
Pukul sepuluh siang, waktunya Ryan pulang sekolah, ia berlari menuju pintu gerbang sekolahnya dan menghampiri kakeknya.
"Kek, hari ini Ryan berkenalan dengan teman-teman baru," ucap Ryan dengan senang.
"Oh, ya, Ryan senang dong?"
"Seneng banget kek!" ujarnya sambil menaiki motor pak Karto.
"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang!" pak Karto.
"Ayo Kek!" Ryan.
Pak Karto membawa Ryan pulang dengan motornya sepanjang jalan ia pun bercerita banyak hal
Setibanya nya dirumah Ryan langsung masuk ke kamarnya, setelah mengganti pakaian di kamarnya ia pun mengambil bola untuk bermain.
Pandangan Ryan tiba-tiba tertuju pada seorang anak kecil yang duduk sendirian di atas sebuah gundukan. Tepat berada di depan jendela kamarnya.
Ryan melihat melalui kaca jendela kamarnya.
"Siapa anak itu? " guman Ryan.
Ryan pun keluar dari kamarnya dan berlari menghampiri gadis tersebut.
Gadis kecil itu tertunduk dengan rambut sebahu.
Gadis itu mengenakan baju putih selutut, Ryan tanpa sungkan mendekati gadis tersebut.
"Hay, kamu siapa?"tanya Ryan yang berjalan mendekati anak kecil tersebut.
Gadis itu pun menoleh kearah Ryan dengan tatapan datar dan wajah pucatnya.
Ryan sempat kaget melihat wajah gadis kecil tersebut, sebenarnya gadis tersebut imut dan lucu,hanya saja wajahnya sedikit pucat.
"Aku Ryan, nama kamu siapa?" Ryan menyodorkan tangannya ketika tubuhnya tak berada jauh dari gadis kecil tersebut.
"Aku Gadis," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Oh, kamu kenapa terlihat sedih?"tanya Ryan.
"Aku sedih karna, di tinggal sendiri oleh orang tua ku, mereka hanya membawa Kakak ku," ucap gadis tersebut dengan nada bicara yang datar.
"Oh, kalau gitu kamu ngak perlu sedih, aku juga sering di tinggal kedua orang tua ku, tapi aku ngak sedih," ujar Ryan.
"Kalau gitu kamu mau kan berteman dengan ku, " ucap Ryan.
Gadis pun tersenyum, merasa senang karna kini ia punya teman.
Melihat wajah Gadis yang aneh serta tangan Gadis yang terasa sangat dingin, sedingin es, Ryan merasa takut, ia pun menjauh dari gadis tersebut.
"Kenapa tangan kamu sedingin ini sih?"tanya Ryan gugup, karna ia juga baru menyadari jika tatapan mata gadis terlihat kosong.
"Jangan takut Ryan!"
"Aku, aku, aku bukan manusia Ryan, aku adalah arwah tanpa jasad" , ucap Gadis.
__ADS_1
"Maksud kamu? Kamu hantu?"tanya Ryan yang semakin gemetaran.
"Ngak, aku bukan hantu atau sejenisnya, karna sebenarnya aku belum mati, aku tak tahu dimana tubuh ku berada, kata eyang halus, tubuhku sudah di gadaikan orang tua ku, sebagai tumbal persugihan untuk mencari kekayaan," papar Gadis lagi.
"Persugihan? Apa itu?"tanya Ryan heran.
Gadis tak menjawab, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi, jika kamu bukan hantu, lalu kamu itu apa?"tanya Ryan lagi.
"Aku seperti kamu Ryan, aku arwah yang tersasar karna aku tak menemukan tubuhku, aku sedang berada di antara dua dunia,dunia manusia dan dunia jin, jadi aku ngak bisa jadi manusia atau pun jadi Jin, selama tubuh ku tak di temukan," papar Gadis.
Ryan menelan salivanya, "Tapi, tapi kamu ngak jahat kan Gadis?"tanya Ryan gugup.
"Ngak Ryan, malahan kemarin aku bertarung melawan anak jin dan jin dewasa agar mereka tak mengganggu kamu,"papar Gadis.
"Hah, kamu bisa melawan jin jahat?"tanya Ryan lagi.
"Iya, karna aku memiliki dua kekuatan di dari dua dunia, yaitu dunia manusia dan dunia jin, hanya saja mereka sering menggangguku dengan wajah mereka yang menyeramkan," imbuh gadis lagi.
Oh guman Ryan, ia sedikit lebih berani.
"Ryan kamu mau kan jadi teman ku, aku kesepian karna hanya anak-anak seperti kamu yang bisa melihat ku," ucap Gadis.
