Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 53 Kedatangan Pak Smith


__ADS_3

Keesokan harinya, Ningsih buru-buru bangun pagi sebelum papanya landing di bandara internasional Incheon. Dia tak ingin keduluan sama papanya, sebelum berangkat dia memikirkan berbagai alasan jika sang papa menanyakan keberadaan si Sumiatun.


"Mudah-mudahan Seojun dan Seonho menempati janjinya untuk membebaskan Sumiatun pagi ini, biar papa pulang Sumi sudah ada disini.." gumamnya dengan penuh kekhawatiran.


Sementara itu, Seojun dan Seonho pagi-pagi sekali sudah sibuk dengan berbagai macam kesibukannya, selain berusaha memperbaiki citra baik perusahaannya, mereka juga harus berusaha bagaimana caranya agar Sumiatun bebas dari penjara pagi ini.


"Jika tak bisa menemukan pengacara terbaik untuk membantunya, terpaksa kita meminta tolong pengacara hukum yang di sediakan oleh pihak penuntut umum.." ujar Seonho.


"Iya, aku tau..." jawab Seojun pelan.


Sedangkan kepala penyidik sudah menemukan keganjilan atas pemeriksaan perusahaan oleh beberapa oknum anak buahnya.


"Sesuai praduga kalian, mereka datang setelah beberapa menit kamu menelpon. Tapi rasanya tak mungkin datang secepat itu, sedangkan jarak terdekat pos polisi masih jauh beberapa kilometer dari kantor kalian.." ucap kepala penyidik itu.


"Apa ini ada sangkut pautnya dengan penyalahgunaan kekuasaan mereka dengan kasus sebelumnya?" tanya Seonho penasaran.


"Soal itu masih diselidiki, tapi menurut saya pribadi kemungkinan itu juga ada hubungannya. Mengingat beberapa oknum ini juga yang mengurus kasus itu.." jawab kepala penyidik itu.


"Apa mereka juga yang selama ini membuat beberapa orang yang terlibat dengan kasus sebelumnya lolos begitu saja?" tanya Seonho lagi.


"Kemungkinan, iya.. Tapi kali ini aku takkan membiarkannya lagi, aku tak ingin institusi ini rusak citranya gara-gara mereka. Sudah cukup.." ucap kepala penyidik itu.


Kemudian dia dibantu oleh beberapa pihak tertentu untuk menyelidiki beberapa oknum aparat korup itu, sedangkan tiga orang yang sebelumnya terlibat dalam penyusupan kantor Seojun juga diselidiki.


Bukti yang dibawa oleh Sumiatun sebelumnya berhasil mereka temukan, beruntungnya lagi bukti itu belum sempat mereka hancurkan. Setelah diselidiki lagi, memang Sumiatun maupun Ningsih terbukti tidak terlibat dalam penyusupan dan penghancuran barang di kantornya Seojun.


Dan bukti sebelumnya akan dijadikan sebagai alat bukti untuk menangkap ketiga orang itu, yaitu pak Hong mantan klien mereka, wanita mantan karyawan mereka dan satu orang suruhan pak Hong.


Saat ini ketiga orang itu dalam pengejaran polisi, karena sudah terbukti memalsukan data dan bukti atas perbuatan mereka, dan mereka juga akan menjadi saksi kunci untuk memberatkan kasus pak Jeong.


Sedangkan ditempat lain, diam-diam ketua Park menyelidiki asisten pribadi istrinya, yaitu bibi Sora. Meskipun dia berselisih dengan putranya, bukan berarti dia tak peduli sama sekali dengan sang putra.

__ADS_1


"Sepertinya apa yang dikatakan oleh tuan muda ada benarnya, Tuan besar.." ujar asisten pribadinya.


Mendengar hal itu ditambah lagi dia juga menemukan beberapa bukti-bukti dan saksi atas keterlibatan pak Jeong sebelumnya, juga menemukan beberapa informasi mengenai hubungan pak Jeong dengan mendiang istri pertamanya.


"Aku tak menyangka sama sekali jika dimasa lalu mereka memiliki hubungan, terus kenapa dia tak berbicara sedikitpun tentang hubungan mereka kepadaku? Apa takut aku akan marah dengannya?


Iya, aku pasti akan marah karena merasa dibohongi selama ini. Aku pasti akan memecat pak Jeong atau mungkin akan memindahkannya ketempat lain, dengan begitu hubunganku dengan istriku pasti akan baik-baik saja, Seojun tidak akan pernah membenciku seperti ini.." gumam ketua Park, mengingat masa lalu.


"Kalau begitu, mungkin juga anda tidak akan pernah menikah dengan nyonya sekarang dan memiliki nona Gaeun, Tuan.." kata asistennya mengingatkan ketua Park mengenai situasinya saat ini.


"Iya, kau benar.. Mereka adalah korban atas ketidakadilanku selama ini, seharusnya mereka tak berada di situasi seperti ini.." ucap ketua Park sedih.


