Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 52 Keputusasaan Seojun


__ADS_3

Seojun nampak kecewa dan marah sekali dengan ayahnya, pasalnya sang ayah tak mengizinkan pengacara keluarganya membantu membebaskan Sumiatun.


"Maafkan saya, Tuan muda.. Ini adalah perintah langsung dari tuan besar," ujar pengacaranya itu merasa tak enak hati.


"Baik, katakan kepada ayah jika aku akan datang menemuinya!" balas Seojun sambil menahan emosinya.


Tidak lama kemudian dia sampai juga di kantor sang ayah, dimana dia dulu pernah bekerja sebagai pegawai magang bersama Sumiatun. Semua orang menatapnya aneh, seolah dia orang asing yang tak diharapkan di sana. Tapi dia tak memperdulikan tatapan mereka semua.


"Ayah!" teriaknya sambil menerobos masuk, tak peduli dengan sekretaris ayahnya yang berusaha mencegahnya masuk.


"Apa kau tak punya tata cara masuk ke ruangan orang lain?! Dasar tidak sopan!" bentak ketua Park marah.


"Aku terpaksa melakukan hal ini, jika tidak mana mungkin aku melakukannya. Ayah, aku mau tanya.. Apa benar ayah melarang tim penguasa hukum kita untuk membantu Sumiatun?!" tanya Seojun tak menghiraukan tatapan tajam sang ayah.


"Tidak ada hubungannya dengan reputasi keluarga ataupun bisnis kita, dan dia juga bukan siapa-siapa! Tidak ada alasan untuk membantunya," jawab ketua Park dingin.


"Tapi dia berhubungan denganku! Ini juga masalah reputasiku juga perusahaan yang aku bangun bersama Seonho, ada alasan kenapa aku harus menolongnya! Apa aku bukan bagian dari keluarga ini lagi?! Apa aku tidak termasuk bagian dari salah satu reputasi yang harus dijaga?!" tanya Seojun lagi sambil menahan diri untuk tidak marah dengan ayahnya.


"Kau anakku, keluargaku. Tapi dia bukan, jika ini menyangkut perusahaanmu, maka ini kesempatan bagimu membuktikan jika kamu memang memiliki potensi dan keahlian. Sesuai janjimu kepadaku untuk bisa melakukannya sendiri, maka buktikan kepadaku termasuk dengan cara membebaskan gadismu itu!" jawab sang ayah tak kalah sengitnya.


"Baiklah kalau begitu, ayah pasti akan menyesal telah mengabaikan aku! Suatu saat nanti, ayah pasti akan mengerti mengapa aku meminta bantuan pengacaramu untuk membantuku," ujarnya Seojun dengan berkaca-kaca, menahan sesak di dada kecewa dengan keputusan sang ayah yang tidak mau membantunya, padahal ini juga ada sangkut pautnya dengan keluarganya juga.


Setelah itu dia langsung pergi meninggalkan sang ayah dengan perasaan kecewa yang sangat mendalam, dia kembali ke kantor polisi untuk menemui Sumiatun.


"Kamu sabar aja yah, aku pasti akan membebaskan kamu hari ini juga. Aku sudah mendapatkan bukti lainnya atas kejahatan mereka semua" ucap Seojun menenangkan Sumiatun, gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum saja, meskipun tak mengerti maksud dari perkataan Seojun.


Kemudian Seojun datang menghadap ke kepala penyidik, dia mengatakan telah mendapatkan bukti lain atas keterlibatan ketiga orang itu, dalam penyusupan di kantornya.


"Bukti ini juga memperlihatkan dan membuktikan kejahatan lainnya, yang melibatkan seseorang didalam sel tahanan saat ini.." ujar Seojun kepada kepala penyidik.


"Bukti apa yang kamu maksud, dan siapa yang terlibat didalamnya? Apa dia pak Jeong, mantan kepala pelayan di rumahmu?" tanya kepala penyidik penasaran dan juga curiga dengan pak Jeong.


"Kemungkinan, iya.." jawab Seojun.


Kepala penyidik merupakan salah satu koneksi keluarga Park jika membutuhkan bantuan hukum, jadi dia tau banyak soal keluarganya termasuk kasus yang mereka hadapi saat ini.


