Tales Of Another World

Tales Of Another World
⸙ Ch.33 ◈ Suasana buruk


__ADS_3

Malam harinya, Arlen duduk di sofa tangan di kamarnya. Dia bersandar sambil melihat bulan yang bersinar terang. Suasana hatinya menjadi buruk karena dia berdebat singkat dengan Rosta.


"Hah, hari yang ku rancang dengan baik malah di hancurkan!" Umpatnya kesal.


"Arlen, kamu memanggilku?" Tanya seorang laki-laki dari belakang.


"Ck, kemana saja kamu hah!?" Tanya Arlen dengan dingin.


"A-apa maksud mu?" Laki-laki itu malah bertanya balik.


"Alfa... Kenapa kamu tidak bisa mengurus Nona keluarga Blanors itu!? Dia benar-benar menghancurkan acara minum teh ku!" Protes Arlen, dia berdecak pinggang sambil menatap 'bawahan' nya.


"Ha? Dia datang kemari?" Alfa malah berjalan sambil melipat tangannya di dada.


"Tentu saja, dia membuat keributan bahkan memecahkan piring dan cangkir! Kau tahu, tadi dia marah-marah sampai hampir menampar pelayan!" Arlen menceritakan tentang keributan tadi sore.


"Benar-benar pengganggu, tapi aku benar-benar tidak tahu. Sepertinya kamu lupa jika kamu menyuruhku pergi ke luar kota." Alfa berjalan ke jendela.


"Ke luar kota? Sial aku benar-benar lupa tantang itu!" Arlen malah memegangi kepalanya sendiri.


"Hm? Tapi.. Siapa yang minum teh denganmu hingga membuatmu marah seperti ini? Tidak mungkin Aarick kan?" Alfa memiringkan kepalanya untuk melihat Arlen.


"Bukan siapa-siapa! Aku akan pergi!" Arlen langsung pergi melewati balkon.


"He-hey tunggu dulu!" Alfa ingin menghentikan nya, tapi sudah terlambat.


"Anak itu!" Umpatnya melihat kepergian Arlen.


*****


Aisley baru saja selesai belajar sihir dengan Avram. Karena seharian belum belajar sihir jadi dia meminta Avram mengajarinya setelah makan malam.


"Bulan yang terang, tapi hanya ada sedikit bintang." Aisley melihat ke langit malam.


"Lebih baik tidur lebih awal.." Gumamnya.


Aisley berbalik, dia kembali kedalam. Aisley menutup tirai balkon tanpa menutup pintunya, sehingga angin yang berhembus masih bisa masuk kedalam. Berbaring di kasur yang empuk dan memakai selimut sedada, dia mengingat bagaimana hari-hari nya di dunia ini. Dengan perlahan Aisley menutup matanya, tapi dia sama sekali belum tidur.


*WHUSS


Angin dari luar yang tenang tiba-tiba menjadi kencang. Dengan sekelebat bayangan hitam masuk kedalam kamar Aisley, membuat tirai tidak tenang.


Aisley diam, dia tidak bergerak sedikitpun. Aisley terlihat tenang, sama sekali tidak terganggu dengan angin aneh tadi.


"Aku yakin kamu belum tidur." Suara yang begitu Familiar masuk ke dalam telinga Aisley.


Aisley membuka matanya, dia melirik kearah Arlen yang berdiri sambil menyilang kan tangannya. Arlen melihat Aisley dengan senyuman jahil di wajahnya.


Aisley bangun, dia menatap Arlen dengan kesal. Entah kenapa tiba-tiba suasana hatinya menjadi buruk.


"Kenapa kemari?" Tanya Aisley.

__ADS_1


"Aku hanya bermain saja kok," Arlen mengangkat bahunya.


"CK, kamu tahu? Kamu ini benar-benar tidak sopan!" Ujar Aisley.


"Tidak sopan? Oh, karena datang ke kamar seorang gadis di malam-malam seperti ini?" Arlen bertanya dengan nada yang menyebalkan.


"Bukan hanya itu, tapi kau masuk tanpa mengetuk pintu! Bahkan kau masuk dari balkon!" Aisley berdecak kesal.


"Yah, siapa suruh tidak menutup pintu balkon. Kau kan seorang gadis, seharusnya menutup pintu balkon sebelum tidur." Arlen duduk di pinggir ranjang.


"Ka-kau! Memang siapa yang tahu kalau di 'menara sihir' ini akan ada seorang laki-laki, yang begitu tidak sopan masuk kedalam kamar gadis saat malam lewat pintu balkon!" Aisley tidak mau kalah.


"Pfftt, oke aku yang salah." Arlen mengalah.


