Sumiatun, Saranghae!

Sumiatun, Saranghae!
Bab 45 Ketahuan Juga Akhirnya


__ADS_3

Suasana kantor menjadi begitu tegang, semua orang jadi nampak was-was. Ruko tiga lantai itu terletak di area industri perdagangan, banyak minimarket, restoran, distro dan butik dan lainnya. Para pedagang yang lain dan juga beberapa pengunjung atau orang-orang sekedar lewat, begitu khawatir saat beberapa pihak kepolisian datang ke wilayah mereka.


"Ada apa?"


"Tidak tahu, katanya semalam ada perampokan di kantor ruko itu.."


"Hah, rampok? Wah, aku takut nanti pengunjung tidak ada yang mau datang lagi, karena mengira kawasan kita tidak aman.."


"Iya, harga jual tanah pasti turun kalau begini! Padahal aku mau nyewain ruko punyaku juga, ck.."


Begitulah beberapa komentar dari para warga, sementara itu pihak kepolisian sudah melakukan investigasi, dan ada beberapa berkas yang mereka bawa, tapi buat apa entahlah.


Sementara itu, Seonho izin pulang karena ayahnya masuk rumah sakit, dia ditemani oleh petugas kepolisian juga. Sedangkan Ningsih yang tadinya mau ikut, ditahan karena dia juga sebagai saksi atas kejadian ini.


"Nona, apa anda yakin tidak mengenali mereka semua? Apa anda tak mengenali suara salah satu dari mereka?" tanya salah satu detektif yang bertanggung jawab soal kasus mereka.


"Seperti yang sudah saya katakan tadi, suasana begitu remang jadi aku tak begitu memperhatikan wajah-wajah mereka, dan aku juga tak bisa mengidentifikasi suara mereka juga, aku bersembunyi karena takut.." jawab Ningsih, lelah juga dia ditanya mulu.


Sebelumnya dia sudah ditanya-tanya perihal kronologi kejadian itu, dia juga dimintai keterangan yang lain juga, diantara yang lain dia yang paling sibuk dan lelah harus mengikuti pihak petugas terus.


"Bagaimana, Pak? Apa ada hal yang mencurigakan?" tanya Seojun penasaran.


"Kami belum bisa memberikan keterangan untuk saat ini, soalnya ini cukup pelik juga. Tidak ada barang yang hilang, hanya saja barang-barang, berkas dan beberapa peralatan yang dibuat berantakan dan rusak oleh pelaku.


Kami akan mendalaminya lebih lanjut lagi, di setiap benda di lantai ini maupun di lantai atas sama-sama memiliki sidik jari, kami akan mengindentifikasi semua sidik jari, jika ada sidik jari yang bukan karyawan kantor ini, berarti pelakunya orang luar, jika tidak ada.. Besar kemungkinannya pelakunya adalah salah satu karyawan kantor ini.." ujar detektif itu.


Kemudian semua penyelidikan dari pihak kepolisian di kantor sudah selesai, mereka kembali ke kantor mereka untuk melanjutkan penyelidikan lagi. Seojun terpaksa meminta para karyawannya libur sekitar dua hari ini karena dia akan sibuk mengurus masalah ini.


"Kita ke rumah sakit sekarang, aku penasaran apa yang terjadi dengan ayahnya Seonho.." ujar Sumiatun diiringi anggukkan Ningsih.


"Ya sudah, ayo kita berangkat.." ujar Seojun.


Setelah itu mereka bertiga pergi ke salah satu rumah sakit tempat pak Kim dirawat, sementara itu, salah satu karyawannya Seojun sedang melihat kepergian mereka, lalu dia menelpon seseorang, dari nadanya dia sangat khawatir.


"Bagaimana ini, aku takut ketahuan?! Ini untung saja mereka tidak curiga polisi datang tiba-tiba, padahal pak Seojun baru saja menelpon mereka! Aku takut, saat ini pihak kepolisian sedang mengindentifikasi semua sidik jari, apakah mereka semua memakai sarung tangan? Ah, syukurlah! Aku benar-benar khawatir, semoga saja wanita asing itu diusir dari negara ini! Dia bisanya menghambat rencanaku saja," gerutu karyawan wanita itu ditelpon, entah dengan siapa.

__ADS_1


Saat dia berbalik, dia terkejut karena ada seseorang dibelakangnya. Seorang wanita tua pemilik minimarket dibawah lantai kantornya, setelah itu ahjuma (bibi) langsung berbalik pergi meninggalkannya.


"A-ahjuma! Tunggu dulu, apa kau baru saja mendengar apa yang aku katakan tadi ditelpon?!" tanya karyawan wanita itu gugup.


"Iya, dan bukan urusanku!" ujar ahjuma itu ketus.


"Baguslah, lebih baik tidak berurusan dengan hal begini jika ingin hidup aman. Kalau tidak aku akan membuat tokomu ini juga hancur berantakan seperti kantor diatas!" kata karyawan wanita itu angkuh, kemudian dia berlalu pergi, tersenyum puas karena merasa sudah berhasil mengintimidasi ahjuma itu.


"Dasar wanita rubah!" umpat ahjuma itu.


"Na dheul (anakku), apa kau merekamnya?!" teriak ahjuma lagi kepada putranya didalam minimarketnya.


