
Seminggu telah berlalu, Aisley dan Arlen juga sedang meninggalkan ibukota Argenius. Mereka keluar kota saat malam hari, agar tidak terlalu menarik perhatian. Berbekal pedang dan kuda, mereka berdua berjalan bersama tanpa hambatan sedikit pun.
"Setelah melewati hutan ini, kita akan menginap di kota." Jelas Arlen.
"Iya!" Jawab Aisley.
Aisley memang tidak memakai teleportasi nya, karena Avram berpesan agar tidak terlalu bergantung pada sihir. Dia harus melewati jalan dengan berjalan bukan dengan teleportasi, selain menghemat energi mereka dapat memberantas beberapa ras iblis rendahan.
Sampai di kota, Aisley dan Arlen mencari penginapan untuk bermalam. Kota yang mereka tinggali memang tidak begitu ramai, karena ini memang hampir tengah malam. Arlen masuk kesalah satu penginapan kota, Aisley mengikuti nya dari belakang.
"Dua kamar untuk satu malam." Ucap Arlen.
Responis menangguk, dia memberikan dua kunci kepada Arlen. Aisley dan Arlen berjalan ke lantai dua, tempat kamar mereka. Walaupun sudah malam, tapi ternyata masih ada beberapa orang yang ada di lantai bawah.
"Tidurlah beberapa saat, pagi nanti kita harus melanjutkan perjalanan agar sampai di kota Noxta." Bisik Aisley saat di depan kamar.
Aisley mengangguk, dia lalu masuj kedalam kamarnya. Penginapan yang ditinggali Aisley dan Arlen memiliki dua lantai, lantai atas untuk penginapan sedangkan lantai bawah untuk tempat makan, seperti restoran kecil.
*****
Matahari baru menunjukkan sinarnya, membuat jalan menjadi remang-remang. Suara derap kuda terdengar diantara kebisingan para penjual yang mulai membuka toko smereka.
Aisley dan Arley menaiki kuda yang berlari dengan kencang. Seperti kata Arlen, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju kota Noxta.
"Kau kedinginan?" Tanya Arlen.
"Ti-tidak terlalu dingin kok." Jawab Aisley.
Arlen mengangguk, dia melanjutkan perjalanannya. Setelah lama berjalan, akhirnya mereka sampai di Kota Noxta di sore hari. Perjalanan kali ini tidak semulus saat malam hari, mereka beberapa kali bertemu dengan ras iblis lemah ataupun perampok.
Arlen dan Aisley berjalan memasuki kota tanpa menunggangi kuda, mereka berjalan sambil menarik kuda. Itu mereka lakukan agar tidak menarik perhatian dan ada beberapa aturan yang melarang menaiki kuda di kota kecuali kepentingan mendesak. Ataupun utusan dari bangsawan atau pemimpin kota.
"Malam ini kita akan pergi ke sebuah tempat, istirahatlah sebentar." Bisik Arlen.
Aisley mengangguk, selama perjalanan ini mereka jarang berbincang. Tidak seperti biasanya, mereka sama sekali tidak bertengkar, mereka hanya berbicara seperlunya.
*****
"Makanlah, kulihat tadi kamu tidak makan terlalu banyak..." Arlen memberikan daging ke mangkuk Aisley.
"Mn." Aisley mengangguk dia lalu memakan makanannya.
"Hm... Rasanya kok aneh ya?" Arlen menatap Aisley yang sibuk makan.
"Sepertinya kita membutuhkan beberapa pakaian untuk ke sana." Celetuk Arlen.
__ADS_1
"Beberapa pakaian?" Tanya Aisley.
"Seperti dress untuk mu." Arlen meminum tehnya.
"Dress? Untuk apa?" Aisley hanya diam dan bertanya dalam hati.
*****
Dimalam hari suasana kota yang tidak terlalu ramai, bahkan hampir mendekati kata 'sepi'. Aisley yang menggunakan Dress panjang dengan topeng mata berjalan bersama Arlen yang sama menggunakan topeng mata.
"Ki-kita akan kemana?" Tanya Aisley ragu.
"Ketempat yang seharusnya tidak kau datangi, tapi ini demi 'misi'. Kau hanya perlu diam, jangan banyak bertingkah." Balas Arlen.
Aisley sebenarnya tidak nyaman dan Arlen menyadari itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa ini memang demi misi. Dia sebenernya tidak perlu untuk membawa Aisley bersamanya, tapi 'lebih baik' membawa Aisley.
