Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 48 Permintaan Maaf Seonho


__ADS_3

"Terus gimana, Ma?" tanya Ningsih lagi penasaran, dia juga takut keluarganya kena sasaran teror aneh itu.


"Yaaa, gak kenapa-kenapa sih.. Kamu tau sendiri papa kamu gimana, dia paling gak suka anaknya diancam-ancam. Ya udah, dilacak siapa orang itu dan ternyata mereka orang asing yang bekerja sama dengan orang kita!


Kayak lagi nyari informasi tentang kamu gitu, Ning! Ih, merinding Mama kalau diingat lagi, kamu beneran gak apa-apa? Kalian gak terlibat dalam masalah kan di sana? Kalian gak ikut sekte-sekte aneh kan di sana?!" tanya lagi mamanya Ningsih penasaran dan khawatir sekali.


"Gak ada kayak gitu, Ma! Alhamdulillah kami disini baik-baik saja, cuma yaaa ituuu.." jawab Ningsih ragu-ragu.


"Yaaa itu apa?! Naon? Mama gak mau yah denger kalau kalian ikut-ikutan bergaulan bebas di sana! Jadi anak teh meni alus pisan, neng geulis!" kata mamanya Ningsih.


"Iya, Ma.." sahut Ningsih.


"Ini Papa juga mau ngomong sama kamu," kata mamanya lagi.


"Helo, Ning.. How are you, baby? Are you okay?" tanya papa Ningsih dengan logat bulenya.


"Iya, Papa.. Ning baek-baek aja, gak usah khawatir.." jawab Ningsih pula.


"Dengar, Papa dan Mama bukan orang tua yang kolot membatasi pergaulan anaknya. Tapi kamu juga harus jaga diri, ingat kamu tuh seorang wanita dan tidak boleh melakukan hal-hal aneh diluar batasmu.


Ning, kasih tau Papa.. Gak boleh bohong, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian di sana? Kamu tau siapa Papa, kamu gak akan bisa bohong dengan alasan apapun, karena Papa pasti akan tahu.." ujar pak Smith, papanya Ningsih.


Mendengar pertanyaan dan perkataan kedua orang tuanya, membuat Ningsih panas dingin. Dia sebenarnya ingin cerita, tapi pas celingukan mau lihat situasi disekelilingnya, dia melihat Seonho memperhatikannya dari depan pintu ruang inap ayahnya.


"Nanti malam, Ning hubungi Papa dan Mama lagi. Sekarang Ning sama Sumi lagi di rumah sakit, ada ayahnya temen Ning di rawat di sini, dah Papa.. Love you, gak usah khawatir disini kami baik-baik saja, bye-bye!" ucap Ningsih sambil menutup telponnya.


Membuat pak Smith tambah gusar dan khawatir juga, sementara itu Seonho hanya diam dan memperhatikan obrolan telpon Ningsih dan ayahnya, hampir saja hatinya cenat-cenut dibuat oleh Ningsih, karena mendengar kata love you segala, tapi mengingat yang nelpon orang tuanya, dia urung sedih.


"Ning, apa tadi orang tuamu?" tanya Seonho.


"Iya, tidak ada yang penting.. Mereka hanya menanyakan kabar anak gadisnya, itu saja!" jawab Ningsih dengan cueknya.


"Ning.." Seonho menahan tangan Ningsih yang hendak masuk kedalam.


"Aku mau bicara sama kamu," katanya lagi.


"Bicaralah.." ujar Ningsih dan langsung menghadap kearah Seonho dengan tangan dilipat.

__ADS_1


"Ka-kamu jangan seperti itu, aku kan jadi gimana gituuu.." ucap Seonho jadi salah tingkah.


"Kalau tak penting, mending aku masuk aja!" Ningsih jadi ngambek lagi.


"Iya, ya! Aku mau bicara sekarang, anu.. Aku minta maaf, plis jangan marah lagi" ujar Seonho sambil mengacungkan dua jarinya dan tangan satunya mencubit telinganya sendiri.


Membuat Ningsih gemas sendiri, dia terlihat begitu imut dengan ekspresi takut dan sedih seperti itu. Ningsih terdiam sejenak, ingin sekali dia memarahinya tapi kasian juga dengan segala musibah yang menimpanya saat ini.


"Dasar, untung sayang kalau gak sudah gue bejeg-bejeg nih orang! Kalau gak mikirin bapaknya yang lagi kena musibah, kantor terancam bangkrut belum lagi teror dan ancaman lain, hufft.. Ya sudahlah," ujar Ningsih dalam hati.


"Kamu tau gak, aku ini bukan wanita yang selalu melihat dari sisi pandang tentang babat, bibit dan bobot segala. Karena kedua orang tuaku tak mengajarkan aku seperti itu, aku bisa berteman dengan siapa saja yang penting mereka orang baik.


Termasuk mencari pasangan hidup, yaaa gak dipungkiri kalau sudah kodratnya manusia mencari yang sempurna, yang ganteng, cantik kaya dan berpendidikan. Tapi kan namanya jodoh siapa yang tahu, itu rahasia Tuhan..