"Tidak biasanya kamu tidur lebih awal." Arlen jelas tidak mau berdebat dengan Aisley, dia tahu jika suasana hati temannya ini sedang buruk.


"Aku hanya sedikit lelah, mungkin karena lari berkeliling desa." Jawab Aisley.


"Ma-maaf," Celetuk Arlen.


"Maaf?"


"Seharusnya aku tidak mengajak mu berkeliling terlalu lama, dan juga minum teh tadi sore...." Arlen membuang muka.


"Tidak usah dipikirkan, kembalilah aku lelah." Aisley kembali berbaring.


"Um? Kau marah dengan ku?" Tanya Arlen.


"Tidak, aku sudah mengantuk jadi kembali lah." Aisley memejamkan matanya.


"Apa? Secepat itu!?" Aisley membuka matanya.


"Bukannya kita akan pergi beberapa Minggu lagi?" Sambung Aisley.


"Harusnya memang begitu, tapi lebih baik kita percepatan. Keadaan daerah kekuasaan paman tidak begitu baik, mereka butuh beberapa orang lagi."


"Apakah prajurit yang ada di sana sedikit?" Tanya Aisley.


"Tidak, tapi sepertinya ada ras iblis yang cukup kuat."


"Kenapa Sir Aarick tidak turun tangan sendiri?" Tanya Aisley.


"Paman Memiliki tugas dari Raja, sepertinya dia memang sengaja." Jawab Arlen.


"Begitukah? Tapi jika sengaja itu sama saja merusak negara sendiri kan?" Aisley tidak habis pikir jika 'Raja' sengaja menugaskan Aarick agar daerah kekuasaan Aarick hancur.


"Sudahlah, lain kali aku akan memberitahu mu sebuah 'Rahasia' yang besar!" Arlen tertawa dengan sangat menyebalkan.


"Arlen! Jawab dulu pertanyaan ku!" Aisley menggembungkan pipinya.


"Ini masih belum tepat, aku akan kembali... Tidurlah, selamat malam.." Arlen berdiri, dia tersenyum kearah Aisley.

__ADS_1


"Kau ini! Baiklah, selamat malam." Balas Aisley.


Arlen lalu pergi melewati pintu balkon, tidak lupa dia menutup pintunya. Sambil tersenyum, dia pergi meninggalkan kamar Aisley.


"Hmm rahasia besar? Membuat penasaran saja!" Umpat Aisley.


*****


Pagi yang cerah, Aisley sudah duduk di sofa tempat latihan. Dia baru saja selesai berlatih sihir dengan Avram. Sambil menunggu Avram yang sedang keluar, Aisley menikmati teh dan kudapan yang ada di meja.


"Aku sudah cukup lama di sini, tapi aku belum melihat luasnya dunia..." Gumamnya.


"Aisley Aisley, kenapa takdir mu buruk sekali... Terlempar kedunia yang tidak kau kenali, dan harus membahayakan nyawa untuk sebuah perdamaian.." Ujarnya pelan.


"Apa yang kau rutuki?" Suara menyebalkan itu kembali terdengar.


"Apa kau ini kucing!? Datang tanpa suara, tiba-tiba berbicara begitu saja." Aisley melihat kearah Arlen.


"Ng? Berani sekali kamu menyamakan Pangeran yang tampan ini dengan seekor kucing, kau itu yang kucing! Dasar Kucing Liar!" Arlen tidak terima.


"Kau!!" Geram Aisley.


"Kenapa? Mau marah?" Arlen malah berlagak menantang.


"Hmph!" Aisley membuang muka.


"Aku punya surat dari Kak Niko." Arlen duduk di sebelah Aisley.


"Kakak!? Mana suratnya!" Aisley nampak bersemangat.


"Eh? Bukannya kamu sedang marah dengan ku?" Arlen mengangkat salah satu alisnya.


"Tidak kok, aku hanya bercanda!" Aisley terkekeh pelan.


"Huh dasar! Kita Akan bertemu kak Niko di Atlatsir nanti, tapi jika kita pergi dari sini Minggu depan." Jelas Arlen.


"Apa kakak tidak kembali?" Tanya Aisley.


"Tidak, dia masih sibuk dengan spirit beast terakhir." Arlen memakan camilan yang ada di meja.


"Kau... Masih marah dengan ku?" Tanya Arlen.


"Tidak." Aisley menggeleng.


"Tapi... Kau terlihat seperti marah dengan ku." Arlen cemberut.


"Terserahlah." Aisley lalu berdiri, dia pergi meninggalkan Arlen.


"H-hey tunggu aku!" Arlen segera menyusul Aisley.


...┈━═☆🌙 ☆═━┈...

__ADS_1


...To be continued.......


...-Eka-...


__ADS_2