
Setelah kejadian itu, semua orang memutuskan untuk membubarkan diri. Kebetulan hari semakin malam aja, dan untungnya pihak restoran tidak mempermasalahkan semuanya, dan memang tidak ada juga yang dirugikan.
"Apa kau sudah membayar semua orang disini untuk tutup mulut? Sudah dipastikan semuanya aman?" tanya Seojun kepada Seonho.
"Aman, aku yakin tak ada yang merekam semua kejadian. Aku juga tak mau mereka terlibat dengan perselisihan sama siapapun.." jawab Seonho yakin.
"Syukurlah kalau begitu.." ucap Seojun lega.
"Ayo kita antar mereka pulang sebelum mereka memulai lagi keributan," ujar Seonho.
"Menurutku si Somi keren, siapa sangka dia begitu peduli dan perhatian padaku, aaahh! Senangnya.." kata Seojun senyum-senyum gak jelas.
"Dasar!" sahut Seonho menatap aneh bos rahasianya itu.
Sementara si Sumiatun dan Ningsih malah ngumpet dibelakang mobilnya Seonho, mereka takut ketemu sama orang terus dikeroyok gegara udah bikin orang babak belur, sebenarnya si Sumiatun doang yang ngehajar tuh laki, tapi sebagai solidaritas sebagai seorang sahabat, Ningsih kudu setia menemani!
"Btw, kita napa ngumpet disini? Percuma juga cuy, keliatan juga! Oneng.." ujar si Ningsih baru ngeh.
"Setidaknya mereka tidak akan membuat keributan didepan mobil sang bos, amanlah.." sahut Sumiatun ngasal.
"Kapan ini selesainya?! Capek nih kaki jongkok mulu, mana gw pakai high heels lagi!" sungut Ningsih sambil memijat kakinya.
"Itu belum seberapa,, udah diem aja!" ujar Sumiatun lagi.
Setelah beberapa saat, Seojun malah menemukan mereka lagi duduk ngemper dibelakang mobilnya Seonho, mau marah tapi sayang, didiemi tapi kok kesel yah? Habisnya dia dan Seonho malah muter-muter keliling restoran mencari mereka, eh dua kutil malah ngejogrok dimari!
"Eh, Seojun?!" Ningsih kaget tiba-tiba ada Seojun berdiri disamping mereka.
"Eh, Seojun! Ssst, sini! Jangan berdiri disitu, nanti keliatan sama orang! Sini," bisik Sumiatun ngajak Seojun ngumpet bareng.
"Buat apaan?! Ya Tuhan,,, mereka semua sudah pulang, sudah tak ada orang lain selain kita disini! Ya sudah aku mau nelpon Seonho, dia sangat khawatir sekali dengan Ning Ning, dia takut Ning Ning jadi korbanmu selanjutnya!" ujar Seojun kesel, pen banget maki-maki, tapi sayaaang.. Ihiks.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Seonho langsung datang berlari menuju kearah mereka. Kalau gak ada urat malu pengen rasanya meluk si Ningsih, tapi kan dia kudu tau diri!
"Syukurlah kalian baik-baik saja, ya sudah mari kita pulang.." ucapnya masih dengan gayanya yang cool itu.
Jadilah Sumiatun dan Seojun pulang bersama, Ningsih juga pulang bersama Seonho. Selama didalam mobil mereka hanya diem-dieman, gak tau harus ngomong apa. Masih speechless dengan kejadian tadi.
Kalau bisa, ingin rasanya Ningsih tenggelam di dasar bumi saking malunya dihadapan Seonho, karena dia yakin banget tuh cowok pasti liat kelakuan si Sumiatun.
"Moga-mogahan tuh anak selamat dunia akhirat ya Allah, bangor banget jadi orang! Kagak bisa ditahan apa itu esmosi! Aku harap si Sumi gak ada masalah apapun besok ditempat kerjanya, kan sayang baru beberapa hari kerja langsung dipecat gitu aja!" gumam Ningsih dalem hati.
Tidak lama kemudian, mereka sampai juga didepan apartemen. Sumiatun langsung masuk aja kedalam, sedangkan si Ningsih sibuk minta maaf beberapa kali dengan kelakuannya si Sumiatun, yang bikin onar Sumiatun, tapi dia yang malunya.
"Sudah gak usah dipikirkan, gak akan terjadi apapun kok.." ucap Seojun menenangkan dirinya.
"Aku takut dia dipecat dari pekerjaannya, soalnya bisa bekerja seperti ini saja sudah membuatnya senang, kalau dipecat dia pasti sedih banget.." ujar Ningsih terlihat sangat sedih.
"Bagaimana kalau orang itu menuntut si Sumiatun, eh! Somi, maksudnya.." tanya Ningsih khawatir.
"Aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi, tenanglah. Sana masuk, temani Somi.." ujar Seojun sambil mengusap lengan tangan Ningsih, dengan maksud buat nenangin dia sih.
