
Setelah melengkapi surat-surat untuk mengeluarkan Azura, Ryan dan Gadis bermaksud untuk membawa Azura keluar dari rumah sakit jiwa tersebut.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Gadis dan Ryan tampak tegang ketika menyetir mobil yang ia kendarai
Hari ini, eksekusi terhadap Azura harus berlangsung.
Gadis menatap jalanan dengan tatapan hampa. Sesekali Ryan melirik ke arah Gadis, ia pun ikut meneteskan airmatanya.
Di tariknya tubuh Gadis kedalam pelukannya.
Gadis pun menangis dalam pelukan Ryan. Begitu pun Ryan, yang ikut menangis sedih. Hari ini adalah hari terakhir mereka bersama.
Suasana begitu haru, tak banyak Kata-kata yang keluar dari mereka, sesekali hanya terdengar isak tangis dari mereka
berdua.
Tak kurang setengah jam, mereka pun tiba di rumah sakit. Gadis menghapus sisa-sisa air matanya, mencoba untuk tegak berdiri.
Ryan merangkul pundak Gadis melewati koridor.
Setelah menyerahkan persyaratan kepada bagian administrasi, mereka pun di perkenankan untuk membawa Azura.
Petugas rumah sakit membuka gembok kamar Azura. Ketika melihat kedatangan Ryan, Azura tersenyum.
Ryan berjalan dengan detak jantung yang tak karuan menghampiri Azura.
" Ayo ikut aku. " Ryan meraih tangan Azura kemudian merangkulnya. Azura tersenyum ketika Ryan membawanya keluar dari ruangan pengap tersebut.
Sementara itu, Gadis berjalan mengekori mereka.
Sesampainya di parkiran, Ryan membukakan pintu untuk Azura masuk, agar duduk di sampingnya.
Ketegangan kembali terjadi di dalam mobil, sejak kehadiran Azura.
Sesekali Gadis meneteskan airmata, inilah hari terakhirnya di dunia ini.
Gadis menatap keluar jendela, mencoba menahan air matanya yang terus saja menetes.
Beberapa menit sekali Ryan melihat kearah spion atas mobil untuk melihat keadaan Gadis.
Ryan ikut menangis membayangkan apa yang akan akan terjadi sebentar lagi.
__ADS_1
***
Perjalanan ini terasa begitu sebentar, padahal mereka sudah menempuh satu jam perjalanan.
Mobil Ryan masuk ke sebuah jalan kecil yang di kelilingi rerumputan tinggi di sekitarnya.
Tempat tersebut adalah lokasi proyek yang terbengkalai.
Mobil pun berhenti di suatu titik.
Jantung Ryan berdetak dengan kencang, dengan gemetaran ia menutup kunci kontak mobilnya.
Ryan menoleh kearah Gadis yang tampak tegar dengan bola matanya yang sembab.
Gadis menoleh ke arah Ryan dan mengangguk sebagai isyarat untuk melanjutkan misi mereka. Ryan pun membalas anggukan tersebut.
" Azura, aku punya sesuatu. " Ryan merogoh saku celananya untuk mendapatkan sesuatu.
" Aku punya ini, " ucapnya sambil memotong coklat yang berwarna putih, kemudian menyodorkannya ke mulut Azura.
Azura memperhatikan apa yang Ryan sodorkan.
Ia pun sedikit menghindar.
Azura yang sudah terlanjur percaya pada Ryan, dengan mudah menerima suapan dari Ryan tersebut.
Azura langsung menelan potongan coklat tersebut. Beberapa saat kemudian ia merasakan perutnya yang bergejolak.
Ryan membuka pintu mobilnya untuk Azura, kemudian Azura langsung melompat keluar dari mobil untuk muntah.
Uek uek Azura memuntahkan sesuatu ya menjijikkan.
Ryan menghampiri Azura mengusap punggung Azura.
Azura terus muntah-muntah, ia pun menjadi lengah. Sementara Gadis datang dengan membawa pisau berhulu lancip kemudian ia menusukkan pisau tersebut ke tubuh Azura berkali-kali seraya menangis.
" Kau harus mati! Kau harus mati! " seru Gadis sambil menangis ketika menikam punggung Azura.
Ryan ikut menangis kala itu, melihat Gadis yang yang menhujami tusukan pada Gadis iblis itu.
Akh! Akh! jerit tangis Azura melengking di kesunyian tempat tersebut
__ADS_1
Tubuh Ryan gemetar menahan tubuh dengan tangis tertahan ketika melihat hal yang mengerikan tersebut.
" Siapkan pembakaran Ryan!"seru Gadis sambil terus menusukkan senjata tajam tersebut ke bahu gadis iblis tersebut.
Tumpukan kayu bakar tersebut sudah di siram bahan bakar terlebih dahulu.
Tubuh Azura tumbang. Saat itu ia mengalami kematiannya sebagai manusia.
Ryan menyulut api dengan korek api kemudian ia melemparkan nyala api tersebut ke atas tumpukan kayu bakar yang sudah di siram bensin.
Seketika api menyala dan membesar melalap semua tumpukan kayu.
Pembakaran sudah siap, Azura terkapar dengan bola mata yang membelalak.
" Cepat seret dia Ryan! sebelum roh iblisnya bangkit! "
" Akh! " suara Azura terdengar menyeramkan.
Ryan dan Gadis menyeret tubuh tersebut kemudian mencampakkan kedalam kobaran api yang menyala.
Akh! Azura berteriak histeris di dalam kobaran api.
Kobaran api tersebut langsung melahap tubuh Gadis tanpa ampun.
Gadis dan Ryan seketika langsung menangis melihat kobaran api. Tak adalagi harapan untuk Gadis tinggal di dunia ini.
Gadis berlutut karena tak kuat menahan tubuhnya yang terguncang.
Ryan dengan langkah gontai menghampiri Gadis kemudian memeluknya.
" Tolong jangan pergi lagi Gadis, " ucapnya di sela-sela isak tangisannya.
" Maaf Ryan, aku harus pergi, " ucap Gadis sambil memeluk erat tubuh Ryan.
Ryan pun semakin erat memeluk tubuh Gadis. Beberapa saat kemudian pelukan Gadis terasa longgar.
" Gadis?! " Ryan merenggangkan pelukannya, kemudian melihat kearah wajah Gadis yang pucat.
Tubuh tersebut terasa dingin dan kaku, tanpa ada hembusan nafas .
Hiks hiks. Gadis!!! seru Ryan kembali menangis memeluk tubuh kaku yang ada dalam dekapannya.
__ADS_1
Bersambung lagi.