
**Telah ada perjanjian antara aku dan Tuhan ku, Bahwasanya, Aku bisa menyesatkan manusia dengan jalan apa pun dan menjadikannya teman yang akan menemani ku ke neraka, Akan ku buat mereka takut terhadap apapun,Terkecuali takut pada Allah.**Iblis
Bukankah sudah ada peringatkan yang datang padamu Hai anak- cucu Adam, janganlah kau menyembah selain Allah, Dan Jangan lah kau menjadikan setan itu sebagai teman mu, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagimu
***
Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Saat itu Retno baru saja kembali dari membeli bubur untuk sarapan Dara.
Saat itu Retno melihat Dara yang menangis di suatu sisi tempat tidur. Karena khawatir, Langsung saja ia menghampiri Dara.
"Dara kamu kenapa Nak? " tanya Retno sambil mengusap kepala Dara.
"Hiks Oma, Pa.Oma meninggal.Baru saja tante Dinda telpon, katanya Oma kecelakaan. Hiks. "
"Ada apa?! " Retno kaget seraya menjatuhkan bubur yang baru saja di belinya.
Tiba-tiba Retno merasakan telinganya seperti berdengung, dengan suara yang semakin melengking beberapa saat, kemudian datang suara berat yang terdengar hanya di telinga Retno.
'Hua..Hua, Retno, aku terpaksa, menghabisi ibu mertua mu! karena ibu mertua mu telah mencurigai perbuatan mu Retno. Ingat Retno! siapa pun yang menghalangi jalan mu pasti aku Habisi, hua hua hua.
Beberapa saat kemudian suara tersebut hilang begitu saja.
Retno hanya terdiam beberapa saat, tubuhnya gemetaran dengan keringat dingin mengucur deras.
Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Dirinya juga tak menyangka, jika persugihan yang ia lakukan akan memakan tumbal nyawa,
Padahal perjanjian yang terjadi sebelumnya, hanya akan menggadaikan jasad sang putri, dan setiap bulannya ia hanya akan memberi senlsajen berupa kepala binatang.
Gadis menyaksikan semua kebiadaban yang di lakukan oleh ayahnya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Gadis hanya bisa merutuki perbuatan ayahnya tersebut.
Gadis terbaring memeluk Lastri, ia berusaha melindungi sang ibunda, agar genderuwo piaraan ayahnya tak lagi merasuki tubuh Lastri.
***
Pukul delapan pagi, Dara diantar oleh supir pribadinya pulang kerumah untuk melayat bu Mala.
Suasana duka begitu kental terasa ketika suara tangis sedih terdengar dari ruang tamu.
__ADS_1
"Ibu hiks ,hiks. " Dinda adik bungsu Lastri terlihat begitu terpukul atas kejadian yang menimpa ibundanya. Menurut keterangan dari pihak kepolisian, kejadian yang menimpa Mala murni karena kecelakaan.
Dugaan sementara pihak kepolisian Mala sempat terlelap saat berkendara hingga tanpa sadar menginjak gas secara full.
Pihak keluarga juga membenarkan keterangan tersebut karena menurut keterangan Dara, Omanya tersebut semalaman menjaga Lastri dan tidak tidur sedetikpun.
Jasad Mala terbujur kaku dengan wajah yang hancur karena beberapa luka jahitan dan robek. Batang hidungnya juga patah begitupun giginya yang rontok akibat hantaman yang begitu keras.
Diantara pelayat ada pak ustadz yang ikut melayat, pak Ustad tersebut bicara terlihat sedang bicara bersama keluarga Bu Mala.
Dara menghampiri pak ustadz untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Rencananya malam ini Bu Mala meminta saya untuk membacakan Yassin dan doa bersama, untuk kesembuhan Lastri. Karena ada mahluk jahat yang bersarang pada tubuh Lastri. Dan siapa sangka ternyata Bu Mala telah berpulang terlebih dahulu. " Pak ustadz.
"Hiks hiks, kejadian ini tak pernah terduga sebelumnya,Saya sendiri masih belum percaya jika ibu telah tiada, Hiks hiks," tutur salah seorang putri Mala lain.
