Takdir Cinta Dua Dunia

Takdir Cinta Dua Dunia
Cari Mangsa


__ADS_3

Gadis bangkit dan melepaskan pelukan dari Lastri, karena menyadari adanya bahaya yang akan menimpa saudara kembarnya tersebut.


Karena itulah dirinya mencari keberadaan Dara melalui mata batinnya. Dan menemukan Dara sedang tidur lelap di sebuah kamar yang tak kalah indah dari kamar Dara, sebelumnya.


Dara tersadar ketika hari sudah pagi. Matahari bersinar dengan cerah saat itu, meski rumah tersebut masih di selimuti kabur duka. Namun, Dara memutuskan untuk kembali bersekolah karena takut ketinggalan banyak pelajaran.


Sebelumnya, ia harus pulang ke rumahnya untuk berganti seragam sekolah.


Jarak antara rumah Dara dan rumah kakeknya sekitar sepuluh menit dengan berkendara menggunakan mobil.


Setelah berpamitan pada keluarga mendiang omanya, Dara meminta sopir untuk mengantarnya pulang.


Di dalam mobil, Dara duduk tenang sambil menghubungi Retno.


Beberapa saat kemudian telpon pun tersambung.


"Hallo, Assalamu'alaikum. " Dara.


"Akh!!!" suara seram menyambut sallam dari Dara


Dara tersentak kaget karena yang mengangkat telpon ya tersebut bukanlah ayahnya, tapi suara berat yang menyeringai dan mengerikan.


Jantung Dara berdegup kencang, seketika handphone tersebut terlepas dari genggamannya.


Sang Sopir melihat keanehan terjadi pada Dara.


"Non kenapa Non?! "tanya Pak sopir.


Di sambungan telpon pun terdengar suara Retno yang memanggil-manggil Dara.


"Dara! Dara! kamu masih di sana Nak? "tanya Retno.


Seketika lamunan Dara buyar karena pak supir menyentuh tangannya.


"Non, tidak apa-apa? ". Sopir tersebut sampai berhenti karena khawatir dengan keadaan Dara.


Eh em ..Dara Menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini Non, papa Non pasti khawatir nih, ayo hubungi dia lagi Non. " Saran pak sopir sambil menyodorkan telpon tersebut kepada Dara.


"Ehm, coba bapak saja yang hubungi papa, Pak. Bilang pada beliau jika Dara langsung ke sekolah. " Dara jadi trauma.


dalam hatinya berkecamuk beberapa pertanyaan. Kenapa semua terasa semakin aneh dan menyeramkan.


"Baik Non. Nanti saya hubungi tuan. "


***


Selesai menggantikan seragamnya Dara bergegas menuju sekolah.

__ADS_1


Lagi-lagi ia merasakan perasaan yang tak enak. Tapi di tepisnya.


Ia pun kembali masuk ke dalam mobil menuju sekolah.


Gadis tak berani dekat dengan Dara ketika ia berada bersama pak sopir, karena sepertinya pak sopir memiliki kemampuan untuk melihat mahluk sepertinya. Hal yang sama terjadi pada Ryan, hanya Orang-orang tertentu yang bisa memiliki kemampuan melihat mahluk seperti Gadis, seperti halnya Ryan dan pak sopir. Namun, kemampuan Ryan berkurang karena mata batinnya di tutup rapat oleh pak Karto sang Kakek. Hingga Ryan pun lupa pada sosok yang bernama Gadis.


Di dalam mobil, Dara merasakan sesak, seperti kekurangan oksigen, padahal AC mobil dalam keadaan menyala.


Merasakan tak nyaman karena merasa pengap dan Sesak, Dara pun meminta sang sopir untuk menurunkan kaca mobilnya.


Meskipun begitu, tetap saja ia masih merasakan pengap.


Bulu kuduk nya pun merinding di hari sepagi ini.


Lagi-lagi Dara tak mau terlarut dalam perasaannya.


Beberapa saat kemudian dirinya telah sampai di depan gerbang sekolah. Saat itu Dara melihat Ryan yang terlihat menunggu seseorang di depan gedung sekolah.


Setelah turun dari mobil, Dara datang menghampiri Ryan.


"Hay Ryan lagi nunggu siapa? " tanya Dara.


"Eh, aku nungguin kamu. Kenapa kamu beberapa hari ini tak masuk sekolah? " tanya Ryan.


Dara tertunduk.


Mereka pun jalan bersama sambil ngobrol.


