Tales Of Another World

Tales Of Another World
⸙ Ch.31◈ Bersama Arlen


__ADS_3

Setelah di bangunkan Arlen, mereka berdua berjalan ke sebuah mansion. Aisley mengganti pakaiannya dengan pakaian latihan, di dalam mansion itu tidak terlalu banyak orang. Hanya beberapa pelayan dan orang terpercaya Aarick.


"Kita lari bersama atau hanya aku?" Tanya Aisley.


"Tentu saja bersama, aku khawatir kau akan tersesat karena kau ini kan buta arah." Jawab Arlen.


"Kau-!" Geram Aisley.


"Ayo lari!" Ajak Arlen.


"Tunggu!" Aisley menghentikan.


"Kenapa?" Arlen berbalik melihat Aisley.


"Sebelum berlari, kita harusnya pemanasan dulu." Aisley berdecak pinggang.


"Lari juga kan pemanasan."


"Buka begitu Arlen, seharusnya kita pemanasan kecil setelah itu baru berlari. Kalau tidak aku akan keram dan tidak bisa lari." Jelas Aisley.


"Bukankah saat berlatih pedang kamu tidak pemanasan? Kau tidak keram kan?" Tanya Arlen.


"Hey memang aku pernah bilang ya? Sebelum berlatih aku pemanasan dahulu."


"Huh, nyatanya aku langsung lari tidak masalah." Gumamnya.


"Itu kamu bukan aku!" Bantah Aisley.


"Arg, iya iya kalau begitu pemanasan sana!" Perintah Arlen.


Aisley tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Dia lalu berjalan ke tempat yang cukup longgar, Aisley memulai pemanasan nya. Arlen hanya diam, memandangi Aisley dari bawah pohon.


"Hey! Kau tidak ikut?" Tanya Aisley di sela pemanasan nya.


"Tidak! Lagi pula aku tidak akan keram seperti mu!" Balas Arlen.


"Terserah kau saja." Aisley melanjutkan pemanasan tanpa memperdulikan Arlen.


Setelah selesai dengan pemanasan nya, Aisley menghampiri Arlen. Dia sudah berkeringat, setelah beristirahat kurang lebih 5 menit, Aisley sudah siap untuk berkeliling desa.


"Ckckck, sudah lelah begitu pasti tidak akan bisa lari." Cibir Arlen.


"Diam lah dasar mulut turahan!"


"Mulut apa?" Arlen menatap bingung.


"Tidak ada, ayo lari." Aisley berjalan keluar lebih dulu.


"Ka-kau!" Umpatnya kesal.


Mereka berdua berlari bersama, Arlen yang memimpin jalan karena dia yang tahu desa itu. Aisley dan Arlen melewati tempat pertanian ataupun perkebunan. Karena namanya saja 'desa' pasti banyak petani yang bercocok tanam.


"Mereka menanam gandum?" Tanya Aisley disela berlari.


"Mmm, gandum sangat penting di sini." Jawab Arlen.

__ADS_1


"Jadi seperti padi ya." Guman Aisley.


"Padi? Apa itu?" Kata itu masih asing di telinga Arlen.


"Padi itu makanan pokok di daerahku, e-eh tidak-tidak! Yang pokok itu beras, tapi beras terbuat dari padi." Jelas Aisley.


"Beras?" Muka Arlen malah tambah bingung mendengar penjelasan Aisley.


"Hahaha kamu tidak tahu? Mungkin di sini tidak ada padi, bisa jadi di daerah luar ada padi." Aisley tertawa kecil.


Mereka terus berlari berkeliling, Aisley sangat menikmati suasana sejuk desa itu. Karena lari mereka seperti joging bagi Aisley, dia jadi merasa bernostalgia. Biasanya di hari libur sebelum matahari terbit, Aisley dan Niko akan lari bersama untuk pergi ke perpustakaan tempat Niyra.


"Ternyata stamina mu cukup juga ya." Ucap Arlen.


Mereka telah berlari keliling desa sampai hampir siang hari. Jika mereka lelah, mereka akan beristirahat dan minum.


"Tentu saja." Aisley menyombongkan diri.


*****


"Ckckck, kau ini berat sekali!" Umpat Aisley.


Aisley tengah memapah Arlen untuk ke masion. Saat berlari kaki Arlen tidak sengaja keseleo, untung saja Aisley refleks untuk menahan tubuh Arlen agar tidak jatuh.


"Diam! Kamu pikir kamu juga tidak berat ha?" Arlen berjalan dengan susah payah.


"Sudah ku bilang, lebih baik kamu pemanasan! Salah siapa tidak mau pemanasan dengan ku!?" Tanya Aisley.


"Kau ini cerewet sekali!" Aisley diam sambil menggembungkan pipinya.


