
"Festival Lentera benar-benar menakjubkan, aku kira hanya sekedar festival saja ternyata memiliki kisah awal seperti ini ya..." Guman Aisley.
Niko tersenyum melihat Aisley, sepertinya dia tahu sebenarnya Aisley kurang paham dengan penjelasan. Karena dirinya sendiri juga sadar kalau tidak bisa menjelaskan dengan baik.
"Kakak, lalu bagaimana dengan pangeran Charles?" Tanya Aisley tiba-tiba.
"Eh? Kenapa kamu bertanya tetang an-!" Niko tiba-tiba berhenti mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Ekhem! Bahkan sampai pangeran Charles wafat, dirinya sama sekali tidak memiliki istri.... Bahkan dekat dengan seorang perempuan aja tidak, ah iya mungkin sedikit dekat dengan keponakan perempuannya..." Jawab Niko dengan gaya mengingat-ingat.
"Wahh ternyata dia adalah laki-laki yang setia..." Entah mengapa Aisley jadi tersenyum senang dengan sendirinya.
"Ah baiklah sepertinya sudah lama aku bercerita, bagaimana kalau kamu tidur sekarang?" Niko membenarkan selimut yang menutupi tubuh Aisley .
"Baiklah, kakak aku akan kembali...." Aisley menyingkir selimut yang ada di atas tubuhnya. Tetapi gerakannya kalah cepat dengan tangan Niko, dia menahan tangan Aisley yang ingin menyingkirkan selimut
"Tidur di kamarku saja, biar aku tidur di kamar lain..." Katanya lembut.
"Tapi kakak, ini adalah kamar kakak, tidak mengenakkan jika ka-!" Ucapan Aisley terhenti saat Niko menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, kamu tidurlah.... Selamat malam..." Niko berdiri dari tempatnya duduk.
"Selamat malam juga, kakak." Balas Aisley dengan senyumnya.
Niko tersenyum sebelum menutup pintu kamarnya. Setelah Niko menutup kamarnya, sekarang tinggal Aisley sendiri di dalam. Aisley tiba-tiba merasa bahagia sekaligus sedih, dia sama sekali tidak tahu apa yang menyebabkan itu. membenarkan posisi tidurnya agar terasa nyaman, kemudian dia menutup kedua matanya agak mau tertidur.
"Ain itu.... Huft kami memiliki rasa suka yang sama ternyata hahaha..." Guman nya pelan.
*****
Niko berjalan ke sebuah ruangan yang ada di sebelah kamarnya, ruangan itu seperti ruang kerja yang gelap karena tidak ada apapun untuk meneranginya. Niko duduk kursi kerja, meletakkan tangan di atas meja kerja.
Menghela nafasnya pelan, tiba-tiba tempat lilin yang ada di ruangan itu menyala. Mata Niko terpejam untuk beberapa saat, hawa dingin terasa dari balkon ruangan tersebut. Mata Niko masih tetap terpejam, dia seakan tidak merasakan hawa dingin yang ada di balkon.
"Sampai kapan kamu akan bertahan?" Tanya Niko dengan mata yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, pintu kaca pemisah antara balkon dan luar ruangan terbuka. Seseorang dengan tudung hitam masuk kedalam ruangan dengan langkah gontai, kedua tangannya menyilang memegang lengannya masing-masing. Orang itu terlihat seperti kedinginan. Setelah orang itu masuk, dia mendekat kearah Niko duduk. Pintu balkon tertutup lagi, hawa dingin yang ada di sana juga telah hilang seperti terbawa angin.
"Sialan..." Guman laki-laki bertudung.
Niko membuka kedua matanya, dia duduk di sofa yang ada di ruang kerja. Laki-laki bertudung tadi langsung mengikuti langkah Niko, dia duduk di depan Niko. Bersandar pada sofa dengan satu tangannya menopang kepala.
"Huh dasar sialan, kamu sengaja ya!?" Kesal laki-laki tadi.
"Hey hey, itu salahmu sendiri karena membuntuti ku ya.." Bantah Niko dengan tenang.
Laki-laki bertudung itu membuka tudungnya, wajah tampan terpampang jelas setelah ia melepaskan tudungnya. Laki-laki dengan rambut berwarna hijau dan rambut pendek, ya dia adalah Avram seorang pemimpin menara sihir. Pemimpin menara sihir adalah posisi tertinggi kedua setelah kepala menara sihir.
"Baiklah-baiklah aku tidak akan menyangkal itu.." Avram mengangkat kedua bahunya.