Keadaan tersebut semakin membuat Gadis membenci Retno.


Ryan dan Dara terlihat semakin akrab. Dara menceritakan kejadian yang menimpa keluarga pada Ryan.


"Keluarga ku mengalami musibah Ryan. Ibuku masuk rumah sakit ,sementara oma ku meninggal semalam," ucap Dara dengan vibra yang begitu sedih.


"Innalillahi WA innalillahi rajiun. Sabar ya Dara, semoga keluarga kamu di beri kekuatan untuk menghadapi semua ini. " Ryan.


"Iya terima kasih Ryan. "


Gadis kembali menatap sedih ke arah keduanya.'Kapan lagi aku bisa bercerita dan dekat dengan mu lagi Ryan?' batin Gadis.


***


Waktu berlalu, Hari ini sudah dua puluh lima hari meninggalnya bu Mala. Dan rencananya pada malam hari ini akan di adakan acara tahlilan untuk mendiang.


Kebetulan Lastri juga sudah sehat seperti sediakala.


Rencananya hari ini Lastri berniat untuk menghadiri tahlilan sang ibunda sekaligus menginap di sana.


"Bang ayo aku sudah siap! " seru Lastri.

__ADS_1


"Iya Dek, Tapi abang tak bisa menghadiri tahlilan hari ini Dek. Ada urusan mendadak di luar kota, buruh kita mengancam akan berdemo di pabrik pada esok hari. "Retno terpaksa berbohong.


"Oh begitukah Bang. "


"Iya Dek, mungkin Abang akan pergi berhari-hari, urusan ini tak bisa di tunda. "


"Baiklah Bang, terserah abang saja. " Lastri.


Setelah siap, Lastri dan Retno berangkat. Retno hanya mengantar Lastri di depan rumah kediaman orang tuanya.


Setelah itu ia langsung menuju suatu tempat.


Di depan pintu rumah, Lastri di sambut dengan beberapa pertanyaan.


"Lastri, kamu datang sendiri? suami kamu mana? "tanya pak Rusli ayahnda Lastri


"Iya Pak, Bang Retno ada urusan, ia harus berangkat malam ini juga agar bisa sampai pada esok hari di pabrik. Katanya ada karyawan yang ingin berdemo. " Lastri.


'Ehm, kenapa setiap di adakan tahlilan, suami kamu pasti tak bisa hadir. " pak Rusli.


Pak Rusli sempat curiga ada yang tak beres pada menantunya tersebut. Tapi lagi-lagi ia tak punya bukti, lagi pula Retno adalah menantu yang baik, sopan dan bersahaja. Jadi berat rasanya ia mengatakan kecurigaan pada keluarganya terhadap Retno.


***


Mobil Retno melaju hingga sampai di sebuah daerah pinggiran kota. Ia langsung menuju sebuah rumah kecil yang sudah di penuhi beberapa orang.


Kehadiran Retno pun di sambut bak tamu agung.


Setelah berbasa-basi degan tuan rumah, tamu dan ketua Rt setempat, Retno di persilahkan untuk duduk di depan meja kecil.


"Anda sudah siap? " tanya seorang laki-laki pada Retno.


"Siap Pak! " Retno.


"Kita mulai saja. "Lelaki tersebut segera menjabat tangan Retno.


"Saudara Retno saya nikah dan kawinkan kamu dengan seorang perempuan yang bernama Laila binti Husien dengan mas kawin sebentuk cincin emas di bayar Tunai!"


Retno menjabat tangan pria tersebut.


"Saya Terima, Nikah dan kawinnya Laila binti Husain dengan mas kawin tersebut dibayar tunai! " suara Retno terdengar lantang dan tegas.


"Sah! " sahut para saksi.


Tetamu dan tuan rumah pun menyamnut dengan penuh suka cita.


Retno tertunduk, 'Maafkan abang Dek, Abang terpaksa menikah lagi, karena tak ingin kamu menjadi celaka.' batin Retno.


Setelah akad nikah selesai, keluarlah seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun, wanita tersebut merupakan seorang janda yang memiliki tiga anak. Retno sengaja menikahi janda yang terbukti bisa menghasilkan anak untuknya, agar saat wanita tersebut mengandung dan janin yang di kandungnya bisa menjadi tumbal persembahan untuk penguasa kegelapan.

__ADS_1


Bersambung, tinggalkan jejaknya like, komen, rate lima dan vote.


__ADS_2