Sunny?

Sunny?
Don't Judge A Book By Its Cover


__ADS_3

Pagi yang cerah tapi tak secerah hatiku. Aku berjalan dengan malas-malasan menuju gerbang sekolahku.


Hari ini rasanya aku malas berangkat ke sekolah karena pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran Fisika yang aku benci. Sejujurnya, aku suka pelajaran IPA semenjak SD dan menantikan materinya di SMP. Pertama kali belajar Kimia, Biologi semua lancar tetapi di hari ketiga pelajaran Fisika. Aku tak paham sama sekali dari mulai materi pertama.


Kunaiki tangga demi tangga menuju kelas dengan langkah gontai seiring dengan bunyi bel pertama sekolah. Tapi, apa yang kudapati di kelas, anak-anak masih berkumpul dimana-mana, asyik mengobrol tidak jelas.


Padahal, tugas pertama Ketua Kelas adalah harus memastikan anak-anak sudah duduk di kursinya saat bel berbunyi.


Kulihat sekeliling kelas mencari Sang Ketua Kelas yang tidak bertanggung jawab itu.


Ternyata diapun masih asyik ngumpul di kursi paling belakang tempat Shane sambil ketawa ketiwi. Kuhampiri dia untuk mengingatkannya sebelum guru masuk.


" Aydan, kok anak-anak masih belum disuruh kembali ke kursi masing-masing kan udah bel," tegurku mencoba seramah mungkin.


" Hah? Ya gpp kali guru juga belum pada dateng ini," jawabnya setengah meremehkan dan langsung memalingkan wajahnya lagi ke teman-temannya melanjutkan obrolan.


"Tahu loe zelek, bawel banget dah kayak emak-emak PMS, HAHAHA," timpal Shane yang diikuti teman-temannya yang lain.


Kuberbalik arah menuju kursiku dengan muka merah padam menahan malu campur kesal karena perlakuan Aydan dan Shane.


"Sabar ya zel, kamu kan tahu mereka senyebelin apa," ucap Icha setengah berbisik sambil menepuk pundakku.


Ya semua teman sekelas di 7E sudah tahu bagaimana kelakuan Shane and The Genk. Mereka suka berisik di kelas, suka ngejahilin anak-anak, suka corat coret meja, pokoknya semua kelakuan bar-bar.


Parahnya, anak-anak malah senang dengan tingkah mereka karena dianggap meramaikan suasana kelas dan memberikan warna tersendiri. Ya, kecuali anak-anak kuper pecinta perdamaian seperti aku dan Icha.


Mereka bebas melakukan hal-hal seenaknya karena tentunya ada sang Ketua Kelas juga di Genk itu yang semakin membuat image Aydan sebagai Anak Bandel tertanam di pikiranku.


Semua pikiranku itu dibuyarkan oleh kedatangan Pak Aswin sang Guru Fisika.

__ADS_1


Aku menyimak materi demi materi yang disampaikan oleh Pak Aswin dan terus berpikir keras untuk coba mengerti tetapi hasilnya nihil sampai tiba waktunya Pak Aswin menuliskan 1 soal di papan dan harus bisa dikerjakan oleh murid di kelas jika mau pergi istirahat.


Aku yang tidak tahu jawabannya, memilih sedikit menunduk ke arah buku fisikaku agar tidak ditunjuk maju oleh Pak Aswin. Tapi ternyata, trik itu malah jadi senjata makan tuan.


"Azelia, coba kerjakan soal ini di depan," teriak Pak Aswin tegas yang sontak membuat jantungku rasanya mau copot karena dipanggil maju.


10 menit berlalu dan aku masih berdiri di depan papan tulis tanpa bisa mengisi apa-apa.


"Duh, Azel kamu bisa tidak mengerjakannya? Kalian mau tidak istirahat? Ayo dicoba," ucap Pak Aswin yang terdengar mengintimidasi.


Keringat mengalir ke seluruh tubuhku dan mataku berkaca-kaca, rasanya ingin menangis.


" Woy, Zelek, cepetan kerjain soalnya, gue mau istirahat tahu!" Teriak seseorang yang kutahu pasti itu adalah Shane.


Saat kumencoba kembali mengisi soalnya sambil menahan kesal kepada Shane, terdengar suara yang familiar.


