
Setelah mereka menerbangkan lentera dan melihatnya cukup lama, akhirnya Niko dan Aisley akan kembali ke rumah Niko.
Mereka berjalan bersama masih dengan tangan yang bergandengan. Entah mengapa tapi Aisley sekarang semakin mengeratkan gandengan dengan 'kakak' nya itu.
"Hmm? Ada apa?" Tanya Niko yang merasa tangan Aisley tiba-tiba dingin.
"Umm... Tidak..." Jawabnya dengan suara pelan, bahkan hampir tidak terdengar.
"Ah iya, bagaimana jika kita membeli beberapa makanan atau aksesoris?" Tanya Niko.
"Um..." Guman Aisley lagi.
"Aku merasa kamu menjadi aneh... Apakah ada masalah? Ah apa karena bayangan di sungai itu?" Tanya Niko memastikan.
"...Tidak, aku hanya merasa.... Merasa kita ini seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan!" Aisley menatap Niko dengan wajah yang antusias, bahkan mukanya samar-sama berwarna merah malu.
"Tatapan yang sama..." Guman Niko dalam hati saat melihat kedua mata Aisley.
"Hahaha apa yang kamu bicarakan? Tapi kalau di pikir-pikir benar juga ya, dari tadi eh kecuali saat di sungai kita terus bergandengan tangan!" Niko melihat kearah langit, dimana masih ada banyak lentera terbang.
Mendengar jawaban Niko, Aisley langsung tertawa pelan diikuti dengan lelehan kecil Niko. Berbeda dengan mulutnya, pikiran dan hati Niko malah pergi kemana-mana.
"Hah...Nada tertawa yang sama..." Katanya lagi di dalam hati.
"Hum...Baiklah mari kita membeli beberapa makanan yang kamu sukai!" Ajak Niko.
Aisley mengangguk setuju, mereka berdua pun berjalan bersama mendatangi tempat-tempat penjual makanan.
*****
Di tengah malam, Aisley sama sekali belum bisa tidur. Padahal sudah hampir satu jam dirinya berbaring di kasur empuk itu. Entah mengapa tapi pikirannya masih kesana kemari.
"Sial ini menyebalkan, lebih baik tanya kakak..."
Aisley bangun dari ranjangnya, dia keluar dari kamarnya. Berjalan dengan cahaya remang-remang menuju kamar 'kakak' nya.
Suara ketukan pintu terdengar. Niko yang sedang duduk di jendela terkejut, terdengar suara Aisley yang dengan ragu dan pelan memanggilnya. Dengan segera Niko berjalan kearah pintu dan membukanya. Benar saja, Aisley berdiri di depan pintu kamarnya dengan kepala yang tertunduk.
"Mengapa kamu belum tidur?" Tanya Niko.
"Um...A....Maaf aku mengganggu kakak, sebenarnya ada hak yang ingin aku tanyakan..." Masih dengan menunduk, Aisley menjawab dengan suara yang sangat pelan, tapi terdengar jelas di telinga Niko karena keheningan malam.
"Tidak mengganggu kok, lagi pula aku juga tidak bisa tidur.... Biklah, bagaimana jika kamu masuk?" Tanya Niko.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Aisley secepat kilat.
"Eh... Kenapa kamu menjawab cepat sekali? Dimana kewaspadaan ku?" Tanya Niko sembari menyingkir dari jalan masuk.
"Humm? Tentunya karena kamu adalah 'Kakak' ku sekarang, lagi pula kakak pasti tidak akan melakukan apa-apa dengan diriku kan?" Jawab Aisley sambil mengedipkan satu matanya.
"Bagaimana alasan itu bisa diterima?" Guman Niko pelan.
Niko menutup pintu kamarnya, dia menyusul Aisley yang masih berdiri sepertinya Aisley tidak tahu akan kemana.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Niko.
"Tentang festival malam ini..." Jawab Aisley.
"Eumm cerita yang cukup rumit... Bagaimana jika kamu sambil tertidur?" Tawar Niko.
"Apa kakak akan melakukan sesuatu?" Tanya Aisley waspada.
"Tentu saja tidak, bukankah kamu bilang percaya jika aku tidak akan melakukan sesuatu padamu?" Balas Niko.
"Huh.. Baiklah... Tunggu tidur di ranjang kakak?" Tanya Aisley ragu.
"Tentu..." Jawabnya.
"Berbaringlah di tengah..." Kata Niko.
"Aku tidak terbiasa di tengah, bahkan saat aku sendiri..." Jawabnya dengan nyengir kuda.
