Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 50 Terperangkap Dalam Jebakan


__ADS_3

"Somi, telpon polisi sekarang!" perintah Seojun.


"Baik!" sahut Sumiatun bersemangat.


Dengan kelincahan jari jemarinya Sumiatun menghubungi polisi dengan cerita sedikit didramatisir. Seojun dibantu oleh Sumiatun dan putra ahjuma pemilik minimarket dibawah kantornya, membawa ketiga orang itu naik kelantai dua ruang kantornya.


"Sekarang kalian sudah tertangkap basah, sebelum semuanya terlambat kalian akui saja semua keterlibatan kalian dalam penyusupan kantor saya semalam!" ujar Seojun sangat tegas dengan pandangan yang tajam.


"Keren banget aku!" ujarnya dalam hati, sudah seperti aktor aksi saja dengan senyuman dibuat sekeren mungkin.


"Tak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan kamu soal kasus kriminal yang menimpa kantor dan salah satu karyawanmu itu," ucap mister Hong, mantan kliennya itu dengan tersenyum sinis.


"Memang, tapi tanpa sadar kalian juga mengakuinya. Bahkan terang-terangan menunjukkan kepada kami, apa kalian sadar yang kalian lakukan itu jahat!" sahut juga Sumiatun, dia membayangkan berada disalah satu scene drakor yang pernah dia tonton sama Ningsih, drakor detektif wanita yang terkenal itu.


"dan karyawan wanita itu, dia kan?! Ck, pandai sekali kau memanipulasi keadaan! Bisa-bisanya kau menunduh temanku padahal dia hampir saja menjadi korban, untung dia pintar dalam berstrategi meskipun oon dalam hal lain!" sambungnya lagi, ini Ningsih kalau dengar bisa ngambek tujuh hari tujuh malam.


"Apa ada buktinya, Nona? Bahkan didepan kalian sudah jelas terpampang bukti nyata, kalau wanita itu memiliki alat untuk melakukan ini semua!" bela karyawan wanita itu, tidak terima disalahkan.


"Eh, upil ijo!" Sumiatun nampak geram sama karyawan wanita itu, kalau bisa dia jambak itu rambutnya.


"Dari pagi tadi ini benda tidak ada, bahkan beberapa petugas sudah menggeledah semua sudut ruangan tidak menemukan beberapa benda aneh macam ini! Kamu mau membohongi siapa?!


Kucing kawin juga tau mana orang bo.doh sama enggak, apa perlu aku membuat contoh lain betapa bo.dohnya kalian ini! Sebentar lagi petugas akan datang dan memeriksanya sendiri" ujar Sumiatun kesal.


Beberapa saat kemudian, beberapa petugas kepolisian datang lagi ke kantor mereka, tanpa banyak basa-basi lagi Seojun menjelaskan semua atas kecurigaannya kepada ketiga orang itu.


"Kami tak bisa melakukan sebuah proses hukum tanpa dasar alat bukti ataupun saksi yang kuat, Pak.." jawab salah satu petugas itu, diiringi senyuman licik ketiga orang itu.


"Bapak ingin bukti? Ada, bahkan saya siap menjadi saksinya!" jawab Sumiatun dengan cepat.


Dia langsung menyerahkan hasil rekamannya tadi, plus video hasil rekaman putra pemilik minimarket dibawah. Terllihat para petugas itu saling melirik satu sama lain, terlihat mencurigakan dimata Sumiatun, sedangkan tiga orang itu nampak gelisah.

__ADS_1


"Baiklah, kami akan bawa alat bukti ini beserta barang buktinya ke kantor untuk diperiksa lebih lanjut lagi. Kalian juga ikut, sebagai pelapor dan juga saksi, ayo bawa mereka juga.." ujar salah satu petugas itu.


Sedangkan putra pemilik minimarket tak diperkenankan ikut, karena tidak ada hubungan dengannya sama sekali dalam kasus ini. Sebenarnya para petugas itu tidak mau berurusan dengan ahjuma pemilik minimarket itu, karena terus diberondong pertanyaan yang tak masuk akal saat anaknya diminta ikut juga tadi.


"Siapa yang akan membantuku dalam menjaga minimarket ini kalau tak ada dia? Jika malam ini toko kosong terus terjadi kerampokan, apa kalian semua mau ganti rugi?! Apa anakku adalah saksi pembunuhan? Apa dia terlibat dengan ini semua?! Hah?!" cecar ahjuma itu terlihat marah sekali, dia sudah bersiap dengan panci ditangannya jaga-jaga kalau petugas menarik paksa anaknya.


"Bukan seperti itu, Bu.." jawab salah satu petugas itu, dia terlihat frustasi dibuatnya.


"Sudah, tak apa.. Biarkan saja, kita masih banyak pekerjaan tak bisa berlama-lama disini hanya untuk meladeninya. Baiklah Bu, jika kami memerlukan kesaksiannya, kami harap dia mau datang.." ujar petugas yang lain, menenangkan rekan juga ahjuma itu.


"Apanya yang suruh datang?! Apa anakku ini saksi pembunuhan, hah?! Sepenting itukah kehadirannya?! Hei!" bentak lagi ahjuma gak ada takut-takut nya.


