Tales Of Another World

Tales Of Another World
⸙ Ch.30 ◈ Pertunangan


__ADS_3

Arlen baru saja selesai mandi, dia duduk di sofa sambil menikmati teh. Setelah makan bersama di menara sihir, dia pergi berkeliling sebentar. Karena sudah lama dia tidak berada di ibu kota Argenius, rasa juga rindu dengan suasana kota.


"Kenapa rasanya menyebalkan ya?" Gumamnya.


Arlen mengingat saat dia berkeliling kota bersama Aisley, rasanya saat berkeliling waktu begitu singkat. Sedangkan saat dia sendiri waktunya terasa lama, namun menyenangkan.


*Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu terdengar dari dalam kamar, Arlen melihat kearah pintu kamarnya.


"Masuklah." Perintahnya.


Orang yang mengetuk pintu membuka pintunya, ternyata adalah seorang prajurit yang tidak dia kenali. Orang itu berjalan kearah Arlen, dia memberikan hormat kepadanya.


"Maaf mengganggu waktu pangeran ke-3, Yang Mulia Ratu memanggil anda." Ucapnya dengan hormat.


"Hmm, keluarlah. Aku akan segera kesana." Jawabnya tanpa melihat prajurit itu sedikitpun.


Prajurit itu memberikan hormat kepada Arlen, sebelum dirinya keluar dari kamar. Arlen menghela nafasnya kasar, dia sangat tidak suka dengan 'Ratu'.


"Dasar! Mengganggu waktu ku saja!" Umpatnya kesal.


Arlen memakai baju yang biasa ia kenakan, setelah selesai dia keluar dari kamar lewat balkon. Itu adalah hal biasa, karena jarang sekali dia keluar-masuk lewat pintu. Jika lewat pintu dia harus berputar untuk keluar dan pergi ke ruangan Ratu.


*Tok Tok Tok


"Ini saya, Flawmish?" Tanya Arlen.


"Masuklah." Jawab Ratu dari dalam.


Arlen membuka pintu, dia melihat 'Ratu' Sedang duduk di sofa sambil menikmati teh-nya. Arlen masuk, dia tanpa diminta langsung duduk di depan Ratu.


"Kenapa Anda memanggil saya?" Tanya Arlen.


"Duduk dan minumlah." Ratu menyeruput teh-nya.


Arlen tak bergeming, dia tetap diam sambil menatap sang Ratu. Mengetahui Arlen tidak mematuhi ucapannya, Ratu meletakkan cangkir tehnya di meja.


"Pangeran ketiga, kamu tahu kan? Kakak ke dua mu saat seumuran mu, dia sudah memi-!" Arlen memotong ucapan Ratu.


"Langsung saja ke intinya, anda tidak perlu berbicara terlalu banyak." Potong Arlen.


"Anak ini!" Umpat Ratu.


"Baiklah." Ratu tersenyum sebal.

__ADS_1


"Pangeran Flawmish, kau sudah besar, sudah saatnya kamu memiliki tunangan." Lanjut Ratu.


"Sudah ku duga, wanita tua ini pasti akan membicarakan soal tunangan!" Ucap Arlen dari dalam hati.


"Saya belum memikirkan pasangan hidup, lagi pula saya baru berumur 17 tahun." Kata Arlen dengan dingin.


Arlen sudah jelas memperlihatkan ketidaksukaannya, tapi sang Ratu itu tetap tenang. Dia memang sudah terbiasa dengan sifat tidak suka Arlen.


"Pangeran pertama memiliki tunangan saat dia berumur 5 tahun, lalu pangeran kedua bertunangan saat berumur 7 tahun. Mereka masih kecil sudah memiliki tunangan, harusnya pangeran ketiga juga begitu kan?" Tanya Ratu dengan senyum yang memuakkan di mata.


"Itu mereka, bukan saya. Lagi pula saya dari awal memang berbeda dari mereka berdua." Jawab Arlen dengan tenang.


"Hmph! Ternyata dia masih tahu diri!" Ratu tersenyum dalam hati.


*Tapi, mau bagaiman pun... Pangeran Flawmish tetaplah 'Pangeran Ketiga dari kerajaan Argenius' Fakta itu tidak bisa diubah." Ratu menatap Arlen yang jengah.


"Sudah saya bilang, saya berbeda dari mereka. Saya lebih suka kebebasan! Siapa pasangan hidup saya, anda tidak perlu mengatur saya! Lagi pula Almarhumah Ibunda sudah berpesan kepada anda kan, jika saya berhak memilih pasangan hidup semau saya?" Tanya Arlen dengan dingin.


"Sial! Lagi-lagi di mengungkit nya!!!" Geram Ratu.


"Aku tahu itu, tapi... Banyak rumor yang beredar, jika Pangeran Flawmish tidak akan pernah menikah. Bahkan ada rumor yang mengatakan jika pangeran menyukai sesama jenis." Jelas Ratu.