Dia tarik tangan Ningsih agar menjauh sedikit dari Seojun, entah masih belum bisa mengendalikan dirinya gegara masih sedikit kaget dengan sikap protektifnya Seonho, Ningsih manut aja dan langsung masuk kedalam dengan jantung masih deg-degan.
"My God! Dia pegang tangan aing.." ujar Ningsih pikirannya masih di awan-awan.
"Cemburuan banget sih! Aku gak berniat apapun padanya, bagiku Somi tetap yang paling cantik!" ujar Seojun sesaat ketika mereka menuju parkiran, setelah mengantar dua gadis tadi masuk kedalam pintu apartemen mereka.
"Siapa yang cemburu?! Aku hanya mengingatkan saja kok, lagian kita harus pulang. Aku baru saja ditelpon sama pak Jeong, katanya kau ditunggu di rumah sekarang juga!" ujar Seonho kesel juga digoda, kesel digoda apa masih cembokur nih?
"Masa sih? Ya sudah, aku pulang sekarang.." ujar Seojun, dia tak bisa bercanda kalau urusan keluarga.
Setelah itu keduanya kembali ke rumah masing-masing, dengan segala pemikiran yang ada. Seojun masih bertanya-tanya kenapa dia tiba-tiba mendadak diperhatikan seperti itu? Biasanya ayah nya tak pernah perduli dengan segala tingkah lakunya, kecuali kalau di kantor lain lagi urusannya.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Seojun sudah ditunggu ayahnya bersama ibu tirinya, juga ketua pelayan termasuk orang kepercayaan keluarganya, yaitu pak Jeong.
"Seojun, kemarilah.. Ayah ingin bicara," ucap ketua Park yang terlihat begitu serius.
"Appa mau bicara apa? Besok saja, aku sangat lelah.." ujar Seojun agak malas kalau sudah berhadapan dengan ayahnya, bersama dengan ibu tirinya juga.
"Besok kau juga akan sulit ditemui juga, karena jadwalmu akhir-akhir ini begitu sibuk.." ucap sang ayah.
"Baiklah, apa yang ingin ayah katakan? Katakan saja," tanya Seojun sambil duduk berhadapan dengan mereka, kecuali pak Jeong yang berdiri sendiri.
"Aku dengar kau begitu dekat dengan seseorang gadis, siapa dia? Apa kau tau latar belakangnya? Yang Appa tau dia wanita asing yang satu kuliah denganmu.." tanya ayahnya langsung.
"Soal itu Appa gak usah repot-repot, aku bisa mengurus soal percintaanku sendiri!" jawab Seojun terlihat tak senang.
"Bagaimana dengan Na Mi Ran? Aku dengar dia sudah kembali ke Korea? Apa kalian sudah bertemu kembali?" tanya ibu tirinya, niatnya ingin mengalihkan pembicaraan tapi yang ada Seojun semakin menunjukkan rasa tak sukanya.
"Aku sudah tak ada hubungannya dengannya lagi, jangan bahas dia lagi didepanku! Tolong jaga batasanmu untuk tidak mencampuri urusan pribadiku, Ahjuma" ujar Seojun sambil menatap tak suka dengan ibu tirinya itu.
"Seojun! Bicaralah dengan sopan dengan ibumu," geram ketua Park.
"Dia bukan ibuku!" sahut Seojun sambil pergi meninggalkan tempat itu, dia langsung masuk kedalam kamarnya.
Saat dijalan dia bertemu dengan adiknya, Gaeun. Gadis remaja itu terlihat gugup berhadapan dengannya, tapi Seojun berlalu saja tanpa menyapanya. Sementara itu, ketua Park meminta istrinya menemani Gaeun didalam kamarnya, dia sempat melihat bayangan putri bungsunya dibalik tirai bambu pembatas ruangan itu.
"Pak Jeong, tolong selidiki latar belakang gadis itu. Aku ingin tau siapa dirinya lebih jauh lagi sebelum menjalin hubungan dengan putraku," pinta ketua Park ke pak Jeong.
"Baik, Tuan.." ucap pak Jeong sambil menunduk hormat.
Setelah itu ketua Park menyusul istrinya dan meninggalkan pak Jeong sendirian di ruang tengah keluarga itu, orang itu tersenyum penuh arti, entah apa yang akan dia rencanakan dalam menyelidiki si Sumiatun, dan tentu si Ningsih kena imbasnya juga.
Sementara si Ningsih sibuk sok bijak menasehati sahabatnya itu, dia malam ini benar-benar takut apa yang akan terjadi dengannya nanti. Dia meskipun masih belum tahu apapun dalam dunia kerja, tapi dia sering mendengar papa nya bercerita tentang betapa kejamnya dunia kerja itu, apalagi di negara-negara maju seperti Korea ini.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung