalu melaporkan semua kegiatanmu, tapi akhir-akhir ini dia tak mengatakan apapun. Apa kalian melakukan sesuatu dibelakangku? Apa ini juga bagian dari rencanamu untuk pergi dariku, hah?!" tanya ketua Park sambil memukul mejanya dengan keras, sehingga asisten dan sekretarisnya yang menunggu diluar terlonjak kaget dibuatnya, saking kerasnya suara itu.


"Appa..." Seojun benar-benar tak habis pikir kenapa ayahnya sampai berpikir seperti itu.


"Benar ternyata dugaannya selama ini, jika Seonho sudah mulai lupa siapa dirinya sebenarnya. Dia mulai ngelunjak mentang-mentang menjabat sebagai salah satu pemimpin perusahaan ini, dia juga semakin berani semenjak dekat denganmu!


Seharusnya aku sudah singkirkan dia dari dulu, dia berpura-pura baik dan patuh tapi sebenarnya dia memiliki niatan tersendiri, apa kau tak sadar selama ini dia memanfaatkanmu, hah?!" ujar ketua Park menumpahkan segala kecurigaannya kepada Seonho, karena ada seseorang yang telah menghasutnya.


"Appa, tidak baik menuduh tanpa ada barang bukti. Dan aku yakin semua informasi yang Ayah dapatkan, termasuk juga alat bukti atau semacamnya itu dipalsukan, aku tak yakin dengan semua ucapannya ayah! Jika ayah melakukan hal itu kepadanya juga, maka dipastikan aku benar-benar akan pergi.." ucap Seojun lagi.


"Memangnya kamu bisa pergi tanpa uang Ayah?! Kau hanya anak manja, jangan berbuat nekad nanti kau akan menyusahkan diri sendiri!" ujar ketua Park lagi.


"Akan aku buktikan sendiri bahwa aku bisa!" sahut Seojun penuh penekanan.


"Baiklah, kamu silakan keluar dari perusahaan ini bersama dengan mereka berdua, dan buktikan atas semua ucapanmu itu!" ujar ketua Park sebelum Seojun keluar dari sana.


Setelah itu Seojun turun dari lantai ayahnya menuju lantai tempatnya dan Seonho bekerja, dia masuk kedalam ruangannya Seonho, di sana sudah ada Sumiatun juga pak Lee.


Pak Lee yang sudah mengetahui semuanya, mengangguk mengikuti perintah dari atasannya langsung. Kemudian dia pamit untuk keluar.


"Apa yang terjadi?" tanya Seonho penasaran, tiba-tiba saja dia juga diminta untuk keluar dari perusahaan itu juga.


"Ayah menuduhmu bersekongkol dengan Somi untuk menghasutku, aku gak tau dia dapat informasi darimana yang jelas dia sudah tak dapat lagi diberi penjelasan, sebaiknya kita bersiap saja untuk saat ini.." jawab Seojun sambil menghela nafas berat duduk di sofa ruangan itu.


Sumiatun hanya diam saja tak berani berkomentar, dia tak menyangka akan jadi seperti ini. Perihal dia memukul satu orang pegawai, berhasil membuat Seojun murka dan membuka identitas aslinya sendiri, padahal misinya belum selesai.


"Gara-gara gue semuanya jadi kayak gini, ampun dah! Gimana reaksi si Ningsih yah? Pasti dia ngamuk banget, coba gue gak egois, gak maksain pengen kerja disini.. Mungkin semua ini gak bakalan jadi seperti ini," gumam Sumiatun merasa bersalah.


"Gara-gara gue juga dua orang ini jadi kena imbasnya, coba kalau kita gak sedekat ini mungkin juga ini gak separah ini kejadiannya, huft... Maafin Sumi Ya Allah," batin Sumiatun bergejolak.

__ADS_1


"Somi, setelah ini aku antarkan kamu pulang yah.. Tapi sebelum itu, temani aku menemui ayahku. Aku akan mengenalkanmu lebih dekat lagi dengannya," ucap Seojun mengagetkan Sumiatun.


"What?! Gak salah denger kan gue,, eh gak usah aneh-aneh deh, ayahmu saja tak menyukaiku, bagaimana bisa kau mau mengenalkan aku dengannya! Kau ingin beliau serangan jantung?!" ujar Sumiatun kesel dan kaget juga dia, lah emang siapa dirinya sampai-sampai harus diperkenalkan seperti itu?


"Tenang saja, ada aku yang menemanimu.." ucap Seojun sambil tersenyum kepadanya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Permisi, Tuan.. Semua orang sudah berkumpul di ruang rapat," ucap pak Lee kepada Seojun.


"Baiklah, aku akan segera datang.." ucap Seojun pula.


"Kalian berdua tunggu saja disini, jangan kemana-mana.." ucap Seojun kepada Seonho dan Sumiatun.


Kemudian dia keluar dari ruangan itu, diluar sudah ada beberapa pengawal yang menjaganya, ini atas inisiatif pak Lee untuk menjaga keamanan tuan mudanya itu.


"Somi, apa kau tak mengapa ditinggal sebentar? Aku mau naik keatas untuk menemui ketua Park, aku penasaran apa yang dia pikirkan selama ini tentangku. Dan mengapa dia lakukan semua ini? Sebentar saja, dan aku harap kamu tetap disini dan jangan keluar, kapan perlu kunci saja ruangan ini dari dalam, kita gak tau apa saja yang akan dilakukan oleh orang nekat lainnya.." ucap Seonho sebelum dia naik keatas.


Dan kini tinggallah dia sendiri di sana, sebelum itu pak Lee dengan sigap membereskan semua barang-barang milik Seojun dan Sumiatun dan membawanya ke ruangan Seonho, jadi tak ada alasan baginya untuk keluar dari sana, kecuali..


"Aduh, mau pipis gue.. Gimana yak, keluar apa kagak? Gue gak bisa nahan lagi, mending gue keluar sebentar!" ujar Sumiatun.


Sebelum keluar dia meninggalkan pesan diatas meja Seonho, kalau-kalau dia sudah turun ke ruangannya.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2