
Hari pertama pembagian kelas setelah 3 hari menjalani mos yang melelahkan.
Aku melihat ke sekeliling ruangan kelas, target utamaku duduk di paling depan pupus karena semua kursi sudah terisi penauh. bnyaKulihat ada 1 kursi kosong dibarisan kedua sebelah kanan yang sudah di duduki cewek berambut pendek.
" Hai, boleh aku duduk disini?" tanyaku
" Hai juga, oh boleh kok, kebetulan aku juga belum dapat teman semeja", jawabnya ramah.
" Namaku Azelia, nama kamu siapa?" tanyaku sambil mengulurkan tangan.
"Namaku Icha, salam kenal," jawabnya sambil menjabat tanganku.
Bel sekolah mulai berbunyi..
Seorang guru masuk ke ruang kelas dan mengenalkan dirinya sebagai Pak Damar. Pak Damar membuka kelas dengan sesi perkenalan siswa satu persatu bergiliran. Aku tidak terlalu memperdulikan masing-masing perkenalan siswa karena asyik mengobrol dengan icha.
Obrolan kami berhenti ketika Pak Damar langsung membuat pengurus kelas dadakan. Pak Damar menunjuk masing-masing pengurus kelas secara acak dari mulai sekertaris, bendahara. Tapi, untuk pemilihan ketua kelas, Pak Damar meminta voting suara terbanyak dikelas.
"Sekertaris dan Bendahara sudah dipilih acak, jadi untuk Ketua Kelas bapak minta voting kalian, siapa yang pantas menjadi ketua kelas 7E ini?" tanya Pak Damar kepada para siswa kelas 7E.
"Aydan saja pak yang jadi ketua kelas," jawab beberapa murid serentak.
"Baik, Aydan silahkan maju ke depan kelas," minta Pak Damar langsung.
Aku penasaran siswa seperti apa yang bisa meraih banyak simpati teman sekelas padahal baru hari pertama masuk sekolah. Kupalingkan wajahku ke arah depan kelas, sudah berdiri seorang siswa yang tinggi berkulit sawo matang, berambut hitam pendek lurus dan berkacamata.
"Heem, kukira cowok berkacamata itu identik dengan siswa kuper, pintar dan kutubuku, ternyata tidak juga," ucapku dalam hati sampai terdengar suara panggilan "Azelia!" teriak pak Damar.
"Ya, Pak" jawabku kencang karena panggilan mendadak yang mengagetkan. Ternyata ucapan Pak Damar selanjutnya lebih mengagetkanku.
"Azelia, kamu jadi Wakil Ketua 7E ya!" teriak Pak Damar semangat.
__ADS_1
"Hah? Kok saya pak? Kenapa tidak yang lain aja?" Tanyaku bingung karena tidak ada niatan sama sekali direpotkan dengan urusan kepengurusan kelas.
"Ya, karena nama kalian berurutan diabsen Aydan Azelia, siapa tahu cocok," jawab Pak Damar lugas diselingi ketawa usil.
Aku hanya bisa menerima keputusan pak Damar dengan senyum kecut. Tanpa kusadari terlihat Aydan yang tersenyum tipis ke arahku seakan mengatakan "mohon bantuannya 1 tahun ke depan," dan aku hanya bisa terdiam.
Setelah pemilihan kepengurusan kelas, dimulailah pelajaran dan aku fokus memahami setiap materi yang disampaikan demi tujuanku mendapat SMA Negeri setelah lulus.
Bel terakhir berbunyi, tanda sekolah hari pertama yang melelahkan usai.
"Huuuh, akhirnya pulang juga ya zel, kamu pulang naik angkot kan? Hati-hati di jalan dan sampai besok," tanya icha ramah yang kubenarkan dengan anggukan sebelum dia berlalu duluan ke luar kelas.
Saat aku sedang membereskan buku-buku ke tas dan siap pulang, ada yang menepuk pundakku.
" Hai, kita belum sempat kenalan resmi ya hari ini, kenalin gue Aydan dan nama loe siapa?" Tanya cowok berkacamata sambil mengulurkan tangannya ramah.
"Ehmm ya, nama aku Azelia," jawabku singkat dan bersiap pulang.
" Apaan sih itu cowok, gak jelas banget, mana sok akrab," gerutuku dalam hati sambil berjalan ke depan sekolah untuk menunggu angkot.
