
Bi Yati menuju dapur untuk memeriksa bahan-bahan dapur. Karena setiap akhir pekan biasanya jatah untuk belanja kebutuhan dapur.
"Bawang, garam merica, semua sudah di catatan, tinggal minta tolong pada pak Supri untuk mengantar ke pasar."
Bi Yati menuju garasi, pak Supri memang sudah tahu dengan tugas-tugas.Ia sudah sedia memanaskan mobilnya yang akan di gunakan Bi Yati.
"Ayo Pak, Nanti keburu siang. "
"Iya Bi, Eh tapi tuan pergi kemana Ya? kok mobilnya gak ada? "tanya pak Supri.
"Keluar kota kali Pak. Biasanya kan tuan memang begitu. " Bi Yati.
"Tapi memang akhir-akhir aku suka melihat gelagat tuan yang aneh Bi. "
"Ah sudah ngak usah berfikir yang macam-macam, kagak baik. Ayo jalan."Bi Yati.
Pak supri membawa mobil keluar dari bagasi mobil. Tiba-tiba saja ia merasa merinding.
"Aku kok subuh-bubuh begini, merinding ya Bi? gak biasanya. " Pak Supri.
"Alah, mungkin cuaca subuh aja Pak, " sahut bi Yati sembari melihat daftar belanjaannya.
Tut... tut...
Pak Supri meng-klakson pagar rumah, tapi tak ada yang membukakan mereka pintu gerbang.
Tuttt tutt.
"Pak satpam kemana sih, kok pagar gak di buka. Udah klakson juga. "Pak Supri.
"Tidur kali, Pak. Coba cek deh. Jangan-jangan pak satpam juga hilang seperti Atuh, he he. " Bi Yati masih sempat bercanda.
Pak Supri pun turun dari mobil dan langsung menuju pos satpam.Ia merasa heran ketika membuka pintu pos, ia tak mendapatkan pak Satpam, Hanya kursi dan beberapa barang-barang pak Satpam yang berantakan.
"Kemana perginya tuh orang? " tanya pak Supri.
"Coba telfon dulu lah. "
Pak Supri memang merasakan hawa yang tak nyaman ketika berada di pos tersebut.
Sesekali bulu kuduknya merinding. Saat melakukan panggilan terhadap pak Satpam, ia mendengar suara dering ponsel yang terdengar samar-samar.
Pak Supri coba mencari handphone pak Satpam tersebut, yang ternyata berada di tumpukan kain.
Pak Supri pun meraih handphone tersebut.
"Kemana tuh orang Ya? handphone ada, orangnya ngak ada. "pak Supri.
Karena merasa ada yang aneh, Bi Yati datang menghampiri pak Supri.
"Ada apa pak? " tanya Bi Yati.
"Ini, handphone ada, orangnya yang ngak ada. " Pak Supri.
"Coba cek aja Pak handphonenya , kali-kali aja terjadi sesuatu pada pada pak Satpam. Perasaan ku jadi gak enak gini. "
Bi Yati tiba-tiba saja merasakan tak enak hati ketika melihat pos satpam tersebut berantakan.
__ADS_1
Mereka pun coba membuka smartphone yang tak terkunci tersebut.
Betapa kagetnya ketika mereka lihat video yang merekam peristiwa mengerikan tersebut. Saat itu mereka melihat pak Satpam di tusuk oleh seorang pria yang menyerupai Retno. Saat itu bola mata Retno terlihat merah, seperti memakai lensa kontak.
Ak!!!!
Bi Yati tersentak kagetnya ketika melihat detik-detik pak Satpam meregangang nyawa.
Seketika tubuhnya lemas, meski ia belum selesai menonton sampai selesai rekaman tersebut.
Sementara pak Supri menangis tertahan tubuh dan tangannya pun ikut gemeteran.
Karena ketakutan pak Supri tak sengaja melepaskan genggaman handphone tersebut.
Benda pipih itu terhempas. Untung saja tak terjadi kerusakan pada gawai tersebut.
"Pak Cepat lapor polisi, Pak! " seru Bi Yati dengan bibir gemetar dan wajah yang pucat pasi.
"Ii ya Bi. Apa kita beri tahu nyonya terlebih dahulu? " tanya Pak Supri yang sedikit ragu.
"Jangan pak, telpon polisi atau tetangga sekitar dulu. Amankan barang bukti! " Bi Yati coba untuk memberi solusi.
Dengan tangan gemetar, pak supri coba menelpon tetangga yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.
"Hallo Jang. " Pak Supri menghubungi sopir tetangganya.
"Ada apa Pak? kok seperti orang ketakutan begitu? " tany Mang Ujang.
"Jang, pak Satpam di bunuh Jang. Aku punya rekaman gambarnya. " Suara pak Supri terdengar masih gemetar saat itu. Karena itulah Mang Ujang langsung percaya dengan penuturannya. "
"Hah? Siapa yang melakukannya Pak? " tanya Mang Ujang dengan suara yang bergetar karena kaget.
"Tuan Retno? "
"Iya Jang. Tolong kabarin tetangga yang lain. Sekalian lapor polisi Ya Jang. "
"I -Iya Pak. " Mang Ujang.