Dia merasa bersalah dengan Gaeun dan ibunya, karena kesalahpahaman mereka menikah, demi menjaga nama baik sekretarisnya itu dia harus menikahinya meskipun akhirnya dia juga kehilangan sang istri tercinta.


"Kau tau.. Aku sangat mencintai mendiang istriku, dan sudah menerima ibunya Gaeun di kehidupannya. Kini aku hanya memiliki Seojun, Gaeun dan ibunya, mereka lah yang kumiliki sekarang ini.." ujar ketua Park lagi.


Ketika kehidupannya baru saja normal setelah belasan tahun kematian sang istri, setelah cukup lama akhirnya dia bisa menerima sang istri dan putrinya, kini ia dihadapkan kembali dengan kisah masa lalu.


"Kenapa semuanya mulai terbongkar setelah dirimu tiada? Kenapa kamu harus pergi dengan cara seperti itu? Kenapa kamu harus bertemu dengannya kembali? Seharusnya, ini tidak pernah terjadi.." gumam ketua Park setelah asistennya pergi.


.


Ditempat lain, Ningsih celingukan di pintu keluar gerbang kedatangan dari luar negeri. Dia memindai setiap orang yang lewat, siapa tau dari sekian banyak orang itu ada papanya yang nyelip di sana.


"Papa mana sih? Katanya pagi jam setengah enam pesawatnya udah landing disini, kok sampai sekarang gak ada?!" ujar Ningsih kesal.


Semalam, ketika dia sudah tidur, pak Smith menghubunginya lagi dan mengatakan jika pesawatnya akan terus terbang ke Korea tanpa transit ke tempat lain, dan kemungkinan dia akan sampai lebih awal dari jadwal seharusnya.


Dan ternyata benar saja, saat Ningsih baru sampai di bandara, pak Smith malah baru nyampe ke apartemennya. Dia datang bersama beberapa orang, dia akan menginap di hotel bersama orang-orangnya, dia datang ke apartemen anaknya, ingin melihat keadaan kedua gadis itu saja.


Setelah landing, dia langsung menghubungi Ningsih, tapi gadis itu tak merespon, itu karena si Ningsih yang sudah dibangunkan, apalagi tak ada si Sumiatun, maka tambah sudah aja dia bangunnya.

__ADS_1


"Gadis itu benar-benar yah, ditelpon gak diangkat! Ditunggu dari tadi, malah gak datang-datang! Jangan-jangan semalaman mereka party, pulang pagi dan lupa sama papanya!" ujar pak Smith kesel sendiri.


Beberapa kali dia memencet bel unit apartemen anaknya tapi tak ada yang membukakannya pintu.


"Mungkin mereka kuliah, Pak.." ujar asistennya.


"Tidak mungkin, kata mereka sekarang kuliahnya malam dan siang mereka bekerja.. Ah! Iya, aku lupa soal itu.. Mungkin mereka sekarang sudah berangkat kerja," ujar pak Smith sambil menepuk jidatnya.


"Maaf, kalian siapa?" tiba-tiba seseorang menegur mereka dari arah unit sebelah.


"Anakku ada di unit ini, tapi tak ada satupun yang membukakan pintu. Apa mereka sudah berangkat bekerja? Kuliah, mungkin?" tanya pak Smith kepada seorang gadis cantik dari unit sebelah.


"Aku tak melihat mereka dari siang kemarin, emm.. Mungkin aku tak melihat mereka keluar juga pulang, soalnya mereka jarang ada di apartemen.. Kemarin mereka juga pulangnya sangat pagi, emm.. Entahlah," ujar gadis itu sambil berpikir mengenai kedua gadis di unit sebelahnya.


"Dasar, bocah nakal! Pasti selama disini mereka keluyuran terus," gerutu pak Smith kesal.


"Ah, tidak! Mereka sangat baik sekali, mereka pernah menolongku disaat aku hampir mati di sini akibat seseorang.. Kalau bukan karena mereka, mungkin aku masih tersiksa sampai sekarang ini.." ujar gadis itu.


Sebenarnya dia tak mengerti apa yang diucapkan oleh pak Smith, tapi kalau dilihat dari raut wajahnya dia tahu pak Smith lagi kesal dengan keduanya.


"Oh, begitu.. Boleh aku tau dimana mereka bekerja?" tanya pak Smith lagi.


"Aku tak tahu pasti, tapi aku pernah mendengar soal distrik Bonggu-do di kawasan Gangnam.. Mungkin mereka bekerja di sana," ucap gadis itu lagi.


"Ohh, baiklah.. Terima kasih infonya.." ucap pak Smith langsung pergi meninggalkan apartemen itu.


"Dia benaran ayah salah satu gadis itu kan? Aku takut salah menginformasikan berita lagi, bagaimana jika dia orang jahat?!" gumam gadis itu nampak khawatir.


Sedangkan Ningsih lagi kelimpungan mencari taksi buat pulang, dia baru membaca pesan sang papa, jika beliau lebih awal datangnya, dan kemungkinan saat ini dia sudah sampai di apartemennya.


"Mampus gue kalau papa tau semuanya!" gumamnya panik.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2