
Bel masuk mulai berbunyi, dengan langkah gontai kujalan menuju meja no 1 dimana aydan sedang sibuk meraut pensilnya.
" Hai zel," sapa Aydan dengan ragu-ragu. Aku hanya diam dan mengacuhkannya karena masih kesal atas ucapannya kemarin.
Ujian pertama hari itu adalah biologi, salah satu pelajaran kesukaanku dan aku yakin bisa mengerjakan semua soalnya dengan baik karena kemampuan hafalanku yang cukup kuat sejak dulu.
Saat aku sedang asyik mengerjakan soal, tiba-tiba tukk...
" Aduh! apaan nih yang kena kepalaku!" gumamku pelan sambil mengambil bulatan kertas yang terlempar ke kepalaku.
Kubuka bulatan kertas tersebut dan tertulis " Bro, minta jawaban pilihan ganda no 5-10."
Kulihat darimana arah bulatan kertas itu dilempar dan ternyata dari meja ryan.
" Azelia, tolong kasih itu ke ryan." Ucap Ryan memakai bahasa tubuh tanpa bersuara.
Akupun langsung melakukan permintaannya agar tidak diganggu lagi saat mengerjakan soal. " Nih." Ucapku singkat sambil memberikan bulatan kertas itu kepada Aydan lewat bawah meja agar tak ketahuan guru.
__ADS_1
Tanpa basa basi, aydan langsung menuliskan jawabannya ke kertas dan melemparkannya lagi ke arah ryan saat pandangan guru teralihkan.
" Makanya, terbukti kan belajar itu emang yang terpenting di sekolah biar nantinya enggak perlu jadi tukang nyontek." Sindirku kepada Aydan dengan pelan.
Tapi sindiranku hanya dibalas aydan dengan senyumannya dan perkataan "Ini bukan nyontek, tapi kerjasama."
Seperti dugaanku, aku bisa mengerjakan ujian pertama dengan lancar, masalahnya muncul di ujian kedua yang merupakan ujian Bahasa Arab. Entah kenapa dari awal menghafal kosakata dan rumus bahasa Arab selalu lupa tak seperti waktu menghafal Bahasa Inggris.
Dan benar aja, saat pertama buka lembaran soal Bahasa Arab, aku mendadak blank dan tidak ingat materi apapun yang kupelajari.
" Aduhh, gimana ini!" gumamku lirih menatap lembar jawaban yang masih kosong sambil memijat kepalaku yang pusing.
Aku hanya terdiam sejenak, bayangan ketakutan nilaiku yang anjlok karena Bahasa Arab dan hilangnya kesempatan dapat SMA Negeri berseliweran dikepalaku, dengan berat hati kuputuskan menerima tawaran aydan.
" Heemm, anuu, oke." Jawabku lirih sambil menahan malu teringat ucapanku yang mengejeknya tukang nyontek sebelumnya.
" Siip, nih!" Ucap aydan sambil tersenyum dan menyodorkan lembar jawaban bahasa Arab miliknya.
__ADS_1
Kulihat lembar jawabannya, tak kusangka semua soal sudah hampir terisi, tanpa pikir panjang langsung kusalin semua jawabannya ke lembar jawabanku. Untungnya, guru pengawas juga sedang keluar kelas.
" Zel, sebenarnya dari kemarin gue mau minta maaf sama loe, sorry ya gue udah seenaknya ngeremehin jalan hidup loe itu, gue sadar tiap orang punya jalan hidup sendiri yang diyakininya." Ucap aydan mendadak saat aku masih sibuk menyalin jawabannya.
Kulihat raut wajahnya yang bersalah saat meminta maaf kepadaku.
" Ya, berhubung kamu udah bantu aku di ujian bahasa arab ini, jadi kumaafin deh!" Jawabku dengan senyuman sambil menyerahkan lembar jawaban miliknya.
" hahaha siap." Jawab aydan sambil tersenyum lega
" Tapi, aku enggak nyangka sih, cowok bandel kayak kamu ternyata jago Bahasa Arab." Ucapku sambil mengerjakan soal tersisa
" Wihh jangan salah, biar bandel-bandel gini, gue termasuk anak yang rajin ngaji dari SD." Balas Aydan dengan bangganya
" Hahaha percaya percaya yang rajin ngaji jadi jago Bahasa Arab. Tapi...." Ucapku ragu-ragu
" Tapi apa?" Tanya aydan penasaran
__ADS_1
" Tapi, ternyata kamu sadar juga kalau kamu itu anak bandel, hahaha." Ejekku ke Aydan
" Hahaha dasar zelek! bisa aja loe." Balas aydan yang ikut tertawa mendengar ejekanku.