
Kamipun masuk ke dalam rumah sri yang sudah dipenuhi oleh tetangga dan kerabat. Terlihat sri yang sesekali menangis histeris di sebelah ibunya.
Nilam yang sudah tak tahan melihat teman dekatnya itu menangis sedih langsung berlari menghampiri sri dan memeluknya.
"Sri, kamu yang kuat ya, aku ikut berduka atas kehilanganmu, tapi aku yakin ayah kamu pasti sudah ada di tempat yang paling baik." Hibur Nilam sambil meneteskan air mata.
"Nilam, thanks banget ya loe ada disamping gue saat ini, aamiin semoga ayah gue ada di tempat yang layak disisiNYA." Balas nilam sambil coba tersenyum
Kamipun menyusul nilam dan menghampiri sri yang sedang berpelukan dengan nilam erat. Shane pun maju mewakili kami berempat.
" Sri, kita turut berduka atas meninggalnya ayah loe, semoga amal ibadah beliau diterima disisiNYA dan loe sekeluarga diberikan ketabahan dan kesabaran." Ucap shane penuh ketulusan
" Ya sri benar kata shane barusan, oh iya, ini juga ada sedikit titipan dari anak-anak sekelas, semoga bisa sedikit membantu." Timpal Rachel sambil memberikan amplop cokelat hasil iuran anak kelas 8A.
" Ya, makasih banyak ya Shane, Rachel, Azelia dan Aydan udah menyempatkan diri datang melayat kerumahku, sampaikan juga rasa terimakasihku kepada anak-anak sekelas" Balas Sri dengan raut wajah sedih dan mata sembab kebanyakan menangis.
__ADS_1
Kamipun ikut mendoakan ayah sri sampai Bu Evelin datang melayat dan meminta kami pulang.
" Guys kalian pulang duluan aja ya, aku masih ingin disini menemani sri sampai prosesi pemakaman." Ucap Nilam tiba-tiba yang masih memeluk Sri.
" Ya, tidak apa-apa, kalian pulang duluan saja sudah sore, nanti biar nilam pulang bareng ibu saja." Timpal Bu Evelin setelah mengucapkan belasungkawanya kepada Sri dan ibunya.
Kamipun menurut dan berpamitan kepada sri dan ibunya. Kami kira semua akan berjalan lancar tapi ternyata sudah 1 jam kami menunggu angkot di depan gang Blimbing tapi tidak ada satupun yang lewat, aneh.
Aydan langsung inisiatif mendatangi ibu penjual nasi padang di Rumah Makan Sederhana depan gang Blimbing.
" Permisi bu, maaf saya mau tanya, ini kenapa daritadi tidak ada satupun angkot yang lewat ya?" Tanya aydan sesopan mungkin.
" Oh begitu ya bu, baik terimakasih banyak atas informasinya." Ucap Aydan penuh hormat dan pamit pergi. Diapun langsung menghampiri kami dan menceritakan situasinya.
" Jadi gimana nih? kita mau nunggu disini sampai maghrib atau lanjut jalan kaki, toh gak begitu jauh jarak dari kampung ini ke pool angkot dekat sekolah." Tanya Shane kepada kami.
__ADS_1
" Aduh, kalau nunggu disini sampai maghrib masih lama banget, sekarang juga baru jam 3 sore, aku takut dimarahin karena pulang telat" Jawabku cemas sambil melihat jam di tangan
" Kalau gue sih milih jalan kaki aja sampai pool siapa tahu ada angkot yang ngetem dan gak ikut demo." Usul aydan yang masuk akal
" Ya, gue setuju sama aydan, kasihan azel kalau sampai dimarahin karena kemaleman" Balas rachel sambil tersenyum ke arahku.
Akhirnya kamipun memutuskan untuk berjalan kaki sampai pool dan berharap ada angkot yang ngetem. Awalnya kami baik-baik saja menyusuri jalan sampai mendadak ada suara brak dan teriakan.
" Aduh! sakit!" Teriak rachel sambil meringis menahan sakit karena jatuh akibat tersandung batu yang cukup besar.
" Astaga! rachel kamu enggak apa-apa? sini aku bantu" Ucapku panik dan langsung mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
" Aww! sakit zel, gue gak kuat berdiri kayaknya kaki gue terkilir deh." Jawab rachel dengan wajah pucat menahan sakit.
" Aduh gimana dong?" Gerutuku panik melihat rachel kesakitan.
__ADS_1
Tiba-tiba Shane berjalan mendekati rachel dan berjongkok tepat di depan rachel.
" Udah sini, loe naik ke punggung gue aja boncel." Tawar Shane yang membuat kami semua terkaget atas idenya.