Tales Of Another World

Tales Of Another World
⸙ Ch.29 ◈Hari Pertama Latihan


__ADS_3

Hari pertama Aisley belajar berpedang dengan Arlen. Cukup gugup karena kali ini dia akan menggunakan pedang asli, namun tidak begitu tajam.


Aisley menusukkan pedang tepat di pinggang sebelah kanan Arlen, tapi serangan Aisley masih bisa di tahan Aisley. Jika dilihat, pertarungan mereka terlihat cukup sengit.


"Kamu cukup pandai ya, sepertinya hanya butuh latihan beberapa hari saja." Arlen terus menangkis serangan yang diberikan Aisley.


"Jangan terlalu memuji."


Aisley mencoba menyerang titik buta Arlen, tapi Arlen malah menendang kakinya sehingga serangan itu gagal.


Jika dilihat sekilas, Aisley terlihat lebih unggul daripada Arlen. Karena sepanjang latihan, Aisley yang paling banyak menyerang dari pada Arlen. Tapi sebenarnya Aisley sedang tersudut, setiap kali Arlen menyerang dia akan sulit untuk menghindari nya.


"Benar-benar! Serangan ku terus saja di patahkan, jika seperti ini terus bisa bisa aku yang kalah!" Umpat Aisley.


Saat sedang menarik pedangnya, secara tiba-tiba Arlen mencoba menyerang tangan Aisley. Dengan refleks, Aisley langsung menjauhkan tangannya. Tapi pedang Arisley yang seperti akan menebas dirinya sendiri buat Aisley melepaskan pedangnya, pedang Arlen pun terhunus di leher Aisley.


"Kalah lagi~" Arlen tersenyum.


"Huh menyebalkan!" Aisley mengembangkan pipinya.


"Lap keringat mu." Arlen memberikan handuk keringat kepada Aisley.


"Terimakasih." Aisley segera mengelap keringatnya yang sudah bercucuran.


Berlatih seharian bersama Arlen sungguh melelahkan, apalagi Aisley harus mengimbangi gerakan Arlen yang cepat.


"Huft..." Aisley menghela nafasnya lelah.


"Beberapa minggu kedepan kita akan pergi untuk membunuh ras iblis, walaupun mereka ras rendahan yang skill bertarungnya kurang, tapi kamu harus berhati-hati." Arlen meminum teh yang ia ruang sebelumnya.


"Secepat itu? Bukankah aku baru pertama kali belajar berpedang?" Aisley memiringkan kepalanya.


"Tentu saja, kemampuan mu sudah cukup untuk ikut bertarung. Anggap saja sebagai latihan."


"Baiklah," Aisley mengangguk.


"Kemarin aku baru saja mendapatkan surat dari Kak Niko, katanya dia akan pulang terlambat... Mungkin saat dia pulang kita sudah mulai berpetualang." Arlen berganti mengambil camilan yang ada di meja.


"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Aisley khawatir.


"Jangan khawatir kan makhluk itu, dia pasti akan baik-baik saja." Arlen memakan camilan di tangannya.


"Jangan panggil makhluk itu! Kak Niko punya nama!" Aisley menggembungkan pipinya.


"Huh, memang aku peduli?" Arlen menunjukkan raut tidak peduli.


"Arlen!" Aisley menatapnya dengan tajam.


"Baiklah-baiklah!"


"Ngomong-ngomong apakah hanya kita berdua yang akan pergi?" Aisley menyangga kepalanya.


"Tentu saja, memang dengan siapa lagi?" Tanya Arlen.

__ADS_1


"Iya, siapa tahu dengan orang lain..." Jawab Aisley.


"Tidak, denganku saja cukup." Arlen menyombongkan diri.


"Muak aku!" Umpat Aisley dalam hati.


"Besok kita tidak usah berlatih, aku mengajak mu minum teh di tempatku." Arlen menyeruput tehnya.


"Huh? Setelah aku berlatih dengan Kak Avram?" Tanya Aisley.


"Iya, aku akan menjemputmu untuk datang kesana." Arlen menatap Aisley.


"Kenapa? Hanya untuk minum teh?" Aisley memiringkan kepalanya.


"Tentu saja iya." Arlen mengangguk.


"Bukankah sekarang kita sedang meminum teh?"


"Jangan pura-pura tidak paham!" Arlen membuang nafas sebal.


"Hmm baiklah-baiklah, memang kenapa kita bertemu secara formal?" Tanya Aisley.


"Hmm pokoknya ada sesuatu." Arlen tersenyum misterius.


"Dasar sok misterius, huh!"


"Baiklah, kembalilah ini sudah larut malam..." Arlen berdiri dari tempat duduknya.


Aisley juga ikut berdiri, Aisley mengembalikan pedang miliknya dan Arlen ke tempatnya. Aisley juga membereskan camilan dan teh yang ada di meja dengan sihir miliknya.


"Kenapa?" Tanya Aisley.


"Tentu saja karena aku ada urusan dengan Kak Avram, jadi sekalian saja... Memang apa yang kamu harapkan?" Arlen malah menggoda Aisley.