"Itu hanya rumor, Ratu yang bijak tidak akan percaya itu. Toh yang tercemar nama baik saya bukan Ratu." Jawabnya masih dengan nada dingin.


"Tapi, aku khawatir dengan mu... Itu juga akan mempengaruhi nama baik keluarga kerajaan."


"Pangeran Flawmish, apakah kamu masih menyukai mantan tunangan kakak pertama mu? Bagaimana jika aku mengatur kan supaya kamu dengannya?" Tanya Ratu.


"Tidak, saya tidak pernah menyukai Lady itu. Saya masih ada urusan, saya pergi dulu." Ucap Arlen.


Arlen langsung bediri dan melangkah pergi. Dia meraja jengah dengan Ratu yang terus memintanya untuk bertunangan. Apalagi si Ratu itu mengungkit mantan tunangan kakak pertama nya, itu adalah hal yang paling dia benci.


*****


Sebelum sarapan, Arlen sudah mendatangi Menara Sihir. Sehingga dia sarapan bersama Aisley dan Avram. Tidak seperti kemarin yang ada perdebatan kecil, kini mereka makan dengan diam.


"Sepagi ini, kau mau membawa dia kemana?" Tanya Avram.


"Tidak kemana-mana!" Jawab Arlen sambil memalingkan wajah.


Arlen dan Avram sedang berdiri di lorong menara sihir, menunggu Aisley yang sedang mengganti pakaiannya.


"Aku mencurigai mu." Avram menatap Arlen.


"Mencurigai apanya!? Aku tidak akan menculiknya, lagi pula akan ku kembalikan dia." Arlen menatap Avram dengan sebal.

__ADS_1


"Kalau Niko di sini, pasti dia tidak akan mengizinkan mu membawa Aisley pergi." Avram tertawa.


"Sekarang dia tidak ada! Aku juga sudah meminta izin dari mu." Arlen menghembuskan nafas dengan kasar.


"Hahaha iya-iya, jaga dia baik-baik jangan sampai terluka." Avram menepuk pundak Arlen.


"Tentu saja aku akan menjaganya!" Sahutnya.


"Tunggu! Kalimat macan ala itu!?". Pikir Arlen.


"Ka-kalau terluka aku sih tidak bisa memastikannya, karena kita akan berlatih pedang!" Lanjut Arlen.


"Iya-iya 'Berlatih pedang' hihihi." Avram malah tertawa aneh.


"Maaf membuat mu menunggu lama." Celetuk Aisley dari arah belakang.


Avram dan Arlen berbalik, mereka melihat Aisley memakai dress yang tidak terlalu panjang dan memakai topeng mata. Avram tersenyum melihat Aisley, pakaian yang dia pilihkan ternyata pas di tubuh Aisley.


"Tidak apa, baiklah kami pergi dulu." Ucap Arlen.


"Hmm, sampai jumpa." Balas Avram.


Arlen dan Aisley pergi dengan menggunakan teleportasi untuk keluar dari menara sihir. Di luar menata sihir, Aisley duduk di kereta kuda yang di siapkan Arlen.


"Mmm, kita akan pergi ke desa terdekat. Lalu kita akan berlari keliling desa untuk pemanasan, dan kita latihan berpedang di tempat Paman Aarick." Jelas Avram.


"Oke." Aisley mengangguk paham.


"Apa kamu membawa baju latihan?"


"Tentu saja bawa, kan kamu bilang kita juga akan berlatih pedang." Arlen mengangguk mendengar jawaban Aisley.


Aisley melihat keluar, kereta kuda yang mereka tumpangi telah keluar dari ibu kota. Jalanan diluar yang masih banyak pepohonan membuat Aisley menjadi tenang. Perlahan-lahan Aisley mulai merasakan kantuk, angin yang berhembus melalui jendela itu membuatnya ingin memjamkan mata.


Arlen hanya terdiam, dia ikut melihat keluar. Tidak biasanya dia naik kereta kuda untuk berpergian, karena dia memiliki kaki untuk berlari atau melompat dari satu pohon ke pohon. Saat Arlen melirik Aisley, dia akan terjatuh karena tertidur.


"Hey!" Arlen menyangga kedua pundak Aisley.


"Ckckck, anak ini sudah tidur." Arlen menggeleng pelan.


Karena tidak mau Aisley terjatuh, Arlen berpindah di samping Aisley. Dia menyandarkan kepala Aisley ke bahunya.


"Selama aku hidup, hanya kamu yang bersandar di bahu indahku ini. Jadi merasa terhormat lah!" Guman Arlen.


...┈━═☆🌙 ☆═━┈...

__ADS_1


...To be continued.......


...-Eka-...


__ADS_2