Takdir Cinta Dua Dunia

Takdir Cinta Dua Dunia
Suara Sunyi


__ADS_3

Cuaca tak bersahabat juga terjadi di kediaman keluarga Riko, saat itu mereka sedang makan malam bersama.


Gemuruh guntur saling sahut menyahut memecah keheningan malam.


Langit dunia seperti akan runtuh dan gelombang air laut juga tinggi, para pelaut yang berencana belayar kembali mundur menepi ke dermaga.


"Ada apa ini?"tanya seseorang kepada rekanya, yang berada di tepi dermaga.


"Entalah tiba-tiba saja cuaca berubah ekstrim begini, sebenarnya apa yang terjadi," imbuh pria tersebut kepada rekanya.


"Aku juga tidak tahu, seperti ada rahasia alam di balik semua ini," ujar temannya, bulu kuduk mereka pun merinding.


Setelah menambat perahu mereka di tepi dermaga, mereka pun memutuskan untuk pulang.


Saat menuju jalan pulang mereka melewati rumah pak Riko.


"Eh Wan, coba kamu lihat rumah itu," Asep menunjuk rumah pak Riko.


"Eh kenapa rumah tersebut terlihat terang ya, padahal dulunya rumah tersebut terlihat angker, jangan kan mendiaminya, lewat di depannya saja ngeri," ujar Iwan kepada Asep.


"Ih, aku meski di upah, ngak mau kalau harus tinggal di sana." Iwan 


"Benar, lihat saja bulu kuduk ku sampai merinding gini."Asep.


Mereka pun mempercepat langkah mereka.


***


Ryan begitu menikmati makan malamnya, ia melahap semua sepiring nasi yang di sajikan oleh Rahmi.


Rahmi tersenyum sumringah melihat akhir-akhir ini, nafsu makan putranya tersebut mengalami kemajuan.


"Ryan, bagaimana di sekolah mu Nak?"tanya Rahmi yang tersenyum simpul kearah Ryan.


Duar kleek kreak, Dentuman petir mengagetkan mereka, kilatan cahaya seperti membelah langit menjadi beberapa bagian.


"Astafirullah, "ucap Rahmi yang kaget mendengar dentuman guntur yang membelah angkasa.Namun, Ryan tetap santai menghabiskan sarapanya.


"Habis!"ucap Ryan senang sambil menunjukan piringnya yang telihat bersih.


Rahmi dan Riko pun tersenyum kearah Ryan, sejenak mereka melupakan cuaca yang tak bersahabat tersebut.


"Bunda, Ryan sudah selesai makan, Ryan boleh kembali kekamar?"tanya Ryan.


"Boleh sayang,ingat sebelum tidur kamu harus menggosok gigimu terlebih dahulu," ucap Rahmi dengan lembut.


"Siap Bunda," ucap Ryan langsung berlari kecil menuju kamarnya.


Rahmi melempar senyum simpul melihat putranya yang tiba-tiba menjadi sangat bersemangat tersebut.


Duar kreak kreak, dentuman guntur kembali memecah langit gelap tanpa cahaya tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana Pak, apa ada perkembangan Ryan selama bersekolah disini?"tanya Rahmi kepada pak Karto.


"Bagus, Ryan dengan mudah beradaptasi, hanya saja akhir akhir ini, bapak sering melihat Ryan bicara sendiri, dan saat bapak tanyanya kepadanya dia malah berdalih jika ia sedang menghapal dialog untuk drama sekolahnya," papar pak Karto.


"Tapi setelah bapak konfirmasikan kepada pihak, katanya tak ada drama ataupun tugas hapalan bagi Ryan." Keluh pak Karto.


"Hm, mungkin Ryan punya sahabat tak terlihat Pak, seperti yang dialami oleh saudara Rahmi, ia juga memiliki teman yang tak terlihat, bahkan dengan kemampuanya saat ini,ia bisa mengungkap beberapa fakta yang tak bisa di jelaskan  dengan akal sehat," papar Rahmi.


"Iya, tapi ingat Rahmi, belum tentu mereka semua itu baik, bisa jadi mereka menyesatkan kita umat manusia hingga kita terlalu bergantung padanya dan menyembahnya, "sahut Pak Karto.


Ryan kembali ke kamarnya setelah membuka pintu, ia sengaja menguncinya agar tak ada yang mengintip atau pun mendengar saat ia bermain bersama Gadis.


"Gadis! Gadis!" Seru Ryan memanggil nama Gadis.


Biasanya manusia setengah arwah tersebut langsung muncul ketika Ryan memanggil namanya.


Setelah menunggu beberapa lana, Gadis tak juga datang menghampirinya.


Ryan sudah mengantuk, beberapa kali ia menguap dan menerjab-nerjabkan matany seraya mengedar kearah keseliling, berharap Gadis datang menemuinya.


