Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 27 Sebuah Permintaan


__ADS_3

Sumiatun mengendap-endap menuju ke toilet, dia udah gak tahan menahan diri untuk tidak keluar, tapi panggilan alam memintanya menuntaskan segala yang mengganjal minta dikeluarkan.


"Syukur deh semua orang pada pergi, jadi aku aman ke toilet tanpa diketahui semua orang, bisa-bisa aku dikejar sama mereka lagi.." gumamnya lagi.


Dia langsung masuk kedalam toilet karena sudah gak tahan lagi, dia gak sadar jika didalam sana masih ada beberapa orang yang lagi menuntaskan hajatnya, bahkan didepan wastafel juga ada orang tapi mereka sama-sama tak memperhatikan, karena Sumiatun berlari dengan cepat masuk kedalam salah satu bilik yang ada di sana.


"Kenapa tuh orang, beser kali ya?" ujar wanita yang diluar sana.


Sumiatun langsung menutup mulutnya, dia tak menyangka masih saja ada yang tidak mematuhi perintah bosnya, dan bersyukurnya lagi ia berada didalam bilik paling ujung, jadi tak terlalu diperhatikan orang.


Setelah selesai, dia masih harus menahan diri untuk tidak keluar dari sana, sebab masih terdengar olehnya suara-suara langkah kaki dan suara air yang terdengar dari luar sana.


"Bushet dah, berapa lama lagi gue ngumpet dimari?! Ini orang-orang pada gak ikut rapat apa?!" gumamnya dalam hati.


"Hei, apa kalian semua tak ikut rapat didalam sana? Bukankah kita semua diminta untuk berkumpul tanpa terkecuali?" tanya seorang pegawai wanita kepada beberapa pegawai yang lainnya, mereka masih sibuk tacap sana dan tacap sini, dandan.


"Buat apa? Pasti ini ada sangkut pautnya dengan hubungan antara anak magang itu, yang katanya dia adalah putranya Presdir. Aku tak tertarik sama sekali, takkan mempengaruhi pekerjaanku sama sekali," ucap salah satu dari mereka itu.


"Aku malah penasaran, seperti apa dia sebenarnya? Lalu hubungannya office girl itu gimana? Apa itu hanya sebagai bentuk penyamaran dirinya, atau mereka memang memiliki hubungan khusus seperti itu?" tanya yang lainnya.


"Entahlah, tapi menurutku itu adalah berita aneh yang sengaja untuk menutupi siapa dirinya agar tak ada yang curiga, lagian seorang calon pemimpin perusahaan besar mana mungkin akan menikahi ataupun menjalin hubungan dengan orang dibawah levelnya!" terdengar juga suara sinis dari luar sana.


"Ish, siapa juga yang mau sama dia! Ini saja aku terpaksa mau melakukannya, udah kepalang tanggung berita udah menyebar perihal hubungan kami, gara-gara bocah tengil itu! Ck," sahut Sumiatun dalam hati lagi.


Setelah cukup lama dia berdiam diri, Sumiatun tak mendengar kembali suara-suara sumbang itu, dia mengintip dibalik cela bawah pintu, fiks! Semuanya udah pergi. Dia keluar berlahan dan kembali berjalan dengan cepat ingin keluar.


Dan sekali lagi dia harus bersembunyi, karena tiba-tiba diujung koridor sudah terdengar beberapa suara langkah kaki menuju toilet itu.


"Aish! Kenapa gak pernah berhenti sih?!" gerutunya.


Sumiatun bersembunyi dibalik pot tanaman yang lumayan besar, dan disampingnya ada kotak sampah besar, jadi dia menemukan tempat bersembunyi yang cukup bagus, selama tak ada yang buang sampah di sana, dia masih aman..


"Gila, anak magang itu setelah diketahui identitas aslinya vibes seorang CEO sangat terasa sekali, dia begitu berkarisma! Benar-benar sangat tampan dan cerdas, aah! Aku mau menjadi kekasihnya, hehe.." terdengar suara wanita lain didalam sana.

__ADS_1


"Ah, kau ini! Dia sudah memiliki kekasih tau!" sahut temannya.


"Office girl itu? Alah, seorang OG saja dia mau, apalagi aku yang seorang pegawai kantoran, tidak sulit kok mendekatinya!" ucap temannya percaya diri.


"Kau benar, tapi aku yakin seleranya juga bukan kau! Haha, karena seorang CEO pasti akan memilih pasangannya yang sepadan dengannya, bukan kau apalagi OG itu, haha!" ledek temannya.


Sumiatun mendengus kesal saat mendengarnya, saat para pegawai wanita itu masuk kedalam bilik toilet, Sumiatun memanfaatkan situasinya untuk keluar dari sana, kali ini dia harus hati-hati agar tak ketahuan, tapi yang ada dia malah menabrak orang saat berjalan mundur kebelakang.


Brak!


"Aduh!" keluh orang itu.


"Ah, maaf-maaf!" ucap Sumiatun langsung menunduk dan berniat ingin langsung pergi.


Tiba-tiba kerah bajunya ditahan oleh orang itu, saat dia menoleh ternyata itu adalah Seojun dan beberapa pengawalnya, Seojun langsung menutupinya dengan jas yang dia pakai.