Aisley berjalan sambil menggandeng tangan Arlen, mereka seperti sepasang kekasih saja. Sejak awal dia tidak nyaman memakai dress, karena belum terbiasa memakainya. Jika sepatu hak tinggi itu tidak masalah, tapi dress yang sedikit terbuka dan panjang ini benar-benar merepotkan.
Aisley dan Arlen sampai disebuah gedung, gedung itu terlihat masih banyak orang di dalamnya. Selain tempatnya yang terpencil, gedung ini terlihat tidak baik untuknya.
"Kau yakin?" Tanya Aisley.
"Tentu." Jawab Arlen.
"Aku merasa ini seperti..." Aisley masuk kedalam.
"Kau gila!" Umpat Aisley.
Arlen hanya tersenyum mendengar umpatan Aisley, dia tidak tahu harus menanggapi apalagi Mereka masih 'anak kecil' bahkan umur saja belum sampai 20 tahun.
"Dimana Tuan Perdel?" Tanya Arlen pada seorang penjaga.
"Siapa anda? Apakah anda sudah memiliki janji dengan Tuan Perdel?" Tanya penjaga itu.
Arlen diam, dia tidak menjawab pertanyaan penjaga itu. Lalu dia menarik bibirnya, penjaga itu memperhatikan Arlen lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Maafkan saya, mari saya antar..." Panjaga itu menunjukkan arah.
Arlen dan Aisley mengikuti penjaga itu, mereka berhenti di sebuah ruangan. Pintu yang menutupi ruangan itu terlihat besar dan lebih mewah dari pintu yang lainnya.
Setelah memberitahu kedatangan Arlen dan Aisley, penjaga itu keluar. Sedangkan mereka berdua masuk kedalam setelah di panggil.
"Tuan Perdel." Panggil Arlen.
Tuan Perdel itu mendongakkan kepalanya, dia segera berdiri setelah tahu siapa yang datang.
__ADS_1
"Tuan muda." Perdel memberikan hormat.
Dia mempersilahkan Aisley dan Arlen untuk duduk di sofa. Tanpa ditanya Arlen, Perdel langsung menjelaskan tentang iblis tingkat menengah yang mengganggu kasino nya.
"Kita akan langsung menanganinya malam ini." Arlen menatap Aisley.
Aisley dan Arlen saling menatap, mereka saling mengangguk. Setelah berbincang sebentar dengan Perdel, Aisley dan Arlen langsung pergi.
*****
"Kamu mau ikut taruhan!?" Tanya Aisley yang tidak percaya.
Mereka telah duduk di meja yang biasanya dibuat taruhan oleh penghuni kasino ini. Bukannya mereka mau membasmi iblis? Tapi kenapa malah duduk dan itu taruhan!?
"Tenang saja, sebentar lagi mereka pasti akan datang." Jawab Arlen dengan tenang.
"Ingin ku menemukanmu!!" Umpat Aisley.
Akhirnya Arlen mengikuti taruhan dengan para orang-orang. Aisley menunggu Arlen dengan jengah, dia benar-benar bosan menunggu Arlen.
Saat sedang seru-serunya, Aisley tercengang. Dia merasakan sebuah aura imidasi yang begitu menekan. Melihat kesana-kemari, tapi Aisley tidak menemukan dimana asal aura itu.
"Arlen, kamu merasakannya kan?" Bisik Aisley.
"Tentu, tapi sepertinya orang itu telah keluar." Balas Arlen.
Aisley diam, dia dengan sabar menunggu permainan Arley berakhir. Setelah permainan itu berakhir, mereka segera meninggalkan kasino.
"Arlen! Biarkan aku berganti pakaian!" Ujar Aisley sembari berlari.
"Tidak sempat!" Arlen lalu berlari tanpa peduli Aisley yang kesusahan.
"Sialan kau ini!!" Umpat Aisley.
Aisley lalu melepaskan sepatunya, dia merobek rok yang cukup panjang itu. Untung saja Aisley memakai celana panjang, sehingga kakinya tidak terekspos.
Arlen berhenti dia sebuah pojok bangunan, dia seperti sedang orang yang mengintai. Aisley segera mengikuti, dia ikut bersandar di tembok.
"Kau menemukan nya?" Bisik Aisley.
"Iya, tapi sepertinya ini lebih burunk dari apa yang dikatakan Perdel." Balas Arlen.
"Lebih buruk?" Gumam Aisley.
...┈━═☆🌙 ☆═━┈...
__ADS_1
...To be continued.......
...-Eka-...