"Baiklah, akan saya bantu sebisa mungkin.. Tapi pastikan jika bukti ini benar-benar valid, agar lebih mudah melanjutkan kasusnya lagi.. Dan bagusnya lagi jika kamu juga membutuhkan pengacara, agar kasus ini lebih mudah ditangani.." ujar kepala penyidik itu.


"Iya, akan aku usahakan.." ucap Seojun dengan perasaan khawatir, takut tak menemukan pengacara yang bisa membantunya, mengingat koneksi sang ayah begitu luas.


.


Setelah cukup lama, beberapa jam telah berlalu Seojun kembali ke rumah sakit tempat pak Kim di rawat. Langit sudah gelap, dia berjalan lesu dengan gontai. Merasa kecewa dengan dirinya sendiri, sampai saat ini dia belum bisa menemukan pengacara yang bisa membantunya, sedangkan hari sudah gelap, terpaksa malam ini Sumiatun tidur didalam jeruji besi.

__ADS_1


"Hei, darimana saja kamu?! Sudah gelap baru datang lagi, mana Somi?!" tanya Seonho kesal juga khawatir kepada mereka berdua.


"Iya, ditelepon gak diangkat-angkat! Mana perut udah kelaparan, makanan gak datang-datang.. Untung Seonho berinisiatif buat pesan makanan langsung," sungut Ningsih ikut menimpalinya.


"Btw, si Sumi kemana?!" tanyanya lagi penasaran, karena sahabatnya itu tidak datang bersama Seojun.


"Maafkan aku.." jawab Seojun, tubuhnya yang lemah langsung jatuh terduduk didepan mereka berdua.


"Heh, kamu kenapa?!" tanya Seonho terkejut.


Dia dan Ningsih langsung menuntun Seojun duduk didepan kursi tunggu keluarga pasien yang ada didepan ruang inap pak Kim, mereka berdua saling pandang dengan tatapan tak mengerti, ada apa dengan Seojun? Apa dia bertengkar dengan Sumiatun?


"Katakan ada apa denganmu? Wajahmu juga sangat pucat, apa kamu belum makan siang?" tanya Seonho dengan berhati-hati.


Seojun hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja, dia sudah tak punya tenaga lagi untuk bercerita. Hari ini penuh dengan kejutan, dia tidak tahu harus memulai darimana untuk menceritakan semuanya.


"Aku akan memesan makanan lewat online saja, jadi tak perlu keluar. Ayah sudah makan tadi, dia sudah diantarkan makanan oleh perawat. Dan sekarang sudah tidur kembali karena pengaruh obat dia minum..


Sekarang kamu kalau mau cerita, cerita saja.. Dan kemana Somi? Bukankah kalian pergi berdua tadi?" tanya Seonho penasaran dan khawatir juga melihat kondisi sahabatnya itu.


Ningsih duduk di samping Seonho sambil antusias memperhatikan Seojun, dia juga sangat penasaran kemana Sumiatun sekarang ini?


"Aku dan somi dalam masalah besar, dan maafkan aku tak bisa menjaganya dengan baik.." jawab Seojun pelan, membuat Seonho dan Ningsih tak mengerti.


"Ini gak bisa dibiarkan, tolong antarkan aku ke kantor polisi itu! Aku gak akan biarkan sahabatku tidur di sana malam ini, mana mungkin dia bisa terjebak dalam situasi seperti ini, sedangkan dia tak terlibat apapun!" ujar Ningsih tidak terima.


"Sabar yah, kita makan dulu baru ke sana.. Tenangkan dirimu, kebetulan makanannya juga sudah sampai" sahut Seonho berusaha menenangkan dirinya.


Seojun makan makanannya dengan pelan, entah mengapa makanan itu rasanya hambar dan tak terasa enak sama sekali, dia berhenti makan. Dan lebih memilih berhenti makan dan keluar dari ruangan itu untuk mencari udara segar.


"Biarkan saja dia, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri.." ujar Ningsih saat Seonho ingin mengejarnya.