"Kenapa begitu? Apakah kah kakek ku dan kedua orang tua ku juga ngak bisa melihat kamu?"tanya Ryan lagi.
Gadis menggeleng.
"Tapi kenapa?"tanya Ryan penasaran.
"Ehm, aku juga ngak tahu," guman Gadis sambil menggelengkan kepalanya.
"Gadis, ayo kita main bola,"ajak Ryan.
"Boleh kamu yang lempar aku yang tangkap ya," ujar Gadis.
"Oke," ucap Ryan girang, seolah tak ada lagi ketakutan pada dirinya.
Mereka pun asik bermain bersama, sang kakek pak Karno sibuk membersih sepada motor miliknya, sementara ia melihat Ryan yang sedang bermain bola di halaman belakang rumah mereka.
Gelak tawa Ryan memecah kesunyian tempat itu.
"Ayo Gadis lempar bolanya!" ucap Ryan dengan suka cita.
Pak Karto yang mendengar Ryan seperti bicara pada seseorang, ia pun menghampirinya.
Secara sembunyi-sembunyi, pak Karto mengawasi Ryan.
"Lempar lagi Gadis!"teriak Ryan kembali.
Pak Karto tergaman mendengar Ryan memanggil seseorang padahal tempat tersebut sepi, tak ada siapa pun selain dirinya dan Ryan.
"Kenapa Ryan bicara sendiri?"tanya pak Karto dalam hati.
Ia kembali lagi memperhatikan gerak gerik Ryan yang seperti bermain dengan mahluk yang tak kasat mata.
__ADS_1
Kehadiran pak Karto tertangkap oleh Gadis," Ryan kakek mu mengintip kita bermain," ucap Gadis kepada Ryan.
"Biarkan saja," ucap Ryan sambil kembali melepar bolanya.
"Ryan, jangan bilang pada siapa pun ya jika kita berteman, kau harus merahasiakan nya, " ucap Gadis.
"Hah tapi kenapa? Orang tua ku mereka baik, begitupun kakek ku," ucap Ryan dengan polos.
"Ryan apa kau akan memberi tahu kakek mu jika kita berteman?"tanya Gadis.
"Ngak tahu lah, emang kenapa?"tanya Ryan balik.
"Kalau orang tua atau kakek mu tahu jika kita berteman, mereka akan melarang mu, bahkan mungkin saja, mereka akan membawa mu pindah dari sini," ujar Gadis dengan sedih.
Sementara sang kakek, terus memperhatikan Ryan yang seperti bicara sendiri.
"Tenang saja, aku tak kan memberi tahu mereka," ucap Ryan.
"Eh Gadis, aku sering sekali mendengar suara anak yang menangis saat menjelang magrib, apa itu suara mu?"tanya Ryan lagi.
Gadis tertunduk, wajah pucatnya kembali bersedih.
"Iya, itu aku, aku selalu menangis saat menjelang magrib, saat aku melihat berbagai penampakan aneh dan menyeramkan yang selalu mengganggu ku," ucap Gadis.
Pak Karto pun berinisitif memanggil Ryan, ia takut jika terjadi sesuatu pada anak itu.
"Ryan!"teriaknya.
Seketika Ryan yang sedang asik ngobrol itu pun menoleh kearah kakeknya.
"Iya kek!" sahut Ryan yang menoleh kearah pak Karto sebentar.
"Eh Gadis, ayo kita main di kamar aku yuk, "ajak Ryan.
"Ayok," sambut Gadis senang.
"Tapi kamu jangan berisik ya, nanti kakek ku curiga," ucap Ryan.
"Iya," sahut Gadis sambil meraih jari Ryan dan bergandengan dengannya.
"Ryan kamu bicara sama siapa?"tanya Kakek,ketika Ryan mendekati kakeknya.
"Enggak bicara sama siapa-siapa Kek, lagi mengulang hapalan saja,"kilah Ryan lagi.
Pak Karto memegang janggut putihnya," Ehm kakek pikir kamu bicara dengan siapa.
"Ayo naik,kamu tidur siang dulu ya, ngak usah main terus," ucap Pak Karto sambil berjalan menuntun Ryan.
Sesampainya di kamar Ryan menutup pintunya.
"Eh Ryan, pintunya jangan di kunci ya," cegah sang Kakek sambil menahan daun pintu dengan tangannya.
Ryan pun menutup pintunya dengan rapat dan kembali bermain bersama gadis.
__ADS_1
Bersambung dulu ya. jangan lupa like, rate bintang lima, saran dan komentarnya.