Watu terus bergerak, hingga kumandang azan memecah kesunyian seisi dunia.


Pintu kamar Ryan di gedor, bocah tersebut sudah harus di biasakan untuk bangun pagi setiap harinya.


Ryan mengucek matanya, melihat sekitar namun tak juga ia tak menemui Gadis. 


Bahkan hingga sinar  matahari menelisik, Gadis belum juga datang menemuinya, padahal sebelumnya Gadis selalu berada di kamarnya, dari Ryan menutup mata sampai membuka mata lagi.


Wajahnya terlihat murung dan tak berselera untuk makan.


Melihat keanehan dari Ryan, Rahmi memutuskan untuk bertanya langsung pada Ryan, apa yang membuatnya kembali murung.


"Ryan kenapa kamu, Nak?"tanya Rahmi.


"Ngak apa-apa kok Bu, Ryan berangkat sekolah dulu ya, " ucap Ryan yang meraih tangan ibunya kemudian menciumnya.


***


Sementara itu Retno sudah bersiap untuk membawa Dara pulang, karna menurut diagnosis dokter, Dara tak mengalami masalah medis, ia hanya mengalami masalah  ketakutan dan kecemasan.


Mereka berada di dalam mobil, sementara Dara tatapan matanya terlihat kosong dengan mimik wajah yang datar.


"Dara, kamu kenapa, Nak ? Apa ada yang terasa sakit sayang?" tanya Lastri sambil memeriksa keadaanya.


Dara hanya menggelengkan kepala, seraya menggigit ujung jarinya.


Mereka pun sampai di rumah, dengan penuh kesabaran dan perhatian Lastri menemani Dara melewati harinya.


Ia terus mengajak Dara ngobrol dan bercerita agar Dara bisa merespon.Namun, keadaan Dara tetap sama, wajahnya datar dengan tatapan mata yang kosong.


Waktu menunjukan pukul delapan malam, saat itu Lastri dan Dara sudah terlelap. Lastri mendekap putrinya, ia begitu merasa lelah karna seharian menemani Dara.

__ADS_1


Retno membuka pintu kamar,dan melihat mereka sudah terlelap, ia kemudian kembali menutup pintu tersebut.


Setelah memastikan keluarganya dalam keadaan yang aman, Retno bergegas menuju tempat pemujaan.


Retno mulai memasuki kawasan hutan lindung, berbagai penampakan pun sering ia temukan saat melintasi kawasan  terlarang tersebut.


Mulai dari perempuan berambut panjang yang menggunakan pakaian serba putih, hingga berbagai mahluk yang menyerupai setengah manusia dan setengah lagi hewan.


Tapi tak sedikit pun Retno merasa takut karna sejak ia bersekutu dengan mahluk penunggu goa, yang menjadi penguasa dari daerah tersebut, Retno di bekali jimat agar ia tak merasa takut untuk melihat dan melawan mahluk-mahluk yang mengganggunya.


Sesampainya di tepi gua, Retno menepikan mobilnya.


Retno menyeret seekor kambing yang berwarna hitam menuju lembah di tepi gua.


Binatang tersebut mengeluarkan suara yang melengkin hingga membuat Retno merinding.


Deru angin kencang menggoyang pepohonan di dalam hutan, membuat suasana semakin mencekam.


Nyanyian binatang malam pun terdengar pilu, mengiringi langkah mantap Retno menuju tempat pemujaan.


Kambing itu berusaha melepaskan cengraman Retno, sepertinya binatang tersebut juga merasakan ketakutan.


Dengan susah payah Retno menarik kambing tersebut mendekati tempat bersemayamnya mahluk sesembahannya.


Tanpa menunggu lama, Retno langsung menyembelih hewan tersebut.


Kambing hitam tersebut menggelepar, meregang nyawa, beberapa saat kemudian, tubuhnya menjadi kaku.


Setelah itu, Retno memenggal kepala kambing tersebut di tengah malam yang mencekam.


Butuh waktu hampir setengah jam bagi Retno untuk memisahkan kepala dan tubuh kambing hitam itu.


Ia pun memasukan kepala kambing di dalam gua, sementara bangkainya, ia biarkan tergelatak begitu saja.


Merasa tugasnya telah selesai, Retno memutuskan untuk kembali pulang.


Dengan hati yang bahagia, ia melangkahkan kakinya keluar dari semak belukar tersebut.


"Bapak!"


Suara gadis kecil, menghentikan langkah Retno.


Jantungnya seketika berdetak kencang, dengan napas yang memburu.


Retno pun menoleh kearah suara yang memanggilnya, seketika matanya membelalak sempurna melihat sosok yang telah memanggilnya.


Bersambung.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2