"****! Mereka berdua kayak pasangan aja selalu ada buat satu sama lainnya. Btw, gue ama Sumi juga kayak gitu.. Hiks, ngenes amat nasib lu Sum," gumam Ningsih dalam hati, pikirannya masih tak tenang memikirkan nasib sang sahabat.


Setelah makan, mereka pergi menuju ke kantor polisi, sebelumnya bilang dulu ke Seojun untuk menjaga ayahnya Seonho didalam ruangan sendirian.


"Pergilah, sampaikan permintaan maafku kepada Somi.." jawab Seojun masih lesu, dengan raut wajah sedih.


"Iya, tenang saja. Kita pastikan besok pagi Somi akan keluar segera.." ujar Seonho kembali menenangkan sahabatnya itu.


Seojun mengangguk lemah, setelah itu Ningsih dan Seonho langsung pergi menuju tempat dimana Sumiatun mendekam sekarang, sebelumnya Ningsih menyempatkan diri untuk membelikan beberapa makanan untuk Sumiatun, dia khawatir sahabatnya itu tidak makan dengan baik, termasuk membawakan sweater dan selimut juga.


"Gue berada disini bukan buat camping, Ningsih.." sungut Sumiatun kesel, untung saja gak dibawain kasur lipat juga dia.

__ADS_1


"Gue tau, Sum! Makanya itu gue cuma bawain sweater sama selimut aja, lu tau kan sekarang lagi musim gugur. Angin lagi kenceng-kencengnya, lu kudu jaga diri!" sahut Ningsih dengan suara bergetar menahan tangisnya, dia harus kuat hadapan sahabatnya itu.


"Gue gak apa, tadi juga udah makan dikasih ama petugas. Lagian disini ada kok kasur juga bantal.." ucap Sumiatun berusaha kuat demi sahabat.


"Iye, kasur ama bantal doang! Kagak ada selimutnyee, Sumi!" sahut Ningsih gregetan.


Setelah cukup mengobrol dan saling menguatkan, akhirnya Ningsih dan Seonho pamit untuk pulang, kebetulan jam besuknya sudah selesai juga.


"Kamu tak perlu khawatir, besok pagi dipastikan kamu akan pulang.." ucap Seonho sebelum mereka pulang.


"Iya, aku baik-baik saja disini katakan juga kepada Seojun, dia mungkin saat ini sedang kepikiran terus.." sahut Sumiatun merasa tak enak hati dengan mereka.


"Bukan kepikiran terus aja, dia juga gak berselera makan lagi. Hidupnya sekarang seperti orang tak berdaya aja" gumam Seonho dalam hati.


"Iya, akan aku kasih tau dirinya nanti.." ucap Seonho lagi.


Kemudian dia dan Ningsih pamit pulang, saat dimobil keduanya hanya saling diam, tenggelam dengan pikiran masing-masing. Seonho akan mengantarkan Ningsih pulang langsung ke apartemennya, karena kasihan melihatnya begitu kelelahan.


Drrtt.. Drrrt..


"Papa?" ucap Ningsih saat melihat layar ponselnya tertera nama sang ayah.


"O iya, gue lupa buat menghubunginya lagi!" ujarnya sambil tepok jidat.


"Halo, Papa.." sapanya dengan gugup.


"Ning, besok pagi Papa akan sampai. Tolong jemput Papa sekitar jam setengah enam pagi.." ucap pak Smith datar.


"Hah? Pa-Papa mau kesini? Ke Korea?" tanya Ningsih cengo masih tak mengerti.


"Gak! Mau ke Bogor! Ya iyalah, emang kemana lagi. Emang anak Papa yang kuliah saat ini siapa kalau bukan kamu, kalau ada yang lain bisa-bisa mamamu mengamuk!" jawab pak Smith gregetan dengan anaknya yang lagi mode telmi.


"Jangankan mama, aku juga bakalan ngamuk!" sahut Ningsih juga.


"Iya, makanya besok jangan sampai telat!" ujar pak Smith sebelum menutup telponnya.


"Siapa?" tanya Ssonho yang sedari tadi diam saja.


"Papa.." jawab Ningsih sambil menghela nafasnya.


Sekarang bertambah lagi masalahnya, dia bingung jika sang papa datang dia harus ngomong apa soal Sumiatun dan segala permasalahan mereka saat ini.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2