Kubergeser kesamping memberikan space untuk Aydan menuliskan jawabannya di papan tulis.


"Ahh sok-sokan mau ngerjain soalnya, palingan juga enggak bisa kayak aku," gerutuku dalam hati karena yakin penilaianku untuk Aydan sebagai "Anak Bandel" pasti tidak meleset.


Tak kusangka, Aydan mampu mengerjakan soal fisikanya dalam 5 menit tanpa kesulitan.


"Oke, jawabanmu benar, kalian boleh istirahat sekarang, kamu boleh kembali ke tempat dudukmu," ucap Pak Aswin dengan lebih tenang.


Sebelum Aydan kembali ke tempat duduknya, dia sempat menoleh ke arahku sambil memberikan senyuman mengejek seperti berkata "Payah, gini doang enggak bisa."


" Untuk kamu Azelia, ayo belajar lebih giat lagi, bapak yakin murid sepintar kamu pasti bisa mengerti materi Fisika ini sedikit demi sedikit, silahkan kembali ke tempat duduk," ucap Pak Aswin bijak sebelum menutup pelajaran dan keluar kelas.


"Ya, mungkin awal penilaian aku tentang cowok berkacamata pintar itu enggak sepenuhnya salah tetapi tetap saja predikat anak bandel itu tidak berubah," celotehku dalam hati yang digantikan suara shane.

__ADS_1


"Eh, Zelek, makasih lho sama Aydan, kalau dia gak nolongin loe, kita bisa-bisa gak istirahat hari ini," ucap Shane sambil berlalu keluar diiringi Aydan di belakang.


Ya, walaupun cara ngomongnya Shane super nyebelin, tapi yang diomongkan ada benarnya juga. Segera ku berlari keluar kelas mengejar Shane dan Aydan.


"Makasih Pak Ketua," ucapku singkat dengan wajah menahan malu dan segera berlari kembali ke dalam kelas.


Setelah kejadian Soal Fisika itu, Aydan semakin berani menunjukkan kemampuannya di depan kelas dan mengajukan diri mengerjakan setiap soal yang diberikan. Ya, memang tidak semua soal yang dikerjakannya jawabannya benar.


Tapi sejujurnya aku salut dengan keberaniannya di depan kelas. Sedangkan aku, mungkin bisa mengerjakan semua soalnya dengan benar tetapi tidak berani maju ke depan kelas jika tidak disuruh guru.


Bel tanda pelajaran terakhir berbunyi dan menyadarkanku dari lamunan itu.


Tak berapa lama Bu Meisya masuk dan berkata "Siapa yang tugas membersihkan papan tulis hari ini?"


"Azelia Bu!" Jawab Aydan dan Shane kompak dengan tertawa jahil.


Selama aku melamun, ternyata papan tulis yang tadinya sudah kosong kubersihkan ada yang mencorat coret lagi tulisannya " Awas ada Bu Meisya Si Macan Betina Galak,"


"Azelia, hari ini kamu pulang paling terakhir, bersihkan ruangan kelas ini dan kumpulkan semua tugas anak-anak sekelas di kantor saya," teriak Bu Meisya tegas tanpa memberi ruang aku untuk membela diri.


"Ok, Aku Tarik Kata-kata aku tadi tentang SALUT dengan Aydan, aku benci dia," gerutuku dalam hati sambil melotot marah ke arah Duo Aydan Shane yang berwajah mengejek.


Waktu pulang sekolah tiba, aku masih di kelas membersihkan tiap sudutnya walau bukan jadwal piketku hari ini. Keluar kelas dengan langkah gontai akibat kecapekan piket sendiri dan harus membawa tumpukan buku-buku tugas anak sekelas, ironis dan lebih ironisnya lagi kulihat ada Aydan berdiri di arah tangga mau turun dari kelas.


" Mau apa lagi kamu? Belum puas ngerjain aku sore ini?" Ucapku ketus meluapkan amarah dan berlalu menuruni tangga.


Tapi tiba-tiba Aydan merebut semua tumpukan buku tugas yang kubawa, menuruni tangga dan berjalan sendirian menuju ruang kantor Bu Meisya.


" Sumpah, aku beneran enggak ngerti jalan pikiran Aydan dan orang seperti apa dia," pikirku sambil berjalan keluar gerbang sekolah untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2