Sunny?

Sunny?
Penolong


__ADS_3

Hari ini adalah hari menyebalkan lainnya buatku selain hari dimana ada pelajaran Fisika.Ya hari dimana ada jam pelajaran olahraga.


Seperti biasa, pelajaran olahraga selalu diawali dengan lari memutari lapangan sekolah. Aku dan Icha selalu menjadi siswa paling terakhir setiap berlari.


"Duh, cha, sumpah aku capek banget, aku mending disuruh baca tumpukan buku deh dibanding harus lari memutari lapangan ini." Gerutuku dengan nafas ngos-ngosan dan langsung terjatuh duduk dipinggir lapangan.


"Iya, bener zel, aku udah enggak kuat." Jawab Icha yang juga terduduk lemas disampingku sampai terdengar suara peluit Pak Firman


" Ayo anak-anak bangun, sekarang waktunya belajar memasukkan bola basket ke dalam ring, ingat kamis depan bapak akan ambil nilai praktek kalian dari cara kalian memasukkan bola," terang Pak Firman sambil memanggil 2 anak untuk bergantian latihan memasukkan bola.


Semua berjalan lancar, hampir setiap anak di kelas kesusahan memasukkan bola ke dalam ring saat latihan pertama kali, tapi semua berubah ketika Pak Firman mulai memanggil nama Shane dan Aydan.


Shane dan Aydan justru berlomba siapa yang paling banyak memasukkan bola ke dalam ring basket tanpa kesusahan sekalipun layaknya atlet basket profesional.


Hal itu membuat banyak anak di kelas tertarik mengerubungi mereka berdua dan melihat siapa yang menang terutama para cewek-cewek kelas 7E kecuali aku dan icha tentunya.


"Huh! Dasar tukang pamer!" Gerutuku sambil menarik tangan icha menjauh dari kerumunan fans Shane Aydan dan duduk di pinggir lapangan.


Aku dan icha lebih memilih duduk dipinggir lapangan, menunggu giliran dipanggil sambil asyik mengobrol soal pelajaran kimia yang kami sukai.


"Zel, aku ke kantin sebentar ya, mau beli aqua,kamu mau titip?" Tanya Icha yang kujawab dengan anggukan.


Aku yang sedang asyik melamun sambil menunduk bermain krikil, dikagetkan oleh teriakan Icha dari kejauhan.


"Awas Zel!!" Teriak Icha yang membuyarkan lamunanku dan ketika menengok ke arah depan, kulihat bola basket yang mendekat ke arahku.


"Ahhhh!!!!!" Teriakku spontan sambil menutup mata pasrah akan terkena lemparan bola basket.


Tapi anehnya aku tidak merasakan apa-apa dan hanya ada suara tawa Shane dan Aydan yang menggelegar.


"Hahahaha, lihat si zelek ketakutan gitu, padahal bolanya kan terlempar ke arah sampingnya!" Ucap Shane bersemangat sambil menjulurkan lidahnya seakan meledek


"Makanya zel, kalau di lapangan jangan ngelamun, hahaha," timpal Aydan yang kompak dengan shane menertawakan aku.


Kuhampiri mereka berdua dengan wajah merah padam akibat kesal dengan keisengan mereka "kalian pasti sengaja kan mengarahkan bolanya ke aku!!!"


"Sudah-sudah, Shane dan Aydan minta maaf ke Azelia," perintah Pak Firman melerai kami


" Ok ok ok, Sorry deh!" Jawab mereka kompak dengan nada malas-malasan sebelum keluar lapangan.


" Ya sudah, Azelia Icha, sekarang giliran kalian yang latihan memasukkan bola ke dalam ring," perintah pak Firman.

__ADS_1


Dengan perasaan yang deg-degan kami berduapun memasuki lapangan. Kuangkat bola yang cukup berat dan kucoba lemparkan ke dalam ring.


"Harusnya dengan tinggiku ini, memasukkan bola ke dalam ringpun lebih mudah," celotehku dalam hati dengan percaya diri.


Tapi ternyata kenyataannya tak seindah pikirku...sudah berkali-kali melempar bola tapi tak ada satupun yang berhasil masuk. Sedangkan, icha saja sudah berhasil memasukkan bola sekali.


" Hahaha, payah juga ternyata Azelia,masa dari tadi lempar bola gak ada satupun yang masuk," ucap Aydan diiringi tertawa yang lain.


Belum sempat aku membalas ucapannya, bel tanda pulang sekolahpun berbunyi.


"Ya sudah, azelia, kamu harus lebih sering latihan memasukkan bola, ingat minggu depan penilaian," nasehat Pak Firman sebelum menutup pelajaran dan pulang.


" Huh, lihat aja Aydan! Aku akan mengamati cara melempar bola yang benar saat Shane and the gank bermain basket sore ini," tekadku dalam hati.


Kutunggu sampai sekolah cukup sepi dan benar saja seperti biasa Shane and the gank sedang berkumpul di lapangan untuk bermain basket sebelum pulang.


Aku bersembunyi di dekat pohon samping lapangan, mengamati cara mereka bermain basket dan sesekali kugerakkan tanganku seperti cara mereka melempar bola ke dalam ring.