Angkot memang jadi transportasi utama siswa sekitar tangerang karena selain ongkosnya murah yaitu 1000 / orang, banyak angkot yang memutarkan lagu-lagu pop hits kesukaan para remaja.
Waktu pulang sekolah memang angkot sering penuh dengan siswa SMP-SMA sekitar jadi butuh kesabaran menunggu angkot kosong. Setelah 1 jam menunggu, akhirnya ada angkot yang sisa 2 slot tempat duduk bersebelahan.
Akupun langsung duduk dan menatap jendela untuk melihat jalanan sebelum ada suara cowok.
"Sorry, gue boleh duduk disini?" Tanyanya yang kujawab anggukkan dan setelah aku menoleh ternyata cowok disebelahku itu Aydan.
" Lah ternyata loe Azel, gue kira siapa, loe naik angkot arah ini juga? Emang rumah loe dimana?" Tanyanya berurutan panjang lebar.
"Iya, rumahku di Gang Cisadane 2," jawabku singkat dan kembali menatap ke luar jendela angkot berharap segera sampai rumah.
__ADS_1
" Oh, kalau rumah gue lebih deket di Gang Rajawali," Jawabnya spontan tanpa kutanyai.
Rasa penasaranku terhadap penampilan Aydan yang beda membuatku terkadang curi-curi pandang.
Penampilannya beda dengan kacamatanya yang dilepas, seragam yang berantakan dan tubuhnya dipenuhi cucuran keringat. Mungkin dia sadar kuperhatikan sesekali.
"Oh, ini gue habis main basket sepulang sekolah sama anak-anak jadi berantakan gini deh, hehehe," ucapnya tiba-tiba. "Hah? Aku gak tanya kok," ucapku malu karena kepergok curi-curi pandang sebelum aydan pamit turun duluan diselingi senyum jahil.
Pagi hari yang buruk
Aku terbangun dari tidur oleh ketukan kamar yang keras.
"Azel..Azel...bangun nak, ini sudah jam berapa? Kok belum siap-siap sekolah," tanya ibuku sedikit panik.
Kulihat jam dinding dan ternyata sudah pukul 6.30, apesnya lagi saat kuingat jadwal piket guru hari ini adalah Ibu Meisya yang terkenal super disiplin terhadap siswa pelanggar aturan terutama siswa yang telat. Sudah pasti, jika telat, dapat hukuman.
Kuberlari segera kekamar mandi, mandi secepatnya, memakai seragam dan berlari ke depan gang desa menunggu angkot yang tak kunjung datang. Sialnya lagi, semua angkot penuh dan jam 7 baru dapat angkot dari rumah.
Perjalanan rumahku ke sekolah sekitar 30 menit dan bel masuk pukul 7.30. Aku sudah pasrah menerima hukuman sambil berdoa agar hukuman dari ibu Meisya tidak terlalu berat.
Sesampainya di dekat gerbang, kuberlari dan dari kejauhan sudah kulihat beberapa anak berbaris di depan bu Meisya karena telat juga.Beberapa langkah lagi kakiku sampai digerbang tiba-tiba tanganku ada yg menarik dari belakang.
"Sstttt, zel, loe telat juga? Yuk ikut gue lewat jalur belakang sekolah sebelum ketahuan bu Meisya, loe gak mau kan kena hukum," tanya Cowok yang ternyata Aydan sambil tetap memegang tanganku menuntun lewat jalur belakang.
Aku yang sudah panik dan takut dihukum akhirnya diam dan menurut saja. Kuikuti langkah Aydan, ternyata di belakang sekolah ada lubang yg cukup besar tertutup papan untuk masuk ke sekolah lewat jalur belakang. Dari lubang, kami melewati taman kecil kurang terurus dan berakhir di kantin belakang yang baru pertama kali aku tahu keberadaannya. Setelah itu, ada tangga ke atas menuju ruang kelas 7E.
" Zel, kita mau gandengan gini terus sampai kelas?" Ucap Aydan memecah kekagumanku soal jalur belakang diiringi tawanya yang meledek.
" Ihh apaan sih kamu," ucapku yang langsung melepas tangan Aydan dan berlari menuju ruang kelas.
" Oke, semua tebakanku bahwa Aydan anak yang kalem dan pinter karena berkacamata ternyata salah, aydan berhasil membuyarkan image yang kusematkan pada cowok berkacamata," pikirku di sela-sela sebelum memulai pelajaran pertama.
__ADS_1