
Tak terasa waktu cepat berlalu..
Akhirnya hari ini adalah hari ujian praktek olahraga untuk kenaikan kelas.
Kemarin, Pak Firman sudah memberikan ujian olahraga tertulis dan aku yakin bisa menjawab banyak soal dengan benar. Tapi, sayangnya, nilai ujian praktek jauh lebih besar dibandingkan nilai ujian tertulis.
Seperti yang sudah diinfokan sebelumnya, ujian praktek hari ini dinilai dari poin memasukkan bola basket ke ring. Jika siswa bisa memasukkan bola ke ring 3 kali berturut-turut, maka siswa tersebut akan mendapat poin sempurna.
Dan, disinilah aku, dipinggir lapangan menyaksikan teman sekelas maju satu persatu dan mencoba memasukkan bola ke dalam ring.
" Ya Allah, please ingatkan aku cara melempar bola yang diajarkan Aydan tempo hari." Doaku dalam hati dibarengi perasaan dag dig dug
Tiba-tiba pandanganku teralihkan oleh Aydan yang mendapatkan giliran selanjutnya di ujian praktek. Dengan santainya Aydan memasuki lapangan basket, mengambil ancang-ancang dan melempar bola.
"YES!!" Teriakku kencang tanpa sadar ketika melihat Aydan berhasil memasukkan bola ke dalam ring 3 kali berturut-turut dan diiringi tatapan aneh dari teman sekelas lainnya.
Tanpa sadar, kulihat tatapan Aydan kearahku dan dia tersenyum.
"Azelia." Panggil Pak Firman yang memecahkan lamunanku. Kini, tibalah giliranku maju ke lapangan dan menjalani ujian praktek olahraga hari ini.
Kumasuki lapangan basket dengan tegang,
tak lupa mengucap bismillah dan kukonsentrasikan pikiran dan tanganku ke arah ring basket dan "pluukk."
Aku berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring dengan mulus. Tak hanya sekali tetapi 3 kali berturut-turut.
"Horee!" Teriakku spontan saking gembiranya berhasil mendapatkan nilai sempurna di ujian praktek olahraga dan kulemparkan senyum ke arah Aydan.
Aydan membalas senyumku dengan bangga dan mengacungkan jempolnya ke arahku seakan berkata "Kamu hebat!"
__ADS_1
"Widiihhh, kemasukan setan apa itu si zelek? Kok jadi jago masukkin bola ke ring!" Teriak Shane yang menghancurkan kesenanganku.
Belpun berbunyi, tanda kami harus kembali ke kelas dan mengerjakan ujian terakhir hari ini yaitu ujian Biologi.
Pengawas ujian biologi hari ini adalah Bu Meisya sang guru killer. Harapan anak-anak di kelas untuk menyontek pupus sudah. Tapi sepertinya, hari ini dewi fortuna sedang berpihak kepada kelas 7E.
Bu Meisya kelihatan kurang sehat seperti terkena flu dan membuat beliau mesti bolak balik ke kamar mandi. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan anak di kelas terutama Shane.
"Dan, woiii minta jawaban soal nomor 1-5!" Teriak Shane yang dibarengi lemparan kertas kosong.
" Oke bos!" Teriak Aydan menurut dan langsung melempar kembali kertas tersebut.
Hanya aku yang fokus mengerjakan ujian biologi ini dengan usaha sendiri apalagi biologi merupakan salah satu pelajaran kesukaanku.
" Aydan, minta jawaban soal essay 1-3!" Teriak Shane kembali dan melempar kertas itu lagi tapi sayangnya lemparannya agak meleset dan terlempar ke mejaku.
Lebih sialnya lagi, saat aku baru memegang bulatan kertas itu, Bu Meisya masuk ke dalam kelas.
" Astaga! Kamu menyontek Azelia?" Tanya Bu Meisya dengan nada meninggi
"Bukan bu! Kertas ini punya Shane." Ucapku meluruskan kesalahpahaman.
" Benar ini punya kamu Shane?" Tanya Bu Meisya kepada Shane.
" Bu..bukan bu! Azelia bohong, saya ada saksi, ini punya Azelia kan Aydan?" Ucap Shane gugup dan bertanya ke Aydan
" I...iya bu." Jawab Aydan ragu-ragu.
Bagai petir di siang bolong, sosok yang tadi pagi jadi penolongku malah menusukku dari belakang seperti ini.
__ADS_1
"Azelia, ibu tidak menyangka kamu sepert ini, ibu kira kamu murid yang pintar dan jujur." Ucap Bu Meisya dengan nada kecewa.
" Ok, karena kamu curang, kamu harus disetrap di depan kelas selama 10 menit." Tegas Bu Meisya.
Aku hanya bisa menatap Aydan sinis sambil menahan tangis dan menjalani hukuman yang sebenarnya bukan kesalahanku ini.
Setelah 10 menit berlalu, kukembali duduk dan mengerjakan soal diwaktu yang tersisa. Untungnya semua materi ujian biologi ini sudah ada di otakku dan aku yakin menjawab soalnya dengan benar.
Bel berbunyi, tanda waktunya pulang sekolah
Segera kuberlari keluar kelas sambil menahan amarah yang meletup-letup di dadaku dan dikejar oleh Aydan
" Zel, please tunggu ada yang mau gue omongin!." Teriak aydan sambil berlari mengejarku
" Tidak ada yang perlu dibicarakan, kamu jahat dan! padahal aku kira kita bisa berteman akrab! Ternyata... Mulai sekarang, jangan sok akrab sama aku! Kupastikan nilai raporku lebih bagus dari kamu!" Teriakku tegas dan berlalu pergi meninggalkannya.
Setelah itu, hari-hari kulewati dengan belajar dan belajar agar bisa mendapatkan nilai maksimal di setiap ujian. Tekadku hanya untuk mengalahkan nilai-nilai Aydan. Kami tidak pernah bertegur sapa lagi.
Dan disinilah aku, mendapatkan ranking 1 di kelas dan Aydan hanya ranking 10.
_______________________________
Hari yang baru semangat baru, usahaku tidak sia-sia, aku sekarang mendapatkan kelas 8A yang menjadi kelas unggulan.
Bangga bisa menjadi siswa unggulan dan bahagia karena aku yakin tidak akan sekelas lagi dengan si rese Aydan.
" Hai, kok sendirian aja? Gue boleh duduk disini?" Tanya seorang cewek yang membuyarkan lamunanku sambil mengulurkan tangannya tanda berkenalan.
Aku yang baru saja ingin menjabat tangannya mendadak diam membatu karena menatap sosok Aydan dan Shane yang dengan santainya masuk ke kelas baruku.
__ADS_1
"Ya Allah, cobaan apa lagi yang akan kau berikan 1 tahun ini? Kenapa sih harus sekelas lagi dengan duo rese itu." Gerutuku dalam hati yang tak habis pikir dengan ikatan takdir kami bertiga.