
"Bapak! "
Suara tersebut terdengar lirih. Tubuh Retno begetar ketika melihat sesosok gadis yang menyerupai Dara.
"Dara?! Kenapa kamu ada di sini? " tanya Retno. Retno pikir saat itu Dara Diam-diam mengikuti nya kedalam mobil.
Gadis tersebut pun menunduk.
"Ayo kita pulang, di sini sangat berbahaya! " Retno Coba menyentuh tangan gadis tersebut.
Tapi ia tak bisa menyentuhnya. Retno semakin panik, antara takut dan khawatir.
"Dara! Kamu Dara kan?! " Tanya Retno membentak.
"Hiks hiks hiks. Apa Bapak ingat jika Bapak punya dua anak kembar? " tanya gadis tersebut.
"Gadis,"lidah Retno mengucapkan tanpa suara.
"Gadis ingin pulang Pak, Gadis merasa sepi disini! Gadis takut hiks hiks hiks. "
Tubuh Gadis tersebut bergetar, seiring deru angin yang tiba-tiba semakin kencang.
"Bapak Jahat! " Suara Gadis menjadi padat dan berat, seolah bukan suara gadis kecil.
"Bapak tega menggadaikan tubuh Gadis hanya untuk kesenangan Bapak! Gadis menderita di alam ini Pak! Tolong kembalikan Gadis ke dunia lagi. " Gadis.
Tubuh Retno ikut berguncang hebat, seiring deru angin yang semakin kencang. Retno terpaku terdiam dan semakin tak bisa bergerak.
Ia merasa begitu takut,
"Bapak Jahat! suatu saat Gadis akan menuntut balas terhadap Bapak! "
"Gadis! hiks hiks hiks. " Retno menangis dengan suara yang gemetar dengan mata yang melotot.
Karena tiba-tiba saja sesosok jahat datang dan menarik rambut gadis itu. Kemudian Gadis di seret dengan suara yang meronta-ronta.
"Akh!! lepaskan!!! " Teriakannya bergema-gema seolah-olah mengguncang alam sekitarnya.
Perlahan Gadis dan sesosok mahluk tersebut menghilang di kegelapan malam. Beberapa saat kemudian, alam kembali,terasa sunyi mencengkam.
Yang terdengar hanya suara lengkingan anak yang seperti menggelepar, seperti di siksa oleh mahluk menyeramkan tersebut.
Retno menutup telinga nya, tapi suara lengkingan tersebut terus terdengar di telinga Retno. Retno yang tidak tahan coba berteriak sekencang-kencangnya
__ADS_1
"Hentikan! " teriak Retno seketika suara angin kencang. Retno menggigil ketakutan. Ia ingin berlari. Namun langkahnya seperti tercekal oleh sesuatu.
Beberapa saat kemudian Retno pun tumbang.
***
Retno menerjab-nerjabkan matanya melihat keadaan sekelilingnya.
"Dimana aku? " gumannya lirih seraya mengedar pandangan kearah sekitar.
Retno bangkit dengan tubuh yang di penuhi lumpur.
"Ah sial! ternyata aku masih berada di hutan. " Retno.
Retno merasakan kepalanya yang terasa berat. Dengan berjalan sempoyongan Retno menuju arah sungai yang tak jauh dari tempat ia tergeletak.
'Apakah aku semalam bermimpi bertemu dengan Gadis?' tanya Retno dalam hatinya.
Retno menceburkan dirinya kedalam sungai setelah membersihkan lumpur di sekujur tubuhnya, Retno kembali menuju mobil.Sekarang ia sudah merasa senang karena sudah melaksanakan seserahannya.
Retno kembali ke mobilnya kemudian mengemudikan mobilnya untuk menjauhi tempat tersebut.
***
"Gadis! Gadis! Gadis! Dimana kamu?! " tanya Ryan sembari membuka-buka jendela kamarnya untuk mengintip ke arah gundukan tanah tempat ia pertama kalinya menemukan Gadis.
Karena Gadis juga tak kunjung di temukan, ia mengira jika Gadis pergi ke suatu tempat.
Ryan pun melakukan rutinitas seperti biasanya, karena sebentar lagi ia akan masuk sekolah.
Setelah sarapan Ryan menyempatkan diri mencari kembali Gadis. Namun ia kembali tak menemui Gadis.
***
Waktu terus berlalu.
Sudah lima tahun Ryan dan keluarga menetap di tempat tinggal mereka. Memang, selama lima tahun belakangan ini begitu banyak keanehan yang terjadi di rumah tersebut.
Ryan sering kali pingsan karena melihat lihat mahluk halus. Dan demi keamanan Ryan, sang kakek pun menutupi mata batinnya, hingga ia tak lagi bisa melihat hal-hal mistis.
Dan kini Ryan memasuki usia dua belas tahun.
Ryan pun tumbuh menjadi remaja yang tampan. Perlahan Ryan sudah bisa melupakan Gadis.
__ADS_1
Kini Ryan dan keluarganya bermaksud untuk pindah dari rumah tersebut dalam beberapa hari lagi. Tapi tak begitu dengan Gadis, ia baru saja terbebas dari jeratan sang penguasa kegelapan. Padahal rasanya baru lima hari ia berada di dalam kurungan sang penguasa kegelapan tersebut, Namun, keadaan begitu jauh berubah
Di sana Gadis melihat beberapa khodam dari bangsa jin yang menjadi tumbal persugihan di siksa oleh penguasa kegelapan, begitupun dirinya. Namun, penguasa kegelapan tak bisa berbuat banyak pada arwah gadis, karena sesungguhnya nya takdir dan ajal dari Gadis belum pun sampai. Harus Gadis berada di tengah-tengah keluarganya saat ini.
Karena itulah seiring berjalan waktu, Gadis juga ikut tumbuh layaknya manusia normal.
Rencananya, bulan depan Ryan akan masuk sekolah menengah tingkat pertama di kota. Tugas ayahnya pun sudah selesai di kampung ini.
Ryan tengah sibuk mengepack semua barang-barangnya. Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya.
"Ryan. "
Ryan menoleh kearah belakang, seketika ia panik, wajahnya memucat, karena melihat sesosok Gadis yang berwajah pucat.
"Si-siapa kamu? " tanya Ryan.
"Aku Gadis Ryan. Sahabat kamu! " Gadis.
"Ga-gadis yang mana? " tanya Ryan masih gugup
"Kamu sudah lupa Ryan?" Gadis tampak sedih.
Ryan mundur beberapa langkah, entah kenapa ia jadi ketakutan melihat sosok yang ada di hadapannya, padahal wajah Gadis cukup cantik, hanya saja terlihat pucat.
"Pergi kamu! " Ryan.
Gadis tercengang mendengar Ryan yang mengusirnya dengan kasar.
"Ryan, bukannya kita adalah teman, kenapa kamu jadi takut melihat ku Ryan?! "tanya Gadis dengan nada kecewa.
"Jelas aku takut, dunia kita berbeda Gadis, dan kita tak bisa menjadi teman. Sekarang pergilah, jika kau mengganggap ku teman, jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapan ku! " Ryan.
Mendengar penuturan Ryan, Gadis merasa begitu sedih.
Ia pun menjauh dari Ryan yang masih ketakutan.
Gadis melangsa, seseorang yang di anggapnya sahabat, kini sudah tak menginginkan kehadirannya.
Gadis pun terbang mencari tempat sunyi, ia pun menemukan sebuah pohon besar, kemudian menangis sejadi-jadinya di atas pohon tersebut.
Orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut sempat mendengar tangisan lirih yang membuat bulu kuduk seketika merinding.
Bersambung.
__ADS_1