"Tutupi dirimu dengan ini, jangan memperlihatkan diri dihadapan mereka.." bisik Seojun sambil menuntutnya menuju ruangan Seonho.


Saat mereka masuk, Seonho masih belum ada. Jadi Seojun dan Sumiatun menunggu mereka didalam ruangannya. Sedangkan beberapa pengawal menjaga diluar ruangan itu.


"Aku mau ke toilet, aku sudah tak tahan! Masa iya aku pipis didalam sini," sahut Sumiatun sambil cemberut.


"Memangnya kenapa? Kamu bisa pipis ataupun buang air besar kapan perlu disini!" ucap Seojun lagi.


"Masa iya, ngaco kamu!" ujar Sumiatun kesel.


"Ngaco gimana? Liat itu?! Emang kamu gak gau?!" tanya Seojun kesel, gemes dan pengen cium rasanya.


Sumiatun memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Seojun, ternyata didalam ruangan Seonho ada pintu lagi yang dikira Sumiatun itu adalah pintu lemari, ternyata adalah toilet! Astogeeee!


"Aku gak tau kalau disini juga ada toilet, aku pikir itu lemari, hehe.. Maaf ya," cengirnya tanpa dosa.


Sementara itu, dilantai paling atas. Didalam ruang kerja Presdir, Seonho sedang duduk saling berhadapan dengan ketua Park. Sama seperti dengan Seojun dia juga dicecar bebagai Pertanyaan mengenai Sumiatun dan juga Seojun.

__ADS_1


"Maaf, Seonho-ssi... Rasa kepercayaanku luntur begitu saja kepadamu, aku sudah terlanjur kecewa sekali dengan sikapmu selama ini.. Seojun itu keras kepala, jika dia telah memutuskan sesuatu maka dia akan melakukannya.


Demi wanita asing itu, dia rela membangkang, dia rela meninggalkan perusahaan dan rumah. Aku memberimu kesempatan sekali lagi, buktikan kesetiaanmu padaku.. Awasi dan temani terus Seojun, bantu dia selagi mampu..


Aku membiarkan dia keluar dari perusahaan ini, aku juga penasaran dan ingin tahu apa dia bisa bertahan hidup tanpa kemewahan. Aku tau dia diam-diam memiliki sebuah perusahaan kecil yang memiliki usaha di bidang yang sama dengan perusahaan ini.


Aku ingin liat apa kalian berdua mampu mengembangkan perusahaan kecil itu menjadi perusahaan besar..?


Maka temani dan bantu dia, kalau kau bisa sukses bersamanya dan menjaganya dengan baik, maka aku akan percaya terus kepadamu tanpa ada keraguan lagi seperti ini..


Pergilah, temui dia.. Tapi keputusanku mengenai gadis itu tetap sama, aku takkan pernah merestui mereka, sampai keduanya mampu membuktikan kepadaku, jika keduanya dianggap layak untuk bersama.." ucap ketua Park.


"Baik, Tuan.." Seonho baru saja mau pamit, mereka yang didalam malah dikejutkan oleh kedatangan Seojun lagi, kali ini dia tak sendiri, melainkan datang bersama Sumiatun.


"Appa, apa yang kamu lakukan disini bersama Seonho? Kenapa lama sekali?! Apa ayah mengurungnya dan menyiksanya?!" tanya Seojun terlalu mendramatisir keadaan.


"Dasar, anak bo.doh! Memangnya ayahmu ini preman atau mafia jahat, justru kau datang seenaknya sendiri, keluar masuk kedalam ruangan orang tanpa permisi, dasar tidak sopan!" bentak ketua Park marah, karena kaget.


"Habisnya anak ini tidak turun-turun juga, aku kan jadi khawatir!" sungut Seojun.


"O ya, lupa! Perkenalkan ini adalah Sumiatun, nama Koreanya Jeon Somi.." ucap Seojun lagi memperkenalkan Sumiatun kepada ayahnya Seojun.


"Ha-halo, Pak.. Ehem, perkenalkan nama saya Sumiatun, panggil saja Sumi gitu. Hehe.." sahut Sumiatun sok asik.


"Apa dia office girl itu? Hei, apa yang kau lakukan disini?! Turun sekarang dan kerjakan tugasmu," ujar ketua Park dengan wajah tak sukanya.


"Ayah, apa yang kau lakukan?!" tanya Seojun, dia benar-benar kaget dengan reaksi ayahnya itu, dia benar-benar malu dengan tingkah ayahnya yang kekanak-kanakan itu.


"Tidak apa, Seojun.. Aku memang seharusnya dibawah.." ucap Sumiatun pelan.


"Tidak, apa kamu lupa jika kamu dan Seonho telah dipecat olehnya?! Jangan melakukan apapun yang diperintahnya, ingat kamu harus punya harga diri!" sahut Seojun lagi, yang membuat Sumiatun benar-benar merasa bersalah.


Sumiatun dan Seonho hanya saling liat-liatan aja, tidak tau harus bagaimana. Mereka memang sudah dipecat dari perusahaan ini, tapi mereka mau gak mau masih mengikuti aturan di kantornya, terutama Seonho, sulit rasanya menolak permintaan ketua Park.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2