"Kaki mu masih sakit?" Tanya Aisley.


"Sudah tidak terlalu sakit, terimakasih." Ucapnya.


"Wah kamu tahu terimakasih ya." Aisley terkekeh.


"Diamlah!" Arlen memakan biskuit.


"Pfftt, baiklah pangeran Flawmish Arlenio De Argenius~" Aisley menahan tawanya.


Mereka diam, tidak ada yang berbicara sedikitpun. Aisley menikmati teh dan biskuit yang ada di meja, sedangkan Arlen hanya meminum tehnya.


*****


Sore harinya, setelah Aisley dan Arlen selesai berlatih. Mereka kembali ke kota, Arlen mengajak Aisley untuk pergi ke tempat tinggalnya. Seperti ajakannya kemarin, dia akan minum teh bersama Aisley.


"Silahkan." Ucap kepala pelayan.


Aisley dan Arlen berjalan bersama lagi, penampilan Aisley sudah berubah. Dia tidak lagi memakai baju latihan, melainkan memakai dress yang dia kenakan pagi tadi. Selain itu Aisley juga memakai topeng mata untuk menyembunyikan identitas.


Kepala pelayan mempersilahkan untuk duduk, mereka berdua duduk di gazebo taman. Setelah kepala pelayan pergi tak berselang lama beberapa pelayan membawakan teh dan camilan.


"Tidak disangka tempat ini indah ya.." Aisley mengamati sekelilingnya.


"Mmm, baguslah kau suka." Arlen tidak menggunakan bahasa formal, karena sekarang hanya mereka berdua.

__ADS_1


"Jarang ada laki-laki yang menyukai taman, biasanya laki-laki di abad pertengahan lebih mementingkan pekerjaan." Aisley terkekeh pelan.


"Aku kan berbeda dari laki-laki yang lain~" Arlen menyombongkan diri.


"Terserah." Aisley melihat kearah lain.


"Kau-!" Arlen membuang nafas dengan kasar.


"Eh? Pohon itu sangat besar dan memiliki daun yang lebat." Aisley memandangi kearah pohon yang terdapat ayunan kayu.


"Indah bukan? Pohon itu dari ras Elf, sudah sangat lama pohon itu di sini. Pohon itu saat musim panas akan mengeluarkan hawa sejuk, sedangkan saat musim dingin akan mengeluarkan hawa yang hangat." Jelas Arlen.


"Wah, ada juga pohon yang seperti itu ya... Bukankah itu keren?" Aisley kagum sendiri.


"Keren? Mungkin." Jawab nya ragu.


Saat mereka sedang sibuk berbicara tentang pohon besar itu, terdengar keributan dari luar taman.


"Apa ada masalah?" Tanya Aisley.


"Entahlah, biarkan saja." Arlen nampak tidak peduli.


"Bisa-bisanya dia tidak peduli dengan keributan yang ada di kediaman nya sendiri." Aisley menggelengkan kepalanya.


"Apa tidak masalah? Bisa saja orang yang membuat keributan sedang mencari mu kan?" Entah kenapa tapi Aisley tidak nyaman dengan keributan itu.


"Jika orang itu penting Alfa pasti akan memberitahu ku, jika tidak penting dia pasti akan mengusirnya." Jawab Arlen.


"Alfa? Siapa dia?" Tanya Aisley.


"Dia... Bisa di bilang seorang teman yang penting?" Arlen menjawabnya dengan nada tanya.


"Jadi dia ad-!" Perkataan Aisley terpotong.


"Biarkan aku bertemu pangeran! Kenapa kau terus saja menghalangi ku, apakah perintah Raja tidak lebih penting dari tamu Pangeran Flawmish!?" Suara wanita yang sedang marah-marah itu terdengar jelas.


Arlen dan Aisley langsung melihat keluar taman, tepat di jalan masuk taman. Sepertinya perempuan itu benar-benar ingin bertemu Arlen.


"Apa kau bisa membaca masa depan?" Arlen malah menatap Aisley dengan aneh.


"A-apa? Tentu saja tidak, jangan asal bicara."Aisley menunjukkan muka jengah.


"Oke-oke, sepertinya tidak asing dengan suara ini." Arlen terus mendengar suara keributan yang ada di luar taman.


"Temui saja dia, siapa tahu penting."


"Kenapa kalimatnya terasa aneh?" Tanya Arlen di dalam hati.


Arlen segera pergi untuk menemui orang yang membuat ribut itu. Di dalam hatinya, dia sedang merutuki Alfa yang tidak menghentikan masalah sekecil itu.


...┈━═☆🌙 ☆═━┈...


...To be continued.......


...-Eka-...

__ADS_1


__ADS_2