"Jadi apa tujuanmu?" Niko berbicara dengan nada serius.
"Eh? Heh tunggu dulu kenapa bicaramu jadi se-serius ini?" Avram berekspresi sok panik.
Niko terdiam, tatapannya tajam melihat kearah Avram. Niko adalah seorang yang tidak suka dibuntuti apapun alasannya. Dirinya meminta penjelasan atas alasan Avram yang membututi dirinya.
"Jaga bicaramu!" Tegas Niko.
"Ahaha~ Baiklah aku akan menjaga bicara, tapi... Ini benar-benar mengejutkan, kamu datang ke festival lentera bersamanya bahkan tangan kalian tidak terlepas, membeli beberapa makanan ah sial itu terlihat sangat romantis tahu~" Avram mengingat kejadian dimana Niko dan Aisley membeli makanan bersama, bahkan Aisley pernah menyuapi Niko.
"Ah iya! Kalian kesebuah sungai lalu melihat bunga api, saat bunga api terakhir gadis itu menangis dan kamu memeluknya dengan erat~ Dan yang membuat kalian sangat romantis, kamu bahkan mencoba menghibur gadis itu dengan menerbangkan lentera bersama.... Aduh aduh aku melihat senyuman bahagia dari gadis itu dan kamu juga tersenyum lembut~" Bunga-bunga seakan berterbangan di atas kepala Avram, entah kenapa tapi dia seperti seseorang yang melakukan kejadian itu.
"Apakah sudah cukup?" Tanya Niko dingin.
Avram tersentak dengan nada bicara Niko. Tatapan tajam dan nada bicara Niko untuk sungguh mengimitasi, tapi entah kenapa itu tidak berlaku bagi Avram. Laki-laki bermuka konyol itu tertawa.
Niko tetap diam dengan muka dinginnya, samasekali tidak berubah. Sedangkan Avram tetap tertawa melihat muka Niko yang sama sekali tidak berubah. Dirinya mulai tenang, duduk dengan baik dihadapan Niko. Walau mukanya masih cengingisan.
"Sudahlah... Ada perlu apa?" Tanya Niko.
"Hehehe baiklah~" Avram memberikan secarik kertas kepada Niko.
__ADS_1
Niko langsung menerima kertas tersebut tanpa banyak tanya. Niko menyimpan kertas itu di saku bajunya, menghela nafas pelan. Niko melihat Avram kembali, tatapannya sudah tidak sedingin tadi.
"Kembalilah..." Katanya dengan nada yang masih dingin.
"Hey ayolah, tidakkah kamu membiarkanku menginap disini? Hanya malam ini saja~" Katanya dengan nada memohon.
"Kamu tidak butuh tidur." Jawab singkat Niko.
"Hmm iya juga... Tapi kan aku juga ingin seperti manusia normal yang tidur di malam hari, kamu tahu? Hari-hariku di ruang kerja sangatlah melelahkan~" Keluhnya kesal.
"Menyedihkan, tapi aku sangat bahagia saat melihatmu bersedih." Niko mengucapkan dengan muka datar.
"Hey tega sekali kamu?! Huh aku akan marah denganmu!!" Avram bergaya seperti gadis merajuk kepada kekasihnya.
"Terserah sekarang pergilah..." Pandangan dingin menusuk diarahkan kepada Avram. Dia tersentak dnegan tatapan Niko.
"Ahahaha baiklah-baiklah~ Aku akan pergi..." Avram berjalan kearah balkon tempat dirinya berdiri.
Niko mengikutinya dari belakang di berhenti tepat di ambang pintu. Avram sudah berdiri di pinggiran balkon, sebelum dirinya pergi Avram melihat kearah Niko dengan senyum jahilnya.
"Bagaimana kalau kamu memberiku kesempatan untuk melihat gadis yang membuatmu tertarik?" Avram menyengir kuda.
"Pergi! Jangan pernah bermimpi untuk mendekatinya" Kata Niko dengan dingin.
"Ahahaha jangan marah, baiklah aku pergi~" Dengan tertawa Avram menghilang seperti terbawa angin.
"Dasar menyebalkan." Guman Niko.
Dia mengambil kertas yang tadi dia simpan di sakunya, kertas yang bertulis rune-rune aneh itu dibaca Niko dengan perlahan. Setelah selesai membacanya tepat ketika matahari baru saja akan terbit. Melihat ke depan tepat matahari yang akan terbit, Niko menatap matahari cukup lama.
...┈━═☆🌙 ☆═━┈...
...To be continued.......
...-Eka-...
__ADS_1