Tante, Jadi Mama Aku Ya

Tante, Jadi Mama Aku Ya
panik


__ADS_3

Nisa menatap nanar ponsel yang ia buang tadi bersamaan dengan deraian air mata yang terus mengalir. dalam pikirannya kini hanya tertuju dengan perubahan suaminya. apakah karena ini suaminya berubah pikirnya.


" loh ma, mama kenapa?? ada yang sakit?? ayo ke rumah sakit ma. jawab qila ma " pertanyaan beruntun dari qila di abaikan Nisa. karena kini Nisa tenggelam dalam pikirannya yang sedang kalut


" ma, mama kenapa ?? " pekik qila sambil menggoyangkan lengan Nisa untuk menyadarkan ibu sambungnya


sedangkan Nisa yang kini tersadar hanya menggeleng gelengkan kepalanya sebagai jawaban. ia merasa tidak mampu untuk bersuara. Sakit dan kecewanya begitu besar ketika melihat hasil foto yang di kirim sahabatnya. berulang kali ia menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar berharap bisa melegakan pikiran dan hatinya.


" Nisa, akkhh..... kenapa loe buka sebelum gue sampek sih " teriak Rara frustasi karena kesalahannya tadi lalu dengan segera ia memeluk sahabatnya yang dalam keadaan tidak baik-baik. dan qila terdiam melihat keduanya, ia merasa bingung harus bagaimana.


" Tante mama kenapa?? " tanya qila berharap mendapatkan jawaban

__ADS_1


mendengar pertanyaan itu, sontak Rara menolehkan kepalanya menatap lawan bicaranya " oh mama enggak apa-apa sayang, emtt... tadi qila sama mama naik apa kesini Hem " tanya Rara lembut agar putri sahabatnya tidak khawatir.


" naik mobil Tan, tuh mobilnya " tunjuk qila pada mobil yang terparkir cukup jauh dari tempat duduknya


" qila pulang duluan ya, Tante mau ngomong sama mama dulu. nanti Tante antar pulang mamanya ya. bisa?? " tanya Rara setengah membujuk. ia harus menenangkan sahabatnya, ia tidak bermaksud untuk membuat rumah tangga sahabatnya hancur tapi ia juga tidak mau sahabatnya di khianati untuk kedua kalinya


" beneran mama enggak kenapa-kenapa?? " tanya qila yang cemas melihat sang mama yang tidak berhenti menangis di pelukan Rara. " emmtt...... ya udah qila pulang duluan sama pak supir. tapi Tante jagain Mama ya, kalau ada apa-apa telpon qila ya Tan "pintanya yang mencemaskan keadaan sang mama


setelah mendengarkan jawaban Rara, qila melangkahkan kakinya lemas. ia bingung kenapa mamanya tiba-tiba menangis, padahal tadi baik-baik saja


"maaf nis, gue enggak bermaksud apa-apa. tapi ini yang gue lihat tadi pagi. awalnya gue enggak yakin tapi setelah gue ikutin itu yang gue dapet seperti di foto itu. gue enggak tahu yang mana yang bener, gue juga enggak bisa bilang kalau itu bayi mereka. maaf, gue cuma enggak mau loe di khianati lagi, maaf untuk foto itu " gumam Rara sedih sambil menenangkan sahabatnya.

__ADS_1


" hiks hiks hiks...... loe enggak salah Ra, loe enggak salah apa-apa. hiks hiks...makasih ra, hiks hiks.... loe sahabatnya terbaik gue " gumam Nisa lirih yang mungkin akan terdengar tidak jelas.


" loe sahabat gue, gue bakal lakukan apapun untuk sahabat terbaik gue " ujar Rara pelan yang masih setia memeluk Nisa untuk memberikan ketenangan


" gue enggak nyangka hiks hiks.... enggak nyangka dia bakal ginian gue Ra hiks hiks.... salah gue apa sampai semua laki-laki khianati gue hiks hiks.... kurang gue apa Ra " teriak Nisa sambil menatap rara meluapkan emosi yang ia rasakan. sampai akhirnya


" akkhh...... " pekik Nisa saat merasakan sakit pada perutnya


" hey loe kenapa nis " panik Rara melihat Nisa kesakitan


" sakit Ra, perut gue sakit " ujar Nisa meringis kesakitan sambil memeluk perutnya

__ADS_1


mendengar jawaban Nisa, sontak menambah kepanikan Rara. apalagi kini pandangannya jatuh pada kaki Nisa yang terlihat seperti ada air yang mengalir " loe mau lahiran, akh... gue harus gimana " saking paniknya membuat Rara tidak bisa berfikir jernih


__ADS_2