Sekitar 30 menit mereka bermain sebelum akhirnya mereka pulang.


Akupun kembali bersembunyi dibalik pohon menunggu mereka pulang sebelum aku keluar dan pulang. Tiba-tiba kudengar pembicaraan Shane dan Aydan.


"Ahh, loe duluan aja dah Shane, gue masih ada urusan," jawab Aydan mendadak dan seakan berjalan ke arah pohonku.


Dan benar saja ternyata Aydan tahu aku yang sedang sembunyi di balik pohon.


" Woi, Zel, loe ngapain sembunyi disini, lagi ngintipin gue ya?" Cecar Aydan sok tahu.


" Gak kok, ehmm,. Aku...aku lagi.." bingung mau jawab apa tetapi tiba-tiba Aydan bicara


" Ehh, ya udah lah, daripada loe diem disini, yok mending tanding masukkin bola ke dalam ring sama gue," ajaknya tiba-tiba spontan.


"Hah? Ngapain juga aku tanding sama kamu," jawabku bingung atas ajakannya yang aneh.


"Ya gpp, kalau loe menang, gue beliin deh apapun yang loe mau," ajaknya kembali dengan senyum penuh percaya diri.


"Ok, deal, siapa takut," jawabku tegas.


Awalnya aku tentu kesulitan memasukkan bola ke dalam ring sampai tiba-tiba Aydan memegang tanganku dan menunjukkan cara melempar bola yang benar.


" Zel, gini lho cara pegang bola dan melemparnya ke dalam ring," ucapnya sambil melempar bola dan ya pastinya bola itu masuk ke dalam ring.

__ADS_1


Kucoba melakukan hal yang dicontohkan oleh Aydan dan akhirnya "Horee, Masuk!!!" Teriakku gembira sambil lompat-lompat yang diiringi tawa Aydan akibat tingkah lakuku.


Kamipun bertanding 1 lawan 1 siapa yang paling banyak memasukkan bola ke ring dan tanpa diduga ternyata aku berhasil mengalahkan Aydan.


"Wah, ternyata loe jago juga ya kalau diajari, okay gue akui kekalahan gue, loe mau apa?" Tanya Aydan tegas sesuai kesepakatan awal.


" Hehe, enggak usah, akhirnya bisa masukkin bola ke dalam ring aja aku sudah seneng banget kok," jawabku dengan senyum sumringah sambil berlari kearah kamar mandi untuk mengganti baju olahragaku.


Dengan langkah gembira kumasuki area kamar mandi khusus untuk ganti baju olahraga sampai kututup pintu dari dalam tanpa diganjel. Aku lupa bahwa kamar mandi ini rusak dan harus diganjel dari dalam agar tak terkunci.


" Aduh gimana ini? Tolong...Tolong...Aku kekunci di kamar mandi," teriakku kencang sambil menggedor-gedor pintu berharap masih ada orang diluar yang menolong.


10 menit berlalu san tidak ada satupun orang yang datang menolong.


" Hikss..Hikss...Tolong..Aku kekunci," teriakku yang sudah bercampur tangisan sambil duduk berjongkok pasrah karena mungkin tidak ada yang menolong hari ini.


"Zel..Zel...loe didalem??" Teriak seseorang yang kutahu Aydan.


" Aydan, iya gue di dalem kekunci, tolongin gue, hikss," ucapku masih sambil menangis.


"Zel, loe menjauh ya dari pintu, gue mau dobrak," teriak Aydan dari luar.


Tak menunggu lama, akhirnya aydan bisa mendobrak pintu kamar mandi


Kutatap Aydan yang sudah berdiri di depanku dan menangis karena rasa takut yang tersisa.


"Zel, loe gak apa-apa kan? Gue nungguin loe di lapangan sampai 10 menit buat nepatin janji gue tapi loe gak balik-balik akhirnya gue inisiatif cari loe," jelasnya panjang lebar sambil mengulurkan tangannya untuk menolongku berdiri.


" Hikss...iya..aku gpp...makasih banget dan, untung ada kamu," ucapku saat sudah lebih tenang dan meraih tangannya.


" Ya udah berhenti nangis, nanti dikiranya gue ngapa-ngapain loe lagi, jadi loe mau dibeliin apa?" Tanya Aydan dan tersenyum mencoba mengalihkan rasa takutku.


" Aku mau...Es krim," jawabku polos sambil menahan sisa tangisku.


"HAHAHAHA, dasar zelek, dari sekian banyak makanan / minuman, loe malah minta es krim? Dasar anak kecil!" ucapnya sedikit mengejek disertai tawa.


"Ihh, biarin aja!" Jawabku dengan muka cemberut sambil menginjak kakinya dan berjalan menjauh duluan ke luar sekolah.


" Aww! Sakit woi! udah ditolongn juga, ya udah ayok beli es krim dah," ucapnya kesal sambil langsung menyusul ke arahku.


Akhirnya sore itu kuhabiskan dengan makan es krim bareng Aydan sebelum pulang. Di mobil, aydan juga terus mengejekku yang menangis saat kekunci di kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2