"Nee, Eomma (ya, ibu)! Direkam dengan baik, hehe.. Jika kurang jelas juga, Cctv kita didepan pasti menangkapnya dengan baik!" jawab seorang pemuda dari dalam minimarket itu.


"Bagus, gara-gara dia tiba-tiba kawasan kita yang damai ini harus didatangi pihak kepolisian! Bikin gempar saja, malah menyalahkan orang lain, padahal dia sendiri tak mampu bersaing, cih!" ujar ahjuma pemilik minimarket.


"Apa bukti rekaman ini kita simpan, atau kita serahkan kepihak kepolisian?" tanya anaknya penasaran.


"Tidak, kita serahkan kepada pemilik kantor ini. Biarkan ini jadi urusannya dengan karyawan sombong itu, aku gak mau berurusan dengan polisi, ribet! Ya sudah masuk! Pekerjaan kita masih banyak," kata ahjuma itu.


.


"Apa kamu gak kenapa-kenapa? Mau aku belikan minuman?" tanya Seojun, khawatir juga dia.


"Tidak apa, aku hanya mengkhawatirkan ayahku.." jawab Seonho pelan.


"Bagaimana dengan kantor? Apa sudah ada hasil dari penyelidikan itu?" tanya Seonho juga.


"Gak usah terlalu memikirkan hal itu, biarkan itu jadi urusanku. Kamu fokus saja dengan Samchun (paman), dia masih membutuhkan kamu. Dan, maaf.. Aku terpaksa membawa mereka kesini," bisik Seojun sambil melirik kearah Sumiatun dan Ningsih.


"Astaga, kenapa dibawa?! Bagaimana reaksi mereka nanti jika security yang mereka kenal ternyata ayahku?!" tanya Seonho begitu khawatir.


"Tidak perlu khawatir, jika mereka ingin melihat katakan saja jika ayahmu sedang ingin istirahat dan tidak bisa diganggu untuk sementara.." jawab Seojun memberikan solusi, tapi akhirnya gak guna.


Gimana gak, saat keduanya sedang membahas soal itu, petugas kepolisian keluar dan Sumiatun juga Ningsih langsung masuk begitu saja.

__ADS_1


"Pak, kami sudah selesai. Kami akan kabari kalian kalau sudah ada perkembangan dari kasus ayah anda ini, kalau begitu kami permisi, salam.." ujar petugas kepolisian itu.


"Terima kasih atas bantuan kalian.." sahut Seonho sambil menyalami dua orang petugas itu.


Kemudian keduanya celingukan mencari Sumiatun juga Ningsih, kok tiba-tiba ilang? Sejenak berpikir sebentar, akhirnya mereka menyadari sesuatu yang gak enak di hati, keduanya langsung berlari masuk kedalam ruangan tempat ayahnya Seonho dirawat.


"Ning, aku--" Seonho baru saja ingin menjelaskan hubungan antara ayahnya dengan dirinya, tapi dikejutkan oleh sesuatu didalam sana.


"Gimana, Ahjussi.. Enak?" tanya Sumiatun sambil menyerahkan beberapa potong buah apel, yang sudah dikupas dan dipotongkan oleh Ningsih.


"Enak, enak sekali.. Terima kasih," jawab pak Kim sambil tersenyum ramah, dia terharu terhadap kebaikan dua gadis itu.


"A-abeojji (ayah).." tenggorokan Seonho mendadak seret, bukan perkara ikutan lapar pengen makan buah apel, tapi gugup gak tau harus ngomong apa.


"Kenapa kalian berdua hanya bengong saja diluar, sini masuk!" ajak Sumiatun saat melihat mereka terlihat syok diluar.


"I-iya.." ucap Seojun gugup, dia mendorong Seonho untuk ikut masuk juga.


"Makanlah, ini ada banyak sekali.. Ayah tak kuat menghabiskan semuanya, ah kalian ini! Kenapa membawa makanan begitu banyak, ayah sudah melewati masa pertumbuhan, haha!" gurau pak Kim, dia tau situasi saat ini sedikit tegang diantara anak-anak itu.


"Paman, eh! Ahjussi... Aku permisi sebentar, ini mau buang kulit buah sekalian mau cuci tangan dulu," ujar Ningsih.


"Ah, iya silakan! Panggil saja Paman, saya suka itu, hehe.." sahut pak Kim ramah.


Ningsih hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian dia keluar sambil melewati Seonho begitu saja tanpa melihatnya. Seonho benar-benar merasa tak enak hati, kemudian dia menyusulnya.


"Ning, tunggu dulu! Aku mau bicara.." kejar Seonho sambil setengah berlari menuju Ningsih.


"Bicara apa? Ah, aku akan segera menyelesaikan tugas yang kamu berikan, Pak.. Dan maaf telah membuat semua kekacauan ini, aku tidak akan merepotkan anda lagi, permisi.. Ah iya, aku sebenarnya tidak masalah bagaimana status dan latar belakangmu, asal kamu jujur, aku akan menghargainya. Tapi sepertinya tidak penting lagi.." ucap Ningsih langsung masuk kedalam toilet wanita.


Seonho tak bisa mengejarnya lagi, dia benar-benar merasa menyesal tidak bisa memperhatikan gadis itu lebih baik lagi, bahkan dia tak bisa melindunginya, membuat perasaannya sedih dan kecewa kepada diri sendiri.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2