"Ti-tidak ada!" Aisley mempercepat jalannya.


Beberapa hari ini mereka sudah cukup dekat, karena akhir-akhir ini mereka selalu bersama. Lagi pula dengan sifat Arlen yang mudah di ajak bicara itu membuat Aisley mudah akrab dengannya.


Sesampainya di kamarnya, Aisley berendam dengan Air hangat yang dicampuri dengan obat herbal. Obat herbal itu hanya untuk menenangkan Aisley, sekaligus seperti parfum untuknya.


Aisley memang memiliki bau khas dari tanaman obat itu, karena sejak pertama kali Aisley menggunakan nya untuk campuran berendam. Daripada menggunakan cairan hasil penyulingan bunga, Aisley lebih suka tanaman obat itu.


Bau yang di ciptakan selain menenangkan juga membuatnya merasa nyaman, dia seperti ada di dekat dengan kakaknya. Niko yang ada di dunia ini dan dunia-nya memiliki bau tubuh yang hampir sama, kedua-duanya membuat Aisley merasa nyaman dan aman.


*****


Setelah berganti pakaian, Aisley keluar dari kamarnya. Seperti biasanya, dia akan makan malam bersama Avram. Walaupun Avram tidak membutuhkan itu, tapi dia tetap makan untuk menemani Aisley.


Aisley membuka pintu ruang makan. Saat melihat kedalam, dia mengunci seseorang yang duduk di depan tempat duduknya. Arlen! Guru berpedang nya itu duduk sambil menopang kepalanya.


"Kenapa dia di sini sih!?" Umpatnya.


"Hoam, kau ini lama sekali ya! Perutku sudah berbunyi dari tadi gara-gara menunggu mu!" Celetuk Arlen saat Aisley baru saja duduk.

__ADS_1


"Kenapa tidak makan duluan?" Tanya Aisley dengan nada dingin.


"Sudah-sudah, lebih baik kalian menutup mulut kalian dan makan dengan tenang!" Celetuk Avram melerai.


Aisley dan Arlen diam, mereka lalu makan dengan tenang. Terkadang, Aisley dan Arlen sama sekali tidak akur. Di sisi lain, mereka akan akur dan berbincang dengan baik. Tapi beberapa perdebatan kecil seperti tadi membuat mereka semakin dekat.


"Bagaimana dengan latihan mu?" Tanya Avram.


"Baik-baik saja kok, aku bahkan sudah bisa mengimbangi dia." Aisley melirik Arlen.


"Huh, tapi tidak sepenuhnya begitu jika aku mengerahkan semua kemampuan ku!" Sangkal Arlen.


"Jika aku memakai sihir kau juga pasti akan kalah kok!" Bantah Aisley.


"Mereka ini.... Kapan mereka jadi sedekat ini!?" Avram menatap Aisley dan Arlen bergantian.


"Kalian ini, jika berdebat terus kalian akan semakin dekat loh~" Avram terkekeh pelan.


"Memangnya sebelum begini kita tidak dekat?" Tanya Arlen.


"E-eh? mana aku tahu, aku hanya mengingatkan saja." Avram mengangkat bahunya.


"Dasar aneh, aku sudah selesai." Aisley pergi meninggalkan kedua laki-laki itu.


Aisley berjalan keluar, sedangkan Avram dan Arlen hanya menatapnya. Mereka terus memakan makanan yang tinggal sedikit itu.


"Setelah ini, aku atau kamu yang mengajari nya?" Tanya Avram.


"Kau saja, besok aku akan mengajarinya." Jawab Arlen.


"Satu hari penuh?" Tanya Avram.


"Dari pagi sampai sore." Jawabnya dengan enteng.


"Hm? Wah apa kalian akan berkencan?" Avram menggoda Arlen.


"A-apa!? Tentu saja tidak! Aku hanya mengajaknya minum teh bersama laku latihan!" Jawab Arlen.


"Padahal aku hanya menebak, tapi bukankah minum teh bersama bisa disebut kencan?" Guman Avram yang masih terdengar Arlen.


"Diamlah! Dia milik Niko, terimakasih makanannya!" Arlen langsung berdiri dan pergi begitu saja.


"Apa? Sejak kapan Aisley jadi milik Niko?" Tanya Avram bingung.


......━═☆🌙 ☆═━┈......


Halo! Gimana ceritanya? Berbeda ya dari yang chapter awal? Maaf ya kalau kalian tidak suka yang bagian ini, tapi sekarang Author aslinya sedang sibuk. Jadi aku (An) mewakili buat melanjutkan cerita ini untuk sementara^^


Oh iya, kalian lebih suka yang begini atau seperti chapter sebelumnya? Kalau suka yang seperti di Chapter sebelumnya kalian bilang ya, biar aku berusaha buat sama'in kayak sebelumnya. Kalau kalian suka model chapter ini, nanti kedepannya akan bermodel seperti ini.


Paham nggak ya? Bentar aku sendiri jadi bingung sih, semoga kalian paham ya^^


......To be continued.........

__ADS_1


...-Eka-...


__ADS_2