
Ain turun menapak dengan kaki halusnya keatas tanah Gesang. Raja iblis cukup terkejut dengan kedatangan Ain. Walaupun memiliki aura yang sama besarnya, tetapi tidak bisa dipungkiri jika sebenarnya raja iblis lebih kuat dari Ain jika dia dalam keadaan prima.
"Sudah datang ya..." Kata Kakak Ain sambil melihat Ain.
"Si....Siapa itu? Apakah dia Ain?" Tanya Charles.
"Iya, dia kekasihmu..." Sahut Kakak Ain.
"Kakak sudah menyetujui hubungan kami!?" Tanya Charles dengan terkejut.
Kakak Ain tidak menjawab sama sekali. Para jendral yang sedang bertarung itu mundur, mereka bersama menuju berdirinya Ain. Setelah semuanya mundur, Raja iblis yang tadinya terkapar lemas bangkit berdiri.
Seakan waktu terhenti, peperangan para prajurit terhenti. Karena kedatang Ain memang cukup mengejutkan sehingga mereka terdiam mengamati Ain.
"A...Ain itukah kamu?" Tanya Charles menghampiri Ain.
Ain tersenyum manis kepada Charles, dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan kekasihnya. Sedangkan Charles tersenyum membalas senyuman Ain.
"Arles aku akan menghadapi raja sialan itu, maukah memelukku untuk memberikan semangat?"
Dengan segera Charles memeluk Ain, pelukan hangat itu mengenai tubuh Ain. Sangat nyaman....
"Ain mari kita berjuang bersama..." Ucap Charles.
"Baiklah, lawan dia setelah aku!" Sahut Ain.
Mereka melepaskan pelukannya, Ain lalu terbang dengan sayap indahnya. Melirik kearah Charles dan kakaknya, senyuman manis terukir di wajah dengan indahnya.
Senyuman yang manis itu entah mengapa membuat Charles merasakan firasat yang kurang nyaman, sedangkan untuk sang kepala menara sihir itu merasakan kesedihan. Luka di tubuh kepala menara sihir sangat parah, baik luka dalam ataupun luka luar.
Bahkan kakak yang selalu Ain banggakan itu sekarang tak mampu berdiri tanpa bantuan tongkat sihir bak pedang tersebut. Tidak hanya kakak Ain yang keadaannya mengkhawatirkan, bahkan seluruh jendral yang tadi melawan raja iblis pun serupa.
"Grrrr!" Raja Iblis mengerang.
__ADS_1
"Kau pikir dengan kekuatan kecilmu ini bisa membunuhku!?" Geram raja iblis melihat Ain yang terbang di atas.
"Aku tidak berkata akan membunuhmu...." Sahut Ain.
Raja iblis menyiapkan kuda-kuda, dia beranggapan kalau Ain akan menjadi lawan yang cukup merepotkan. Sedangkan Ain sendiri semakin mendekat tanpa rasa takut. Jenderal-jendral yang berada di belakang menatap Ain dengan penuh harap, sedangkan Charles dan Penguasa menara sihir menatap Ain dengan khawatir.
Raja iblis terbang menghampiri Ain, hembusan angin yang begitu kuat bahkan menumbangkan benerapa orang. Melesat dengan cepat, sedangkan Ain dari tadi sudah mengucapkan sebuah mantra. Rune-rune yang aneh mengelilingi Ain, seketika kedua matanya bercahaya. Terdapat siluet seorang gadis dewasa dengan sayapnya yang membentang di belakang Ain.
Raja iblis yang melihat itu tersentak, terlambat untuk kembali karena dirinya sudah dekat dengan Ain. Mencoba untuk menjauh, tapi tangan Ain terulur kedepan. Cahaya putih emas keluar dari tubuh Ain menunu sang raja iblis, raja iblis benar-benar tidak bisa menghindar. Tubuhnya di kelilingi cahaya emas dari Ain.
"Arggg!!!" Erangnya, mencoba untuk lepas tetapi tubuhnya terlilit oleh rantai-rantai suci.
"A....Ain dia menyegel raja iblis?" Tanya Charles tak pecaya kepada kakak Ain yang mukanya sudah pucat.
Kepala menara sihir itu hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.Tak disangka sebuah butiran bening memenendung di kedua mata Charles, hatinya terasa sakit karena dia tahu apa yang harus dibayar Ain dengan menyegel raja iblis tersebut.
"Tidak....Tidakkk!!!!" Geramnya.