Para petugas itu lebih memilih untuk pergi, daripada melayani ahjuma karena takkan ada habisnya jika terus ditanggapi samua omongannya, memang ras terkuat di bumi ini adalah emak-emak dengan panci ditangan sambil berteriak, dasar anak durhaka! Maka ruruh sudah itu pertahanan diri.


.


Sesampainya di kantor polisi, mereka berdua menunggu di ruang penyidikan sambil memberikan beberapa keterangan, sementara ketiga orang itu dijebloskan didalam penjara yang letaknya tak jauh dari ruangan penyidikan, sementara mereka ditahan dulu di sana sebelum keputusan tentang nasib mereka diberlakukan.


"Apa?!" teriak Seojun dan Sumiatun terkejut.


"Iya, dan ini hasil forensik digitalnya. Maaf, kami hanya menjalankan prosedurnya.. Sedangkan hasil rekaman video anda dan video satunya lagi tak ad acuan untuk dijadikan alat bukti juga, karena hanya bergerakan saja, kami tak bisa mendengar suara mereka.." ujar salah satu petugas kepolisian itu.


"Apa, masa sih?!" ujar Sumiatun ragu, seingat dia saat merekam sudah dipastikan kamera sudah dalam posisi on baik itu layar maupun voice record nya juga.


"Loh, kok rekamannya gak ada?!" tanya Sumiatun heran, saat mengecek hasil rekamannya tadi.


"Itu kami hapus!" jawab salah satu petugas itu.


"Kenapa dihapus? Apa kalian bekerja sama dengan mereka untuk menghilangkan alat bukti?!" tuduh Sumiatun kesal.


"Hei, Nona.. Jaga bicaramu! Kami menghapusnya untuk berjaga-jaga agar kau atau yang lainnya tidak menggunakan rekaman itu untuk hal lain!" elak petugas itu marah atas tuduhan Sumiatun.

__ADS_1


"Seharusnya kalian lakukan itu didepanku dan jelaskan semua sebelum mengambil keputusan!" balas Sumiatun tak terima.


Sudah capek-capek naik meja kayu yang tinggi, ampe jatuh segala, ditambah lagi harus ngumpet-ngumpet dibawah meja biar bisa memergoki mereka semua tapi hasilnya dia juga yang disalahkan.


Setelah itu ketiga orang tadi dibebaskan dari kurungan jeruji besi, dia melihat kearah Sumiatun dan Seojun dengan senyuman jumawa.


"Aku akan menuntut kalian balik atas penghinaan nama baik dan fitnah tanpa adanya bukti," ujar mister Hong terlihat marah dengan tatapan sinis.


Dan sekarang malah Sumiatun yang dipenjara, keadaan terbalik menjadikan dirinya tersangka gara-gara ditemukan sidik jarinya disalah satu alat bukti tadi.


"Kamu tenang aja yah, aku pasti akan membebaskan kamu dari sini.." ujar Seojun terlihat sedih melihat Sumiatun didalam sana.


"Tidak apa, sebaiknya kamu cari alat bukti lainnya jika mereka terlibat dalam kasus pak Jeong juga. Dan begitu maka akan terkuak semua misteri dibalik penyerangan dan penyusupan ini.." sahut Sumiatun tetap tenang, meskipun didalam hatinya meronta-ronta pengen nangis.


"Kamu benar, aku akan kembali ke rumah ayah untuk memeriksa kamar pak Jeong mungkin saja dia menyembunyikan sesuatu di sana, kalau tidak aku akan melacak kemana saja dia pergi selama ini.." ucap Seojun lagi.


Kemudian pamit untuk pergi pulang ke rumah ayahnya, sebelum itu dia menyempatkan diri untuk mencium kening Sumiatun, membuat jantung gadis itu berdebar-debar.


"Gile, baru digituin aja jantung gue udah dag-dig-dug bae! Btw, itu bibir kagak ape-ape nyium jidat jenong gue yang mengkilap kayak wajan abis goreng kerupuk?!" ujarnya sambil menyentuh keningnya yang lengket penuh ama minyak.


Kriiuuukk!


"Laper! Seharusnya makan dulu tadi," gerutunya, tiba-tiba saja teringat sama beberapa cemilan yang dia beli sama Seojun tadi.


Diluar Sumiatun sekilas melihat ketiga orang itu sedang berbicara serius dengan dua petugas kepolisian tadi, gerak gerik mereka mencurigakan, dia menduga kedua petugas itu juga terlibat dalam kasus ini. Apalagi ini menyangkut dengan nama pak Jeong.


Meskipun orang tua itu hanya seorang asisten dan kepala pelayan biasa, tapi pengaruhnya cukup besar di perusahaan dan rumah tangga ketua Park, karena semasa hidup mendiang ibunya Seojun, dia banyak terlibat dalam segala hal, baik itu soal bisnis ataupun dalam mengurus rumahnya.


Maka tak heran kenapa pak Jeong tahu semua isi luar dalam keluarga itu, tapi satu hal yang pak Jeong tidak tahu yaitu isi kepala setiap orang. Dia tak pernah tahu jika selama ini ketua Park sudah lama mencurigainya, tapi ketua Park butuh cukup lama untuk mengumpulkan semua bukti yang memberatkan pak Jeong, dalam keterlibatannya dari semua masalah yang menimpa keluarga juga perusahaannya saat ini.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2