Aku menyukai ayahmu sebagai pribadi yang menyenangkan, dia sangat baik dan ramah. Orang kedua yang pertama aku temui di negeri ini setelah kamu tuh, yaitu Pak Kim.. Ayahmu," ujar Ningsih menjelaskan tentang dirinya dan juga tentang pandangan tentang pak Kim.


Membuat hati Seonho menghangatkan seketika, dia senang Ningsih tidak masalah dengan keadaan latar belakang keluarganya. Apalagi dibalik manja dan keras kepalanya, dia wanita mandiri dan sangat bijak, membuatnya semakin jatuh hati.


"Ning!"


"Seonho!"


"Kalian berdua masuk gih, gue sama Seojun mau nyari makan siang buat kita berempat, berlima juga deh sama camer lu, hehe.." ujar Sumiatun, sukses membuat Ningsih keki.


"Sono, pergi!" sungut Ningsih kesel diganggu.


"Cieee yang baru baikan, uhuyyy!" goda Sumiatun lagi, pura-pura gak denger padahal jantung udah loncat-loncatan saking senengnya.


..."Ya udah, kita masuk.." ajak Ningsih....


"Jadi, kamu udah maafin aku? Gak marah lagi kan?" tanya Seonho, kayaknya dia kurang puas dengan jawaban si Ningsih.


"Huffft, sabar-sabar... Ngadepin orang kayak gini kudu saabaaaarrrr.. Gini yak, Mister Kim Seonho.. Saya sebenarnya sangat marah kepada anda gara-gara kemarin anda cuekin saja, kasih kerjaan nggak ngira-ngira ampe gue lembur tengah malam, udah gitu gue ditinggal kagak dijemput, amsyong gak tuh gue! Hem?!" ujar Ningsih, membuat Seonho menganggukkan kepalanya, tau dah ngerti apa kagak!


"Ya sudah, ayo masuk! Aku mau cari muka dulu sama camer," sambung Ningsih sambil menarik tangan Seonho masuk kedalam ruang inap pak Kim.


.

__ADS_1


Sementara itu, niat hati mau nyari makan siang tapi dua bocah bangor yaitu Sumiatun dan Seojun malah kembali ke kantornya. Karena Seojun baru saja menerima pesan dari ahjuma pemilik minimarket dibawah kantornya.


"Jadi, ini adalah bukti pengakuan tak langsung darinya kalau dia adalah penyebab masalah semua ini?" tanya Sumiatun masih menerka-nerka.


"Yaa, kurang tau! Mungkin saja iya dan mungkin juga tidak, aku melakukan hal ini demi kebaikan kompleks perniagaan disini, kalau perusahaan kalian bangkrut, nanti para karyawanmu tidak akan datang lagi ke minimarketku membeli cemilan dan minuman, atau pergi ke restoran-restoran untuk sekedar mencari makanan ataupun minuman, otomatis itu akan mengurangi jumlah pelanggan kami!" ujar ahjuma bersemangat.


"Et dah bushyet! Kirain tulus mau nolongin, eh gak taunya ada maksudnya. Gak apa sih, ada benernya juga dia.." gumam Sumiatun sampe melongo mendengar penuturannya.


"Baiklah, akan aku pelajari.. Terima kasih atas bantuannya," ucap Seojun sungguh-sungguh.


"Jangan berterima kasih saja, beli juga daganganku! Hari ini kalian tutup!" ucap ahjuma itu, membuat Seojun sama Sumiatun keki.


"Asyem.." gerutu Sumiatun.


Dan akhirnya mau gak mau mereka membeli makanan dan beberapa minuman di minimarket itu, demi membalas kebaikan si ahjuma.


"Tapi gak gini juga kaleeee... Masa iya, kita beli ramyeon hampir sepuluh bungkus, kimbap lima gulung, sushi instan, makanan ringan bebagai macam, sampai segala minuman dibeli semua! Kamu mau buka toko kelontong, alih profesi?!" protes Sumiatun kesel.


"Gak apa, anggap aja ini adalah makan siang kita.." jawab Seojun dengan santainya.


"Apaa?! Makan siang? No, no, no... Gue kagak mau nanti perut jadi keriting gara-gara makan ini semua," balas Sumiatun kesel.


"Ssst, diam!" ujar Seojun kemudian, ternyata sejak tadi fokusnya teralihkan diluar sana.


"Kenapa?" tanya Sumiatun ikut penasaran juga, menoleh kearah luar minimarket dan terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Loh, itu kan mantan klien kita kemarin itu!" seru Sumiatun heran dan aneh juga melihatnya berada di sana.


"Coba kamu perhatikan dua orang disampingnya, bukankah salah satu mereka adalah karyawan kita? Wanita itu, yah! Dia yang memojokkan Ning Ning pagi tadi," ucap Seojun teringat lagi dengan kejadian pagi tadi.


"Ahjuma, apa wanita itu yang kamu temui tadi?" tanya Sumiatun saat ahjuma itu hendak melewati mereka, ikut menoleh keluar, kemudian dia mengangguk dan pergi lagi.


"Apa mereka selama ini diam-diam merencanakan ini semua? Menurutmu apa yang terjadi, Somi?" tanya Seojun mengendap-endap ingin mengintip keluar.


"Somi?" dia celingukan nyari Sumiatun, dan ternyata wanita tangguh satu itu sudah keluar menyelinap mengikuti tiga orang mencurigakan itu.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2