"Oh? Jadi kamu sudah pernah tidur bersama orang lain?" Tanya Niko.
"Tentu saja..." Jawabnya.
"Apa termasuk laki-laki?" Tanya Niko terlihat aneh.
"Eh? I...Iya, hey hey tunggu tapi itu hanya dengan kakak ku ya..." Aisley berbicara seakan menyangkal ala yang dipirkan Niko.
"Apa!? Tidur bersama kakak laki-laki!?" Teriaknya terkejut dalam hati.
"Kenapa?" Aisley memiringkan kepalanya.
"Eh tidak-tidak.... Mari aku ceritakan... hmmm dimulai dari mana ya?" Niko mendongakkan kepanya.
"Sebisa kakak saja!" Aisley memiringkan tubuhnya menghadap Niko.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menceritakan garis besarnya saja." Niko tersenyum dengan jari telunjuknya menunjuk atap.
Niko kemudian menceritakan sebuah kisah secara garis besar. Aisley mendengarkan dnegan serius seakan tidak ingin ketinggalan cerita yang terucap dari bibir Niko.
Niko bercerita jika dahulu di benua Ascesia, benua yang saat ini mereka tinggali. Sedang terjadi gejolak dengan ras iblis, ambisi si raja iblis untuk menguasai seluruh benua. Namun tentu saja ambisi itu ditentang oleh banyak ras.
Demi menyelamatkan daerah kekuasaan mereka masing-masing, para kerajaan dari masing-masing ras berusaha mati-matian. Sebelumnya mereka sama sekali tidak berfikir untuk menyatukan kekuatan mereka.
Tetapi karena ras iblis yang semakin merajalela, seakan mereka tidak ada habis-habisnya. Semakin lama semakin besar tanah yang dikuasai oleh ras iblis. Dan akhirnya beberapa ras yang masih bisa bertahan ataupun belum punah bersatu untuk mengalahkan ras iblis.
Tentu saja kebersatuan mereka itu karena tujuan mereka yang sama, jika tidak mana mungkin mereka akan bersatu. Hari demi hari terlewati dengan peperangan, banyak nyawa yang telah menjadi korban karena ambisi raja iblis.
"Tunggu, kakak mengapa mereka tidak bersatu lebih awal?" Tanya Aisley tidak mengerti dengan keadaan.
"Oh? Hum... Tentu saja ras Elf dan Peri tidak mau bersatu dengan ras-ras seperti kita..." Jawab Niko tenang.
"Kenapa seperti itu?!"
"Aih... Bagaimana ya... Ras Elf dan ras peri itu menganggap dirinya sebagai ras suci.... Jadi mereka menganggap kecuali mereka semua ras itu adalah ras rendahan..." Jelas Niko.
"Hah?! Sialan kenapa mereka sombong.." Guman Aisley.
"Ahahaha begitulah...." Niko tertawa canggung.
"Tapi mengapa mereka akhirnya bersatu? Pasti bukan karena tujuan yang sama bukan?"
"Pintar... Mereka sebenarnya tidak akan mau bersatu walaupun ras mereka hampir punah... Itu semua berkat menara sihir..." Niko kembali tersenyum manis, tapi tidak dengan sorot matanya.
"Menara sihir?" Tanya Aisley lagi.
"Iya, menara sihir hanya dihuni oleh para penyihir, mereka memiliki hubungan baik dengan para peri dan elf karena sihir yang penyihir miliki..." Jelas Niko.
Niko kembali menceritakan ceritanya, setelah mereka bersatu bukannya menambah baik malah keadaan semakin memburuk. Keegoisan ratu Elf menjadi dasar utamanya, semakin lama dan karena kebijakan kepala menara sihir mereka bisa membalikkan keadaan.
Saat mereka pikir mereka sudah akan berhasil, kabar buruk terdengar. Raja Iblis telah memiliki kekuatan penuhnya, andai mereka bersatu lebih awal mungkin kekuatan raja iblis tidak akan sekuat sekarang.
Mereka berusaha melawan, pengorbanan mereka yang sejauh itu tentunya tidak akan disia-siakan.
Walaupun mereka tahu mustahil untuk mengalahkan raja iblis yang memiliki kekuatan puncak tetapi, setidaknya mereka sudah mengalahkan banyak jendral ras iblis. Yang sedang jendral ras iblis hanya tinggal lima, itu sudah cukup menguntungkan.
┈━═☆🌙 ☆═━┈
To be continued....
__ADS_1
-Eka-