"Pak Ustadz, Apa mungkin kematian ibu ada hubungannya dengan Lastri? " imbuh Desi
"Wallhualam, Saya tidak bisa memastikan, sebaiknya kita berhusnuzon saja. Lebih baik sekarang kita perbanyak berdoa, agar kita semua di jauhi dari segala hal yang buruk. " Pak Ustadz.
***
Lastri mulai membuka matanya seraya melirik ke arah sekitar saat itu waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
"Dek kau sudah bangun? " tanya Retno sambil mengusap kepala Lastri dengan lembut.
"Bang, dimana Dara dan Ibu, rasanya aku mendengar suaranya. " Lastri.
Retno terdiam. Ia tak tahu bagaimana cara memberi tahu pada istrinya tersebut jika sang ibunda telah tiada. Retno mengkhawatirkan keadaan Lastri yang masih terlihat lemah.
"Ehm Ibumu sekarang sedang sibuk menyiapkan acara Yasinan untuk mendoakan mu. Sudahlah kau baru saja pulih, jangan terlalu banyak di pikirkan."
Iya Bang, tapi kenapa perasaan ku tak enak ya Bang. Aku baru saja memimpikan ibu. Saat itu ibu menggunakan pakaian serba putih berjalan sendiri menuju sebuah lorong yang gelap dan berkabut, saat aku panggil ibu tak menoleh sedikit pun, ia terus saja berjalan melewati lorong tersebut, hingga menghilang di balik kabut.
"Jangan terlalu di pikirkan Dek, mimpi itu bunga tidur. Sebaiknya kau sarapan agar kau segera sembuh. " Retno.
***
__ADS_1
Suasana duka masih menyelimuti rumah tersebut. Malam ini akan di adakan acara yasinan di rumah keluarga Mala.
Karena keadaan Lastri sudah membaik, Dara memutuskan untuk ikut acara yasinan untuk mendoakan Oma.
Selesai Yasinan Dara kembali memutuskan untuk menginap di rumah mendiang Mala. Ia menghampiri sang Kakek yang terlihat begitu sedih.
Dara memeluk Pak Rusli dari belakang.
"Opa sabar ya. Oma pasti sedih jika opa terus-terusan sedih. " Dara.
"Iya Dara, hanya saja Opa tak habis pikir, ada apa dengan keluarga kita, hingga masalah selalu datang. Mama mu hampir saja meninggal karena pendarahan, sedangkan Oma mu sudah pergi untuk selamanya, padahal semalam keadaannya baik-baik saja. " Pak Rusli.
"Iya Opa, Dara juga sedih karena kehilangan Oma, tapi Dara tak ingin Opa terlalu sedih, Dara tak ingin Opa sakit. " Dara.
"Iya Opa ngak sedih. Sekarang kamu kembali ke kamar, kau harus banyak beristirahat, nanti kau bisa jatuh sakit. Sebaiknya besok kau sekolah saja Dara, biar Opa yang antar. "
"Iya Opa. "
Dara langsung menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Saat itu Dara merasakan ada sesuatu yang mengikutinya dari arah belakang. Karena itu, Dara segera berlari menuju kamar.
"Astaghfirullah kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa ketakutan ya," ucap Dara sambil mengusap Dadanya.
Dara merangkak naik ke atas tempat tidurnya, kemudian ia mematikan lampu tidur.
Saat itu Dara melihat bayangan seseorang yang mengenakan pakaian serba putih yang terlihat membelakanginya,melalui pantulan cermin yang ada di meja rias kamar tersebut.
Dara begitu ketakutan, tubuhnya pun menggigil karena yang dilihatnya dalam pantulan cermin adalah sosok Oma.
Dara hendak berteriak tapi mulutnya seperti di bungkam.
Dara....Dara... Berhati-hatilah Dara.. kau sedang dalam bahaya... Akh! suara tersebut terdengar lirih dan menyeramkan.
Dara yang memang dasarnya penakut itupun seketika pingsan tak sadarkan diri.
Bersambung
__ADS_1