Bertepatan dengan selesainya Ain menyegel, Charles sudah berada di dekat Ain terbang. Dirinya berteriak memanggil kekasihnya, tetapi sama sekali tidak ada jawaban. Charles menjadi pusat perhatian setelah tersegel nya raja iblis, beberapa detik kemudian mereka tersadar. Persatuan para ras bersorak gembira atas tersegel nya raja iblis, sedangkan pasukan raja iblis mencoba untuk kabur.
Ain yang dari tadi hanya diam, cahaya ditubuhnya mulai memudar. Tubuhnya terjun bebas dari tempatnya terbang, seakan seperti orang yang pingsan, Ain sama sekali tidak mencoba memposisikan dirinya agar selamat saat jatuh. Charles yang melihat Ain terjun bebas tidak tinggal diam, dirinya menyiapkan diri untuk menangkap Ain. Sedangkan para jendral yang lain berlari mendekati Ain.
"A...Ain.... Ain.... Sayang..." Charles mencoba menahan tangisnya, tubuhnya bergetar hebat saat melihat Ain yang terkulai lemas.
"A....Arles.,..." Ain tersenyum tipis, matanya hanya membuka sedikit.
"Ain kamu baik-baik saja kan?" Tanya Charles dengan panik.
"Ain!!" Teriak Kakak Ain sambil berlari.
"Kakak..." Guman Ain pelan.
"Adik! Ka...Kamu.... Ma..Maafkan kakak! Kakak mu ini tidak berguna, bahkan untuk melindungi dirimu....A..Aku gagal..." Lirik Kakak Ain dengan tangisan.
__ADS_1
"Ka...Kakak selalu menjadi yang terbaik.... Kakak sama sekali tidak gagal.... Terimakasih, Kak.." Guman Ain yang masih bisa terdengar oleh Kakaknya dan Charles.
"A..Ain, bertahanlah.... Kita sudah berjanji akan menikah setelah perang usai da....dan kita akan memiliki seorang putra yang mirip dengan mu kan? Bertahanlah, penuhi janjimu sayang!!" Ucap Charles dengan nada putus asa.
"Arles... A...Aku menyayangimu, berjanjilah hanya menikah dengan diriku.... Mungkin aku egois, tetapi berjanjilah.... Dikehidupan ini kita belum berjodoh, penuhi janjimu di kehidupan setelahnya.... Dan juga.... Jangan membantai ras iblis karena kekesalanmu nanti..." Guman Ain dengan senyuman tulus menatap Charles.
"Aku berjanji,,, hiduplah sekarang penuhi janjimu... aku akan memenuhi semua permintaanmu...." Nada putus asa mulai keluar dari mulut Charles.
Ain hanya tersenyum untuk menanggapi Charles, tangan kirinya menyentuh pipi kekasihnya. Charles segera menangkap tangan Ain dan mengelus punggung tangan cantik itu.
"Se...Selamat tinggal....Kalian rayakan kemenangan ini tanpa adanya rasa sedih ya..." Gumannya.
Setelah kalimat itu selesai diucapkan dari mulu mungil Ain, tubuhnya yang tadi baik-baik saja tanpa luka meledak. Tapi bukan darah ataupun bagian tubuh Ain yang berhamburan, melainkan sebuah ledakan seperti angin kejut. Cahaya keemasan menyatu dengan ledakan tersebut.
Tangan Charles yang masih memegang punggung tangan kekasihnya menjadi memegang pipinya sendiri. Sedangkan tangan kepala menara sihir yang tadinya menggenggam tangan adiknya menjadi menggenggam tangan sendiri.
"Aaaaaarrrrgggggg!!!!!" Teriak Charles.
Sedangkan kakak Ain terdiam tak selang lama dia pingsan karena keadaan tubuhnya yang penuh luka. Para jendral dan prajurit dari persatuan ras membisu, disatu sisi mereka bahagia sedangkan di sisi lain mereka bersedih karena kepergian pahlawan yang menyegel raja iblis.
Mata hijau Charles berubah menjadi merah, amarahnya telah memuncak. Ingin rasanya dia memusnahkan orang-orang yang ada di sekitarnya, tetapi dirinya tidak bisa.
Gervin yang menjadi kakak Charles itu mencoba menenangkan adiknya, menepuk punggung adiknya dengan pelan. Dirinya tahu betapa cintanya di adik dengan Ain, adik kepala penyihir. Sebenarnya dia tidak tega melihat keadaan adiknya yang seperti ini, tetapi mau bagaimana lagi?
"Adik... Ingatlah pesan terakhir adik ipar agar merayakan kemenangan ini tanpa rasa sedih...." Lirihnya, dirinya benar-benar tidak tahu mau berbuat apa lagi.
"Sialan, bahkan aku tidak bisa melindunginya....." Gumannya.
┈━═☆🌙 ☆═━┈
To be continued....
-Eka-
__ADS_1