Sunny?

Sunny?
Takdir?


__ADS_3

"Selamat bertugas untuk para perangkat kelas 8A yang baru, jadi tugas pertama kalian adalah menghias kelas selengkap mungkin, dari mulai peralatan kebersihan, hiasan dinding,dsb." Ucap Bu Evelin pagi itu.


"Oh iya, tugas sekertaris untuk melist daftar barang yang dibutuhkan, tugas bendahara mengumpulkan iuran untuk membeli perlengkapan kelas bersama ketua kelas, kalian mengerti?" Tanya Bu Evelin yang menutup jam pelajaran pertama.


Saat jam istirahat, Rachel langsung mulai mengelilingi kelas untuk meminta iuran.


"Zel, loe bisa bantu gue gak ngumpulin uang , gue kan mesti mencatat semua iuran yang masuk?" Tanya Rachel dengan wajah penuh harap


"Oke, boleh." Jawabku yang diiringi senyuman lega dari rachel.


Semua berjalan lancar, aku memasukkan uang iuran anak-anak ke dalam kardus kecil sementara rachel yang mencatat jumlah iuran anak-anak di buku sampai kami tiba di bangku Aydan Shane.


" Shane, sini kumpulkan iuran bagianmu." Pintaku pada shane sambil menyodorkan kardus kecil.


" Eh, zelek, gue kan ketua kelas, jadi gak usah ikut iuran deh ya?" Ucap shane dengan santainya tanpa rasa malu.


"Woi, loe jangan seenaknya ya! Mau loe ketua kelas kek, guru kek, kalau mesti ikutan iuran ya tetep harus bayar!" Ucap rachel tegas sebelum aku sempat membalas perkataan shane.


" Dih, sewot banget deh loe hel! Gue lagi ngomong sama zelek ya, bukan loe!" Jawab aydan tak kalah kerasnya.


" Eh, ini tanggung jawab gue ya sebagai bendahara kelas! Kalau loe gak mau bayar uang iuran, gue laporin loe ke Bu Evelin." Ucap rachel tegas tanpa ampun


" Dih! Dasar Boncel Pelit!" Ucap shane kesal sambil melemparkan uang iurannya ke kardus

__ADS_1


" Biarin!" Balas rachel sambil menjulurkan lidahnya tanda mengejek dan menarikku menjauhi meja mereka berdua.


Bel pulang sekolah berbunyi, aku dan rachel bersiap pulang bersama karena kebetulan rumah kami searah tetapi tiba-tiba shane menghampiri rachel.


" Woi boncel, besok jumat siang kita ketemu di Mall Cosmopolitan buat beli perlengkapan kelas yang dibutuhkan, gue ogah dilaporin sama boncel bawel kayak loe!" Ucap shane tanpa menunggu jawaban dan langsung berlalu ke luar kelas.


***


Di angkot


"Ihh, apaan sih cowok rese itu, mentang-mentang ketua kelas main perintah seenaknya aja mana gak tanya jawaban gue dulu, nyebelin!" Gerutu rachel penuh emosi kepadaku selama perjalanan


"Ya, sabar aja hel, shane emang gitu orangnya." Balasku mencoba sedikit menenangkannya.


" Ide apa hel?" Tanyaku penasaran atas ucapan rachel


" Loe ikut gue aja ya belanja ke Cosmopolitan? Please..cuma loe yang bisa meredam amarah gue tiap berhadapan sama si shane." Ucapnya penuh semangat dengan tatapan memohon


" Hah? Duh gimana ya? Bukannya aku enggak mau, tapi aku takut enggak diizinin sama orangtua aku." Jawabku ragu-ragu atas permohonan rachel.


Aku memang lahir di keluarga yang masih sangat konvensional, aku harus minta izin jika ingin pergi kemanapun itupun hanya boleh yang dekat-dekat saja, syarat utama lainnya adalah harus dengan teman perempuan.


" Ohh, tenang aja, nanti biar gue yang minta izin ke orangtua loe sekalian kenalan deh." Ucapnya tanpa keraguan yang kujawab dengan anggukan tanda setuju.

__ADS_1


Rachelpun memutuskan turun di gang rumahku untuk berkenalan dengan orangtuaku sambil meminta izin.


***


Dan disinilah aku sekarang, dengan berpakaian babydoll pendek dan celana jeans berdiri pertama kalinya di lobby Mall Cosmopolitan bersama rachel yang terlihat keren dengan kaos pendek, celana jeans dan topi di kepalanya.


" Hel, terimakasih banyak ya sudah mengajak aku kesini, sejujurnya ini pertama kalinya aku berjalan-jalan di Mall Cosmopolitan." Ucapku penuh semangat karena pemandangan mall di sekitarku.


" Harusnya gue kali yang berterimakasih sama loe karena mau nemenin gue belanja bareng si rese shane itu." Balasnya dengan senyum tersungging di bibirnya.


Dari kejauhan terlihat seorang cowok berjalan ke arah kami berdiri, cowok yang memakai jaket hitam, celana pendek dan rambut jigrak yang tentunya kami tahu bahwa dialah si rese shane.


Tapi ternyata, dia tidak datang sendiri, disampingnya berdiri cowok tinggi berkacamata dengan kaus panjang dan celan jeans.


" Aydan?" Tanyaku spontan yang dibalas dengan senyuman


" Lah, loe ngajak Aydan Shane?" Lanjut Rachel menanyakan hal yang sama.


" Iyalah, loe sendiri ngapain ngajak Azelia?" Ucap shane ikut bertanya.


" Dih, ya gue ogah lah cuma jalan berdua sama loe! Mending gue ajak Azelia deh." Jawab rachel jujur sambil memalingkan muka.


" Hah! Gue juga sama kali ogah! Makanya gue ngajak Aydan jadi pulangnya bisa nongkrong sekalian." Balas shane tak kalah jujurnya dan ikut memalingkan muka.

__ADS_1


Aku dan Aydan hanya bisa saling bertatapan dan menggelengkan kepala atas kelakuan mereka berdua.


__ADS_2