Pak Supri berlutut karena tak lagi kuat menahan beban tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Ujang tiba di tempat tersebut, setelah memberi tahu seluruh warga komplek.
***
Lastri tak tahu menahu tentang kejadian tersebut, ia memang sempat mencari keberadaan suaminya. Namun, ia tak ambil pusing. Ia pun menunaikan shalat subuh kemudian dilanjutkan dengan mengaji.
"Mana rekamannya Pak? tanya Ujang yang baru tiba, ternyata pagar tersebut hanya tertutup tanpa di kunci.
"Ini Jang. " Masih dengan tangan yang gemetar, Pak Supri menyodorkan handphone tersebut ke Ujang.
Dengan rasa penasaran yang amat besar, Ujang pun membuka rekaman tersebut. Tak hanya videonya yang menyeramkan tapi juga suara-suara yang tertangkap dari rekaman tersebut tak kalah mengerikan.
"Astaghfirullah !astaghfirullah! astaghfirullah! " berkali-kali Ujang mengucap ketika melihat apa yang terlihat di rekaman tersebut.
Hampir saja ganjet tersebut terpelanting karena kaget dan syoknya ia.
"Astaghfirullah! Baru kali ini saya melihat video yang begitu menyeramkan seperti ini. Kalau gitu saya kirimkan videonya ke nomor saya ya Pak Supri, biar alat bukti tak hilang. " Ujang.
__ADS_1
Ujang pun mengirim video tersebut ke melalui salah satu aplikasi.
Beberapa saat warga berkerumun datang menghampiri mereka. Mereka pun satu-satu persatu melihat isi dari rekaman tersebut.
"Wah benar-benar sadis," ucap Mereka ketika melihat rekaman tersebut.
"Bagaimana saudara-saudara jika kita bakar saja rumah si Retno ini! Ini benar-benar kejam! Ini bukan perbuatan manusia, tapi perbuatan iblis! " Seru salah seorang warga yang terlihat begitu kesal.
"Benar-benar biadab! " timpal warga yang sudah tersulut emosi.
"Ayo kita bakar saja rumah ini! "Seru mereka beramai-ramai.
Lastri heran melihat warga yang berkumpul di depan rumahnya, para warga terlihat kesal dan emosi tersebut, menunjuk-nunjuk kearah rumahnya.
"Ada apa ini? Kenapa warga berkumpul pagi-pagi buta begini? " guman Lastri.
" Tunggu Pak, jangan gegabah. Di sana masih ada orang-orang yang tak bersalah, ada assisten rumah tangga dan nyonya serta non Dara yang seperti tak tahu menahu. " Pak Supri coba menahan emosi warga yang membludak tersebut.
"Alah, gak mungkin. Nyonya Lastri dan putrinya tidak tahu. Jelas-jelas ini perbuatan setan. Retno pasti sudah bersekutu dengan setan. Lihat saja bola matanya yang memerah saat di video! "
"Ayo serang saja! "
Lastri tersentak kaget ketika melihat segerombolan tetangga coba menerobos pak Supri yang menahan massa tersebut.
Terdengar suara sirene mobil polisi.
Dua mobil polisi tiba di tempat kejadian perkara. Hal itu semakin membuat Lastri panik.
'Apa yang terjadi sebenarnya? '
Lastri segera melepas mukenanya. Ia segera keluar kamar menghampiri orang-orang yang berkerumun di halaman rumahnya.
Polisi turun untuk mengamankan warga yang ingin main hakim sendiri.
"Tenang saudara-saudara! Kami pihak berwajib yang akan melakukan proses penyelidikan terhadap laporan salah seorang warga di sini. Saya harap anda semua bisa berkerja sama dengan tidak menghalangi, tidak main hakim sendiri,dan tidak merusak apapun yang mungkin bisa jadi bukti, supaya proses penyelidikan tak mengalami banyak hambatan. " Polisi.
Lastri langsung menghampiri polisi.
"Ada apa ini Pak? "tanya Lastri dengan tubuh gemetar dan jantung yang berdetak kencang, ketika melihat warga yang terlihat emosi menatap penuh amara kepadanya.
"Jangan pura-pura tak tahu Nyonya! suami anda telah melakukan pembunuhan secara sadis terhadap Pak satpam! "
"Hah! Maksudnya apa ini Pak? " Tubuh Lastri semakin gemetar. Seketika ia tak mampu untuk membendung tangisannya.
"Maaf Nyonya, kedatangan kami kemari untuk menindak lanjuti laporan seorang warga, tentang pembunuhan yang dilakukan oleh saudara Retno. "
Hah! Lastri menyentuh bagian dadanya, ia seperti terkena serangan jantung saat itu.
"Tidak mungkin Pak! Ini pasti fitnah! " sangkal Lastri.
"Gak mungkin bagaimana, jelas-jelas ini buktinya. "
Seorang pun menyodorkan handphone tersebut kepada Lastri.
Lastri menangis dengan tubuh yang gemetar.
Kemudian ia berteriak secara histeris ketika melihat rekaman tersebut, tanpa sengaja Lastri melemparkan ponsel tersebut.
__ADS_1
"Tidak mungkin! " seru Lastri sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.
Bersambung.