
" ban***t, baji***n, bere***ek kalian, dasar murahan kau Cherly " bentak Azka menggelegar memenuhi seluruh kamar
" dan loe" tunjuk Azka tepat di wajah pria itu " sahabat macam apa Lo hah. istri sahabat sendiri Lo embat ban***t " teriakan Azka sembari melayangkan bogem mentah tepat di rahang tegas itu
Amarah Azka sudah tidak terkontrol, dia memukul sahabatnya dengan memb**i-buta. pertikaian antara Azka dan Rasya sahabatnya tidak terelakkan, semua merasa benar tidak ada yang mau mengalah. hingga Arif dan Cherly melerai memisahkan mereka
" lepas Rif, awas " bentak Azka pada Arif yang di Jawab gelengan kepala
"aku akan bunuh mereka, lepaskan aku Rif" bentaknya lagi dengan nafas memburu
__ADS_1
"hahaha......... dulu loe bisa menang dari gue tapi tidak untuk sekarang. Cherly sudah tidak mencintai Loe lagi karena yang dia cintai cuma gue sekarang hahaha...." ujar Rasya menertawai Azka" ya kan bebs, kamu hanya mencintai aku daja kan??" ujar Rasya pada Cherly yang berada di sampingnya itu
Dengan sedikit ragu Cherly menjawab "ya" karena selama ini Cherly merasa kesepian. Azka sudah tidak memperlihatkan perhatiannya, dingin malahan sekarang setiap perkataan yang keluar dari mulut Azka kasar.
" dasar murahan kamu Cherly, di mana o**k kamu hah" bentak Azka dengan mata memerah marah
" kamu baru aja melahirkan anak kita, putri kita. putri yang baru kamu lahirkan 3 bulan lalu, ibu macam apa kamu hah, gila kamu cher. hanya karena karir kamu enggan hamil sampai-sampai kamu mau gugurkan bayi qila dan sekarang kamu pilih dia" tunjuk Azka pada Rasya
" maaf az, tapi kamu sudah banyak berubah, sudah gak pernah perhatian sama aku. kamu lebih mementingkan bayi itu, memilih perhatian sama bayi itu, dan kenapa juga kamu buat aku hamil az. aku kan sudah bilang berapa kali kalau aku belum mau hamil belum mau punya bayi. tapi apa hah?? kamu tetap buat aku hamil. Aku masih mau berkarir, masih mau memajukan usaha aku az . andai saja kita belum punya anak, rumah tangga kita masih berjalan lancar, aku enggak akan pilih orang lain. aku juga butuh perhatian kamu az, aku juga pengen di manja, dan kamu apa ada waktu untukku??? tidak kan. dasar anak pembawa sial dia, karena dia waktu kamu untukku tidak ada. karena dia juga perhatian kamu sudah tidak ada. aku benci di nomor 2 az, aku enggak suka" pekik Cherly menatap Azka dengan pandangan sulit di artikan
__ADS_1
" oke jika itu mau kamu Cher, Rif buat rekaman video. Cherly Wijaya hari ini juga kamu bukan lagi istriku, aku talak kamu dalam keadaan sadar tanpa paksaan apapun" ujar Azka tegas dengan kedua tangan terkepal kuat dan mata memerah antara marah, sedih, dan kecewa.
Deg
jantung Cherly berpacu dengan cepat seperti seekor kuda yang sedang berlomba pacuan kuda. dapat Cherly rasakan sesak di bagian dadanya, bulir bening juga ikut menetes di sudut matanya namun ini adalah pilihannya. ia tidak tau apakah pilihannya tepat atau tidak yang jelas saat ini ia ingin terlepas dari Azka. karena setiap kali ia melihat bayi qila ia selalu merasa marah, benci dan kecewa. ia marah kenapa Azka lebih memilih memberikan banyak waktu untuk bayi itu. benci karena semua orang lebih mementingkan bayi itu ketimbang dirinya. kecewa karena semenjak bayi itu lahir sikap Azka padanya banyak berubah, ia paling tidak suka. jujur saja ia masih sangat mencintai Azka namun melihat sikap Azka ia memilih mundur, sakit memang tapi inilah pilihan nya.
" Dan aku mau kamu tanda tangan perjanjian bahwa hak asuh Aqila jatuh ke tangan Daddy nya " ujar Azka berlalu begitu saja karena sudah tidak kuat menahan air matanya yang sudah merembes di sudut matanya
kamu bisa Azka kamu bisa membesarkan putrimu sendiri, tuhan mohon bantu aku menjalankan amanah Mu ini. aku pastikan kamu menyesal Cher, aku pastikan kamu memohon untuk bisa kembali pada ku dan juga qila. dan jika saat itu tiba kamu sudah tidak bisa masuk ke dalam kehidupan kami batin Azka menahan sakit di ulu hatinya
__ADS_1
sejak perceraian itu Azka tidak pernah bertukar pesan untuk memberitahu perkembangan anak mereka. yang ada di pikiran Azka membesar putrinya dengan kasih sayangnya Oma dan opa sudah lebih dari cukup